
Lima lelaki yang tengah tertidur pulas itu masing-masing memendarkan cahaya yang berbeda warna dari tubuhnya. Sinar berwarna emas di tubuh Eyang semar, putih di badan Darto, merah di tubuh Jaka, hitam di tubuh Maung, dan warna jingga di tubuh Komang.
Energi mereka meluap-luap sesaat setelah memakan nasi dari hasil panen Eyang semar. Nasi yang hanya ada di tempat itu, meski dunia sebelah terpampang sama luasnya dengan dunia manusia.
Ketika Darto bangun, tubuhnya benar-benar terasa bugar. Dia bahkan sampai terkejut karena merasakan energi pada tubuhnya benar-benar meluap. Namun sesaat kemudian dia duduk bersila untuk mengumpulkan energi yang masih terus terurai dari badannya, agar tidak terus mengucur keluar hingga terpancar.
Ketika semua lelaki bangun, mereka melakukan hal yang sama dengan apa yang Darto lakukan. Mereka menahan energi yang terus terpancar, agar tetap tertahan di dalam tubuhnya.
Setelah itu, Darto dan Jaka pun langsung pamit untuk pulang ke rumah mereka. Namun karena hari sudah terpampang sore, Eyang Semar menahan dua pemuda itu untuk singgah semalam lagi di rumahnya.
Namun meski mendapat tawaran tersebut, Darto dan Jaka menolak, mengingat mereka akan pulang menaiki Komang. Jadi Eyang pun tidak bisa lagi membuat alasan lagi, untuk menahan dua pemuda kesayangannya itu.
"Eyang ... sekali lagi terimakasih untuk semua bantuannya," ucap Darto sembari mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Sama-sama cucuku. Jangan sungkan kalau mau mampir ke sini lagi," jawab Eyang sembari menyahut uluran tangan Darto.
Darto langsung mencium punggung tangan Eyang sebelum akhirnya dia melangkah ke arah Komang yang sudah mewujudkan diri menjadi harimau di depan rumah Eyang.
Namun baru beberapa langkah Darto pergi, Eyang kembali berteriak untuk menghentikan langkahnya, "Sebentar, Dar?!"
"Maung ... bantu mereka," sambung Eyang setelah melihat Darto berhenti, kali ini dia berbicara pada Maung yang tengah berdiri di sampingnya.
"Baik, Romo. Tapi ... apa tidak apa-apa saya meninggalkan hutan?" jawab Maung sedikit segan.
"Tidak apa-apa ... masih banyak yang bisa menggantikan posisi kamu. Mulai sekarang kamu jadi teman seperjuangan Darto dan Jaka, jangan pernah kamu membantah permintaan mereka," tukas Eyang sembari menatap Maung dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Sendiko dawuh Romo," jawab Maung kemudian melangkah ke samping Darto. Dia merubah wujudnya menjadi macan hitam setelah sampai di depan halaman rumah Eyang.
"Jaka, aku mau pesan sama kamu. Apapun yang Darto perintahkan, kamu harus menurut tanpa sedikitpun menjawab," pesan Eyang pada Jaka yang masih bungkam di dekat Eyang.
Setelah mendengar ucapan itu, Jaka berangsur menyodorkan tangan kanannya kemudian berkata, "Pasti, Eyang. Jaka pasti akan mengingat pesan Eyang."
Mendengar jawaban itu, Eyang langsung tersenyum dan menyahut uluran tangan Jaka. Namun tidak seperti Darto, jaka yang begitu polos tidak mencium punggung Eyang. Dia malah menarik lengan Eyang kemudian mendekap Eyang setelah tubuh gempal milik Eyang berhasil tertarik mendekat ke arahnya.
"Jaka tidak akan pernah melupakan Eyang. Kalau ada kesempatan lagi, Jaka akan ke sini dengan membawa hadiah untuk Eyang," ucap Jaka sendu, dia memeluk tubuh bulat Eyang dengan cucuran bulir bening yang merembes dari sudut matanya.
Eyang benar terkekeh, dia mengelus kasar rambut Jaka yang masih memeluknya dengan semangat. Kemudian mengucap sesuatu dengan suara gemetar dan mata berbinar, "Akan aku tunggu kabar gembira yang datang langsung dari mulutmu, Jaka."
Jaka pun langsung mengangguk, dia melepaskan pelukannya sembari menatap Eyang dengan senyuman terlebar yang dirinya punya. Kemudian berbalik menuju arah Darto yang tengah menunggu, dan berjalan keluar sembari mengusap air yang membasahi pipinya.
