
"Kang?! Di mana penarinya?" tanya salah satu penonton perempuan kepada lelaki di sampingnya.
"Saya juga tidak lihat, Yu. Ini beneran aneh, ayo kita neduh dulu, mau hunan ini, Yu," jawab lelaki tersebut, sembari mengajak perempuan itu meneduh, karena langit yang semula cerah kini mulai keruh menjadi hitam dalam sekejap.
Melihat kejadian tersebut, semua orang yang sempat tertegun mulai berlarian menuju balai desa, karena angin dan hujan datang secara bersamaan. Mereka semua tampak tergesa karena tidak ingin pakaian yang mereka kenakan basah kuyup terkena hujan.
Ketika semua orang tengah berhamburan menuju balai desa. Tepat di belakang bangunan besar itu, Gending dan Darto tengah saling bertatapan sembari mencengkeram tangan lawan satu sama lain. Mereka beradu energi yang keluar dari tangannya, hingga suasana begitu mencekam dibuatnya.
Ketika di tengah tontonan tadi, tanpa satu orangpun melihat, Darto berhasil menggesekkan energi miliknya dengan energi Gending. Ketika dua energi tersebut bertabrakan efek yang dihasilkan sangat mirip dengan kilatan petir. Lalu tanpa membuang kesempatan, Darto menarik tangan Gending menuju belakang Balai desa yang begitu lapang dan jauh dari pemukiman. Dia membawa Gending dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.
Petir mulai ikut mengiringi pertarungan yang mereka lakukan, bahkan angin yang tadi hanya kencang saja, kini mulai menjadi sebuah angin ribut tatkala Darto mengeluarkan cahaya panjang berbentuk cambuk di tangannya.
Gending yang melihat itu langsung melompat lima langkah ke belakang, sebelum akhirnya memasang wajah waspada. Dia benar-benar tidak asing dengan kilatan cahaya yang tengah dipegang oleh Darto, karena dulu sosok ular di dalam tubuh Gending sempat sekarat karena energi yang sama dengan energi yang Darto miliki.
"Kamu percaya sekali anak muda! Kau pikir jika kau punya itu dirimu bisa mengalahkanku?" ucap Gending sembari terus fokus melihat arah sabetan dari cambuk yang Darto layangkan.
"Jika kamu yakin, kenapa tidak kamu coba saja terima satu serangan dariku?" ucap Darto tersenyum masam, dia merendahkan Gending setelah mendengar kalimat dari bibirnya, yang tidak sejalur dengan ekspresi yang tengah terpampang dari wajahnya.
"Sombong kau bocah!" teriak Gending dilanjut memanggil anakan ular yang masih bersemayam dalam tubuh milik Gending.
__ADS_1
Tanah becek berlumpur di bawah kaki Darto seketika menjadi hitam, ketika ratusan bahkan ribuan ular keluar dari bawah jarik yang Gending kenakan. Semua ular tersebut menuju arah yang sama, mereka mendekat ke arah Darto yang masih terus mengayunkan cambuk di tangannya. Darto yang melihat itu tidak bergeming sama sekali, dia terus mencambuk anakan ular yang mendekat kepadanya hingga terbelah badan mereka menjadi dua bagian setelahnya.
Kejadian itu terus berlanjut hingga cukup lama, Darto yang tampak mulai kelelahan karena terus menghadapi ular yang tidak kunjung habis, mulai memanggil kembali dua rekannya.
"Sastro! Wajana!" teriaknya Darto singkat, dengan tangan yang terus menyabet ke segala penjuru arah.
Mendengar teriakan Darto, dua temannya itu langsung datang. Anehnya mereka tidak membantu, melainkan hanya diam memandangi Darto yang masih terus berusaha.
"Bantu saya!" teriak kembali Darto tanpa memandang kedua temannya itu. Darto terus fokus membunuh setiap anakan ular yang berebut mendekat ke arahnya.
Keduanya tetap diam, mereka sama sekali tidak membantu Darto, justru mereka malah mendekat ke arah Gending yang masih memejamkan mata, sembari terus mengeluarkan anakan ular dari dalam jarik yang ia kenakan sebagai celana.
