
Setelah wanita yang di sebut Si Mbok menjewer dan menyeret paksa tubuh yang tengah dihuni Darto, Dia kembali meninggalkan Darto sendirian di kamarnya. Namun sebelum dia meninggalkan anaknya itu, Darto sempat berpesan jika dia hendak melakukan puasa besok, dan wanita itupun menyanggupi untuk membangunkan anaknya sebelum fajar.
'Ujian apa ini? untuk apa aku masuk ke dalam tubuh ini? apa yang di inginkan leluhurku?' gumam Darto sembari membaringkan tubuhnya di atas dipan. sesekali dia mencoba menggunakan energi di tangan kanannya, hingga cahaya putih pun mulai terpancar dari telapak tangannya.
Sesekali Darto tersenyum melihat cahaya yang bersinar di tangannya, meski redup tapi Darto merasa lega dia masih bisa mengendalikannya.
Ketika tengah dirundung kebingungan, Darto kembali teringat ucapan Si Mbok tentang Wajana dan Sastro. Darto pun bergegas duduk bersila, kemudian menutup mata sembari terus berdoa. Tak lama kemudian Darto membisikkan nama kedua sosok itu, dan kembali Darto hanyut dalam dunia gelap yang sudah bisa dia datangi kapan saja di kehidupan aslinya.
"Ada apa wahai temanku?" ucap sosok laki-laki separuh baya di dalam kegelapan itu. Dia terus mendekat dengan tubuh bercahaya miliknya.
"Apa Kau memanggilku? apa kamu sudah berubah pikiran dan ingin mengajariku ilmu?" ucap pemuda yang mengenakan pakaian kerajaan, tubuhnya bersinar, dia juga datang Dari arah yang sama dengan lelaki paruh baya itu.
Darto hanya bungkam, tidak menjawab apapun, sembari terus mengernyitkan dahi di wajahnya. Dia sedikit kebingungan melihat dua sosok yang tidak asing baginya, namun bentuk mereka sungguh berbeda dengan sosok yang selalu dia lihat di kehidupan miliknya.
"Wajana? Sastro?" ucap Darto sembari menunjuk satu persatu dua lelaki itu.
Melihat Darto yang kebingungan, Sastro dan Wajana juga kebingungan, mereka saling menatap, pandangan mereka bertemu, sebelum akhirnya kembali menatap Darto.
"Kamu habis terbentur kepalanya? Kang?" ucap wajana sembari mendekat dan memegang kepala Darto.
"Tidak! hanya hanya merasa lucu saja, di sini saya tidak perlu memanggil kalian dengan sebutan Kakek, ha ha ha ha!" ucap Darto sembari tertawa, setelah melihat wujud kedua Kakek itu masih begitu muda.
__ADS_1
Mendengar ucapan Darto, kembali dua sosok itu dirundung kebingungan, mereka benar-benar heran dengan tingkah bocah yang tengah dia temui itu.
"Sudah?! Saya cuma iseng sama kalian, bagaimana? ada kemajuan?" ucap Darto sekenanya, Darto memancing pembicaraan dengan mereka, dan berpura-pura akrab agar mereka tidak curiga.
"Belum Dar, bahkan saya sudah berjalan jauh dadi tempat terakhir kamu jatuh, tapi masih saja aku belum menemukan air terjun yang kamu minta," ucap Sastro sembari mengelus dagu yang belum berjenggot miliknya.
"Saya juga belum nemu, mungkin gadis itu memang ditakdirkan seperti itu sampai dia meninggal, Kang," ucap Wajana.
Darto kembali mengernyitkan dahi di wajahnya, dia terheran dengan panggilan yang Sastro dan wajana berikan, kenapa mereka memanggilnya 'Dar' sebenarnya siapa nama anak ini, dan kenapa juga Wajana memanggil orang yang lebih muda darinya dengan sebutan ' Kang '. Belum lagi, siapa gadis yang mereka maksudkan tadi, dan air terjun apa yang tengah anak ini cari.
"Yasudah, kalian bisa pergi kalau begitu, saya mau tidur. Assalamualaikum" ucap Darto kemudian meninggalkan dunia gelap itu.
