ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KABAR BAHAGIA


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, hari ini setelah usai melaksanakan shalat subuh, Darto dan Jaka membawa semua barang mereka kembali ke mobil. Mereka akan kembali menuju pesantren, karena semua urusan tentan energi maupun latihan Jaka sudah selesai.


Setelah semua barang sudah terkemas di dalam bagasi, Jaka dan Darto langsung melesat meninggalkan kampung kemoceng dengan kecepatan tinggi.


Waktu terus berlalu, delapan jam sudah Jaka dan Darto melakukan perjalanan. Siang ini mereka singgah di warung Pak Riski untuk sekedar mengisi perut dan meluruskan pinggang mereka. Setelah shalat ashar, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Darto sempat menghentikan mobilnya di depan masjid yang terletak di pinggir jalan. Dia beristirahat untuk menunaikan shalat maghrib dan juga isya, kemudian melanjutkan laju roda mobilnya, untuk menyibak ribuan baris bebatuan.


Lima jam berlalu, akhirnya Darto dan Jaka sampai di depan halaman rumah Kakung dengan tubuh kaku. Mereka meninggalkan barang bawaan di dalam bagasi, dan langsung menuju kamar mereka dengan tubuh yang begitu lelah.


Ketika Darto membuka pintu rumah Kakung, dia tidak mendapati siapa pun. Kakung, Si Mbah Turahmin, Abah Ramli maupun Harti sudah tidur di kamar mereka masing-masing. Wajar si ... jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.27 dini hari.


Melihat itu, Jaka dan Darto langsung menuju kamar mereka masing-masing. Darto yang baru membuka pintu seketika langsung melangkah tergesa ketika melihat Harti. Istrinya tengah tidur begitu pulas saat ini, hingga wanita itu benar-benar tidak merasakan setiap belaian tangan Darto yang tengah mengelus rambutnya.


"Memang cantik sekali kamu, Dek," gumam Darto dilanjut mencium kening Harti.


Darto berangsur menjauh dari Harti, dia berniat untuk membasuh badan serta mengenakan baju ganti. Setelah itu, dia langsung kembali, dan tidur sembari memeluk Harti.


Daro yang baru berbaring, merasakan keanehan pada Harti. Tangannya merasakan sesuatu yang asing di tempat lengannya tergeletak. Untuk memastikan itu, Darto kembali duduk dan memegang bagian yang tadi terasa mengganjal.


Mata Darto seketika terbelalak, dia langsung menggoyang pundak Harti tanpa aba-aba sembari berkata "Nduk ... bangun Nduk."

__ADS_1


Harti terperanjat, dia merasa kaget karena sudah ada orang lain yang duduk di atas dipan. Untuk sekejap Harti mengerjap matanya, dan sejurus kemudian dia langsung memeluk Darto yang tengah memasang wajah aneh di depannya.


Dalam dekapannya itu, Harti berkata kepada suaminya, "Aku kangen, Mas," ucapan Harti terhenti, dia semakin mengencangkan pelukannya sembari berkata, "Mas Darto sebentar lagi jadi bapak."


Benar saja, beberapa saat yang lalu ketika Darto memeluk Harti, dia merasakan perut Harti yang mulai membesar. Darto bahkan tidak menyangka, karena sudah meninggalkan istrinya berbulan-bulan lamanya. Malam itu Darto terus meminta maaf kepada Harti, dengan air mata bahagia yang terus menetes dari kedua matanya.


Setelah cukup lama mereka bersenggama dalam rindu, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Dalam tidurnya, dua pengantin yang cukup lama terpisah itu terus menorehkan senyum di wajah mereka, hingga pagi kembali menyapa.


Pagi itu Darto dan Jaka mengemasi barang mereka dari bagasi mobil, setelah itu Darto langsung mencuci mobil kakung karena begitu kotor. Bagaimana tidak? Mobil itu sudah tergeletak tiga bulan lamanya di depan langgar kampung Darto, ditambah langsung dikenakan untuk perjalanan panjang setelahnya.


Setelah selesai mencuci, barulah mereka berkumpul kembali di ruang tamu rumah Kakung. Jaka menceritakan semua proses latihannya, bahkan dia menunjukkan hasil dari latihan di depan Kakung dan Si Mbah Turahmin. Jaka tampak begitu senang karena dia bisa menjadi satu bantuan, yang akan menemani perjalanan panjang Darto.


