ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KAMPUNG IJUK


__ADS_3

Di suatu tempat yang jauh, tengah terjadi suatu wabah yang merenggut puluhan nyawa warga dalam beberapa bulan terakhir. Mereka sempat kewalahan untuk beberapa hari, namun akhirnya sesepuh yang dipercaya warga memberikan suatu harapan. Meskipun mereka belum tau tentu cara untuk menghilangkan wabah tersebut, namun setidaknya mereka bisa mencegah hal-hal buruk yang semula terus merenggut puluhan korban.


"Jang?! Sebenarnya teh ini ular dari mana, nyak? Sudah jenuh saya sama binatang ini," ucap salah satu pemuda yang baru saja berhasil membunuh ular di depannya. Dia beserta beberapa temannya selalu berkeliling kampung untuk memburu sumber wabah yang sudah berlangsung berbulan-bulan lamanya.


"Iya, Sep. Mana orang yang ditunggu abah acan datang sampai sekarang," jawab salah satu pemuda di sebelahnya, mereka tengah membicarakan seseorang yang di tunggu sesepuh mereka, yang katanya bisa mengusir wabah ini saat durinya datang.


"Kita ke rumah Ki Karta lagi yuk, Jang. Kita tanya lagi, siapa tau dia sudah di sana," ucap pemuda itu kemudian mereka menaruh bangkai ular di dalam kobaran api, di lanjut melangkahkan kaki menuju rumah sesepuh yang tidak jauh dari tempat mereka membakar ular tersebut.


Dalam perjalanan menuju rumah sesepuh, pemuda itu sempat membunuh dua ular lagi sebelum sampai di rumah tujuannya. Kampung ijuk benar-benar sedang dilanda sebuah bencana. Meski bukan hanya kali ini saja mereka mengalaminya, namun saat ini adalah saat terparah yang pernah mereka alami, dibanding sebelum-sebelumnya.


"Assalamu'alaikum!" teriak salah satu pemuda sembari mengetuk pintu rumah sesepuhnya.


"Wa'alaykumussalam!" jawab lelaki tua sembari membuka pintu, kemudian kembali bertanya kepada dua pemuda di depannya, "Asep? Ujang? Ada perlu apa kalian sore-sore begini?''


"Begini, Ki. Ularnya semakin banyak beberapa hari ini. Apa orang yang Aki tunggu belum datang?" ucap Ujang langsung pada intinya.


"Belum, Jang. Tapi sebentar lagi pasti penolong kita datang. Teman saya sudah memberi kabar seminggu yang lalu. Sok atuh masuk dulu," jawab Ki Karta singkat kemudian mengajak dua pemuda itu masuk ke dalam rumahnya.


Asep dan Ujang langsung masuk kedalam rumah Ki Karta. Mereka kemudian duduk di dalam ruang tamu, ditemani tiga gelas teh pahit yang baru saja disuguhkan oleh putri Ki Karta.

__ADS_1


"Terimakasih, Neng," ucap Asep sembari terus memandang putri Ki Karta.


"Bukan apa-apa, Kang. Maaf adanya minuman," ucap wanita itu setelah meletakkan nampan di atas meja, dan langsung pamit menuju ruang sebelahnya lagi.


"Eeeee! Matanya Sep! Kita teh kesini bukan mau godain Neng Gayatri!" ketus Ujang sungut-sungut setelah melihat Asep tidak berkedip memandang Gayatri.


Melihat tingkah kedua pemuda itu, Ki Karta hanya terkekeh pelan kemudian mempersilahkan dua pemuda di depannya untuk segera meminum teh yang putrinya bawa selagi masih hangat.


"Apa bener, Ki? Kalau ular yang kita bunuh itu bukan ular betulan?" tanya Ujang sedikit berbisik. Matanya jelalatan, dia merasa takut ucapannya akan didengar oleh ular yang dia anggap jadi-jadian.


"Itu ular biasa, Jang. Hanya saja mereka bertindak bukan atas kemauan sendiri. Pemimpin mereka yang memberikan perintah," ucap Ki Karta singkat kemudian meraih gelas di depannya.


