ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEMENANGAN INSTAN


__ADS_3

Setelah melompat begitu tinggi, Darto dan Jaka menusuk kepala dua musuhnya dengan sekuat tenaga. Mereka mengincar kening yang terbuka lebar, tanpa perlindungan sama sekali di depan mata mereka.


Namun sayang, hanya dalam hitungan sepersekian detik, dua mahluk itu berhasil mengangkat gada di tangannya, hingga senjata miliknya mampu menepis tusukan kejutan dari Darto dan Jaka.


Dentuman dahsyat seketika terjadi. Gesekan dari senjata Darto, Jaka dan dua lawannya benar-benar menciptakan suara ledakan yang begitu hebat. Seluruh dinding goa seketika langsung berderit karena getaran yang dihasilkan dari benturan energi dua pasang lawan di dalamnya.


Maung dan Komang yang mendengar dentuman begitu hebat dari arah dalam goa, langsung berlari tergesa untuk menyaksikan kebenaran yang tengah terjadi di dalam sana.


Ketika mereka berhasil mencakar setiap mahluk yang menghalangi jalan mereka, mata mereka langsung membulat ketika melihat Darto dan Jaka masih melayang, dan siap untuk menerima pukulan dari gada besar yang terbuat dari batu di tangan lawannya.


Mereka sempat panik, namun kekhawatiran mereka berangsur menipis ketika Darto dan Jaka mampu menghalang amukan gada dari lawannya.


Darto dan Jaka menggunakan tombak di tangan mereka untuk menghalau serangan lawannya, hingga tubuh mereka terpental jatuh dan mendarat dengan begitu cepat. Untung saja, Darto dan Jaka masih bisa mendarat dengan halus, mereka menapakkan kaki tanpa hambatan, hingga tidak ada satupun luka yang mereka terima setelahnya.


"Jaka, tolong ulur waktu sebentar," pinta Darto sesaat setelah mendarat ke atas tanah.


"Mau pakai itu, Kang?" sahut Jaka tanpa memandang lawan bicaranya. Dia terus mencoba memberi serangan pada lawan yang masih terus mengayun gada di tangan miliknya.


"Iya, Jak. Tolong ulur sebentar saja," jawab Darto kemudian mendapat anggukan kepala Jaka.


Jaka bergegas melompat ke tempat berbeda, dia berdiri di tengah dua lawannya dan menghadapi dua lawan di depannya itu secara sekaligus. Dia menciptakan satu peluang agar Darto bisa menggunakan waktu yang dirinya sediakan, untuk menciptakan sebuah senjata yang sudah Darto kuasai ketika belajar dengan Samasta.


Melihat Jaka mengangguk dan mulai bertarung dengan dua lawan di depannya. Darto sepenuhnya percaya jika Jaka tidak akan menemui kesulitan sama sekali menghalau lawannya. Dia langsung duduk bersila, kemudian memendarkan cahaya putih yang mulai memiliki bentuk menyerupai pedang yang melayang di depan wajahnya.

__ADS_1


Pedang tersebut selayaknya menyerap setiap energi yang keluar dari tubuh Darto, hingga bentuknya semakin memadat dan terus memadat setiap detiknya.


Sungguh satu pedang yang Darto ciptakan kali ini benar-benar berbeda dengan pedang yang selalu ia gunakan sebelumnya. Disamping bentuknya semakin panjang dan runcing, kekerasan dari energinya benar-benar mengungkuli kepadatan pedang asli yang terbuat dari besi.


Setelah pedangnya selesai memiliki bentuk dan kepadatan seperti yang Darto inginkan. Darto kembali menatap Jaka sembari berkata, "Cukup, Jak. Sekarang kamu bisa istirahat."


Mendengar ucapan Darto, Jaka spontan menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum sumringah setelah melihat pedang yang terus memancarkan aura, bagai pancaran arus listrik di tangan kawannya sembari berkata, "Baik, Kang."


Setelah mengucap kata itu, Jaka langsung menghilang bagai kepulan asap dan berpindah ke belakang tubuh Darto. Dia duduk dengan santainya sembari berkata, "Sekarang, Kang. Aku penasaran apa mereka bisa menahan itu atau tidak."


Sesaat setelah Jaka mengucap kata tersebut. Darto langsung menerjang maju ke arah lawan yang tengah mencari keberadaan Jaka. Mereka menoleh hingga memutar badan, karena kebingungan setelah Jaka tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangannya.


