ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PENGALAMAN


__ADS_3

Darto terus mencoba segala cara, dia memanah setiap sudut dari tubuh kelabang yang tengah mengejarnya itu. Sayangnya, cangkang yang menyelimuti tubuhnya benar-benar sangat keras melebihi dugaan Darto. Setiap anak panah yang menyentuh cangkang hanya terpeleset dan berubah arah, dan setiap anak panah yang melaju lurus hanya terpental ketika menyentuh tubuhnya.


Darto begitu lelah terus berpindah arah tanpa jeda. Dentuman demi dentuman terdengar di segala arah tempat Darto berpindah. Dalam satu detik bisa terdengar lima dentuman dari lima tempat yang berbeda, sungguh suatu pertempuran yang tidak bisa dirangkul menggunakan nalar. Mereka bergerak dengan kecepatan tak kasat mata, tanpa istirahat dan tanpa jeda.


Nafas Darto mulai tersengal, dia mulai kehabisan oksigen karena terus bergerak dengan kecepatan luar biasa, dia sangat ingin berhenti walau hanya satu detik sekedar untuk menghela nafas, namun lawannya tidak pernah memberikan kesempatan sama sekali.


Sosok kelabang masih terus mengejar kemanapun Darto berpindah. Dia tidak memiliki wajah, jadi Darto sama sekali tidak bisa mengira-ngira. Darto tidak tau apakah lawannya sudah kelelahan, atau masih penuh dengan tenaga, karena lawannya sama sekali tidak memiliki ekspresi di kepalanya.


Gerakan Darto mulai melambat, dia sudah bermandikan keringat yang memenuhi segala sisi wajahnya. Bajunya basah kuyup dengan mata yang mulai kehilangan fokus ketika menatap lawannya.


Dalam rasa bimbang, dia mendapatkan sebuah ide yang mungkin bisa mendaratkan sebuah serangan fatal kepada lawannya. Darto berhenti dari pelariannya, dia mematung di tengah pengejaran secara tiba-tiba, hingga sosok kelabang melaju dengan kecepatan tinggi, melewati Darto karena pergerakan cepat darinya tidak bisa dihentikan seperti layaknya Darto berpindah.


Kelabang itu tertawa melihat Darto berhenti, dia mendekat dengan langkah pelan dan hati-hati. Dia masih tetap waspada meski melihat Darto kelelahan, karena dia tidak sebodoh semua lawan yang pernah Darto lawan. Dia terus terkekeh sembari merambat pelan, dalam gerakannya dia selalu memasang posisi siaga karena melihat Darto yang tidak melakukan apa-apa. Justru karena Darto tidak melakukan apa-apa, kelabang itu tau jika Darto sedang merencanakan sesuatu.


"Kau lelah manusia? Kamu benar-benar mengalahkan sahabatku hanya dengan kekuatan itu?" Ucap Kelabang sembari terus mendekat.


Darto tidak menjawab, dia hanya terus menghela nafas sembari memejamkan mata, dia mengacuhkan apapun yang kelabang itu ucapkan, dan fokus untuk memulihkan nafasnya. Setelah nafasnya cukup stabil, Darto kembali membuka matanya sembari berkata "Kamu takut, kan? Kenapa tidak maju saja? Memang apa yang bisa kamu lakukan jika terus berputar seperti itu?"

__ADS_1


"Aku tahu kamu menyimpan sesuatu, tidak mungkin orang yang lari tiba-tiba berhenti jika tidak memiliki rencana," jawab kelabang sembari terus merambat pelan mengitari tubuh Darto yang berdiri di tengahnya.


"Banyak alasan!" Teriak Darto sembari menghentakkan kaki miliknya.


Melihat Darto seperti ingin maju, sosok kelabang mundur tiga langkah. Dia panik karena mengira Darto akan menyerang dan ternyata Darto hanya menggertak.


"Ha ha ha ha ha! Kamu menghina kekuatanku, tapi kamu takut menerima seranganku?" Ejek Darto sembari terus terbahak, setelah melihat kelabang itu melompat mundur.


"Memang pantas. Orang tua pengecut sepertimu seharusnya ikut bersama anakmu dan mengasuh mereka di neraka," sambung Darto dilanjut tersenyum angkuh.


