
Seminggu sudah berlalu, tamu yang datang bagai gelombang banjir sudah berangsur surut. Hari ini tenda sudah di bongkar, meski masih ada satu, dua orang yang berdatangan untuk sekedar memberi ucapan selamat pada cucu pemilik pesantren itu. Sudah satu malam Darto dan Harti tidur di rumah yang digunakan orang tua Harti, rumah Kakung benar-benar penuh karena Ki Karta kembali dari rumah Surip yang sudah selesai melakukan resepsi.
Setelah hari sudah kunjung malam, barulah mereka semua bisa beristirahat dengan tenang. Semua orang yang menginap di rumah Kakung tengah berkumpul di ruang tamu saat ini, beserta Jaka dan Abah Ramli yang juga ikut membantu resepsi selama seminggu.
Dalam perbincangan, Ki Karta meminta untuk diantar pulang besok pagi. Darto langsung menyanggupi, dia bersedia mengantar namun jika Harti mau. Ketika Harti setuju akhirnya mereka sepakat jika Harti dan Darto akan mengantar kepulangan Ki Karta ketika pagi datang. Mendengar itu Abah Ramli mengucap satu permintaan kepada Darto di depannya, dia berkata "Kalau boleh, ajak Jaka, Dar. Dia belum pernah lihat dunia luar, tapi..."
Melihat Abah Ramli menghentikan ucapannya, semua orang merasa penasaran, hingga Ki Karta langsung membuka suara tanpa menunggu aba-aba. Dia berkata "Tapi apa, Ram? Kami di sini keluarga kamu, langsung ucapkan saja."
Dua hari yang lalau Darto sedikit terkejut, melihat Abah Ramli yang langsung dipeluk oleh Ki Karta saat bertemu untuk pertama kali, Darto benar-benar merasa bahwa orang yang disebut Abah Ramli merupakan sosok yang sangat dirindukan, yang bahkan meski sudah 50 tahun lamanya mereka terpisah, sahabatnya masih tetap mengingatnya dan juga langsung begitu senang saat melihatnya.
"Susah menjelaskannya, begini saja, Dar. Kamu lebih baik lihat saja secara langsung, coba kamu ikuti cucu saya," ucap Abah Ramli kemudian berbicara kepada jaka "kamu sekarang pergi dari rumah ini, Le. Keluar dari gerbang pesantren."
Mendengar itu Jaka langsung menurut, meski dirinya juga bingung dengan apa yang akan Abah Ramli lakukan. Darto yang melihat Jaka pergi, dia langsung mengikuti langkah pemuda di depannya itu. Ketika Jaka keluar dari gerbang pesantren sesuatu yang membuat mata Darto membulat terjadi saat itu juga.
Pemuda yang memiliki nama Jaka itu tiba-tiba terlilit oleh sebuah rantai. Rantai yang begitu bersinar berwarna merah darah, melilit leher miliknya dengan sempurna. Darto sempat mengingat-ingat tentang kejadian serupa yang pernah dia jumpai dulu, Darto merasa tali yang mengikat leher Jaka merupakan tali yang hampir sama dengan tali yang melilit mahluk yang ditugaskan oleh majikannya untuk mengusik warung kelontong Pak Riski.
Jaka tidak bisa melihat apapun saat itu, dia malah kebingungan setelah melihat Daro yang begitu nanar menatap lehernya. Dia sempat ingin bertanya, namun sebelum mulutnya mengucap kata, Darto sudah terlebih dahulu memegangi kerah bajunya.
__ADS_1
"Kalau sakit, langsung bilang, ya?" Ucap Darto tiba-tiba. Saat ini dia tengah memegang rantai merah yang melilit jaka.
"Apanya yang sakit?" Jawab Jaka kebingungan.
"Nanti saja saya jelaskan, pokoknya kalau kamu merasa sakit, langsung teriak saja," sambung Darto.
Mendengar itu Jaka langsung mengangguk, dia menurut meskipun sebenarnya dia sangat kebingungan. Tak lama setelah Jaka mengangguk, Darto mencengkeram rantai tersebut dengan begitu erat. Urat di lengan Darto sampai muncul, di saat tangan miliknya mulai memendarkan cahaya berwarna putih.
