
Tepat ketika Darto selesai mengurus musuh terakhir mereka, Jaka langsung berdiri dadi posisi duduknya kemudian berkata, "Kang ... Bagaimana keadaan teman kita?"
Darto hanya mengangkat kedua bahu untuk menjawab pertanyaan Jaka, kemudian merangkul Jaka dan berjalan ke arah pintu dimana semula mereka masuk ke tempat gelap tersebut.
Saat Darto dan Jaka sampai di tempat tujuannya, mereka melihat Maung yang masih terus mengalirkan energi miliknya kepada tiga teman yang masih terkulai.
Darto dan Jaka langsung mendekat dan duduk di samping Maung setelahnya.
"Bagaimana kondisi mereka, Maung?" tanya Darto singkat.
"Mereka kehabisan energi, Dar. Sepertinya cuma kita bertiga yang tidak bisa mereka serap energinya," jawab Maung.
"Maksudnya?" timpal Jaka.
"Ah aku salah, seharusnya cuma aku dan Jaka saja yang tidak bisa mereka hisap," sambung Maung.
"Sebenarnya apa yang ngin kamu ucapkan?" Darto kembali bertanya.
"Ulat itu membungkus mangsanya, Dar. Mereka terus menghisap energi dari korban buruan mereka. Kita dibungkus bagai kepompong, aku pernah mendengar nama mereka dari salah satu kenalan lama. Mereka disebut gerombolan ulat sutra penenun kenangan," jawab Maung.
"Lalu? Kenapa kita bertiga tidak pingsan seperti mereka?" tanya Darto kembali sembari menunjuk tiga temannya.
"Energi mereka benar-benar merupakan sumber makanan ulat itu, Dar. Lain halnya denganku yang memiliki energi sama dengan miliknya, kita sama-sama memiliki energi hitam di tubuh kita jadi dia menganggap diriku sebagai rombongan mereka," jawab Maung kembali.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Jaka.
"Kamu lebih bugar setelah bangun kan, Jak? Tubuhmu spesial Jak, karena bisa melahap segala energi. Bukan mereka yang menghisap, justru kamu yang mendapat energi mereka secara paksa. Sedangkan Darto, mungkin butuh waktu bertahun-tahun agar mereka bisa menguras habis semua energi yang kamu miliki di dalam tubuhmu," sambung Maung menjelaskan.
"Ah ... Sepertinya aku ingat. Memang akan butuh waktu yang sangat lama untuk menguras energi peninggalan Eyang Darma," Darto sedikit terkekeh.
"Jadi?" tanya Maung.
"Apa?" jawab Darto dan Jaka bersamaan.
"Kalian cuma mau melihat?" sahut Maung dengan wajah menyelidik.
__ADS_1
"Ah .. maaf ... ha ha ha ha," Darto tertawa.
Jaka langsung menggaruk kepala kala itu, kemudian ikut membantu Maung untuk memberi energi pada tiga teman yang tengah terkulai di depan mereka.
Begitu juga Darto, dia langsung memegangi kepala Sastro dan menyalurkan energi miliknya.
Mereka bertiga berbagi energi kepada tiga teman yang belum sadar juga setelah cukup lama. Namun perlahan tapi pasti, jemari milik Sastro, Wajana dan Komang mulai bergerak.
Mereka mulai menggerakkan tangan dan kaki, hingga akhirnya mereka tersadar secara sempurna.
"Urgh ... Kepalaku ...," Ucap Sastro sembari mencoba duduk. Dia memegangi pelipis sembari memejamkan mata secara paksa.
"Apa yang terjadi sama kita?" ucap Wajana sembari memegangi lehernya.
"Seingatku terakhir kali kita bersama di belakang pesantren," timpal Komang sembari memegangi lehernya juga.
"Telat ... Darto sama Jaka sudah selesai mengurus musuh yang membuat kita masuk dunia ilusi. Kalian bukannya bantu, malah enak-enak tidur," ketus Maung bercanda.
"Kita kembali?!" teriak Sastro kegirangan.
Setelah itu, Darto dan Jaka menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi kepada tiga pria yang baru bangun tersebut.
Maung juga ikut mendengarkan setiap cerita yang Darto dan Jaka lontarkan, karena dia tidak melihat pertarungan mereka sama sekali.
Setelah semua selesai diceritakan, Darto kembali bertanya pada tiga temannya, " Kalian mau ikut? Atau mau tinggal sebentar disini dan memulihkan energi dulu?"
