ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
BIMBANG


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, matahari sudah berhasil mengusir kegelapan malam yang terasa panjang bagi Anto dan Darto. Mereka berdua terus terjaga sepanjang malam, bahkan meski tubuh mereka sangatlah kelelahan. Tidak terhitung berapa kali mereka mencoba tidur, namun pikiran di kepala mereka sama sekali tidak memberikan kesempatan, bahkan meski itu hanya untuk sekedar memejamkan mata.


Tampak Anto memasang wajah pucat dengan kantung matanya yang menghitam, dan Darto yang juga memiliki wajah tak kalah pucat dengan sahabatnya. Pagi ini Darto dan Anto berjalan dengan tubuh lesu, mengimbangi langkah kaki semua lelaki di depannya sungguh benar-benar begitu terasa menyiksa. Namun mau bagaimanapun Anto dan Darto terus melanjutkan langkah mereka, memanfaatkan setiap waktu istirahat untuk memejamkan mata, meski hanya sekejap saja sebelum melanjutkan perjalanan kembali.


Waktu kembali menyajikan langit hitam di atas kepala rombongan itu, awan mendung yang menyelimuti hutan tidak begitu jelas tampak, selayaknya bintang yang juga menghilang terhalang awan mendung tersebut.


Malam itu hujan datang menemani waktu istirahat semua rombongan di hutan. Darto dan Anto tampak begitu pulas, mereka berdua sungguh sudah menahan rasa kantuk dan lelah begitu lama. Hingga saat ini mereka sama sekali tidak menghiraukan baju mereka yang mulai basah, terkena tetesan demi tetesan air hujan yang sempat tertampung daun di atas kepala mereka.


Berbeda dengan malam terakhir, malam itu terasa begitu pendek bagi Anto dan Darto. Akhirnya pagi ini mereka bisa melanjutkan perjalanan dengan tubuh penuh tenaga karena cukup beristirahat. Meski ingus mereka terus timbul tenggelam dari hidung mereka, mengingat semalam mereka tertidur dengan baju basah yang melekat di badan.


Tidak terasa perjalanan panjang mereka akhirnya menemui titik akhir. Sore ini semua orang mulai berpencar, mereka berjalan menuju rumah masing-masing setelah sampai di kampung kemoceng. Rasa syukur benar-benar bersarang di dalam dada mereka, mengingat sudah menyelesaikan tugas yang cukup berat juga melelahkan, namun juga setimpal dengan upah yang mereka dapatkan. Akhirnya semua orang kini tidak tampak lagi, hanya menyisakan Anto saja sayang masih terlihat punggungnya. Dia tengah pergi meninggalkan rumah Darto menuju rumah miliknya sendiri.


"Tok! Jangan lupa! Nanti tidur sini!" teriak Darto yang hanya mendapat anggukan kepala Anto.


Melihat Anto yang sudah begitu jauh, Darto bergegas masuk ke dalam rumahnya, kemudian membasuh diri dan menunaikan shalat Ashar di dalam kamarnya. Setelah usai, Darto langsung memanggil nenek penghuni batu hitam itu kembali.


"Nyi, saya butuh bantuanmu," ucap Darto sembari membuka bungkusan kain di tangannya.


"Iya, Den. Apa yang bisa saya bantu?" ucap nenek sopan, dia masih terus menunduk sembari bersimpuh di depan Darto.


"Bisa tunjukkan dimana Gending? buto ijo memberi tahu jika dia berada di kampung ini," ucap Darto dengan tatapan serius.


"Maaf, Den. Jika saya memberi tahu, saya bisa mati seperti buto," jawab nenek dengan tubuh bergetar. Matanya terus jelalatan, menyapu segala arah untuk memastikan keadaan sekitar.

__ADS_1


"Apa tidak ada cara lain untuk memberi tahu letak dimana dia?" kembali Darto bertanya, namun hanya mendapat gelengan kepala sebagai jawabannya.


"Hah... Ya sudah, maaf sudak menganggu istirahatmu," ucap Darto mendengus kesal, setelah begitu berharap pada nenek itu, namun kembali dipaksa untuk menelan rasa kecewa.


Mendengar ucapan itu, Sang nenek memasang wajah segan, dia merasa bersalah karena tidak bisa memberi tahu posisi tuannya, meski sebenarnya dia ingin sekali memberitahukan kepada Darto.


