
"Maksud Kanjeng apa?" Tanya pemuda sembari menyusul lelaki berbaju serba putih.
"Banaspati sudah menandai ayahmu. Saya sebenarnya terkejut, karena tanda itu juga turun ke kamu. Maaf ... sepertinya kamu dan keturunan sedarahmu, tidak akan bisa pergi sesuka hati dari tempat ini," ucap orang berbaju putih kemudian melangkah sedikit menuju pekarangan gubuk tersebut, dan duduk bersila di sana.
"Kang! Kamu mau apa?!" Teriak seseorang yang tadi membawa tombak merah. Dia berjalan dengan cara dipapah oleh istrinya, dia menyusul lelaki serba putih dengan ekspresi gelisah yang terpampang.
Lelaki berbaju putih langsung menatap temannya itu dengan tatapan sendu, dia sesekali menyeka darah yang mengucur dari bibirnya sembari terus mencoba menarik nafas secara paksa. Dalam kondisi seperti itu, dia memberikan pesan kepada sahabatnya, "Surya ... tolong beri baju ini untuk penerusku, pakai kalung itu jika ingin keluar dari tempat ini. Buatlah keturunan di tempat ini, dan tunggulah bantuan datang. Kalian jangan putus berdoa, doakan juga supaya Darsa--anakku bisa memanfaatkan seluruh energi yang sudah aku selipkan di dalam tasbih pemberianku."
"Kang ... jangan bicara yang tidak-tidak! Biar anakku carikan tabib untuk kita! Kita bisa sembuh sama-sama!" Pekik Surya si pemegang tombak merah, dia memaksa berlari meski langsung tumbang dalam sekali langkah, dia terus mencoba mendekat kepada Darma yang sudah siap untuk melakukan hal terakhir untuk menyelamatkan sahabatnya.
"Kalau ada rejeki lebih .... bisakah kalian sisihkan sedikit beras untuk anak dan istriku? Maaf ... aku masih saja meminta tolong, meski yang bisa aku lakukan hanyalah mengurung kalian di tempat seperti ini," ucap Kanjeng Darma kemudian memejamkan mata, dia terus membaca lantunan ayat dengan cipratan darah, yang semula hanya mengalir dari sudut bibir, menjadi semakin bertenaga untuk menyembur menerobos keluar dari dalam tubuh, melalui bibirnya.
Kanjeng Darma mencurahkan seluruh energi yang tersisa dan hidupnya untuk melindungi Surya dan keturunan. Hari itu adalah hari berpulangnya satu sosok yang namanya begitu menggema di alam sebelah, dia memeras setiap tenaga dan hidupnya untuk menciptakan satu pelindung yang akan mengacaukan energi Banaspati yang mengikat sahabatnya.
Kubah lingkaran yang begitu besar seketika tercipta, ukurannya mencapai diameter dua kilometer dari posisinya duduk. Dia mencoba memberikan tempat untuk melangsungkan kehidupan bagi para keturunan sahabatnya. Melindungi setiap garis darahnya dari kutukan yang mereka terima dari musuh terhebatnya.
__ADS_1
Jaka yang melihat Kanjeng Darma mati dengan posisi duduk bersila, langsung ikut meneteskan air mata. Dia merasa terharu dengan apa yang sudah Kanjeng Darma berikan, untuk hadiah perpisahannya dengan sesepuhnya.
Jaka langsung bersimpuh, setelah melihat sesepuhnya menangis sembari merayap dan memeluk mayat Kanjeng Darma yang sudah tidak bernyawa. Dia ikut menangis begitu lantang mengiringi kepergian Kanjeng Darma yang sudah berjasa untuk semua saudara satu darahnya.
Di tengah isak tangis, sebuah pintu cahaya kembali datang di depan wajah Jaka. Untuk sejenak Jaka mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipinya, kemudian dia melangkah masuk ke dalam pintu tersebut sembari berkata, "Akan aku balas jasamu ... wahai sahabat sesepuhku."
Ketika Jaka masuk ke dalam pintu, dia kembali terkejut, karena pintu tersebut tidak mengarahkannya untuk pulang, melainkan dia dibawa untuk bertemu Darsa. Setelah masuk Jaka melihat seorang pemuda yang pernah dia lihat, ketika kematian Kanjeng Darma. Lelaki itu sendang duduk di atas kursi bersebelahan dengan Darsa. Mereka berdua bungkam dalam posisi duduk dan tidak bergerak sama sekali.