Darto merasa puas melihat gerak gerik dari lawannya mulai terbaca. Saat kelabang itu menyerang dengan salah satu sungut atau antena di kepalanya, dengan sigap Darto menangkap sungut yang dikibaskan oleh kelabang, menggunakan tangan kirinya.


"Kena kau!" Teriak Darto sembari menciptakan sebuah pedang di tangan kanannya. Darto langsung menebas antena kelabang itu tanpa pikir panjang, dan saat itu juga satu sungut di kepala kelabang putus, menyisakan separuh bagian pangkalnya saja.


Kelabang yang kehilangan separuh antena di kepalanya itu berteriak dengan suara aneh, suaranya begitu nyaring, hingga gendang telinga Darto seketika berdenging. Dia menggeliat kesakitan di atas tanah sembari terus menjauh dari tempat Darto berdiri.


Darto tidak membuang kesempatan sama sekali, melihat lawannya kehilangan fokus, dia langsung berpindah ke depan kelabang dan memegang satu antena yang masih utuh di kepalanya. Darto langsung menebas tanpa aba-aba, dan akhirnya kelabang itu kehilangan dua benda yang terus menghalangi laju anak panah yang mengincar kepala miliknya.

__ADS_1


Sosok kelabang itu kembali berteriak, dia sangat kesakitan setelah sebagian kecil tubuhnya terpisah dari tubuh utamanya. Dia berlari menjauh dari Darto dengan begitu cepat dengan perasaan takut yang bersarang didalam hatinya.


Melihat kelabang yang berlari menjauh darinya, Darto langsung menciptakan busur panah kembali. Darto menatap lurus ke arah lawannya, dia menahan nafas dan tidak berkedip sama sekali. Darto benar-benar fokus mengarahkan ujung anak panah, tepat ke arah kepala kelabang yang tengah berlari menjauh dengan cara bergerak mundur.


Ketika Darto merasa yakin jika anak panahnya akan berhasil mengenai kepala kelabang, dia langsung melepaskan anak panah dari genggamannya. Anak panah itu melaju dengan sangat cepat, membawa hasil pertempuran dan juga sebuah harapan. Darto melihat dengan seksama laju anak panah yang dia lepaskan, meskipun itu sangat cepat, namun matanya masih bisa mengikuti gerakan dari senjatanya tersebut.


Waktu terasa seperti ditekan lamban. Semua benda tampak bergerak sangat pelan di depan matanya. Darto benar-benar fokus, dia bisa melihat semua kejadian yang tengah berjalan di depan matanya secara lambat. Hingga dia merasa seperti tengah berdiri di dalam dunia yang memiliki jeda waktu yang jauh berbeda.


Sayangnya, ketika anak panah yang Darto lepaskan hampir menyentuh kepala kelabang. Kelabang itu sampai terlebih dahulu kedalam lubang yang sempat ia gunakan sebelumnya. Dia masuk ke dalam tanah dengan begitu cepat, hingga anak panah yang Darto lepas melesat menembus pohon yang terletak di atas lubang tersebut.


Darto benar-benar kecewa karena tidak berhasil membunuh lawan yang sangat menyusahkan. Dia bahkan langsung berlari menuju lubang tempat lawannya bersembunyi sembari terus menembakkan anak panah secara bertubi-tubi. Namun tidak ada hasil yang Darto dapatkan. Kelabang yang dia lawan sudah masuk ke dalam lubang. Mau berapa kali pun dicoba, anak panah tidak akan pernah bisa mengikuti jalur lubang yang berkelok di dalam tanah.


Darto seketika tersungkur lemas kala itu, dia duduk di atas tanah sembari terus meneriakkan satu kata yang dia ulang berkali-kali di depan lubang. Dalam rasa kecewa, dia meneteskan bulir bening dari matanya sembari berkata "KELUAR KAU BANGSAT! PENGECUT!"


Hari ini, Darto mendapatkan satu pelajaran yang sangat luar biasa. Dia merasa sedikit bersyukur bisa mengalahkan ular yang setara dengan kelabang karena lawannya lengah. Namun dia tidak bisa mengelak dengan apapun yang akan terjadi kedepannya. Saat ini Darto mendapatkan sebuah gambaran jelas, tentang seberapa kuat lawan yang akan dia hadapi di kemudian hari. Jika melihat kekuatan kaki tangannya saja sudah sekuat ini, lalu seberapa kuat mahluk yang memimpin mereka?


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2