
Darto dan Maung melesat meninggalkan tempat penuh darah tersebut. Masih sama dengan ketika menunggangi Komang, Maung menghentikan laju larinya setiap 20 detik sekali agar Darto bisa menghirup nafas sepanjang yang bisa paru-parunya tampung.
Ketika mereka semua kembali ke dunia manusia, waktu yang terpampang sudah hampir sore, langit sudah mulai berubah warna menjadi semu oranye, menandakan waktu ashar hampir tiba.
Darto tidak merubah tujuannya kala itu, dia tetap meminta Maung untuk kembali berlari, menuju kampung halaman yang mungkin bisa ditempuh dalam beberapa menit saja.
Maung langsung mengangguk, dia berlari sekuat tenaga dan hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit saja untuk sampai di kampung kemoceng.
Maung langsung menuju tempat yang Darto arahkan, dia berhenti tepat di belakang rumah Mbah Turahmin, kemudian menurunkan sahabatnya itu.
"Terimakasih, Maung ... Besok tolong kembali lagi kesini, atau kamu bisa tidur di sini juga kalau mau," ucap Darto sesaat setelah turun dari punggung Maung.
"Lakukan saja semua yang mau kamu lakukan, Dar. Jangan pikirkan saya, sekarang waktu yang kamu miliki tidak banyak," sahut Maung dengan sudut bibir yang mengambang.
Darto langsung mengangguk, kemudian menepuk punggung Maung, dan membiarkan Maung pergi dengan begitu cepat entah untuk kemana.
Setelah itu Darto berjalan memutari rumah, dan mengetuk pintu kayu yang terpajang di depan matanya.
"Assalamu'alaikum..." teriak Darto sembari mengetuk pintu tiga kali.
Si Mbah Turahmin yang mendengar suara cucunya langsung bergegas keluar dari kamarnya. Dia sedikit berlari menuju pintu utama, dan lekas membukakan pintu untuk cucunya.
"Wa'alaykumussalam, sini masuk, Dar," ucap Mbah Turahmin sembari menarik lengan cucunya.
Setelah Darto masuk, mereka berdua duduk di ruang tamu. Dan saat itu juga percakapan yang cukup panjang terjadi.
"Bagaimana, Dar? sudah selesai semua urusanmu?" tanya Mbah turahmin dengan raut wajah yang tampak begitu penasaran.
"Alhamdulillah, Mbah ... tapi sepertinya Darto mau pergi lagi. Simbah jangan menunggu Darto lagi, jika Darto kecil pulang setelah besok Darto pergi, tolong jangan tanyakan apapun lagi tentang mimpi ataupun masa depan yang sudah pernah saya ceritakan," jawab Darto sembari menatap sendu mata Mbah Turahmin.
"Jadi kamu sudah tahu caranya kembali?" tanya Mbah Turahmin dengan wajah gembira.
"Sudah, Mbah ... makanya Darto ke sini," jawab Darto masih dengan wajah murung.
"Kenapa begitu, Dar? setahu Si Mbah ... Cucu Si Mbah tidak cengeng seperti itu," tanya Mbah Turahmin setelah melihat Darto terus murung.
__ADS_1
"Boleh Darto peluk Si Mbah?" jawab Darto mengalihkan pertanyaan.
"Ha ha ha ha ... kenapa tidak?" Mbah Turahmin membentangkan tangannya.
Darto langsung mendekat dan duduk di depan Si Mbah Turahmin. Dia memeluk erat tubuh lelaki tua di depannya dalam posisi duduk, kemudian membenamkan kepalanya pada dada keriput yang terbungkus kain lurik usang di tubuh Si Mbah Turahmin.
Darto hanya bungkam kala itu, dia menangis dalam senyap, tanpa sedikitpun kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Tubuh, suhu, bahkan aroma yang sangat Darto kenali itu benar-benar membuat Darto langsung luluh dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Darto benar-benar bersyukur karena bisa melihat sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa dirinya lihat lagi di kehidupan nyata.
Meski hanya mimpi maupun ilusi, rasa puas, senang dan rasa syukur karena bisa saling bertatap bahkan berbincang dengan Si Mbah Turahmin benar-benar bersarang di dalam hati Darto tanpa kebohongan sedikitpun.
"Dar? Belum mau lepas?" tanya Si Mbah setelah cukup sesak karena pelukan Darto begitu kuat.
"Maaf, Mbah ... maaf jika Darto terus menyusahkan Si Mbah dari sejak Darto lahir," ucap Darto sembari melepas pelukan, dia menunduk sembari mengusap air yang sudah membasahi pipi miliknya secara merata.
