ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERBINCANGAN


__ADS_3

Setelah sampai pada bangunan yang cukup megah, Darto dan kelima temannya dipersilahkan masuk oleh Aryana dan Brahma.


Mereka semua masuk menuju bangunan tersebut, kemudian duduk di atas tikar padan yang terbentang di atas tanah di dalam ruangan tamu.


"Sekarang bagaimana cara kalian masuk ke sini? Terutama kalian berdua. Ini benar-benar kali pertama kami menjumpai manusia yang bisa menginjakkan kakinya di tempat ini," Brahma membuka perbincangan sembari menatap ke arah Darto dan Jaka dengan tatapan curiga.


"Aku bisa jawab semua pertanyaan kalian, tapi sebelumnya aku harus memastikan sesuatu dengan kalian terlebih dahulu," ucap Darto sembari membalas tatapan curiga yang Brahma paparkan.


"Apa?" Aryana bertanya singkat.


"Apa yang terjadi pada kalian?" Darto kembali bertanya.


"Tolong beri pertanyaan yang lebih jelas. Aku benar-benar tidak paham tentang apa yang ingin kamu ketahui," Aryana tidak mengerti maksud dari perkataan Darto yang terkesan memiliki banyak arti.


"Benar juga... Aku lupa kalau kita belum pernah bertemu di dunia nyata... Kalian memenangkan sayembara?" Darto kembali memberikan pertanyaan yang berbeda.


"Iya... Kami yang jadi pemimpin semua prajurit Satria. Hei kamu... Sebenarnya siapa kamu? Aku bisa merasakan energi Satria mengalir di dalam tubuh kecil milikmu," jawab Aryana pada Darto, kemudian dia menoleh dan menunjuk Jaka dengan jari telunjuknya.


"Jangan alihkan pembicaraan. aku tahu kamu punya banyak pertanyaan, tapi aku janji akan menjawab semua kebingungan kalian, setelah memastikan sesuatu dari kalian," Darto kembali menyela, dia tidak ingin melakukan satu tindakan yang salah, mengingat dua orang di depannya merupakan dua mahluk yang berada di dalam salah satu kamar milik musuhnya.


"Baiklah... Apa lagi?" jawab Brahma lesu, dia tidak mempunyai pilihan lain selain menerima tuntutan Darto.


"Lalu apa yang terjadi dengan kalian ketika Ki Gandar dan seluruh warganya dibakar?" Darto memicingkan kedua matanya.


"Sungguh aneh... Bagaimana ada manusia yang mengingat hal itu? waktu di sini dan di dunia manusia terpaut sangat jauh, seharusnya tidak ada satupun manusia yang mengingat hal tersebut," Aryana merasa sangat heran, "Kami semua mati," sambungnya lagi.


"Nanti aku jelaskan... sekarang pertanyaan terakhir. Bagaimana kalian dan semua jiwa itu bisa berakhir di sini?" Darto kembali melempar satu pertanyaan.


"Yah... setelah kami mati, jiwa kami disimpan di tempat ini. Bukan cuma kami, Satria dan semua prajuritnya juga dibawa ke sini oleh dia," Brahma membuka suara.


"Satria di sini?" Jaka melempar satu pertanyaan dengan wajah geram. Dia mengingat kekejaman dari sosok lelaki yang baru saja dirinya sebutkan namanya. Jaka benar-benar tidak melupakan semua yang pernah dirinya saksikan di dalam ujian.


"Hei... Kau bilang tadi pertanyaan terakhir. Sekarang giliran kami bertanya. Siapa kalian? Dan bagaimana kalian bisa masuk ke sini?" Brahma menyela.


"Aku Darto... Bisa dibilang aku dan lelaki ini merupakan saudara dari leluhur yang sama," jawab Darto sembari merangkul Jaka.


"Apa maksud kalian?! Jangan berbelit saat menjawab pertanyaan kami!" Brahma meninggikan suara karena kesal dengan penjelasan Darto yang hanya diberikan secara setengah-setengah.

__ADS_1


Melihat Brahma meninggikan suara, Maung, Komang, Sastro dan Wajana langsung berdiri. Mereka menciptakan senjata dari energi, kemudian mengarahkan senjata mereka pada Brahma.


"Cukup... Kita selesaikan dulu," Darto menengahi.


Mendengar ucapan tersebut, empat teman Darto langsung kembali duduk. Mereka terus memasang wajah sangar, sembari menatap Brahma yang mulai menghela nafas untuk menenangkan diri.


"Aku keturunan Brahmana, anak dari Ki Gandar yang kalian bakar beserta warganya, sedangkan dia merupakan keturunan Raja kalian. Dia masih membawa garis darah Satria, yang diturunkan melalui amerta," Darto kembali menjelaskan.


Aryana dan Brahma benar-benar terkejut setelah mendengar penjelasan Darto. Mereka langsung beringsut mundur, dengan wajah yang tiba-tiba dipenuhi keringat setelah mendengar jika dua manusia di depannya merupakan keturunan dari dua sosok yang mereka takuti.


"A.. apa Ki Gandar yang menyuruh kalian ke si sini?" Ucap Aryana terbata.


Mendengar ucapan itu Darto dan Jaka langsung menggeleng.


"Jadi kalian diutus satria?" Brahma berbicara sembari menyeka keringat di pelipis wajahnya, "Tapi bagaimana kalian bisa menjadi saudara dari satu leluhur? Apa Satria dan Gandar punya hubungan darah?" sambungnya lagi.