"Dalam empat bulan saja berapa tumbal yang sudah dia dapat, Sep? Sedangkan dia sudah hidup ratusan tahun. Jika dia berniat membunuhku, dia bisa melakukannya kapan saja," ucap Ki Karta dengan tatapan serius.


Mendengar ucapan Ki Karta, Asep dan Ujang seketika tertegun. Mereka bungkam tidak bisa berucap, karena bagi mereka Ki Karta adalah orang yang selalu bisa dijadikan harapan, jika sudah menyangkut dengan persoalan hal-hal mistis.


"Kalian tenang saja, yang akan datang ke sini bukan orang biasa," sambung Ki Karta sedikit tersenyum, karena dirinya sudah tau bahwa Darto akan datang mengurus semua masalah yang tengah dilanda kampung tersebut.


"Semoga ini kali terakhir ya, Ki. Saya capek kalau tiap tuju tahun harus mengubur korban gigitan ular. Tahun ini paling parah, padahal setengah penduduk sudah mengungsi," ucap Asep sembari menggeleng kepala. Mengingat dirinya sudah mengubur puluhan mayat hanya dalam berapa bulan terakhir.

__ADS_1


"Kita masih mending, Sep. Kampung sebelah hampir separuh desa mati! Padahal dari dulu di kaki gunung kecubung cuma kampung kita yang selalu punya korban gigitan ular, tapi kali ini banyak sekali kampung yang di serang hewan itu," sambung Ujang dengan wajah mulai berkeringat, dia merasa takut setelah mengingat kabar buruk yang sudah dia dengar dari temannya di kampung sebelah.


"Iya, Jang, mereka tidak ada persiapan karena baru pertama kali diserang ular. Beda sama kampung kita, yang selalu sigap kalau sudah mau masuk tanggal satu suro. Itu sebabnya setengah kampung bisa mati hanya dalam satu malam," ucap Ki sembari menggeleng kepala, dia merasa iba dengan apa yang dialami tetangga kampungnya.


Mendengar ucapan itu, Asep dan Ujang langsung bergidik, mereka membayangkan kejadian menyeramkan yang dialami penduduk kampung tetangga mereka. Melihat tingkah ketakutan kedua pemuda di depannya, Ki Karta hanya bisa tersenyum kemudian mengajak mereka untuk pergi ke saung, karena hari sudah mulai gelap.


Setelah Ki Karta mengumandangkan Adzan, beberapa pria datang menuju saung dengan sarung dan peci yang mereka gunakan. Semua orang tampak membawa bambu kuning berukuran kecil di tangan mereka, untuk alat berjaga jika melihat ular di depan mereka.


Setelah semua orang berkumpul, Ki Karta memimpin shalat magrib di dalam saung tersebut. Ketika rakaat kedua sedang ditunaikan, suara deru mesin mobil tiba-tiba terdengar di samping saung.


Tampak seorang pemuda dan satu orang tua tergesa keluar dari dalam mobil. Mereka langsung berlari menuju arah pancuran, mengambil wudhu dan ikut bergabung dalam shalat magrib meski hanya mendapat satu rakaat terakhir yang tersisa.


Semua orang yang sudah selesai menunaikan shalat, langsung terptegun dengan kedatangan dua orang di belakang mereka. Mereka terus memperhatikan dua orang itu sembari terus berbisik pada orang di sebelahnya. Kata yang sama hampir terucap dari semua mulut yang ada didalam saung itu, mereka berkata "Apa orang itu belum mendengar kabar tentang kampung kita? Kenapa mereka masih berani masuk ke sini?"


Semua orang tampak bingung melihat Darto dan Mbah turahmin yang tengah melanjutkan rakaatnya, hingga akhirnya kebingungan mereka terpecah, ketika Ki Karta mendekat menyibak sekumpulan lelaki di belakangnya.


Melihat Ki Karta yang tersenyum dan langsung mendekat kepada dua lelaki yang saat ini tengah melakukan tahiyat akhir. Asep dan Ujang langsung sadar, jika dua orang asing di depan mereka adalah orang yang ditunggu oleh Sesepuh mereka, hingga berbulan bulan lamanya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2