Melihat kelakuan Sastro dan Wajana, Darto terkejut seketika. Matanya membulat, bahkan garis urat langsung muncul di pelipis Darto. Dia merasa sangat bodoh karena sempat percaya pada mereka berdua.
Ketika Darto tengah terus sibuk membasmi anakan ular, Gending berbisik kepada Sastro dan Wajana di depannya, dia berkata sesuatu kepada dua lelaki itu tanpa sepengetahuan Darto. Kemudian menyuruh Sastro dan Wajana pergi setelah semua ucapannya selesai.
Hanya ada sepatah kata yang terdengar sampai telinga Darto kala itu, yaitu kalimat penutup yang diucap secara bersamaan oleh Sastro dan Wajana, mereka berkata, "Sendiko Dawuh Nyai." (ucapan yang berarti mereka menerima permintaan nyai Gending dengan senang hati)
Darto semakin terperanjat, kewaspadaannya benar-benar kendur setelah mendengar kata yang Sastro dan Wajana ucap di depan Gending. Dia sangat merasa kecewa dan juga sakit hati karena harus merasakan apa yang kini tengah dia hadapi. Hingga tanpa sadar satu ekor ular berhasil melewati cambuknya dan menggores lengannya hingga berdarah.
__ADS_1
"Kamu lemah! Anak muda!" ucap Gending sembari tersenyum, melihat darah yang mulai mengalir di lengan Darto.
Darto tidak menanggapi, dia terus mengayun cambuknya tanpa henti sembari terus mengutuk kedua temannya itu. Untungnya mereka hanya diam dan menonton dari kejauhan, sama sekali tidak membantu Gending untuk menyerang Darto yang sudah mulai kelelahan.
"Segitu saja? Aku kecewa pernah memberikan kehidupan padamu," ucap Gending kembali, wajahnya tersenyum puas setelah melihat Darto dipenuhi goresan luka di tubuhnya.
Mendengar ucapan tersebut, luka di dada Darto tiba-tiba berkedut. Dia mengingat ketika saat dirinya baru dilahirkan dan langsung menerima luka dari kuku jari wanita di depannya.
"Aku belum kalah!" teriak Darto sembari merubah cahaya di tangannya menjadi sebuah gelembung yang membungkus dirinya.
Ratusan ular seketika terpental ketika menyentuh gelembung yang menyelubungi sekujur tubuh Darto. Mereka tidak bisa menembus pertahanan yang Darto miliki sama sekali. Melihat anakan ular yang tidak bisa menyentuh tubuhnya, Darto langsung duduk bersila di atas tanah, dia memejamkan mata dan memainkan bulir tasbih peninggalan Darsa dalam diam. Doa demi doa terus Darto ucapkan, hingga tanpa sadar anakan ular yang menempel pada pelindungnya langsung terbakar dibuatnya.
"Ya allah, hamba serahkan hidup hamba, jika memang hari ini adalah hari yang engkau tentukan untuk diriku pulang, maka buatlah kepulangan hamba tidak sia-sia. Berilah hamba kekuatan untuk mengakhiri setiap apa yang sudah terjadi," ucap Darto sendu sembari membuka mata, dilanjut berdiri tegak, lalu melompat tepat ke arah Gending berdiri.
Darto benar-benar mengabaikan anakan ular yang masih terus bergerombol di bawah kakinya, dia terus melesat cepat ke arah Gending dengan mata yang sama sekali tidak berkedip. Terus menerus Darto melompat, dia hanya memijak tanah hanya untuk mencari tumpuan sebelum akhirnya dia melompat kembali.
Dan sesampainya Darto tepat berada di depan Gending, Darto bergegas meraih keris di pinggangnya kemudian mencoba menusuk perut gending dengan tenaga yang tersisa.
"Jleb!" tangan Gending berhasil menembus perut Darto terlebih dahulu, sebelum keris di tangan Darto menyentuh kulitnya.
__ADS_1
Bersambung,-