"Tidak... Apa kalian pernah dengar tentang wanita bernama Utami?" jawab Darto.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," ucap Brahma.


"Bukannya dia selir yang kabur dari istana sembari membawa anak di perutnya?" Sambung Aryana.


Mendengar kata itu, Aryana dan Brahma benar-benar tidak habis pikir, mereka bahkan tidak mengetahui kebenaran kecil, padahal hal itu terjadi ketika mereka masih hidup.


"Bagaimana kalian bisa tahu kami semua?" tanya Aryana kembali.


"Kalian tidak lulus menjadi pemimpin prajurit ketika aku dan Jaka mengikuti ujian. Kalian hebat, tapi kami tidak kalah hebatnya," Darto terkekeh.


"Kalian ikut sayembara?" Brahma memasang wajah tercengang.


"Iya.... tapi itu hanya di dunia yang Eyang semar tunjukkan. Dia menunjukkan ingatan tentang Ki Gandar dan Satria, disitu aku dan Jaka bertemu kalian."


Setelah mengucap kata tersebut, Darto dan Jaka menceritakan setiap kejadian yang pernah mereka saksikan. Aryana dan Brahma mulai bisa percaya, karena setiap cerita yang diucapkan oleh Darto dan Jaka semuanya pernah mereka alami sendiri, ketika mereka masih menjadi manusia.


"Sekarang aku tahu siapa kalian sebenarnya... Bisakah aku meminta satu permintaan egois pada kalian berdua?" Aryana berbicara dengan wajah sendu dibarengi anggukan kepala Brahma.


Darto dan Jaka langsung mengangguk kala itu, mereka berdua tahu jika Aryana dan Brahma merupakan dua teman yang masih memiliki hati, jika dibandingkan semua prajurit yang mereka temui di dalam ujian.

__ADS_1


"Tolong bebaskan kami semua dari tempat terkutuk ini," sambung Aryana.


"Kalian tidak bisa keluar?" tanya Jaka penasaran.


"Bukan hanya kami. Empat teman kalian juga pasti tidak akan bisa meninggalkan tempat ini," timpal Brahma dengan wajah menunduk.


"Apa maksud kalian?" tanya Darto.


"Tempat ini mirip seperti peternakan. Kita dikumpulkan disini, lalu saat dia lapar dia hanya perlu memanen setiap jiwa yang sudah anak buahnya kumpulkan di tempat ini," Aryana menjelaskan.


"Kami bertugas mendisiplinkan jiwa yang baru masuk ke tempat ini, tidak hanya satu dua jiwa yang meronta, dan tugas kami membuat dia diam," Brahma menimpali.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Darto kembali bertanya.


"Kalian benar-benar belum bertemu Satria?" Dia menunggu di bawah dua pohon besar yang jadi pintu masuk ke sini," Aryana terheran.


Darto dan lima temannya kembali menggeleng, mereka merasa sama sekali tidak bertemu mahluk lain di dalam hutan.


Hanya saja ada satu kejanggalan yang terbesit di pikiran Darto, dia mengingat sesuatu yang aneh ketika meledakkan tanah untuk menghindari tumpukan mayat.


"Kamu mau bilang jika Satria masih hidup dan tinggal diantara tumpukan mayat?" Darto kembali berkata setelah mengingat ada ratusan jerit ketika ledakan energi miliknya dan Jaka bertabrakan di atas mayat.


"Dia menjadi salah satu pemilik kamar, mengingat seberapa banyak jiwa yang sudah dia berikan untuk beliau. Sampai sekarang dia masih sering memberi jiwa sebagai sesembahan, kalian bisa lihat banyak jiwa yang masih kebingungan karena mereka juga baru datang tidak lama sebelum kalian," Brahma menjelaskan panjang lebar.


"Tolong... Cuma mahluk yang mempunyai raga saja yang bisa masuk dan keluar dari tempat ini sesuka hati. Bagi kami para jiwa, satu benteng tak tertembus menghalangi setiap pergerakan kami semua," Aryana memohon.


"Kalian tenang saja... Tujuan utama kami berenam ke sini juga untuk menghabisi iblis yang menjadi sesembahan Satria. Tanpa kalian minta kami tetap akan melakukan itu semua," Darto tersenyum sembari berdiri, dia kemudian mengajak Jaka untuk pergi dari bangunan tersebut, "Aku titip empat temanku," sambungnya lagi.


Aryana dan Brahma langsung membulatkan mata, mereka merasa mendapat satu kalimat jawaban yang sudah sangat lama mereka inginkan, dari bibir seorang lelaki yang masih tampak begitu muda.


"Maung, Komang, Sastro, Wajana... kalian tunggu saja dulu di tempat ini. Aku dan Jaka saja sudah cukup," ucap Darto sembari melangkah, dia terus melangkah dan mengucap kata tersebut tanpa menoleh ke belakang.


Empat teman berharga yang tidak memiliki pilihan lain selain menunggu hanya bisa terkekeh. Mereka sama sekali tidak merasa khawatir, karena dua pria yang tengah mereka lihat punggungnya bukanlah dua pria biasa.


Mereka adalah dua manusia, yang mampu memporak porandakan setiap tempat yang sudah mereka kunjungi. Bahkan mereka juga pernah mengalahkan mereka semua sebelumnya.


Hari ini, Darto dan Jaka akan kembali melakukan sebuah pertarungan. Pertarungan dimana mereka akan melawan satu pria yang benar-benar berhasil menanamkan sebuah rasa benci, meskipun sebenarnya mereka belum pernah bertemu sama sekali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2