"Sebentar ..." jawab Wajana sembari merogoh celana miliknya, "Saya bawa ini untuk jaga-jaga," sambungnya sembari mengeluarkan segenggam buah cheri dari balik lipatan jarik di pahanya.
"Di mana kamu menyimpan buah itu, Jan?" tanya Jaka sembari mencoba mengangkat jarik Wajana.
"Hus!" Wajana langsung menepis tangan Jaka sembari memasang wajah aneh, "Kalau mau makan saja!" sambungnya dengan nada ketus.
Semua orang yang menyaksikan langsung terbahak kala itu, menyaksikan kekonyolan Jaka dan juga wajah Wajana yang malu-malu.
Melihat buah yang dikeluarkan wajana sama persis dengan apa yang sudah pernah Darto makan ketika tengah dirawat Mbok Kanti. Darto langsung meraih tiga butir buah tersebut, kemudian memakannya tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
Semua orang langsung mengikuti Darto, mereka meraih buah di telapak tangan Wajana, kemudian memakan tanpa aba-aba.
Setelah berhari-hari terjebak, rasa lapar benar-benar memenuhi setiap sisi perut mereka. Namun secara ajaib hanya dengan memakan tiga buah cheri yang Wajana berikan, masalah kekurangan energi dan juga rasa lapar langsung teratasi.
Darto sudah tidak kaget dengan efek yang buah tersebut berikan, karena dulu setelah perutnya tertusuk tangan Gending, dia hanya memakan buah seperti itu selama empat bulan lamanya.
Setelah perut mereka terisi, enam lelaki itu kembali berdiri. Rasa lesu, lelah dan juga wajah pucat yang semula dimiliki tiga pria juga sudah berhasil diatasi.
Mereka berdiri saling menatap satu sama lain dalam bungkam kala itu, sebelum akhirnya Darto berkata, "Kita sudah dekat dengan tujuan kita. Kalian siap?"
Semua lelaki langsung mengangguk kala itu, tatapan mereka kembali tajam, dan suara detak juga kembali berdentum di dalam dada mereka.
Setelah saling mengangguk, Maung mengusap mata Sastro, Wajana dan Komang. Kali ini mereka berenam tidak akan lagi berputar-putar di tempat yang gelap, karena semuanya bisa dilihat dengan jelas dalam kegelapan, setelah Maung mengusap mata mereka.
Hanya kurang dari lima menit mereka semua berhasil melewati labirin gelap tersebut, dan akhirnya mereka sampai di tempat yang menjajakan dua puluh tiga pintu yang berjajar di depan wajah mereka.
Tempat yang sama persis dengan apa yang pernah mereka datangi di dunia ilusi, namun suasana yang sepenuhnya berbeda.
Empat pintu yang paling dekat dengan posisi enam pria itu berdiri sudah terbuka. Namun tidak untuk 19 pintu lainnya.
Mereka masih tertutup rapat, seakan tidak pernah terjamah sama sekali. Meski rasa was-was hadir di kala itu, enam pria tersebut tetap harus melangkah maju dan memastikan apa yang terjadi pada pintu yang terbuka.
"Sepertinya aku tahu maksud dari pintu ini," ucap Darto tepat setelah selesai memastikan satu persatu isi ruangan, dari empat pintu yang terbuka.
"Apa maksud semua ini, Dar?" sahut Maung.
"Pintu pertama berisi sisik ular, pintu ketiga berisi hutan gosong seperti alas ireng, dan ke empat berisi tumpukan bulu sutra, mungkin pintu kedua merupakan sarang kelabang jika dilihat dari postur tanahnya. Sepertinya itu semua kamar milik setiap mahluk yang pernah aku kalahkan," ucap Darto dengan tatapan yang begitu tajam.
"Ular untuk Gending, kelabang di belakang pesantren, Banaspati, dan juga Ulat tadi. Ini benar-benar kamar mereka. Sepertinya masih banyak sekali musuh yang harus kita hadapi," Darto melanjutkan dengan wajah tertunduk.
Saat itu pikiran Darto benar-benar sedikit kacau. Dia tidak mengira jika rintangan yang akan dirinya hadapi benar-benar masih panjang.
Namun meski begitu dia tidak punya pilihan lain, dengan langkah berat namun hati yang tak tergoyahkan, Darto mendekati pintu ke lima, dan mencoba membukanya.
Bersambung.
__ADS_1