ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MUSUH HEBAT


__ADS_3

Ketika Darto melihat tumpukan kelabang yang bergerombol di bawah kakinya, dia langsung mengarahkan tiga anak panah sekaligus, dan menembak tepat ke arah kakinya akan berpijak. Seketika suara dentuman terdengar ketika tiga anak panah yang Darto lepaskan melesat menyentuh tanah. Sekumpulan kelabang langsung terbakar, disertai daun kering yang beterbangan terkena dampak dari gesekan energi yang Darto lepaskan.


Melihat itu, Darto langsung turun ke tumpukan bangkai kelabang yang tengah terbakar, dan berpindah kembali ke atas dahan tempat Sastro mengamati dalam satu kedipan mata saja.


"Dia masih di dalam tanah, Dar," ucap Sastro setelah melihat Darto sudah berdiri di sampingnya.


"Merepotkan sekali binatang satu ini. Kamu punya ide nggak?" tanya Darto sembari terus mengibas cambuk cahaya menuju anakan kelabang yang tengah berkerumun datang menaiki pohon tempat darto berpijak.


"Kita harus mengurus anakannya dulu, Dar. Kamu bisa membuat serangan besar, kan? Biar aku jaga kamu ketika kamu mempersiapkan serangan," jawab Sastro yang kini mulai menciptakan sebuah cambuk, meniru senjata yang Darto kenakan. Hanya saya cambuk miliknya redup dan ukurannya juga tidak sepanjang milik Darto.


"Tolong ulur waktu untukku," ucap Darto sembari menatap Sastro dengan tatapan tajam.


"Baik, Dar," jawab Sastro sembari mulai mengibas cambuk di tangannya.


Melihat Sastro mulai beraksi, Darto langsung duduk bersila di atas ranting pohon tersebut. Dia memejamkan mata dengan bersilang tangan di depan dada, dengan mulut yang terus berdzikir memohon untuk kelancaran aksi yang akan dirinya lakukan.

__ADS_1


Perlahan energi berwarna putih menguap dari tubuhnya. Energi itu terus keluar seperti kepulan asap tebal dan terus turun ke atas tanah. Terus menyebar secara perlahan, hingga akhirnya hampir sejauh mata memandang, tanah di bawah kaki Darto benar-benar seperti tertutup kabut putih. Tanah yang semula berwarna hitam karena dipenuhi ribuan kelabang, kini menjadi putih sempurna setelah darto menyelimuti seluruh area dengan energi miliknya.


Sastro langsung terkejut dengan jumlah energi Darto yang begitu melimpah. Dia bahkan sampai mengerjap mata karena tidak bisa percaya dengan apa yang dirinya lihat saat ini. Namun mau berapa kali pun Sastro mengucek matanya, semua yang tampak di depan matanya tidak berubah sama sekali.


Setelah cukup lama Darto mengedarkan energi dari tubuhnya. Dia akhirnya membuka mata, dia tersenyum melihat jumlah energi yang bisa dia gunakan hanya dalam hitungan menit saja. Setelah berdiri dari posisi duduknya, dia terkekeh pelan sembari berkata, "Sastro.. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Kalau tidak, mungkin kamu juga akan terkena dampak dari serangan terbesar yang pernah kulakukan."


Mendengar ucapan Darto, wajah Sastro seketika memucat. Dia merasa takut dengan apa yang baru saja ia dengarkan, dan langsung menuruti permintaan Darto untuk segera pergi meninggalkan pemuda itu sendirian. Sastro sungguh tidak bisa membayangkan, akan sebesar apa dampak dari serangan yang menggunakan energi begitu banyak di atas tanah tersebut.


Darto kembali terkekeh setelah melihat Sastro hilang begitu saja. Dia merasa lucu melihat wajah pucat Sastro yang ketakutan, hingga langsung menuruti permintaannya tanpa menjawab maupun bertanya apa yang akan dirinya lakukan. Setelah puas menertawakan Sastro, Darto menghilang bagai hantu dan berpindah ke atas dahan yang ditunjuk Sastro sebelumnya.


