ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TUGAS YANG TIDAK BOLEH DIGANTIKAN


__ADS_3

Setelah semua berkumpul, mereka semua beristirahat di tempat yang sama. Darto dan lima temannya duduk saling bersebalahan, dan mulai memasang telinga untuk mendengar setiap penjelasan yang akan Brahmana, Kanti dan juga Abirama jabarkan.


"Aku pernah melakukan apa yang sedang kamu lakukan, Dar," ucap Brahmana membuka cerita.


"Dulu aku bertemu Kanti dan Abirama secara tidak sengaja di saat aku mencari setiap penghuni kamar. Penghuni kamar nomor 17, 18 dan 19 semula dihuni oleh mahluk buas bawahan iblis, tapi kita bertiga benar-benar bisa mengalahkan mereka bahkan sebelum sampai di tempat ini," sambung Brahmana.


"Lalu bagaimana kalian bisa berakhir di sini?" tanya Maung penasaran.


"Aku datang ke tempat ini, hanya untuk menyelamatkan Bapakku dari nasib sial yang sudah begitu lama dirinya panggul," Brahmana menghembuskan nafas untuk sejenak, sedangkan Kanti langsung mendekat dan mencoba menenangkan hati Brahmana.


"Kita langsung gagal ketika melawan Banaspati. Kami sebenarnya punya peluang, tapi di sana Brahmana justru mengamuk dan melawan kami berdua untuk melindungi bapaknya," ucap Abirama sembari melirik pada Kanti.


"Tapi untungnya kami selamat," timpal Kanti.


"Jadi? Bagaimana bisa kalian menjadi penghuni ruangan ini?" tanya Darto.


"Setelah kami bertengkar, kami benar-benar tidak memiliki niatan untuk melanjutkan semua usaha. Kita berpencar dan menyudahi kerja sama, namun tidak untuk Brahmana," jawab Abirama.


"Brahmana tetap maju. Dia berfikir bisa mengakhiri penderitaan Bapaknya dengan cara melawan iblis yang memberi belenggu pada Ki Gandar. Tapi ...," ucap Kanti terhenti, dia melirik ke arah Brahmana karena dia merasa tidak enak untuk mengatakan semuanya.


"Iya, Dar. Aku melesat dari kamar nomor milik Bapak, dan langsung menuju pemimpin mereka tanpa membuka satu persatu pintu dahulu. Saat aku tiba di depan iblis tersebut, 19 penghuni kamar yang tersisa maju ke arahku secara bersamaan," timpal Brahmana sembari mendongak, dia mencoba mengingat kejadian kelam, sembari menyuguhkan senyuman pahit di bibirnya.


"Aku hampir mati kala itu, Dar. Semakin sedikit nomor kamar, semakin kuat penjaganya. Untung saja Kanti dan Abirama datang di kala itu, mereka kembali membantuku tanpa diminta sekalipun," sambung Abirama kembali sembari menatap Kanti dan Abirama secara bergantian.


Abirama dan Kanti langsung tersenyum setelah melihat ekspresi Brahmana, mereka tersenyum lebar kemudian Kanti berkata, "Sudah sewajarnya seorang teman saling membantu, Bi."


"Sayangnya kita tetap kalah, Dar. 19 mahluk melawan kita bertiga. Bahkan iblis itu tidak bangun dari tempat duduknya, dia hanya menonton dan menopang dagu. Kita benar-benar hanya dianggap sebagai tontonan," sambung Abirama.


"Dan dari saat itu, kita diberi kesempatan kedua. Dia memberi kami pilihan untuk mati, atau menggantikan tugas dari tiga mahluk yang sudah kami bunuh sebelumnya," timpal Brahmana.


"Dari saat itu, kita bertiga melakukan apapun yang dia perintahkan, Dar. Aku juga sudah tidak bisa lagi disebut orang baik, tapi aku melakukan ini semua untuk mencari kelemahan musuh kami, karena kami bertiga sepakat akan melawan dia lagi, kalau sudah menemukan satu teman yang memiliki potensi," ucap Abirama.


"Dar ... Kamu sudah pernah mendapatkan pelajaran dari Abirama dan Kanti, sekarang boleh Eyang kamu ini memberi saran?" tanya Brahmana.

__ADS_1


"Apa itu, Eyang?" Darto sedikit penasaran.


"Akan Eyang ajarkan setiap cara yang lebih mudah untuk menggunakan energi milikmu. Tapi ada syaratnya," jawab Abirama.


"Apa itu?" Kembali Darto bertanya.


"Tinggallah disini untuk beberapa hari," Abirama meminta.


Setelah mendengar permintaan tersebut, Darto seketika menunduk. Dia kembali mengingat perbedaan waktu, dan kembali khawatir dengan kelangsungan hidup dari keluarga kecil miliknya.


"Aku punya banyak sekali pikiran yang membebaniku sekarang, Eyang," jawab Darto sembari tertunduk.


"Aku punya solusi untuk itu, Dar," jawab Kanti tiba-tiba, seakan dia benar-benar tahu, tentang apa yang ada di dalam pikiran Darto.


"Maksud Si Mbok?" tanya Darto sedikit keheranan.


