
Malam itu semua orang tertegun setelah mendengar penuturan Darto, mereka bungkam seribu bahasa karena terkejut. Namun berbeda dengan Harti. Dia bungkam bukan karena terkejut, melainkan karena malu. Tampak sekali pipinya begitu merona seketika itu juga. Dia menunduk dengan mulut terkunci, dengan perasaan meledak-ledak di dalam dadanya.
Setelah cukup lama mereka diam, Kakung membuka suara untuk mencairkan suara. Dia sedikit tertawa sembari berkata "Maunya kapan? Besok? Atau sekarang saja? Udah nggak sabar ya pingin anu?"
Mendengar itu, semua orang serentak menertawakan Darto, mereka merasa lucu melihat pipi Darto yang ikut memerah setelah mendengar ucapan Kakung. Malam itu Darto dan Harti benar-benar dirundung perasaan yang menggebu karena pernyataan yang sudah mengganjal di dalam hati mereka akhirnya tersampaikan juga. Malam itu hari pernikahan Darto akhirnya ditentukan, kedua Kakeknya mengusulkan untuk secepatnya, mengingat Darto masih memiliki tanggung jawab yang harus dirinya emban di hari depan.
Setelah cukup lama berunding, akhirnya pernikahan Darto ditentukan. Pernikahannya akan dilangsungkan seminggu lagi, terhitung dari hari ini. Ketika perbincangan penentuan hari sudah selesai, perkataan mengejutkan kembali datang dari Bidin, dia mengucapkan kalimat sebagai berikut "Pak Kyai, saya juga mau disahkan sama Siti, kalau bisa sekalian saja sama Darto biar barengan nikahnya."
Mendengar itu, Surip sangat terkejut. Dia pernah mendekati Siti namun ditolak mentah-mentah karena dulu Siti suka sama Darto. Dia tidak menyangka jika Bidin berhasil merebut hati Siti yang dulu dia idamkan. Saat itu Surip bertanya pada Bidin dengan nada heran, dia berkata "Bagaimana dia bisa mau sama kamu, Din?"
"Setelah aku panjangkan kumis kaya Anto, dia mulai mandang aku dengan tatapan beda, Sur. Memang bener kalau punya kumis gampang bikin cewek klepek-klepek," ucap Bidin dengan tatapan serius. Ucapannya benar-benar membuat Anto terbahak saat mendengarnya.
"Beneran?" Tanya Surip, dia tampak begitu percaya hingga semua orang terbahak melihat tingkah dua sahabat dekat tersebut.
Surip sedikit malu kala itu, dia juga tampak sedih karena dua teman dekatnya akan melakukan pernikahan di hari yang sama, sedangkan dirinya belum bertemu dengan wanita yang sudi untuk dinikahi olehnya. Dalam rasa murungnya, dia mendengar sesuatu yang diaucapkan oleh Kakung. Dia terkejut setelah mendengar Kakung berkata, "Kamu mau saya pasangkan sama anak Karta?"
__ADS_1
"Maksud pak Kyai?" Tanya Surip sedikit memiringkan kepala sembari melihat arah yang Kakung tunjuk dengan telunjuk jarinya
Ketika Surip menoleh dia langsung melihat Gayatri yang begitu cantik sedang tertunduk malu, dan juga Ki Karta yang mengamati Surip dengan seksama. Tatapannya menyelidik, dia terus memperhatikan Surip sembari terus mengelus jenggot putih di dagunya.
"Dia murid saya dari dulu, Kar. Kalau urusan agama dia setara sama cucu saya. Dia sudah Hafiz, kamu nggak mau? Kalau kamu sama putri kamu dapat jalan surga gratis? Dia kan bisa bawa 10 orang masuk surga," tanya Kakung kepada Ki Karta.
"Terserah putriku, Mat. Dia sudah besar. Bagaimana, Neng? Mau? Kamu sudah waktunya punya keluarga sendiri," jawab Ki Karta pada Kakung, kemudian bertanya pada putrinya yang tengah tertunduk malu di sampingnya.
"Neng ikut kata Abah, kalau Abah mengizinkan, Neng tidak akan menolak," jawab Gayatri dengan pipi merona, sama merahnya dengan pipi Surip yang hampir pingsan menahan degup jantung yang begitu memburu.