"Selamatan desa, Den. Itu tidak lama lagi, kan?" ucap nenek singkat, dengan wajah tersenyum kemudian menghilang bagai kepulan asap.


Mendengar ucapan itu, Darto langsung bisa menangkap pesan di balik kata-kata nenek. Saat itu juga dia bergegas pergi meninggalkan rumahnya, dan berlari pergi menuju rumah Anto.


"Tok! Assalamualaikum, Tok!" teriak Darto sembari membuka pintu rumah Anto tanpa mengetuk.


"Wa'alaykumussalam Dar. Ada apa?" Tanya Anto heran melihat wajah Darto yang penuh keringat di depannya.


"Sebentar, Dar, saya tanya Bapak dulu," jawab Anto santai sembari kembali masuk ke dalam rumahnya.


Tanpa permisi Darto ikut masuk ke dalam, dia mengikuti langkah Anto yang masuk ke ruang sebelahnya. Setelah Anto bertanya kepada bapaknya, Darto mendapat jawaban tentang jadwal selamatan yang akan diadakan penduduk desa yang ternyata tidaklah lama lagi, selamatan itu akan dilakukan besok lusa.


"Kamu enggak usah nginap di rumahku, Tok. Biar aku yang nginap di sini saja," ucap Darto secara tiba-tiba.


Mendengar ucapan Darto, Anto langsung setuju. Justru dia malah terlihat senang, karena tidak perlu repot lagi mengemas pakaian yang akan dia kenakan sehari-hari.


Saat itu Darto mengajukan permintaan bukanlah tanpa alasan. Darto teringat dengan pelindung yang kedua kakeknya persiapkan untuk memagari rumah Anto. Ditambah Darto juga sedikit gugup, jika hanya tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri Darto saat ini benar-benar tengah merasa perasaan yang aneh. Dalam sekejap dia marah mengingat perlakuan Gending kepada keluarganya, namun di saat yang sama dia merasa takut untuk apa yang akan dia jalani kedepannya. Darto benar-benar merasa bimbang karena harus mengurus musuh yang begitu kuat sendirian, tanpa bantuan kedua kakeknya yang tercinta.


Setelah mendapat persetujuan Anto, Darto sempat pergi kembali ke rumahnya. Memilah beberapa baju, kemudian ia bawa ke rumah Anto kembali. Dan sesampainya di sana, Darto hanya menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan. Dia mengistirahatkan tubuh lelahnya itu, sembari terus terus berdzikir menggunakan tasbih peninggalan Darsa.


Hari itu benar-benar panjang bagi Darto, dia dirundung rasa kalut yang tak kunjung mereda, bahkan sosok didalam tasbih yang ia harapkan kehadirannya tidak sekalipun menampakkan dirinya. Padahal banyak sekali pertanyaan yang hendak Darto utarakan, Darto berharap setidaknya mendapatkan persiapan, untuk melawan Gending di hari lusa.


'Jika Darsa mampu memusnahkan Gending, kenapa dia tidak melakukannya dulu? Padahal dulu pastilah Gending tidak sekuat sekarang,'


pertanyaan itu yang terus terbesit di dalam pikiran Darto. Hingga dirinya ragu dengan kemampuannya, dan merasa sedikit takut untuk apa yang akan terjadi di hari lusa.


Ketika tengah kebingungan, Darto kembali mengingat dua kakek yang selalu bersamanya, dan tanpa menunggu lama dia langsung memanggilnya.


"Ada apa, Dar?" tanya Sastro yang baru saja muncul di hadapan Darto bersama Wajana.


"Aku ingin dengar cerita kematian leluhurku, Apa itu ada hubungannya sama Gending?" ucap Darto penasaran. Dan menatap lurus ke arah mata Sastro.


Mendengar pertanyaan Darto, Sastro dan Wajana sedikit terkejut. Mereka mengira Darto sudah melihat semuanya, ketika menjalani ujian dulu.


"Kamu belum melihat semua itu?" tanya Wajana sedikit mengernyitkan dahi, dan hanya mendapat gelengan kepala dari Darto di depannya.


"Baiklah, jika begitu akan saya ceritakan serinci mungkin, di episode selanjutnya, Ya?"


"Okelah kalau begitu!" jawab Darto menutup episode ini.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2