"Wa'alaikumsalam?!" ucap mereka serentak dengan posisi berdiri sebelahan. Mereka tidak bergerak, terpaku melihat punggung Darto yang berangsur menjauh meninggalkan dunia itu.
Perlahan mata Darto menutup, tubuh yang dia singgahi benar-benar terasa lemas setelah kembali dadi dunia itu. Wajar saja bagi ukuran bocah yang sudah bisa keluar masuk ke dalam dunia yang terletak diantara dunia gaib dan nyata itu pasti sangat menguras tenaga miliknya. Darto akhirnya tertidur, dengan sangat pulas malam itu dirinya terlelap, hingga tak terasa sebuah tangan menepuk lembut bahu miliknya.
"Dar?! Darsa...?!" ucap Si Mbok sembari menepuk pelan tubuh anaknya itu. Dia mencoba membangunkan putranya, karena sudah memasuki waktu untuk melakukan sahur.
"Iya? siapa ya? eh... Mbok?" ucap Darto kembali kebingungan, dia benar-benar belum terbiasa melihat semua yang dia saksikan di hadapannya. Dirinya kini tengah dipaksa untuk hidup sebagai orang lain, jadi wajar saja jika setelah tertidur dia kembali kebingungan menyaksikan kenyataan yang terasa seperti mimpi.
"Ngimpi apa si kamu, Le? Masak sampai lupa sama Si Mbok?! ayo kita sahur! hampir jam setengah empat," ucap Si Mbok sembari memandangi jam pocket dengan rantai yang melilit di genggaman tangannya.
__ADS_1
"Njih, Mbok. Dar...." ucapan Darto berhenti sejenak. mengingat panggilan yang Si Mbok tadi berikan ketika membangunkannya. "Darsa shalat tahajud dulu," lanjut Darto setelah berhasil mengingat namanya.
"Si Mbok tunggu di dapur ya, Le," Ucapnya kemudian meninggalkan Darto sendirian di kamar.
Melihat Si Mbok pergi, Darto juga pergi meninggalkan kamarnya, dan langsung menuju tempayan, mengisi kendi kecil di sampingnya dengan air dari tempayan hingga penuh, dan kemudian memiringkan kendi agar air mengucur ke tanah. Lekas Darto berwudhu dan kemudian menunaikan shalat tahajud setelah kembali masuk kedalam kamarnya.
"Maaf ya, Le. Bapak bekum juga kembali, jadi kita sahur pakai singkong dulu, ya?" ucap Si Mbok sedikit menunduk, melihat menu yang tersedia di atas tikar hanyalah singkong rebus dan satu cobek sambal hijau.
"Ini saja sudah enak sekali, Mbok," ucap Darto sembari tersenyum kemudian duduk tepat di samping ibunya.
Mereka berdua dengan lahap memakan potong demi potong singkong rebus hangat yang masih mengepulkan asap di depan mereka, di akhiri dengan segelas air putih, kemudian mereka menadahkan tangan dan membaca niat untuk berpuasa bersama-sama.
Setelah Sahur selesai, Darto kembali menuju ke dalam kamarnya, dia hanya bisa terus melamun karena masih kebingungan dengan ujian yang tengah di hadapinya. Darto benar-benar tenggelam dalam lamunan hingga tiba-tiba Si Mbok memanggil dari sebelah kamarnya.
"Ayo Le, pakai baju kamu! sudah subuh?!" teriak Si Mbok sembari mengintip kedalam kamar yang Darto kenakan.
Menyanggupi ajakan Si Mbok, Darto langsung meraih baju yang tergantung di bilik bambu kamarnya, dia sedikit berlari menyusul Si Mbok yang sudah menunggu di depan pintu rumah. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju saung.
Sesampainya di saung, Darto sedikit terkejut karena saung penuh dengan penduduk yang cukup ramai, bahkan barisan shaf hampir memenuhi seluruh lantai saung yang di buat seperti rumah panggung.
Setelah selesai shalat jamaah di lakukan, Darto dan Si Mbok kembali menuju rumahnya, Namun langkah Darto terhenti ketika melihat seorang lelaki berjenggot dengan sorban di atas kepala tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Dia tersenyum ketika memandang Darto dan Si Mboknya, kemudian melambaikan tangan miliknya.
__ADS_1
Bersambung,-