"Jak ... kamu keluar buat cari pasangan, Kan?" timpal Darto setelah Jaka selesai bercerita.


"Kalau begitu ayo kita ke sana," ajak Darto.


"Beneran, Kang?" sergah Jaka sembari melompat ke arah Darto, kemudian memegangi kedua pundak Darto dengan kedua tangannya.


"Iya ... kita bebaskan dulu mereka, lalu kita ajak semua orang ke sini," jawab Darto kepada Jaka kemudian menoleh ke arah Kakung dan bertanya, "Boleh Darto ajak mereka ke sini?"


Mendengar permintaan Darto, Kakung hanya tersenyum kemudian berkata, "Lagian ini pondok juga bakalan jadi milik kamu, Dar. Terserah kamu mau ajak siapa saja. Tapi yang jelas rumah Kakung tidak cukup untuk menampung semua orang. Sementara mereka bisa singgah di asrama yang kosong, dan kalau mereka mau, mereka bisa bangun rumah sendiri di pekarangan belakang pondok."

__ADS_1


Jaka dan Abah Ramli seketika bungkam. Suara mereka seakan tercekat di tenggorokan, setelah mendengar ucapan Kakung. Dalam posisi diam mereka berdua langsung menumpahkan bulir bening dari kedua matanya, mengalir melalui pipi, dan menetes dari dagu bersama rasa haru dan malu yang tercampur rata.


"Bagaimana cara saya membalas budi, Mat?" ucap Abah Ramli. Dia menatap sendu pada Kakung sembari sesekali mengusap air di pipinya.


"Cukup jaga cucu saya saja. Kalian akan tinggal dekat sama dia, jadi sewaktu saya atau Tumin sudah tidak ada, setidaknya Darto masih memiliki banyak keluarga," jawab Kakung sembari mengelus punggung Ramli.


Mendengar dan melihat dua lelaki tua di depannya. Jaka seketika langsung menetapkan tekadnya. Dia merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan keluarga Darto, hingga tanpa sadar dirinya berjanji di dalam hati, jika dirinya siap membayar semua kebaikan mereka, meski harus kehilangan hidupnya.


Setelah Jaka bungkam, dia mengucapkan sesuatu yang membuat semua orang ikut merasakan semangatnya, dalam tatapan tajamnya, Jaka menatap Darto sembari berkata. "Kang ... Jaka siap, Jaka tidak akan pernah mengeluh, Jaka akan ikuti kemana pun Kang Darto pergi. Jangan sungkan-sungkan meminta bantuan, meski itu melompat ke dalam jurang, akan Jaka lakukan tanpa bertanya."


Mendengar penuturan itu, Darto langsung mengelus kasar rambut Jaka. Dia terkekeh pelan sembari berkata, "Terimakasih, Jak. Untuk memusnahkan musuh sesepuh kita, aku benar-benar membutuhkan bantuan kamu."


Senyuman Jaka seketika merekah, dia sangat bahagia mengetahui Darto mengakuinya. Sedangkan Abah Ramli justru merasa khawatir, setelah mendengar ketersediaan Jaka untuk membantu. Namun meski begitu, Abah Ramli tidak mungkin menolak, setelah semua bantuan yang akan dirinya terima dari pemuda di depannya. Akan sangat malu jika dia tidak bisa memberikan apa-apa.


"Jadi ... kapan kita akan berangkat ke kampung Jaka, Bah?" tanya Darto sembari menatap Abah Ramli yang tampak bimbang.


"Saya nurut, Dar. Sebisa kamu saja, lagian istri kamu juga sedang hamil," jawab Abah Ramli.


"Besok, ya? Saya pengen pamer kegantengan atau kecantikan anak saya ke semua keluarga Jaka, mereka juga bisa bantu-bantu pas besok selamatan empat bulan," jawab Darto sembari tersenyum.


Mendengar permintaan Darto, Abah Ramli dan Jaka seketika ikut tersenyum sembari mengangguk. Sedang Harti, Si Mbah dan Kakung tidak memberi komentar sama sekali. Mereka sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada Darto yang sudah begitu dewasa. Hari itu sudah di putuskan, jika esok merupakan hari di mana mereka akan pergi ke Kampung halaman Jaka, dan membebaskan mereka semua.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2