Dalam rasa penasarannya, mereka berdua yang tengah berputar-putar badan langsung memasang posisi siap untuk menahan serangan. Mereka cukup terkejut melihat Darto yang berlari dengan kecepatan gila, sembari mengangkat pedang tinggi-tinggi menggunakan kedua tangannya.


Sayangnya, gada miliknya benar-benar teriris. Darto membelah gada itu selayaknya tahu, yang terlihat sangat lunak dan juga sangat lembek.


Bukan hanya gada satu lawannya, setelah Darto menebas senjata milik salah satu musuh, dia kembali melompat tinggi dan mengayun pedang miliknya menuju sisa musuh yang masih memegang senjata di sampingnya


Sama dengan sebelumnya, dia menggunakan gada di tangannya untuk membentengi diri dari tebasan yang tengah Darto ayunkan. Namun hal yang serupa juga berlaku pada dirinya, gada di tangannya benar-benar terbelah menjadi dua, dan kemudian Darto meninggalkan dua lawannya yang sudah tampak bungkam dan tidak melakukan gerakan lagi.


"Ayo, Jak. Kita habiskan yang di luar," ucap Darto setelah berhasil membelah dua gada dari sosok raksasa kembar di depannya.


"Mari, Kang," sahut Jaka kemudian berpindah mengikuti lintasan Darto hingga kembali sampai di depan mulut goa.

__ADS_1


Setelah Jaka dan Darto berhasil keluar, dua sosok raksasa yang sudah tidak memiliki gada langsung membalikkan mata mereka. Tanpa mereka sadari bukan hanya gada di tangan mereka, melainkan tubuh mereka juga sudah terbelah menjadi dua.


Tubuh mereka benar-benar sempurna teriris, hingga menjadi dua bagian yang kini tergeletak di atas tanah. Dalam waktu yang bersamaan dengan dua tubuh raksasa itu ambruk, dinding goa yang ada di atas kepalanya juga ikut terbelah. Ada bekas potongan pedang yang tampak rajin dan dalam, yang tergurat pada atap dan tanah di dalam goa tersebut.


"Maung, Komang, lebih baik kalian ke belakang tubuhku," pinta Darto setelah dirinya sampai tepat di samping Maung dan Komang.


Mendengar ucapan Darto, Maung dan Komang langsung melompat dan menyaksikan apa yang akan Darto lakukan. Mereka menatap lurus ke arah pemuda di depannya kemudian selang beberapa detik Darto hanya mengayunkan pedang di tangannya dalam dua gerakan saja.


Suatu tebasan ke samping yang diulang dua kali, benar-benar berhasil merubah suasana menjadi hening dalam seketika. Tidak ada riuh suara ramai lagi, seakan semua lawan yang tengah mereka lawan hilang ditelan kabut yang begitu pekat.


"Kemana mereka, Dar?" tanya Maung heran.


"Coba saja kamu mengaum," pinta Darto sembari menghilangkan senjata di tangannya.


Mendengar itu, bukan hanya Maung, Komang juga ikut mengaum karena penasaran. Mereka mengaum dengan begitu lantang hingga ketika kabut kembali terpental tampak puluhan kepala yang sudah terpisah dari badannya.


Pedang Darto benar-benar tajam. Bahkan lintasan angin yang dibentuk oleh pedang di tangannya juga mampu memotong lawan mereka yang menyentuhnya. Hari itu hanya dengan empat tebasan saja, dua pemimpin dan puluhan prajuritnya benar-benar musnah dan mulai menjadi butiran debu setelah terbakar.


Melihat tidak ada musuh yang berdiri di sekitar mereka. Darto menatap Jaka, Maung dan Komang secara bergantian. Dia menatap tajam sembari berkata, "Sekarang tinggal musuh utama yang ada di dalam. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain energi besar yang mirip dengan punya Jaka di dalam. Kalian siap untuk bertarung melawan dia?"


Mendengar itu, tiga teman Darto langsung memasang wajah ragu. Mereka merenung untuk sejenak, kemudian Jaka yang menjawab dengan tatapan yang sama sekali tidak goyah di wajahnya, "Mari kita selesaikan sekarang, Kang."


Bersambung ....

__ADS_1


Maaf ya, author bener-bener down, seharian tidur terus, buat mikir pusing sekali kepalanya. Jadi maaf kalau hari ini cuma satu 🤒


__ADS_2