
"Hey, Jin. Dimana sebenarnya Ayah Darsa?" tanya Darto sedikit penasaran, setelah melihat Si Mbok dan Gending yang sedang tersedu di dalam rumah.
"Dia sudah tidak ada, Le. Surat yang mereka terima itu bukanlah kabar dari Romo, coba kamu baca sendiri,'' ucap Qorin kemudian membawa Darto ke momen Si Mbok menerima surat dan makanan dari suaminya.
"Baca sendiri, Le," ucap Qorin kembali, sembari menunjuk secarik kertas yang tengah Si Mbok pegang.
Mendengar perintahnya, Darto langsung mendekat dan berdiri di belakang tubuh Si Mbok, dan beberapa saat kemudian Darto kembali berkata "walah! jaman apa sekarang ini? masak surat pakai tulisan gitu,"
Mendengar ucapan Darto, Jin Qorin terbahak sembari terus menatap wajah Darto yang kebingungan. "Kamu ini orang jawa, tapi enggak bisa baca aksara! ha ha ha ha!" ucap Jin Qorin kemudian berlanjut memuntahkan tawa puas dari bibirnya.
Darto hanya bisa menggerutu, dia bahkan baru bisa membaca huruf abjad sesudah masuk pesantren, sedangkan untuk aksara jawa dia belum pernah sama sekali diajari. Dan apesnya surat yang di pegang Si Mbok itu adalah selembar kertas yang penuh dengan tulisan aksara jawa.
"Hey jin, sebenarnya apa isi surat itu?" ucap Darto dengan wajah serius bercampur kesal karena terus ditertawakan.
"Itu surat yang berisi rincian pembagian bantuan dari adipati tempat Ayah Darsa meninggal, sudah empat tahun lamanya, saya tahu karena bantuan itu sudah empat kali Si Mbok terima," ucap Qorin sedikit memasang wajah serius, tidak bisa di pungkiri dia juga sedikit merasa iba.
"Lalu kenapa Si Mbok tersenyum?" tanya Darto kembali sembari mengernyitkan dahi.
"Sudah tiga kali dia menyuruh tetangga untuk membacakan suratnya, dan tiga kali juga tetangganya berbohong tentang isi suratnya. Si Mbok tidak bisa baca, Le. Tetangganya kasihan, jadi dia menjabarkan isi surat itu dengan mengatakan jika Ayah Darsa masih sehat dan belum bisa pulang," ucap Jin kemudian menatap wajah Darto yang berangsur menunduk.
__ADS_1
"Ini sudah terjadi, Le. Lebih baik kita lihat kelanjutan kejadian lima pemuda itu," ucap Jin kembali setelah melihat Darto hanya tertunduk dalam diam.
Dalam hitungan detik, Darto dan Qorin sudah berdiri di depan pemuda yang sedang terkapar di atas dipannya. Meski darah sudah keluar dari kulitnya, pemuda itu masih terus menggaruk seluruh badan miliknya secara acak. Nanah mulai keluar dari ruam yang pecah di tangannya, kulit di sekujur badan miliknya memerah sempurna, rambutnya mulai rontok bahkan kulit kepala juga ikut sedikit mengelupas.
Keluarga Umar terlihat panik saat itu, dia membawa bermacam tumbuhan yang sudah di tumbuk dan menempelkan di sekujur badan Umar, Bahkan sempat memanggil orang pintar ke rumahnya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil seperti yang mereka inginkan.
Lima pemuda itu mengalami hal yang sama, tidak ada satupun dari mereka yang tidak terkapar dan terus menggaruk hingga berdarah. Hingga akhirnya kelima pemuda itu binasa, tepat setelah semua warga selesai menunaikan shalat Isya di kampungnya.
Warga sempat panik, mereka mengira kampung mereka tengah dilanda sebuah wabah, pemakaman kelima pemuda itu pun dilakukan hanya oleh sanak keluarganya. Benar-benar tanpa bantuan dan tanpa jengukan, karena semua warga memilih untuk diam di rumah masing-masing, alih-alih takut tertular penyakit yang lima pemuda itu alami.
Gending sempat terkejut ketika melihat lima anakan ular yang tiba-tiba mendatangi rumahnya. Dia tampak kebingungan dengan darah yang membalut kelima anakan ular di depannya, namun dia tetap membiarkan lima ular itu masuk dari bibirnya secara bergantian.
