ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MASIH TENTANG KEBENARAN


__ADS_3

"Tunggu sebentar, manusia. Dari cerita yang kamu sebutkan tadi, apa aku sudah mencoba membunuh keturunanku sendiri dengan cara menyerang Darma?" tanya Ki Gandar dengan mata membulat. Dia teringat dengan ucapan Jaka yang menyebutkan jika Darto merupakan keturunan Darma.


"Iya ... kamu sudah mencelakai dua cucumu secara bersamaan," sahut Darto sembari menatap tajam lawan bicaranya.


Mendengar jawaban Darto, Ki Gandar seketika langsung menelungkup wajah menggunakan dua telapak tangan miliknya. Dia mulai membanjiri pipi miliknya, dengan bulir bening yang mulai merembes bebas dari sudut matanya.


Dalam rasa haru Ki Gandar melepas kedua telapak tangan yang masih menutup wajahnya, kemudian menatap sendu ke arah lawan bicaranya sembari berkata, "Maaf ...."


Melihat Ki Gandar memasang wajah begitu bersalah, Darto hanya bisa membalas ucapan maaf dari lawan bicaranya dengan berkata, "Bagaimana kalau aku beri Kakek kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka secara langsung?"


Mendengar tawaran dari Darto, Ki Gandar benar-benar terkejut. Dia merasa tidak percaya hingga tanpa berfikir dia berkata, "Bagaimana caranya?! Kamu masih bisa bertemu dengan mereka?"


"Tidak ... Aku tidak bisa menemui mereka karena aku masih hidup," sahut Darto singkat.


"Lalu? Bagaimana cara kamu mempertemukan aku dan mereka?" tanya Ki Gandar kembali.


"Ada kehidupan setelah kematian, Kek. Kamu bisa bertemu dengan mereka jika mendapat izin dari sang pencipta," sambung Darto sembari menunduk.


"Jadi ... maksud kamu aku harus mati terlebih dahulu agar bisa bertemu dengan mereka?" tanya Ki Gandar dengan wajah terheran-heran.


"Maaf ... cuma itu satu-satunya cara, Kek," sahut Darto masih dengan wajah bersalahnya.


"Nak ... Aku mau jika benar-benar bisa mati. Sudah berkali-kali aku mencoba mengakhiri derita panjang ini. Tapi ... bahkan aku selalu tetap hidup setelah kepalaku terpisah dari tubuhku," ucap Ki Gandar dengan wajah menunduk. Pandangannya terbanting ke atas tanah, mengingat berapa banyak usaha yang sudah dirinya lakukan hanya untuk mati.


"Aku bisa membantu Kakek," sahut Darto singkat. Dia menatap yakin ke arah lawan bicaranya, sembari memasang wajah yang begitu serius di kepalanya.


"Bagaimana caranya?" tanya Ki Gandar kembali.


"Nanti temanku akan membantu, aku butuh tubuh miliknya agar bisa melepas belenggu yang mengikat leher Kakek," sahut Darto sembari menunjuk rantai yang memiliki bentuk sama persis, dengan rantai yang pernah mengikat Jaka dan keluarganya di hari lalu.

__ADS_1


"Rantai ini sudah mengekang leherku bertahun-tahun lamanya, mungkin sudah ribuan tahun jika dihitung menggunakan waktu yang berjalan di dunia manusia, aku tidak yakin jika dia mampu memutus rantai ini," jawab Ki Gandar, dia mencoba menjelaskan seberapa lama tali itu sudah mengekang tubuhnya, sejak hari di mana dirinya melakukan perjanjian dengan sesembahannya dulu kala.


"Tenang saja, Kek. Dia bahkan bisa menerima serangan darimu, kan? Dia bukan pemuda biasa, tubuhnya istimewa, Kek," sambung Darto mencoba meyakinkan.


Melihat raut Darto yang begitu yakin, Ki Gandar langsung mengangguk untuk mengutarakan jika dia setuju. Setelah melihat Ki Gandar mengangguk, Darto kembali menceritakan kelanjutan dari apa yang sudah Eyang Semar tunjukkan. Dia benar-benar bercerita secara rinci, hingga satu hal yang belum Ki Gandar ketahui mampu membuat hatinya meledak kembali.


"Jadi! Amerta itu anak Satria?!" teriak Ki Gandar. Suaranya begitu nyaring, dan sangat memekakkan teling.


"Iya ... Dia membawa garis darah Satria, namun dia tetap anakmu," jawab Darto singkat.


"Pantas anak itu memiliki wajah dan energi yang aku kenal! Aku mau mati jika dia juga ikut mati bersamaku!" ketus Ki Gandar sungut-sungut. Dia meninggikan nada bicara sembari menuding wajah Jaka yang masih duduk bersila sembari memejamkan mata.


Untuk sesaat Darto bungkam, dia memilah kata yang tepat untuk melindungi Jaka, hingga akhirnya dia menemukan satu alasan yang pas, dan tanpa menunggu lama dia langsung berkata, "Jadi itu balasan kamu?"


"Apa maksudmu?!" jawab Ki Gandar masih dengan nada kasarnya.


