
Hari terus berganti, tidak terasa sudah lima hari berlalu sejak perjalanan terakhir mengubur Dining di hutan mati. Setelah lelah mengerjakan kegiatan hari ini, kini Aku tengah asik membenamkan diri dibawah pancuran air yang keluar dari batang bambu di kakus belakang rumahku. terdengar lirih suara simbah memanggil dari dalam rumah.
"Dar... ambilkan minum dua gelas!" teriak Simbah untuk ke tiga kalinya.
"Njih Mbah! Sebentar Darto pakai baju dulu!"
jawabku dengan suara keras, agar Simbah bisa mendengar dari ruang depan.
Bergegas Aku seka air di sekujur tubuhku, menggunakan sarung bekas yang aku jadikan sebagai handuk dan dilanjut mengenakan baju yang sama dengan baju yang kupakai sedari tadi pagi. Setelah itu aku pergi ke tempat piring berbaris, kuambil dua gelas seng bercorak loreng hijau itu, dan aku tabur secimit daun teh kering untuk masing-masing gelas.
Disusul air panas dari dalam termos merah bermotif bunga peninggalan bapak. Dan aku bawa dua gelas teh pahit di atas nampan ke ruang tamu di depan.
"Ini Mbah minu..." suaraku terhenti, mulutku terkunci. Saat kulihat yang tengah duduk di depan Simbah adalah dua orang yang terus menghantui pikiranku.
Ya! Mereka adalah dua orang yang membunuh Dining. Aku lihat Ibu tiri Dining tengah duduk bersimpuh di depan simbah dan lelaki itu duduk sila di sampingnya dengan Wajah lesu dan terlihat lelah, terpampang di raut mereka.
Aku sodorkan 2 gelas nampan di depan mereka berdua.
"Silahkan dinikmati," ucapku dengan tangan bergetar. Bergetar karena emosi yang meluap, dan juga gemetar takut karena sosok hitam legam yang menempel seperti di gendong lekat di belakang punggung Ibu tiri Dining. Matanya terus melotot lurus ke arahku.
Setelah Simbah memberi isyarat agar aku cepat pergi meninggalkan ruangan tersebut. Aku bergegas melangkahkan kaki untuk hengkang dan pergi kedalam kamarku. Dari dalam kamarku, aku rapatkan telingaku ke dinding kayu yang memisahkan kamar dengan ruang tamu untuk menguping pembicaraan mereka.
"Ada perlu apa Las?" tanya Si Mbah
"Sebelumnya, perkenalkan Ki, nama saya Suroto, Saya dan calon istri saya hendak menyampaikan sesuatu Ki," ucap Suroto lelaki yang membunuh Dining, sembari menyodorkan sebuah amplop.
"Wah, bentar lagi sepertinya bakal ada hajatan lagi ni. Lah Dining, dimana Las?" Simbah kembali bertanya pura-pura tak tau kebenaran yang terjadi.
Mendengar pertanyaan dari Simbah. Bisa kubayangkan dari dalam kamar, kalau mereka berdua pasti tengah memasang muka panik. dan kebingungan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Simbah tersebut.
__ADS_1
"Di-Dining sudah menikah Ki, sekarang dia hidup sama suaminya di kota," jawab Suroto dengan suara terbata.
"Ki, kami mau minta tolong. Sudah hampir seminggu saya di ganggu sama mahluk halus. Kami sampai tidak bisa tidur tiap malam," ucap Lastri mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar Las, biar saya lihat dulu," terdengar suara simbah berbicara seperti itu, lalu kemudian hening melanda untuk beberapa saat.
"Aku tidak tau yang di maksud sama demit yang nempel sama kalian Las, tapi dia terus mengatakan kata 'kembalikan', dan dia menuntut kalian untuk cepat berkunjung ke rawa," sambung Si Mbah kembali.
Dari lubang sempit pembatas dinding kayu, Aku intip ruangan sebelah. Terlihat muka ketakutan dari mereka berdua. Tangan mereka gemetar hebat, ketika simbah mengucapkan kata Rawa.
"Sebenarnya rawa apa Las?" tanya Simbah pura-pura tidak tahu.
