
"Duduk yang tenang, Nang. Pejamkan matamu, ikuti arahan yang aku berikan," ucap Kanti setelah duduk di atas dipan yang sama.
Mendengar perintah tersebut, Darto langsung duduk bersila dan memejamkan matanya. Darto tampak tidak bergeming hingga tiba-tiba Kanti menyentuh pundaknya.
"Sepertinya kamu sudah tidak butuh bantuan energi dariku, Nang. Punyamu sungguh luar biasa, itu energi yang jauh dari kata cukup jika kamu bisa memanfaatkannya dengan baik," sambung Kanti sembari melepas tangannya dari punggung Darto.
"Apa yang harus saya lakukan, Mbok?" Darto kembali membuka mata dan menoleh ke arah Kanti.
"Alirkan saja energi milikmu ke bagian tubuh yang terluka," ucapnya singkat kemudian beranjak menjauh dari dipan. Dia memberikan waktu kepada Darto untuk mengurus luka yang masih basah di perut miliknya.
Menyanggupi ucapan Kanti, Darto langsung kembali fokus dalam duduknya. Dia memejamkan mata sembari terus melantunkan doa. Hingga tidak lama setelah Darto tenggelam dalam fokusnya, Cahaya putih mulai bersinar di bagian luka miliknya. Luka yang di miliki Darto berangsur membaik, bahkan kulit yang masih basah perlahan mulai mengering hingga berwarna hitam dalam seketika.
"Kenapa tidak ada tang memberi tahuku, jika energi bisa digunakan untuk hal seperti ini," ucap Darto pelan, dia berbicara pada dirinya sendiri setelah melihat luka di perutnya benar-benar sudah mengering.
Setelah melihat lukanya membaik, Darto kemudian berdiri dan menyusul kanti yang sudah meninggalkan dirinya. Dia meninggalkan kamar yang ia kenakan, kemudian sampai di satu ruangan.
"Sudah selesai, Nang?" tanya Kanti setelah melihat Darto keluar dari kamar miliknya.
"Alhamdulillah, Mbok. Luka Darto langsung kering," jawab Darto sembari terus melihat perutnya.
"Baiklah mari kita mulai selanjutnya," ucap Kanti kemudian mengajak Darto keluar dari rumah miliknya.
__ADS_1
Darto sedikit kebingungan tentang apa yang hendak ia lakukan, namun dia tidak bisa menolak ajakan Kanti. Jadi mau tidak mau dia terus mengikuti apapun tang Kanti minta untuknya.
Saat ini Darto dan Kanti tengah berdiri di halaman sebuah rumah. Mata Darto sempat membulat karena ketika keluar dari dalam rumah, dia mendapati barisan pohon yang berjajar begitu rapat di depan matanya. Rumah Kanti benar-benar jauh dari pemukiman, dia hidup sendiri di tengah hutan.
"Kamu tunggu dulu di sini. Aku akan seseorang dulu,"ucap Kanti kemudian menghilang dalam hitungan detik, dia sirna begitu saja tanpa menunggu jawaban Darto terlebih dahulu.
Saat ini, Darto tengah menunggu dalam bingung, dia sesekali memperhatikan sekeliling, mencari sumber suara air yang mengucur. Mata Darto kembali terbelalak ketika baru beberapa langkah dia hendak meninggalkan rumah Kanti, namun ketika menoleh ke belakang rumah yang ia singgahi sudah hilang. Dia kini tengah berdiri di samping pohon beringin yang tidak asing sama sekaki baginya, pohon beringin yang selalu dia gunakan sebagai tempat istirahat ketika melakukan perjalanan menuju rawa.
Ketika Darto tengah kebingungan, Kanti datang menjemput Darto bersama seorang lelaki. Kanti bahkan menjewer Darto karena sedikit kesal, setelah melihat Darto yang begitu saja berjalan meninggalkan rumahnya.
"Kamu bisa ilang di hutan mati, Nang!" ucapnya sungut-sungut sembari menarik telinga Darto mendekat kepada lelaki yang tersenyum padanya dari kejauhan.
