ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HADIAH SELANJUTNYA


__ADS_3

"Darto ... Jaka ... mana yang akan pilih sekarang? Menunggu panen padi dan pulang, atau pulang dan kembali lagi ke sini setelah bertemu keluarga kalian? Tapi saat kalian keluar dari tempat ini Banaspati pasti langsung bisa merasakan kalian, karena energi kalian sudah lebih mencolok dibanding saat pertama kali datang ke sini," tanya Eyang dengan wajah serius.


"Berapa lama panennya?" tanya Darto dibarengi anggukan Jaka.


"Kurang lebihnya sekitar satu bulan lagi. Sekarang kalian sudah setara dengan Darma, tapi kalian tahu, kan? Kalau bahkan Darma dan Surya kewalahan melawan Banaspati, mereka sampai kehilangan hidup setelah satu kali berjumpa dengan mahluk itu," jawab Eyang.


"Kenapa kami harus menunggu panen?" Jaka bertanya dengan wajah bingung.


"Kalian tidak mau memakan padi yang saya tanam? Itu bisa membuat kalian memiliki energi bahkan melebihi pendahulu kalian," jawab Eyang.


"Apa dulu Kanjeng Darma juga memakan padi ini?" Darto membuka suara.


"Tidak ... mereka memutuskan untuk pulang dan kembali lagi ketika panen, tapi di perjalanan pulang tersebut mereka melawan Banaspati," jawab Eyang dengan wajah Tertunduk. Dia tampak sangat menyesal karena tidak bisa menahan dua pria yang sangat dirinya kenal waktu itu.


"Aku menyarankan kalian bersabar satu bulan lagi, kucing yang bernama Komang juga sedang dilatih oleh Maung. Lebih baik sedikit bersabar, agar bisa memakan buah yang sudah matang dan terasa manis," sambung Eyang dengan tatapan sendu di wajahnya.


Darto dan Jaka langsung mengangguk, mereka berkenan untuk tinggal lebih lama supaya bisa menghindari setiap bahaya yang mengancam.


"Kalau begitu, ayo kita masuk lagi," ucap eyang setelah melihat Darto dan Jaka mengangguk. Dia memimpin jalan untuk kembali masuk ke dalam gubuk miring miliknya.


Jaka dan Darto mengikuti langkah Eyang tanpa bertanya. Mereka masuk ke dalam bangunan yang sedari awal memang sama, namun ada satu perbedaan besar ketika mereka masuk untuk kedua kalinya.


Mata Darto dan Jaka seketika membulat sesaat setelah masuk ke dalam gubuk tersebut. Mereka kebingungan dengan ukuran bangunan yang berubah, serta interior yang cukup megah di dalamnya.


"Kalian bingung?" tanya Eyang sedikit terkekeh. Dia merasa lucu ketika melihat mata Jaka dan Darto yang sempurna membulat.


"Ini di mana Eyang?" tanya Jaka kebingungan, sedangkan Darto masih terus memperhatikan setiap sisi sudut rumah kayu yang terkesan sangat mewah di depan matanya.

__ADS_1


"Ini rumahku, tadi kalian mampir di gubuk tempatku istirahat ketika ke sawah," jawab Eyang singkat.


Tidak lama setelah Eyang mengucap kata itu, dia menunjuk satu ruangan yang memiliki pintu kayu dengan ukiran rumit di setiap sudutnya sembari berkata, "Masuk ke situ, ambil satu benda yang menurutmu berguna."


Darto dan Jaka seketika langsung mengangguk dan pergi menuju pintu yang ditunjuk oleh Eyang Semar.


Perlahan mereka membuka pintu, dan seketika mata mereka kembali terbelalak. Tumpukan emas berlian benar-benar menggunung di dalam ruangan tersebut. Mahkota milik Satria, blangkon milik Ki Gandar, bahkan senjata-senjata berkilauan tergeletak begitu saja di atas tanah.


"Ini semua milik Eyang?" tanya Darto.


"Yang punya sudah pada mati, manusia suka sekali menyimpan benda-benda berkilau seperti itu. Kalian boleh memilikinya jika menurutmu ada yang menarik," jawab Eyang Semar.


Darto dan Jaka langsung melebarkan langkah, kemudian langsung mencari-cari benda yang menurut mereka akan berguna. Namun hingga satu jam lamanya mereka berdua sama sekali tidak merasa tertarik dengan ribuan benda yang tergeletak di sana.


"Kenapa lama sekali? Kalian tidak mau jadi orang kaya?" tanya Eyang sedikit menguji.


"Kalau ada, apakah Eyang punya sesuatu yang bisa melindungi keluargaku?" tanya Darto mengelak pertanyaan Eyang.