Darto sekuat tenaga meremas rantai tersebut, dan tanpa halangan sedikitpun, Darto berhasil memutus apapun itu yang membelenggu Jaka selama ini. Darto sangat lega, karena Jaka sama sekali tidak merasakan apa-apa, dan tanpa menunggu lama Darto langsung mengajak Jaka untuk masuk kembali, menemui semua orang yang masih menunggu di rumah Kakung.
"Kamu lihat, Kan? Itu yang membelenggu kami, Dar. Kanjeng Darma dulu ingin menolong kami, namun dulu dia berkata bahwa energi miliknya sudah tidak ada lagi. Terakhir kali ketika Kanjeng Darma bertemu dengan sesepuh, dia hanya memberikan kalung ini, dan kalung ini yang bisa mengecoh tali yang membelenggu kami. Untuk siapapun yang berada dekat dengan benda ini, rantai yang mengikat kami akan hilang. Namun jika kami jauh dari kalung ini, semua orang yang terlilit rantai akan mati. Jiwa kami sudah di tandai, sebagai pertolongan terakhir sebelum mati, Kanjeng Darma menyembunyikan kampung kami. Dia menutup seluruh kampung dengan sebuah kubah, sejak itu desa kami tidak bisa ditemukan oleh manusia maupun penghuni sebelah," ucap Abah Ramli panjang lebar. Jaka benar-benar terhenyak. Dia merasa cerita yang baru saja ia dengar sudah berhasil menjawab semua pertanyaan yang selalu dia simpan selama ini.
"Siapa yang mengikat kalian?" Sahut Darto sedikit terkejut.
"Banaspati," ucap Abah Ramli singkat, dia menunduk, dengan ekspresi wajah yang menggambarkan ketakutan.
Semua orang tercengang dengan apa yang baru saja Abah Ramli ucapkan, mereka benar-benar terkejut setelah mendengar cerita maupun nama yang keluar dari bibir Abah Ramli. Namun meski begitu Si Mbah dan Ki Karta yang sudah tau bahwa Darto akan menghadapi mahluk tersebut, mereka hanya mengusap pelan punggung Darto yang tengah duduk di tengah mereka berdua.
__ADS_1
"Sepertinya pertempuran kamu akan terjadi lebih cepat dari perkiraan, Dar," ucap Si Mbah Turahmin sembari memandang Darto dengan tatapan sendu.
"Kamu tau, Min?!" Sergah Abah Ramli dengan raut wajah tercengang.
"Setelah melawan ular, Sastro dan Wajana bercerita, jika ular itu merupakan tangan kanan dari Banaspati. Jadi kami tidak bisa mengelak, jika Darto akan menjadi incaran Banaspati suatu hari nanti," sambung Mbah Turahmin.
"Ular milik banaspati mati?" Sahut Abah Ramli dengan wajah tidak percaya. Dan hanya mendapat anggukan kepala dari Darto, Si Mbah dan Ki Karta.
"Hebat! Kamu hebat, Nak! Mungkin kamu beneran bisa ngalahin banaspati!" Sambung Abah Ramli, kali ini dia memegang kedua pundak Darto dengan mata berbinar. Dia merasa kagum dengan pemuda di depannya, setelah mendengar pertarungan yang sudah ia lakukan.
"Saya juga sudah mengurangi kekuatan banaspati, kemarin kelabang miliknya juga datang. Alhamdulillah meski sangat sulit, saya berhasil memotong dua sungut miliknya, dan anak-anaknya juga mungkin sudah habis saya bakar," jawab Darto.
"Beneran?! Kamu tidak bohong, Kan?!" Ucap Abah Ramli dengan wajah begitu bahagia, dan hanya dijawab anggukan oleh Darto.
Jaka benar-benar terkejut melihat sesepuh yang selalu dia anggap merupakan orang yang sangat kuat, bisa menangis tersedu di depan pemuda yang memiliki usia tidak terpaut jauh darinya. Dia terus merasa kebingungan dengan semua cerita yang dia dengar, maupun semua yang tengah dirinya saksikan. Tapi meski begitu Jaka merasa senang sudah bisa bertemu dengan seseorang yang sangat keluarga mereka nantikan. Jaka berharap jika semua penantian yang sudah terlewati, akan usai setelah ini.
Bersambung,-
__ADS_1