
"Argh ...." Darto sedikit mengerang sembari memegangi tengkuk lehernya. Perlahan dia membuka mata, dan melihat Maung serta Komang yang tengah berbincang di sampingnya, "Apa yang terjadi?" sambungnya dengan wajah kebingungan.
"Maaf, Dar. Aku yang buat kamu pingsan," sahut Maung sembari mendekat ke arah Darto. Dia mencoba membantu Darto duduk, dan bersandar pada sebuah pohon yang ada di belakang tubuh Darto.
"Tidak, Maung ... aku yang seharusnya mengucap terimakasih. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku dan Jaka sudah jadi tumpukan bangunan di sana," tolak Darto sembari menoleh ke arah Jaka. Dia memandangi Jaka yang masih terkulai lemas di atas tanah.
"Apa rencana kamu selanjutnya, Dar? Musuh kita benar-benar banyak kali ini," timpal Komang.
"Benar katamu, Komang. Aku sudah merasakan musuh yang sangat banyak sebelum sampai di desa. Tapi aku benar-benar masih terlalu mudah digelapkan matanya oleh musuh tersebut," keluh Darto, "Sebaiknya kita istirahat dulu satu malam di sini, agar besok tenagaku dan Jaka benar-benar bugar," sambungnya lagi.
"Baiklah kalau memang itu mau kamu, Dar," sahut Maung yang sedari tadi mendengarkan.
Setelah percakapan itu, tidak ada lagi percakapan panjang antara mereka. Jaka juga tertekan bungkam setelah sadar dari pingsannya, dia tampak masih belum terima dengan tumpukan tengkorak dan tulang belulang yang di salah gunakan di tempat musuhnya.
Namun semarah apapun Jaka, dia juga tahu jika dirinya akan langsung mati, kalau dia menyerang membabi buta. Hanya orang yang bodoh yang tidak bisa merasakan hawa kehadiran dari ribuan musuh yang menjaga bangunan besar di sana, energi dari masing-masing penjaga yang tinggal di rumah kecil sekelilingnya bahkan bisa dirasakan dari saat mereka masih sangat jauh dari tempat tersebut.
Untuk cukup lama mereka berempat bungkam dalam kebingungan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, karena musuh mereka jelas-jelas menang jumlah dan juga terasa kuat jika dirasakan dari energinya.
Waktu demi waktu terus berlalu, mereka berempat benar-benar menghabiskan waktu untuk beristirahat. Ketika malam sudah larut mereka tidur dengan posisi berhimpit-himpitan, dengan Darto dan Jaka yang tertidur meringkuk tepat diantara Maung dan Komang.
Mereka benar-benar tertidur sangat pulas, meskipun hati dan pikiran mereka sebenarnya sangatlah jauh dari kata nyaman. Mereka masih sedikit kebingungan, dengan apa yang akan mereka lakukan besok.
Namun, meski belum ada titik terang dari jalan buntu yang mereka temui, waktu sama sekali tidak menggubris hal tersebut. Malam semakin terus menjadi larut, hingga fajar kembali menyapa kala itu.
__ADS_1
"Sastro! Wajana!" teriak Darto memecah lamunan tiga temannya. Dia berteriak sesaat setelah membuka mata, dan langsung mengagetkan tiga temannya yang sudah terbangun terlebih dahulu.
Darto berteriak cukup lantang. Suaranya bahkan sampai memantul dari tempat ke tempat, namun tidak ada jawaban maupun kehadiran dua teman yang namanya baru saja dirinya panggil .
"Percuma, Dar. Kita berada di dunia yang tersembunyi. Meski mereka mendengar, mereka akan kebingungan dengan asal suara orang yang memanggil," timpal Maung mencoba menjelaskan.
"Benar juga, ya ... kita ke sini saja butuh waktu yang lama," sahut Darto, "Padahal kalau ada mereka, pasti semuanya bisa jadi lebih mudah," sambung Darto sembari mendongak.
"Kang ... ada mereka maupun tidak ada, musuhnya tetap ribuan. Jadi mari kita selesaikan saja seperti biasanya," timpal Jaka. Dia mencoba menghibur Darto meski dirinya juga sedikit merasa takut.
"Iya, Dar. Aku dan Maung juga tidak lemah," sambung Komang. Dia juga berusaha menghibur Darto yang tengah memiliki pemikiran buntu.