Tanpa Darsa sadari, Gending benar-benar menyimpan perasaan untuknya, bahkan perasaan itu sudah ada sejak gending masih menjadi si buruk rupa. Dia mengagumi kebaikan pria yang selalu membelanya, dan tentunya ketampanan yang dia miliki. Namun, mau bagaimana pun, salah satu pantangan perjanjian Gending dan ular adalah tidak boleh menikah. Sehingga Gending harus mengubur jauh-jauh perasaannya kepada Darsa si pria idamannya.
"Hei, Nyai, apa kamu bisa mendengar ucapku?" tanya Gending sembari merebahkan tubuhnya di atas dipan.
"Ya! kenapa?" jawab ular kembali menampakkan dirinya dari rambut Gending.
"Kenapa saya tidak boleh menikah?" tanya gending kemudian bergegas bangun dari tidur telentang.
__ADS_1
"Oh?? kamu mau menentang perjanjian kita?" ketus ular itu sembari melilit leher Gending.
"Tidak, saya hanya penasaran, Nyai," jawab Gending sedikit takut, karena cengkeraman ular mulai mengencang di lehernya.
"Sudah berkali-kali aku melakukan perjanjian, dan mereka berkhianat setelah memiiki suami maupun isteri, yah meskipun akhirnya mereka tetap menjadi santapanku," jawab ular itu kembali, dan berangsur melepas lilitan dan pergi menghilang.
Mendengar ucapan ular, Gending dipaksa untuk lebih mengubur perasaanya kepada Darsa. Gending benar-benar tidak mau terjadi apapun kepada lelaki yang dia cintai.
Setelah menyaksikan itu semua, Qorin kembali memegangi pundak Darto. Dalam satu kedipan mata, Darto dan Qorin sudah sampai di tempat berbeda. Kini yang terlihat adalah sebuah pesta pernikahan, dengan Darsa dan seorang wanita tengah duduk berdampingan. Wanita yang duduk di sebelah Darsa sungguh sangat cantik, tidak kalah cantik dengan wajah Gending. Namun yang terlihat disitu hanyalah keluarga Darsa serta dua orang tua mempelai perempuan, sedangkan Gending tidak menunjukkan batang hidungnya.
Darto sedikit mendapatkan cerita dari Jin, katanya perempuan yang dinikahi Darsa adalah anak salah satu santri yang belajar mengaji dengan Ayahnya. Dari orang tua wanita itu juga Darsa dan Si Mbok mendapat kabar tentang kematian Romo, dan sebagai balasan untuk kebaikan Ayah Darsa, orang tua itu menikahkan putrinya dan akan membawa mereka menuju desa yang lebih maju lagi dari tempat tinggal mereka.
"Dimana Gending?" tanya Darto sembari terus menyapu pandangannya kepada semua tamu yang tengah menghadiri acara pernikahan Darsa.
Menjawab pertanyaan Darto, Jin Qorin hanya menunjuk sebuah arah dengan jari telunjuknya, dan ketika Darto membuang pandangannya ke arah itu, tampak Gending yang tengah mengepalkan tangan, matanya membulat sempurna, wajahnya murka menyaksikan Darsa singgah berdampingan dengan wanita cantik di atas kursi yang sama.
"Ini awal mula kejadian tragis yang menimpa keluargamu, Le. Gending benar-benar dikuasai rasa kecewa, setelah Darsa menyanggupi perjodohan yang di lakukan secara sepihak oleh murid Romo. Baik istri Darsa, isteri anak Darsa, isteri cucu Darsa bahkan sampai ibumu jadi korban kecemburuan Gending, dia benar-benar dibutakan rasa cinta yang berlebih kepada Darsa," ucap Jin Qorin sembari memegang pundak Darto.
Tidak lama kemudian, Darto di bawa kembali ke atas batu, tempat awal dia menjalani ujian bersama Mbah Turahmin. Saat Darto memastikan keadaan sekitar, kembali Jin Qorin mengucap kata yang menggema di udara "ujian sudah selesai, semoga kamu memang orang yang bisa menghentikan wanita ular itu, berjuanglah wahai keturunan Darsa,"
__ADS_1
Bersambung,-