ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
CANDI?


__ADS_3

Suara bising terus berdatangan. Aku sapu pandanganku ke segala penjuru, namun sama saja hanya hutan gelap yang terbentang di depan kelopak mata.


"Mbah.! Bangun Mbah.!" kencang suaraku mencoba membangunkan Kakung yang tak tidak bergeming sedikitpun dari lelapnya. Bahkan sempat aku goyang pundak Kakung, namun sama saja, dia masih terus terpejam dengan dengkuran kecil dari mulutnya.


"Hihihihi hahahaha huuuuu, wesewesewes"


seperti itu suara yang terus mengiang di dalam kepala, seperti tengah berada di tengah kerumunan. Sesekali ada suara tangis, tawa, juga suara langkah kaki anak kecil. Dan banyak lagi suara seperti langkah kuda, roda gerobak, lonceng, dan bahkan suara orang tengah berbicara membaca bahasa yang sama sekali tidak ku ketahui.


Ditengah kebingungan dan ketakutan, cahaya putih yang begitu menyilaukan tiba-tiba saja berada tepat di depan wajahku, membuatku spontan menutup kedua mata dengan lengan.


"Mbah.! Mbah Kakung di mana?!" teriakku sekencang yang ku bisa mencari Kakung yang kini tidak terlihat lagi di depanku. Tidak hanya Mbah Kakung yang hilang dari hadapanku, pohon, api, perbekalan milikku pun hilang dari pandangan mataku. Hanya tersisa suara ramai itu saja yang tertinggal, entah suara yang datang dari mana.


'Apa ini mimpi?' Gumamku sembari terus menampar pipi sendiri. Aneh, terasa hanya selang berapa detik dari saat aku bertemu cahaya itu, namun sekarang benar-benar sudah siang, matahari tegap bersinar sombong di atas kepalaku, dan aku pun bertemu dengan sumber suara gaduh yang semalam terus kudengar hingga ketakutan.


Terlihat sebuah pedesaan yang begitu ramai di depanku. Rumah panggung dengan atap jerami dan tembok bilik bambu berjajar rapi. Jalanan di penuhi penduduk yang tengah lalu lalang,


beberapa anak kecil berlarian dan bercanda dengan temannya, ada pula beberapa laki-laki yang mengenakan kuda sebagai tunggangan.


Pakaian yang mereka kenakan sungguh terkesan kuno. wanita memakai kemben dan jarik, dengan konde di kepala. sedangkan lelaki merata bertelanjang dada, hanya mengenakan celana yang terbuat dari kain yang dililit di bawah pinggang, dan blangkon di kepala. muka mereka pucat sekali, kulitnya seputih kapas, tatapan mereka kosong, dan gerak badan mereka kaku.


"Permisi. Pak.. Buk..." ucapku kepada semua orang yang tengah berlalu lalang di depanku.

__ADS_1


Meski aku tidak mendapatkan respon dari mereka, aku tak lelah terus menyapa orang terdekat yang bisa ku ajak bicara. Sungguh aneh, aku bertanya kepada semua orang yang aku jumpai. Mereka semua acuh, seakan tak bisa mendengar dan melihatku. Hingga saat aku sedikit geram karena tak mendapat respon, aku memberanikan diri menepuk salah satu pundak orang yang tengah berjalan di depanku.


"Kang! Sebenarnya i...," pertanyaan terhenti. Semua orang mendadak berhenti dari aktivitasnya dan menatap lurus ke arahku berdiri. Lantas buru-buru aku lepas tanganku dari pundak pemuda itu. Anehnya pemuda itu kembali berjalan, dan aktivitas penduduk desa pun berlanjut kembali. Mereka kembali mengabaikan diriku yang tengah dirundung rasa kebingungan.


Karena lelah terus mencoba bertanya, aku memutuskan untuk terus berjalan berkeliling kampung dengan harapan ada orang yang lebih dulu menyapaku. Namun sekali lagi aku harus menelan rasa kecewa, saat ini aku merasa aku menjadi hantu, yang bisa melihat manusia tapi mereka tidak melihatku sama sekali.


"tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak," terdengar suara langkah gerombolan kuda dari kejauhan. Suara itu semakin mendekat, dan tiba-tiba semua orang yang tengah sibuk dengan urusannya berlari tergesa-gesa menuju tepi jalan setapak yang menyibak kampung ini.


Berbondong-bondong penduduk itu berbaris dan kemudian serentak bersujud menyambut rombongan kuda itu. "Sugeng kundur Paduka," (Selamat atas kepulangannya) suara riuh penduduk mengucapkan kata yang sama, untuk seseorang yang duduk di atas kereta kencana, di bagian tengah barisan kuda tersebut. Dia tidak menjawabi ucapan penduduk, orang itu hanya membuka sedikit tirai di atas kereta kudanya, kemudian mengeluarkan tangan dan melambaikannya.


"Deg.. deg.. deg.. deg.." jantungku memburu, saat terdengar suara berat dari dalam kereta mengucap kata "Berhenti!'' tepat ketika rombongan itu sampai di depanku.


Tak hanya suaranya yang tegas, langkah kakinya pun terasa begitu berat. Tubuhku tak mau berhenti bergetar melihat orang itu datang menghampiriku. Ketika sampai di depanku, dia hanya berdiri menatapku dengan tatapan menyelidik. Dia mengamati tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Anehnya penduduk yang sedari tadi tidak melihatku, sekarang serentak menatapku dengan tatapan mengancam yang tergambar dari mata mereka. Tidak ada sepasang mata pun yang memalingkan pandang dariku, mereka semua menatap lurus tepat ke arahku.


Spontan tubuhku langsung bergetar, dan tambah gemetar ketika tangan lelaki bermahkota itu terangkat dan diarahkan ke leherku. Badanku kaku, tak mau digerakkan sama sekali. Bahkan mulutku tidak bisa kubuka sama sekali, aku hanya bisa pasrah dan terus berdoa di dalam hati.


Tangan itu kini sudah meraih kerah bajuku, namun terhenti ketika batu di kalungku tiba-tiba menyala. Sinar hijau yang terpancar bahkan sampai menembus kain tipis bajuku. Membuat kelaki gagah itu mengernyitkan dahinya, kemudian melepas genggamannya dari kerah bajuku.


"Bawa dia!" ucapnya singkat seraya berjalan kembali masuk ke atas kereta.

__ADS_1


Tak lama kemudian seseorang berbadan kekar datang dengan berlari kecil ke arahku. Mengangkat badanku dan menaikan tubuhku ke atas kuda yang ia tunggangi, kemudian orang itu membawaku pergi bersama rombongan meninggalkan perkampungan.


Cukup lama sedari rombongan ini meninggalkan perkampungan. Tampak di kejauhan sebuah bangunan besar dan megah yang terbuat dari batu, dengan satu gerbang besar sebagai pintu masuk.


'Di mana Aku?' pikiranku tak bisa mencerna apapun yang mataku tangkap setelah memasuki gerbang besar itu.


Sungguh mengagumkan. Baru kali ini aku melihat bangunan dari batu yang di potong kotak-kotak kemudian ditumpuk rapi. Tembok hingga atap rata terbuat dari batu dihiasi pahatan di berbagai sisi menjadi sebuah ukiran.


'Apa mungkin ini yang Simbah sebut candi?'


gumamku dalam hati mengingat cerita Simbah Turahmin yang katanya pernah berkunjung ke sebuah candi.


"Bawa dia masuk!" ucap singkat lelaki bermahkota itu kembali setelah rombongan berhenti di depan sebuah pendopo.


Setelah mendengar itu, lelaki yang membawaku bergegas menurunkan dan menggendong diriku masuk ke dalam sebuah ruangan dengan pintu kayu yang sangat lebar penuh ukiran.


Setelah sampai di dalam, tubuhku diturunkan di depan lelaki yang tengah memandang rendah dari atas kursi singgasana miliknya.


Sebenarnya, apa yang akan orang ini lakukan padaku?


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2