"Aku juga tidak tau Ki, baiklah kalau begitu kami mohon pamit. Terimakasih untuk waktunya Ki,"
ucap Suroto dengan wajah ketakutan, tergesa berdiri kemudian menarik tangan Lastri, dan bergegas pergi meninggalkan rumah.
"Njih Mbah!" jawabku dilanjut berlari ke ruang depan.
"Diminum saja Dar, mereka nggak sentuh minuman yang kamu kasih," ucap Simbah sembari mendorong nampan di atas meja.
"Gimana Mbah? apa Si Mbah ngusir mahluk hitam itu dari punggung bu Lastri?" tanyaku penasaran.
"Buat apa Dar? biar tau rasa mereka!" jawab simbah dengan tangan membuka amplop yang di sodorkan 2 pembunuh itu.
"Wah sayang sekali ya Dar, kalau saja ini uang halal. Simbah bisa beli tembakau lengkap sama menyan dan yang lain stok lima bulan lebih,"
ucap simbah dan memamerkan tiga lembar kertas warma hijau. Bergambar dua laki-laki menarik seutas tambang, bertuliskan BANK INDONESIA, SEPULUH RIBU RUPIAH, 1964 yang ia keluarkan dari dalam amplop.
Uang dengan jumlah yang sangat besar, bahkan tidak bisa kami dapat dengan menjual semua singkong yang kami tanam di kebon belakang rumah.
__ADS_1
"Mau di apakan uang itu Mbah?" tanyaku penasaran.
Tanpa menjawab, Simbah meraih korek api minyak tanah yang tergeletak di atas meja. Kemudian membakar uang tersebut didepan mataku.
"Kalau saja ya Dar kita tidak tau asal muasal uang ini," ucap Simbah terkekeh melihat uang begitu banyak hampir habis di ***** si jago merah.
"Apa enggak sayang Mbah?" tanyaku dengan berat hati, melihat dua lembar uang terbanyak yang pernah ku lihat seumur hidup, sudah setengah jalan menjadi abu hitam.
"Ini masih ada satu lembar utuh Dar, pakai aja kalau kamu mau. Toh kenyang di dunia juga nggak bertahan seharian Dar, tapi dosa yang kita dapat harus di tanggung selamanya di akhirat sana," Tukas Simbah dengan senyum simpul di ujung bibirnya.
"Hi! Nauzubillah! Kalau gitu Si Mbah aja sana yang pakai!" ucapku di sambut gelak tawa dari kita berdua.
***
Waktu terus berlalu, sudah lewat empat hari dari waktu Bu Lastri dan Suroto berkunjung menemui Simbah. Sejauh ini belum ada kabar dari mereka berdua. Ada sebagian warga berkata dia sudah kembali ke kota, dan sebagian lagi mereka memberi kesaksian jika mereka melihat mereka berjalan ke arah utara.
Kabar itu datang sendiri. ketika Aku dan Anto tengah di sibukkan dengan kegiatan membantu panen jagung di ladang yang orang tua Satya miliki.
Belum selesai setengah ladang kita panen, tampak dari kejauhan seseorang berlari. Tergesa menuju ke arah kami sembari berteriak memanggil nama kami bertiga.
"Lastri meninggal! Mari Dar, Tok, Sat, kita pulang," kita bantu proses pemakaman Ibunya Dining,'' ucap lelaki itu dengan nafas terengah-engah, karena terus berlari mencari bantuan warga dusun yang memang kebanyakan di waktu siang berada di sawah masing-masing.
"Inalillahi Wanalillahi Roji'un," ucap kita bertiga serempak.
Tanpa pikir panjang. Secepat kilat kita bungkus hasil panen yang sudah di tuai sedari pagi. Kemudian bergegas pulang memikul jagung hasil panen di atas pundak kami. Meninggalkan setengah hasil panen yang direncanakan akan di lanjut dilain hari.
"Sat.. Tok... kita ketemuan di langgar aja yuk, bantuin solat sama angkatin jenazah, paling kang Pono yang gali kuburan," ucapku menutup cerita bab ini.
Bersambung,-
__ADS_1