"Kamu membalas kebaikan putra pertamamu, yang bahkan sudah kau anggap sebagai anak sendiri dengan merenggut garis darahnya?" sahut Darto kembali bertanya.


"Jika dia Amerta, apa kamu akan tetap membunuhnya?" tanya Darto kembali.


Sesaat setelah mendengar pertanyaan itu, Ki Gandar kembali menunduk dia merasa bimbang, dan juga sangat kebingungan dengan jawaban yang tidak kunjung tiba di dalam pikirannya. Otaknya benar-benar buntu, setelah mendengar satu pertanyaan kecil yang keluar dari mulut lawan bicaranya.


"Brahmana tidak akan mampu bertahan hidup jika Amerta tidak mengurusnya. Amerta bahkan sering menahan lapar sampai berhari-hari hanya untuk memastikan adiknya bisa makan. Sekarang, kamu akan membunuh keturunan Amerta? Siapa yang kamu sebut pembunuh? Tangan Jaka masih bersih, dia belum pernah membunuh satu pun manusia selama hidupnya," sambung Darto setelah melihat Ki Gandar benar-benar kebingungan.


Mendengar ucapan Darto, Ki Gandar kembali menunduk, dia merasa sangat tersentuh, mendengar pengorbanan yang sudah Amerta lakukan untuk kelangsungan hidup darah dagingnya.


"Kenapa diam?" tanya Darto kembali, dan masih tidak mendapat jawaban dari lawan bicara yang masih terus menunduk.


"Kang?" ucap Jaka setelah bangun dari semedinya. Dia berhasil meleburkan energi yang bergejolak di dalam tubuhnya, kemudian langsung berpindah ke arah Darto yang tengah berbincang dengan lawannya.

__ADS_1


"Kamu berhasil, Jak?" tanya Darto dengan wajah lega.


"Alhamdulillah, Kang," jawab Jaka singkat kemudian menoleh ke arah Ki Gandar, "Kakek sudah tahu semuanya?" sambung Jaka.


"Sudah, Jak. Dia malah menginginkan kamu mati, agar dia bisa mati secara tenang," sahut Darto sembari menatap Ki Gandar kembali.


"Kakek ... silahkan ambil hidup Jaka. Jika memang itu bisa mengusir semua rasa benci yang ada di dalam dada Kakek. Jaka benar-benar ikhlas," ucap Jaka sembari menatap sendu ke arah Ki Gandar.


Mendengar ucapan itu, Ki Gandar langsung membungkus tangannya menggunakan energi yang berwujud api. Dia mencekik Jaka tanpa aba-aba dan langsung meras leher Jaka dengan kekuatan penuhnya.


Meski sudah mendapatkan satu serangan kejutan, Jaka tidak bergeming sama sekali, bahkan Darto juga tidak melakukan gerakan sedikit pun. Dua pemuda itu masih terus menatap sendu ke arah Ki Gandar, dengan wajah yang memasang ekspresi iba yang begitu kentara.


Melihat dua pemuda di depannya benar-benar tidak melawan, Ki Gandar spontan berteriak dan melepas cengkraman tangannya. Dia menarik lengannya sembari berteriak sejadi-jadinya, dengan suara lantang dan terdengar cukup lama.


Setelah berteriak begitu lantang, Ki Gandar seketika bersimpuh, dia menunduk begitu rendah, hingga keningnya menyentuh tanah di bawahnya.


Dia menangis sejadi-jadinya kala itu, karena dia benar-benar merasa jika dirinya tengah dirundung satu perasaan yang begitu menyesakkan di dalam dada miliknya.


Di satu sisi dia amat marah setelah mendengar Amerta adalah anak Satria, namun di satu sisi dia merasa bersyukur karena Amerta sudah bisa menjaga Brahmana meski tanpa kehadiran dua orang tuanya.


Ki Gandar benar-benar ingin membunuh dan berterimakasih pada satu orang dalam waktu bersamaan, dia bingung harus berbuat apa hingga hanya tangisan pilu yang mampu menjelaskan perasaanya.


Darto dan Jaka yang melihat Ki Gandar begitu terisak, mereka berangsur mendekat ke arah tubuh sosok pria tua di depannya. Dalam satu waktu mereka berdua mendekap tubuh Ki Gandar yang masih tertunduk, hingga Ki Gandar benar-benar kembali merasakan satu perasaan yang sudah begitu lama dirinya lupakan.


Luapan tetes demi tetes kembali menitik di atas tanah, air mata yang menetes dari Dagu Ki Gandar benar-benar seakan tidak mau berhenti, setelah dia kembali diingatkan sebuah perasaan yang dulu selalu dia dapatkan dari semua orang terdekatnya.


Saat ini, ingatan demi ingatan dari istri, kedua anak serta semua warganya kembali membanjiri otak Ki Gandar. Dia kembali mengingat setiap kasih sayang yang selalu dia terima dari semua orang terdekatnya, setelah lengan Darto dan Jaka mendekap erat tubuh miliknya.


Dalam rasa sendu, Jaka dan Darto terus mencoba menenangkan perasaan yang berkecamuk di dalam dada Kakek mereka. Mereka berusaha membantu meringankan, meski hanya dengan sebuah dekapan dan sedikit kata penguat di tengahnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2