Darto, Jaka, Maung dan Komang sempat menunduk ke arah Eyang yang tengah berdiri di depan pintu. Setelah mendapat balasan tundukan kepala dari Eyang, Komang dan Maung spontan berbalik dan langsung menatap arah yang sama, mereka melompat bersamaan, kemudian hilang bagai kepulan asap berwarna hitam dan jingga, seakan melebur dan menyatu dengan udara.
Eyang yang melihat empat pria yang semula menemaninya sudah tidak terlihat lagi, dia bergegas berbalik dan menutup pintu rumahnya dengan wajah sedih namun terkesan puas. Setelah menutup pintu rumahnya rapat-rapat, dia berjalan menuju tempat istirahatnya sembari bergumam, "Sungguh dua takdir yang saling bersangkutan. Semoga kali ini kalian bisa memenuhinya."
Sedangkan di sisi Darto dan Jaka. Hutan yang semula ditempuh selama dua hari, kini benar-benar terlewati dalam hitungan menit saja. Kecepatan Maung dan Komang benar-benar gila, mereka seakan berlomba untuk mencari siapa diantara mereka yang paling cepat sampai di kali. Dan akhirnya Komang dan Jaka sampai di tepi kali tiga detik lebih lambat dari Darto dan Maung.
Maung terus membanggakan kemenangannya, sedangkan Komang yang tidak terima kembali mengajak Maung untuk berlomba. Komang menyebutkan tempat tujuan mereka, namun Maung menolak mentah-mentah karena dia tahu jika Komang akan menang jika mereka kembali berlomba.
Mau bagaimanapun kecepatan mereka setara, hanya salah satu sisi yang lebih hafal dengan kondisi jalan lah yang pasti akan menjadi pemenang. Di tambah Maung tidak tahu jalan yang akan mereka tempuh kedepannya, jadi dia hanya bisa berasumsi jika Komang pasti akan menang.
Meski kesal, Komang tidak bisa memaksa, dia hanya sedikit memasang wajah geram sembari berkata, "Baiklah ... mari kita berangkat, kamu jangan sampai ketinggalan."
__ADS_1
Maung langsung mengangguk, setelah menyeberangi sungai Komang langsung berlari dengan kecepatan yang begitu gila. Dalam hitungan Detik mereka sampai di gerbang tempat pertama Darto dan Jaka memasuki dunia mereka.
"Darto ... Jaka ... Semoga kalian tidak terkejut setelah keluar dari sini," ucap Komang sedikit murung.
Darto dan Jaka hanya bisa saling bertatap, kemudian mengangguk untuk memberikan jawaban atas pernyataan Komang.
Setelah melihat dua pemuda itu mengangguk, Komang menatap Maung yang masih bungkam di belakangnya. Sesaat tatapan mereka bertemu kemudian saling mengangguk dan kembali melompat secara bersamaan.
Mereka berdua keluar dari dunia miliknya kemudian dalam beberapa detik saja mereka sampai di tempat sang begitu familiar bagi Darto dan Jaka.
Hanya saja tempat itu sepenuhnya sudah berbeda. Bangunan yang semula masih sederhana kini terpampang begitu megah dihadapannya.
Rumah-rumah yang semula masih menggunakan papan kayu sudah hampir sepenuhnya berganti dengan dinding kokoh yang terbuat dari semen. Melihat keanehan itu Darto dan Jaka seketika terbelalak dan menatap ke arah yang sama.
Arah dimana rumah Kakung semula berdiri, dan kini sudah menjadi bangunan yang berbeda.
Pesantren tempat Darto dan Jaka berangkat, benar-benar menjadi tempat asing yang tidak mereka kenali sama sekali ketika pulang.
Dalam rasa gelisah Darto dan Jaka turun dari punggung Maung dan Komang. Mereka berjalan dengan langkah gontai ke arah bangunan yang paling dekat dengan tempat mereka berdiri. Bangunan yang semula ditempati oleh Harti, beserta kedua orang tuanya.
Setelah melihat perubahan yang begitu drastis, Darto dan Jaka benar-benar merasa takut. Mereka takut sudah terlalu lama meninggalkan dunia manusia.
Tidak ada satupun dari Darto dan Jaka yang bisa mengelak rasa khawatir, khawatir jika mereka tidak bisa lagi bertemu dengan keluarga tercintanya.
Bersambung ....
__ADS_1