Mendengar itu, semua orang kembali terbahak, mereka hanyut dalam rasa senang yang bersarang di dalam hati mereka. Setelah cukup lama Ki Karta memberi rentetan pertanyaan kepada Surip, dia akhirnya setuju untuk memberikan putri kesayangannya kepada pemuda itu untuk dijadikan pasangan hidupnya. Malam itu semua orang tua merasakan hal yang sama, mereka merasa bahagia karena penerus mereka sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Baik, minggu depan biar saya yang jadi penghulu untuk kalian semua. Besok panggil Siti ke sini, sekalian kita temui orang tuanya ya, Din," ucap Kakung kepada semua pemuda di depannya. kemudian bertanya pada Bidin di depannya.
"Njih Pak Kyai. Saya sudah dapat restu dari mereka, dan kebetulan rumahnya dekat dari pesantren, cuma sepuluh menit kalau jalan kaki. Sekarang saya pamit dulu, mau sampaikan kabar ini ke Siti," ucap Bidin kemudian pergi secara tergesa. Dia berlari menuju asrama putri dengan begitu kencang, sembari melompat-lompat kegirangan.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, semua orang memutuskan untuk beristirahat malam itu. Ruangan tamu yang begitu ramai berubah menjadi begitu sepi setelah semua orang memasuki kamarnya masing-masing.
Darto, Harti, Surip, Bidin, Gayatri serta Siti tidak bisa memejamkan mata malam itu. Mereka hanyut dalam lamunan tentang hari bahagia yang akan mereka lakukan sebentar lagi. Enam remaja itu mabuk dalam perasaan masing-masing, membuat mata mereka tidak mau untuk terpejam. Karena bagi mereka, malam ini kenyataan lebih indah dari pada mimpi.
Hari berganti, pagi ini semua orang tua dan semua pemuda mencari semua perlengkapan yang diperlukan, mereka pergi ke pasar untuk memesan berbagai bahan makan yang dibutuhkan, kemudian memberi sebuah hantaran kepada mempelai wanita secara bergantian. Kakung tampak sedikit lelah setelah seharian mengurus semua kepentingannya. Bahkan dia juga yang mendaftarkan tiga pasangan itu ke KUA, setelah menghantar seserahan ke rumah Siti yang dirinya tempuh dengan berjalan kaki.
Hari itu rasa lelah semua orang benar-benar tidak terasa, mereka melakukan semuanya dengan senyum yang terus mengambang di bibir. Hingga tidak terasa malam sudah kembali menyapa, waktu berlalu bagai kedipan mata, sekedar menyisakan rasa lelahnya saja.
Karena dari semalam mereka terus bergadang, tiga pasang calon mempelai itu begitu cepat memejamkan mata mereka malam ini. Mereka langsung hanyut dalam mimpinya di atas dipan milik mereka masing-masing. Malam itu sungguh begitu terpampang biasa, tanpa mereka tau, sudah mulai ada yang mengawasi mereka dari kejauhan.
Kabar tentang kematian sepasang ular yang sudah mengabdi begitu lama, akhirnya sampai juga di telinga Banaspati. Dia mengutus salah satu kaki tangannya untuk mengurus siapapun yang sudah membunuh salah satu peliharaannya, dan saat ini sebuah sosok sudah sampai di area pesantren, dia memantau dari kejauhan karena dia benar-benar tidak bisa masuk kedalamnya. Satu energi besar selalu membuat tubuhnya terpental beberapa langkah ke belakang, setiap dirinya mencoba masuk secara paksa.
Mahluk itu mencoba berbagai cara, namun usahanya dipaksa untuk tetap gagal. Dia akhirnya menyerah, dan memutuskan untuk menunggu kesempatan. Dia mendiami pohon besar yang terletak di hutan dekat pesantren, dengan wujud binatang yang memiliki ukuran di luar nalar. Sebuah kelabang yang begitu besar, ditemani puluhan anakannya kini tengah menunggu waktu agar bisa melakukan tugas yang mereka emban, untuk memusnahkan Darto dan yang lainnya.
Bersambung,-
__ADS_1