"Kenalkan, namanya Abirama, dia yang akan melatih kamu, Dar. Dia setara dengan Gending jika kita membahas kekuatan. Kamu harusnya bisa dengan mudah mengalahkan dia, tapi jika kamu memang bisa memanfaatkan semua energi yang ada di dalam tubuhmu," ucap Kanti sembari melepas tangannya dari telinga Darto.
"Kamu benar-benar keturunan Kanjeng Darma?" tanya Abirama sembari menatap Darto heran.
"Darma?" Darto mengulang nama yang Abirama sebut dengan wajah kebingungan, kemudian menyambung perkataannya, "Aku hanya tau nama Darsa leluhur yang pernah memberiku energi dan tasbih ini."
Mata Abirama membulat setelah melihat tasbih yang ditunjukkan oleh Darto di depannya, dia langsung meraih tasbih tersebut dalam sekejap, kemudian memperhatikan dengan seksama.
"Benar, Darsa itu anak dari Kanjeng Darma. Dia yang membuat tasbih ini, aku tidak menyangka bisa melihat lagi sesuatu yang dulu Kanjeng buat dengan tangannya sendiri," jawab Abirama sembari menyodorkan tasbih di tangannya kembali pada pemiliknya.
__ADS_1
"Maksud bapak, Romo?" jawab Darto singkat sembari meraih tasbih kayu miliknya.
"Ah, benar. Dulu Darsa dan dua makhluk yang selalu mengikuti Darsa memanggilnya Romo," ucap Abirama sembari berjalan pelan menjauh dari Darto, kemudian berbalik badan menghadap pada Darto dari kejauhan.
"Nanti akan aku ajarkan cara memakai tasbih itu dengan benar, jika kamu bisa melakukan ini," ucap Abirama dari kejauhan.
Mendengar ucapan itu, Darto seketika memasang pandangan serius. Dia memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Abirama hingga dirinya melangkah semakin menjauh dari tempat Darto berdiri.
"Perhatikan!" Sambungnya kembali dari tempat yang jauh sekali.
Dalam satu kedipan mata, Abirama sudah sampai tepat di samping Darto yang masih menoleh ke arah awal Abirama berdiri. Darto benar-benar terkejut melihat kecepatan Abirama berpindah, bahkan itu lebih cepat dari Buto ireng yang pernah ia lawan.
"Ini yang membedakan kami dengan manusia, kami tidak memiliki raga, hingga kami bisa semena-mena mengabaikan sesuatu yang kalian sebut ruang," ucap Abirama menjelaskan tindakannya tadi, sembari terus berpindah tempat dengan kecepatan yang tidak bisa di ikuti mata telanjang.
"Saya pernah melakukan itu ketika energi saya bergesekan dengan energi Gending, Pak. Tapi saya juga tidak sadar bagaimana cara melakukannya," jawab Darto sembari menerawang kejadian yang ia alami ketika bertarung melawan gending.
"Benar, Nak. Sebenarnya manusia juga bisa melakukannya, jika mereka menuangkan energi dua kali lebih besar dari energi yang bangsa kami gunakan. Aku bisa berbicara seperti ini karena Kanjeng Darma lah yang mengajariku melakukan gerakan ini, dia bisa berpindah tempat sesuka hati, meski jiwanya masih berada di dalam raganya. Dulu dia menyebut gerakan ini sebutan lempit. Karena memang dalam proses menyatukan dua titik yang terpisah, kita menghubungkannya dengan cara yang mirip seperti ketika melipat kertas," ucap Abirama kembali, dia berbicara panjang lebar mencoba memberi penjelasan kepada Darto, tentang apa yang tengah terus ia lakukan.
"Mulai Sekarang, Cobalah berpindah tempat tanpa melangkahkan kaki. Tidak perlu jauh-jauh, meski itu hanya satu langkah, tetap saja itu hal yang sulit dilakukan oleh manusia," sambung Abirama sembari mendorong Darto dengan sedikit tenaga, dan tanpa sengaja Darto tersungkur dengan muka yang lebih dulu menyentuh tanah.
Melihat Darto yang tersungkur, Abirama dan Kanti saling bertatapan, mereka menahan tawa melihat betapa lemahnya Darto kala itu. Namun mereka bergegas membantu Daro untuk berdiri dengan sigapnya, kemudian mengajarkan pelan-pelan semua proses yang harus Darto lakukan.
__ADS_1
Bersambung,-