"Kalian masuk lewat pintu depan, kan? Kenapa tidak keluar dari pintu belakang?" Sambung Kanti kembali.


"Apa bisa?! Nanti bagaimana cara kita ke sini lagi?" Darto bertanya dengan wajah terkejut.


"Kalau begitu ... ke arah mana pintu belakang dari kamar ini? apa aku akan muncul di tempat yang jauh dari tempat tujuanku?" Darto kembali bertanya, kali ini lima temannya merasa benar-benar penasaran.


"Kalau rumahku ke hutan dekat kampung milikmu, rumah Brahmana tidak begitu jauh dari kampung milik Jaka yang dulu," sahut Kanti.


Jaka tersentak mendengar pernyataan Kanti, dia begitu terkejut dengan apa yang baru saja masuk ke dalam telinga miliknya.


"Kalian tahu letak kampung ku?" tanya Jaka tiba-tiba.


"Jelas kami tahu ... terutama Brahmana, bahkan dia sering membantu membenarkan pelindung yang Darma buat untuk melindungi kampung kamu, Jak. Energi milik Darma dan Brahmana kan sama," jawab Kanti tanpa berfikir.


"Kami memang bawahan mahluk itu, Jak. Tapi kami tidak selalu menuruti setiap perintahnya. Kami akan melakukan apapun yang bisa kami bantu dari balik layar, agar bisa melindungi setiap mahluk yang menjadi incaran iblis tersebut," sambung Abirama.


"Karena kami yakin, apapun yang ingin iblis itu singkirkan, pasti merupakan satu penghalang yang mungkin akan merepotkan dirinya di suatu hari nanti," timpal Brahmana.

__ADS_1


"Sekarang sudah terbukti. Darto yang ingin dibinasakan oleh Gending dan Jaka yang terus dicari oleh Banaspati. Kalian berdua benar-benar menantang sejauh ini untuk menghadapi mahluk itu," Kanti membuka suara, melengkapi apa yang tengah Abirama dan Brahmana sampaikan.


"Sekarang lakukan apapun yang kamu inginkan, Dar. Jika kamu keluar dari tempat ini, tidak akan ada satupun bawahan iblis itu yang tahu, karena mereka memang tidak pernah bisa masuk ke kamar ini," ucap Brahmana.


"Baiklah! Sekarang ... bolehkah aku pamit untuk sebentar? mungkin di sana akan berlangsung beberapa hari, tapi tidak di sini. Sepertinya aku cuma akan pergi dalam waktu kurang dari satu hari jika di tempat ini," ucap Darto.


"Sebenarnya kamu mau kemana, Dar?" Tanya Sastro dibarengi anggukkan empat teman lainnya.


"Bukan cuma aku ... kita semua akan pulang terlebih dahulu. Ada satu tugas yang sama sekali tidak boleh untuk dilewatkan," ucap Darto sembari menatap lima temannya, "Kamu juga, Jak. Ada satu tugas yang menanti kita berdua," sambungnya lagi.


"Tugas apa, Kang?" tanya Jaka polos.


"Nanti kamu akan tahu jika sudah waktunya, Jak. Sekarang tolong antar kami keluar dari pintu belakang, Eyang," pinta Darto sembari menoleh ke arah Brahmana.


"Baik, Dar. Ikuti saya," jawab Brahmana sembari berdiri. Dia kemudian melangkah menuju satu pintu kecil, yang berdiri tegak ditengah kegelapan.


Tangan Brahmana langsung menggenggam batang pintu dan membuka pintu tersebut secara lebar-lebar.


Cahaya yang menyilaukan langsung terpancar ketika pintu itu terbuka, dari balik sisi yang berbeda terlihat rimbun pohon semak yang terbentang sepanjang mata memandang, dan sedikit familiar di mata Darto, Jaka dan Komang yang pernah melewatinya.


"Pulanglah ... panggil saja namaku di tempat kalian keluar, aku akan langsung membuka pintu untuk kalian," ucap Brahmana dengan senyum mengambang.


Setelah mendengar ucapan Brahmana, Darto langsung mendekat ke arah pintu. Dia memimpin jalan di depan, dengan Jaka, Sastro, Wajana, Komang dan Maung yang berjalan di belakangnya.


Enam pria itu masuk ke dalam pintu dan langsung sampai di tempat yang sama persis seperti yang sudah dijelaskan oleh Kanti.


Mereka terlempar ke tempat yang memiliki dua pohon besar yang semula menjadi gerbang, untuk memasuki kampung terpencil, tempat dimana Jaka dibesarkan.


"Sekarang, Kita pergi ke pesantren," ucap Darto bergumam, "Komang ... tolong bawa Jaka dan pimpin jalan, kamu masih ingat, kan? jalan ke pesantren dari sini?" Sambungnya lagi dengan nada lantang.


"Masih, Dar," jawab Komang singkat sembari menunduk, agar Jaka bisa naik ke punggungnya.


"Maung ... Ayo kita berangkat," Darto melompat ke atas tubuh maung.

__ADS_1


Melihat empat temannya sudah siap melesat, Sastro dan Wajana langsung undur diri dan menghilang bagai kepulan asap, mereka pergi setelah mengucap kata yang sama, yaitu, "Sampai jumpa di pesantren."


Bersambung ....


__ADS_2