Mereka mematung di depan seorang pelukis yang tengah fokus menggambar tubuh dan wajah mereka berdua. Jaka langsung teringat dengan lukisan di rumahnya, dia langsung tahu jika itu adalah momentum di mana anak dari sesepuhnya dan juga anak Kanjeng Rama di gambar di atas kanvas yang sama. Wajah mereka sudah tidak muda lagi, Sedangkan Darsa sudah memakai penyangga meski itu hanya untuk duduk. Jaka langsung tahu jika Darsa lumpuh, dia bisa melihat cara Darsa duduk ketika dilukis. Tidak hanya sekali anak sesepuhnya menyuruh Darsa untuk beristirahat, sebelum akhirnya melanjutkan pose duduk dengan kayu yang menopang.
"Tidak apa-apa. Aku bisa bertemu dengan anak Kanjeng Darma secara langsung saja sudah termasuk satu mukjizat yang luar biasa. Setidaknya aku ingin berterimakasih, berkat ayah kamu ... Bapak dan Si Mbok bisa hidup lebih lama, ditambah sekarang anak-anakku bisa hidup juga," jawab anak sesepuh Jaka sendu, dia menatap Darsa dengan tatapan layu, kemudian kembali berucap, "Semoga kita bisa berkumpul lagi di surga, dengan tubuh yang sehat dan juga tidak terikat."
Jaka bergidik mendengar ucapan sesepuhnya itu, bulu kuduknya seketika berdiri dan air mata kembali menetes setelah mendengar harapan semu itu. Dia merasa nasib kedua orang tua di depannya itu begitu miris. Dua orang asing yang berbagi kehidupan, meski mereka tidak memiliki ikatan darah. Satu bergantung pangan untuk waktu cukup lama, dan yang satunya bergantung perlindungan untuk kelangsungan hidupnya.
Takdir memang kadang menyajikan seribu kejutan, entah itu hadiah dari orang yang tidak dikenal, maupun sebuah campur tangan dari seseorang yang bahkan tidak pernah mereka temui dalam hidupnya. Itu adalah kalimat yang tengah Jaka gumamkan di dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah mendengar percakapan itu, kembali muncul satu pintu. Jaka tanpa ragu langsung memasuki pintu tersebut, dan jiwanya kembali datang ke dalam ruang gelap. Tempat dimana semuanya bermula, sebelum akhirnya Jaka melihat segala keanehan setelahnya.
Dalam kebingungan, tubuh Jaka tiba-tiba memancarkan cahaya merah. Jaka benar-benar kaget melihat setiap tubuh miliknya berkilauan, dia terus mengusap setiap bagian tubuhnya menggunakan telapak tangannya, namun cahaya itu tetap tidak mau hilang dari tempatnya.
Tanpa diduga, ketika jiwa Jaka tengah bercahaya di dalam ruang gelap, tubuh utama miliknya juga ikut memendarkan cahaya dengan warna merah yang begitu terang. Setiap mahluk yang tengah berebut untuk menyentuh tubuh Jaka, langsung terbakar dalam satu kedipan mata.
Darto yang tengah terlelap pulas, seketika langsung terperanjat. Dia kembali merasakan hawa mencekik di sampingnya. Ketika Darto membuka mata, dia melihat Jaka yang sedang mengambang, dengan puluhan sosok yang tengah terbakar di bawahnya.
"Jaka!" teriak Darto sembari meraih tubuh Jaka.
Tangan Darto benar-benar merasakan panas ketika meraih tubuh Jaka. Darto bahkan sampai menarik lengannya secepat kilat, setelah telapak tangannya menyentuh Jaka. Dia merasa hawa membakar yang begitu hebat dari energ yang berpendar dari tubuh Jaka.
Darto tidak menyerah, dia melapisi tangannya dengan energi miliknya, kemudian kembali mencoba untuk meraih tubuh Jaka. Beruntung, energi Jaka bisa ditepis oleh energi milik Darto. Tangan Darto tidak panas lagi, hingga dirinya bisa mengguncang tubuh Jaka sesuka hati.
Setelah cukup lama, akhirnya Jaka membuka mata, tubuhnya yang semula melayang seketika langsung ambruk tanpa aba-aba. Darto yang tengah mengguncangnya juga ikut tersungkur, dalam posisi duduknya Darto kembali meraih lengan Jaka sembari berkata, "Jak! Kamu mimpi lagi?!"
__ADS_1
Bersambung .....