Untuk cukup lama Darto menunggu sahutan dari induk kelabang, namun usahanya sia-sia. Dia tidak mendapat jawaban sama sekali dari lawan bicaranya. Darto benar-benar diabaikan oleh sosok yang masih bersembunyi di dalam tanah yang tertutup kabut di bawah kakinya.


Energi yang Darto sebarkan benar-benar seperti pedang bermata dua. Satu sisi penglihatan anakan kelabang benar-benar terhalang, mereka tidak bisa melihat dimana Darto berada, namun di sisi lain Darto juga tidak bisa melihat keberadaan anak kelabang beserta induknya.


Darto cukup kesal setelah menunggu lama namun tetap tidak mendapat respon. Dia menciptakan sebuah energi bulat seukuran kelereng di depan kuku jari tengah, ketika ujung jari tersebut tengah ia tekan menggunakan jempol miliknya. Setelah energi yang Darto ciptakan cukup padat, dia menjentikkan energi tersebut ke arah kabut di bawahnya sembari berkata "Sebaiknya kamu keluar! Ucapkan selamat tinggal untuk anakmu!"

__ADS_1


Duak! Boom! Letupan kecil dilanjut suara dentuman besar seperti ledakan bom langsung terdengar. Daun kering yang berserakan di atas tanah langsung melambung begitu tinggi, cabang dan dedaunan dari barisan pohon langsung bergoyang serentak, ketika energi seukuran kelereng yang Darto jentik menyentuh salah satu anakan kelabang di bawah kabut. Ledakan dari salah satu anakan kelabang itu memicu ledakan dari energi yang sudah Darto sebarkan di atas tanah. Dalam sekejap semua anakan kelabang musnah dan terbakar, menyisakan kepulan debu yang beterbangan diterpa angin yang bertiup begitu kencang.


Darto benar-benar terkejut melihat dampak dari serangan yang ia lakukan, ia sama sekali tidak menyangka jika serangannya akan memicu hal sedahsyat itu. Namun meski begitu Darto langsung tertawa lantang karena dia merasa bangga dengan apa yang sudah dia lakukan.


"KURANG AJAR KAU MANUSIA!" ketus seorang lelaki dengan nada yang begitu besar. Suara itu menggema memenuhi segala sisi hutan dengan volume yang begitu memekakkan telinga.


"Oh.. Akhirnya kamu mau menunjukkan wajah menjijikkan milikmu?" ejek Darto setelah melihat satu ekor kelabang seukuran buaya dewasa keluar dari dalam lubang kecil yang terletak di bawah pohon.


Sosok dengan sisik berwarna hitam kemerahan. Puluhan kakinya berwarna merah api, dengan dua sungut di kepala dan dua ekor di tubuh belakang bagaikan cambuk api yang berkobar. Sungguh sebuah penampakan dari sosok yang begitu mengerikan, bahkan bulu kuduk Darto langsung meremang setelah menyaksikan puluhan kaki yang bergerak-gerak dari mahluk melata yang begitu besar di bawah kakinya.


"AKU BUNUH KAU MANUSIA!" teriak sosok kelabang raksasa. Dia kemudian memanjat pohon tempat Darto berpijak, merambat memutari batang pohon dan berangsur naik ke atas.


Melihat itu, Darto langsung menciptakan busur panah kembali. Dia langsung menembakkan anak panah bercahaya tepat ke arah kepala kelabang, namun serangannya berhasil ditepis mentah-mentah. Anak panah yang melesat begitu cepat dapat dengan mudahnya dihempas oleh salah satu sungut di kepala kelabang itu.


Darto tidak menyerah, dia terus menembakkan anak panah secara bertubi-tubi sembari melompat dari pohon ke pohon. Dia terus menjauh dari kejaran kelabang raksasa itu, namun sosok itu terus melesat dengan kecepatan yang begitu mengerikan. Kecepatan kelabang saat berlari hampir sama dengan kecepatan dari teknik yang diajarkan Abirama. Hanya berbeda sepersekian detik saja dengan kecepatan yang Darto miliki. Sungguh saat itu Darto merasa kehabisan akal, karena setiap serangan demi serangan darinya, dapat dengan mudah ditepis dan dimentahkan oleh lawan bertarungnya.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2