"Bukannya di dunia manusia jika kamu punya uang, sama saja dengan kamu punya segalanya?" tanya Eyang kembali.


"Tapi lawan kami bukan manusia," jawab Darto dan Jaka bersamaan. Mereka menatap Eyang dengan tatapan yakin sehingga Eyang Semar langsung terkekeh pelan sembari melangkah keluar dari ruang harta.


Untuk cukup lama Eyang tidak kembali, hingga cukup lama waktu yang terbuang untuk menunggu. Dalam penantiannya, seseorang datang menghampiri Darto dan Jaka. Namun yang datang kembali merupakan seseorang yang sepenuhnya berbeda. Seorang pria putih yang bertubuh gempal, pendek, pantat dan perutnya sungguh besar.


Dia tampak aneh di mata Darto dan Jaka namun ketika dirinya membuka suara, dua pemuda itu langsung tahu jika orang tersebut adalah sosok yang sama dengan pemilik gubuk dan rumah yang tengah mereka singgahi saat ini.


"Kenapa kalian lihat tubuhku seperti itu? Jangan bilang kalian jadi ingat istri kalian setelah lihat ini!" ketus Eyang sembari memegangi dadanya yang besar, dada miliknya sama persis dengan dada wanita.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Darto dan Jaka spontan terbahak. Mereka merasa orang di depannya sangat konyol, dan juga selera lawaknya benar-benar diluar perkiraan.


"Ini untuk kalian. Benda ini memiliki aura milikku, kalau cuma mahluk sekelas bawahan banaspati, pasti mereka akan berpikir ribuan kali untuk mendekati keluarga kalian," ucap Eyang sembari menjulurkan kalung yang memiliki bandul batu bening. Sama persis dengan batu yang ditinggalkan Darma kepada Surya.


Darto dan Jaka langsung meraih kalung di tangan Eyang sembari mengucap terimakasih dengan sangat tulus. Setelah itu mereka mengantongi kalung tersebut dan kembali mengikuti langkah Eyang yang mengajak mereka keluar dari dalam rumahnya.


Mata Darto dan Jaka kembali terbelalak ketika sudah keluar dari ruangan. Mereka keluar dari pintu yang sama dengan saat mereka masuk, namun pemandangannya benar-benar berbeda.


Yang tampak di depan mata ada sebuah pedesaan, yang seluruh penghuninya adalah perempuan. Perempuan yang memiliki paras begitu cantik, bahkan melebihi Utami.


"Siapa mereka, Eyang?" tanya Jaka sembari meneguk ludah yang tercekat.


"Mereka dayang yang aku jaga, Jak. Kamu mau ambil satu?" goda Eyang yang melihat Jaka berusaha menelan ludah susah payah.


Setelah mendengar pertanyaan Eyang Semar, Jaka langsung menatap Darto di sebelahnya. Darto tampak biasa saja melihat kecantikan puluhan wanita di depannya, justru dia malah tampak murung mengingat sesuatu yang pernah Eyang bisikkan.


"Jangan sedih, Nak. Nanti kalau sudah waktunya kamu juga boleh memiliki satu," gumam Eyang pelan. Eyang sengaja bergumam sangat pelan sehingga Darto dan Jaka tidak bisa mendengarnya.


Eyang benar-benar paham betapa rindunya Darto dan Jaka kepada keluarga mereka. Ditambah Eyang merasa kasihan dengan Darto, yang memiliki takdir yang mungkin akan terasa sangat mengerikan bagi sebagian orang di dunia.


Melihat Darto yang begitu sedih, Eyang merangkul dua pemuda itu kemudian menarik mereka ke tengah perkampungan tersebut.


Eyang memperkenalkan satu persatu wanita yang memiliki paras luar biasa cantiknya itu, dan kemudian menyuruh Darto dan Jaka memilih salah satu yang menurut mereka paling menarik.


Darto dan Jaka hanya bisa saling menatap, kemudian menatap Eyang dengan ekspresi bimbang yang kentara. Meski Eyang tampak serius dan tidak seperti bercanda, Darto dan Jaka tetap tidak tergoda dengan tawarannya.


Saat ini diibaratkan Jaka dan Darto tengah dihadapkan dengan sebongkah berlian yang sangat berkilau di depan matanya, namun mereka malah justru mengingat sesuatu yang hanya setara dengan secuil perunggu jika dibandingkan dengan apa yang ada di depannya.

__ADS_1


Meski hanya bernilai seperti itu, Darto dan Jaka sama sekali tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan perunggu yang mereka sebut istri tercintanya. Karena bagi Darto dan Jaka, Magisna dan Harti merupakan harta yang tak terukur nilainya.


Bersambung ....


__ADS_2