"Baiklah ... Mari kita hancurkan saja tempat itu. Tenagaku benar-benar sudah pulih," sahut Darto setelah menghembuskan nafas panjang. Tatapannya berubah drastis, yang terpancar pada wajahnya adalah ekspresi yang sepenuhnya memancarkan sikap yakin.
Mendengar ucapan dan melihat ekspresi di wajah Darto yang begitu siap. Maung, Komang dan Jaka langsung menghela nafas panjang. Mereka berangsur menghembuskan perlahan, kemudian ikut memasang wajah mantap pada sisi depan kepala mereka.
Mendengar penuturan tersebut. Mata Jaka, Komang dan Maung langsung menjadi runcing. Mereka benar-benar sangat yakin, hanya karena mendengar perkataan yang keluar dari bibir kawan mereka.
"Aku akan kembali hidup," sahut Jaka tanpa bergeming.
"Aku juga," sahut Maung dan Komang secara bersamaan.
"Baiklah ... mari kita musnahkan mahluk-mahluk biadab itu!" teriak Darto sembari mencengkeram bulu Maung. Dia sudah bersiap, karena dia tau kalau Maung akan berlari setelah dirinya mengucap kata tersebut.
__ADS_1
Mendengar ucapan Darto, Jaka pun langsung memegang erat bulu Komang, dan setelah itu mereka semua kembali melesat, menuju perkampungan tulang yang pernah mereka temui.
Hanya butuh beberapa menit saja mereka kembali sampai di tempat tujuannya, sebelum akhirnya Darto dan Jaka turun dari punggung teman mereka.
"Jaka ... coba kau taruh energi di atas rumah tengah itu" ucap Darto sembari menciptakan panah andalannya.
"Baik, Kang," sahut Jaka singkat kemudian duduk bersila.
Seperti biasa, Jaka langsung membuat bola api yang terus memadat ketika dia duduk bersila. Dia terus mengumpulkan energi yang terus keluar dari telapak tangannya, hingga bola di depan wajahnya mulai terlihat padat setelah cukup lama.
"Sekarang, Kang," ucap Jaka masih dengan posisi duduk bersila. Dia tidak perlu berdiri hanya untuk memindah energi miliknya, hanya dengan tamparan tangannya saja energi itu sudah berpindah ke tempat yang diinginkan temannya.
Mendengar Jaka mengucap kata tersebut. Darto langsung menarik dan melepas anak panah dalam waktu yang singkat. Dia menembak bola energi yang sudah dipindahkan oleh Jaka, ke atas rumah yang diinginkannya.
Setelah anak panah Darto melesat dengan begitu cepat, satu ledakan yang terbentuk dari pergesekan dua energi seketika menggema. Ledakan itu memiliki dampak yang cukup hebat, karena sepuluh rumah tulang yang berada di sekitarnya ikut lenyap hanya dengan satu serangan saja.
"Berhasil ... kalau cuma seperti ini, mungkin kita masih bisa. Kita pasti hidup sampai bertemu pemimpin mereka," ucap Darto dengan sudut bibir sedikit mengambang. Dia sepenuhnya ragu sebelum menyerang, namun kali ini dia merasakan sensasi yang berbeda.
Mendengar itu, Jaka, Maung dan Komang juga langsung menaikkan sudut bibir mereka. Perasaan takut mulai tersingkir dari dada mereka, meski mereka baru saja berhasil menyingkirkan sepuluh rumah tulang yang berada paling dekat dengan mereka.
Ya ... itu hanya sepuluh rumah tulang. Masih banyak sekali rumah yang terbuat dari tulang disepanjang mata memandang, bahkan jumlahnya masih ratusan kali lipat, dari jumlah yang sudah mereka hancurkan.
"Jaka ... Mari kita mengamuk di depan sana," ucap Darto ketika ujung bibirnya masih melengkung. Dia tidak ingin membuang momentum, karena lawan mereka masih sibuk bersembunyi di dalam rumahnya masing-masing.
__ADS_1
Mendengar ajakan Darto. Bukan hanya Jaka yang mengangguk. Maung dan Komang pun ikut mendongak kemudian berlari tepat di belakang Darto dan Jaka. Empat pria itu maju dengan senyum mengambang, dengan nyali siap mati yang bersarang di dalam dada mereka.
Bersambung ....