"Ngomong apa kamu Dar? Si Mbah tidak pernah merasa sedikitpun direpotkan, atau kesusahan. Kamu nanti akan tahu sendiri rasa bahagia ketika memiliki keturunan, dan rasa bahagia itu bakalan kalah kalau dibandingkan saat kamu sudah lanjut usia, namun masih bisa melihat tubuh mungil yang membawa darah milikmu," jawab Si Mbah sembari mengelus kepala Darto.
"Kenapa meminta izin? mau kamu datang dari masadepan, atau datang dari dunia berbeda pun, kamu tetap cucu Si Mbah, dan rumah ini bakalan jadi milikmu juga kelak," Si Mbah berdiri kali ini, dia menuju kamar untuk meraih peci, kemudian berjalan pelan kembali menuju ruang tamu.
"Ayo ke langgar," ajak Si Mbah.
Darto langsung mengusap sisa air mata yang masih menggenang di kantung matanya, dia tersenyum begitu lebar kemudian berkata, "Si Mbah duluan saja, Darto mau mandi sebentar, nanti langsung menyusul."
Mbah Turahmin langsung mengangguk, dia berangkat menuju langgar terlebih dahulu untuk mengumandangkan adzan.
Setelah itu, Darto mandi dengan kecepatan kilat, dia menyusul Si Mbah Turahmin menuju langgar, dan menunaikan kewajiban berjamaah bersama keluarga serta temannya.
Darto menghabiskan hari hanya untuk bergurau setelah menunaikan shalat ashar, dia berkumpul bersama Anto, Satya dan juga Dining.
Darto terus menatap Satya dan Dining dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, hingga Satya dan Dining terus mencemooh tatapan Darto tersebut.
Hari itu Darto hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya, namun sudah terpisah oleh garis kehidupan di dunia miliknya.
__ADS_1
Darto bahkan mengajak tiga temannya untuk menginap di rumahnya hari itu. Dan Darto benar-benar beruntung karena tidak ada satupun dari mereka yang menolak ajakan Darto kala itu.
Sedangkan di tempat lain, Jaka, Sastro, Wajana, Komang dan Maung juga menghabiskan malam terakhir mereka dengan menemui semua orang yang mereka cintai.
Setelah pagi menyapa, tepat ketika shalat subuh sudah selesai ditunaikan, Maung sudah berada di depan rumah Darto.
Si Mbah benar-benar terkejut melihat kucing hitam besar yang ukurannya bahkan melebihi imajinasinya.
"Dar! Siapa dia?!" ucap Si Mbah Turahmin sembari bergidik ngeri.
"Dia temanku, Mbah. Si Mbah tahu tidak? Dia salah satu penghuni tempat hutan tertua, dia milik Eyang Semar," jawab Darto dengan wajah sedikit sombong.
Simbah bungkam kala itu, dia menatap cucunya dan juga Maung dengan tatapan tidak percaya. Wajahnya benar-benar seperti orang kesurupan, dan seketika membuat Darto dan Maung yang melihat wajah tersebut langsung terbahak tanpa aba-aba.
Setelah puas melihat wajah Si Mbah Turahmin tercengang, Darto langsung berpamitan.
Darto langsung mencium punggung tangan keriput milik Mbah Turahmin, kemudian melesat pergi tanpa membawa barang apapun.
Saat itu Darto dan Maung pergi menuju pesantren kembali, untuk memenuhi janji yang sudah mereka buat dengan empat teman lainnya.
Sesampainya di sana, Jaka dan Komang sudah datang terlebih dahulu, sedangkan Sastro dan Wajana belum menampakkan batang hidung mereka.
Sembari menunggu, Darto juga melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah Darto lakukan pada Si Mbah Turahmin. Dia memeluk erat tubuh Kakung dengan perasaan haru, gembira dan juga rindu yang tercampur rata.
Hingga tiba saatnya Sastro dan Wajana datang, Darto berpamitan kepada Kakung untuk pergi meninggalkannya.
Saat itu Darto dan kelima temannya berjalan menuju ke halaman belakang pesantren. Mereka hendak melakukan sesuatu yang hanya Darto dan Maung ketahui, yang tidak lain adalah cara untuk mereka kembali.
Enam pria itu berjalan dengan senyum yang mengambang di bibir mereka, karena mereka merasa sudah cukup puas melihat setiap pribadi yang mereka rindukan.
Hari itu, terjadi sebuah tragedi tepat di halaman belakang pesantren milik Kiyai Amat Sawaji, atau yang biasa dipanggil Kakung.
Enam pria yang semula berjalan dengan senyum di wajah mereka, dapat dipastikan jika mereka semua sudah menemui ajal mereka.
Bersambung ....
__ADS_1