
"Jak? Kamu juga lihat mereka semua, Kan?" Tanya Darto sembari melompat ke arah Jaka.
"Iya, Kang ... Jaka lihat semuanya. Ternyata kita selama ini dibungkus oleh bulu mahluk itu," jawab Jaka sembari memasang posisi siaga.
Jaka dan Darto kala itu langsung memasang posisi sigap, mereka berdiri saling memunggungi, sembari mencoba menciptakan kilau energi di kedua tangan mereka.
Darto dan Jaka sejenak melirik pada lengan mereka, rasa lega langsung bersarang rapi di dalam hati dua pemuda tersebut.
Mereka merasa tidak takut lagi, setelah mengetahui jika mereka sudah bisa menggunakan kekuatan miliknya.
"Jak ... Kamu siap?" tanya Darto dengan senyum mengambang.
"Setiap saat, Kang," jawab Jaka dengan senyum yang tidak kalah lebar dengan milik Darto.
Setelah mengetahui musuh mereka hanya diam di atas kepala, Darto dan Jaka melompat begitu tinggi, kemudian menebas satu persatu mahluk berbulu dengan ukuran besar di depan mereka.
Darto kala itu mengayunkan pedang bercahaya putih, lebih dari puluhan kali tebasan dalam satu lompatan. Sedangkan Jaka hanya melakukan satu kali ayunan tombak api berukuran panjang, namun hasil akhirnya sama saja menjatuhkan puluhan musuhnya.
Mereka berdua benar-benar merasa senang karena bisa kembali pada raga yang sesungguhnya. Meski banyak sekali musuh yang menanti, namun mereka memiliki sedikit harapan.
Ditengah penaklukan sengit yang tengah Darto dan Jaka lakukan, Maung sudah sampai di tempat dimana mereka masuk sebelumnya.
Maung menaruh tubuh Sastro, Wajana dan Komang secara kasar di atas tanah, karena memang dia tidak bisa menurunkan secara pelan.
Maung langsung mencoba membenarkan posisi tiga temannya. Dia membuat tiga tubuh yang terkulai dalam posisi acak, menjadi tidur telentang menghadap ke atas secara berdampingan.
"Mang ... Komang ... Jan ... Wajana ... Sas ... Sastro?!" Ucap Maung sedikit meninggikan nada. Dia memanggil nama tiga temannya secara bergantian, sembari menepuk-tepuk pipi mereka.
Tidak ada pergerakan sama sekali setelah cukup lama Maung mencoba membangunkan mereka. Tiga lelaki itu masih terbujur lemas, meski mereka sepenuhnya bernafas.
Maung benar-benar merasa bimbang di tempat tersebut. Dia ingin kembali dan membantu Darto juga Jaka, namun dia tidak mungkin meninggalkan tiga temannya yang tengah tergeletak tidak berdaya.
Setelah mengingat kemampuan dua pemuda yang dirinya tinggalkan, Maung sedikit terkekeh dan memilih untuk tinggal. Dia langsung duduk bersila di samping kepala temannya, lalu mencoba menyalurkan energi miliknya untuk memberi tambahan tenaga kepada tiga temannya.
__ADS_1
Saat itu, di dalam hati kecilnya Maung bergumam dengan sudut bibir yang sempurna mengambang, 'Sudah jelas, kan? Aku hanya perlu memilih siapapun yang lebih membutuhkan bantuan'
Saat Maung sudah mulai menyalurkan energi miliknya kepada tiga temannya, Darto dan Jaka benar-benar sudah menghabisi hampir lebih dari separuh mahluk yang mengepung mereka.
Mereka berdua terus mengayun senjata bercahaya di tangannya, sembari terus bergerak dengan kecepatan yang gila.
"Berapa hari kita ditahan oleh mahluk lemah ini, Jak? Aku benar-benar tidak terima ... ha ha ha ha," teriak Darto sembari terus mengayun pedang miliknya, dia terbahak karena merasa sudah dibodohi oleh mahluk yang bahkan tidak bisa memberikan perlawanan pada dirinya dan juga temanya.
"Benar, Kang. Aku juga tidak terima. Masak kita sampai harus mati cuma gara-gara ulat," Jaka benar-benar emosi. Dia membuat tombak di tangannya menjadi tiga kali lebih panjang, kemudian mengayun senjatanya ke arah samping, hingga satu putaran penuh dan membentuk lingkaran.
Darto dan Jaka benar-benar mengamuk kala itu, mereka menghabisi setiap mahluk yang semula berada di atas kepala, hingga menjadi tumpukan bangkai yang sudah memenuhi setiap sudut lantai di ruangan tersebut.
Namun ... tepat ketika musuh Darto dan Jaka sudah tinggal hitungan jari, satu mahluk yang memiliki ukuran berkali lipat lebih besar datang dari pintu yang semula menjadi tujuan mereka. Mahluk yang sama, berbentuk ulat dengan bulu yang begitu rimbun, namun dia memiliki kecepatan yang sangat gila.
Ulat itu berlari lurus ke arah Darto. Dia melesat secepat kedipan mata sembari menembakkan bulu tajam yang membalut tubuhnya ke arah Jaka.
"Jak! Awas!" teriak Darto setelah sadar jika ada serangan yang mengarah ke punggung temannya.
Saat itu Darto mengubah pedang di tangannya menjadi sebuah cambuk dan memecut senjata di tangannya itu ke arah Jaka.
Ulat raksasa itu berputar dan melesat ke arah Darto yang sedang mencambuk bulu di belakang Jaka, sehingga Darto benar-benar tidak bisa mengelak.
Darto tidak bisa menepis karena cambuk miliknya tengah digunakan untuk melindungi Jaka. Mau tidak mau Darto harus bisa menahan hujaman bulu berputar, dan menerima serangan adalah satu-satunya pilihan yang Darto punya.
JLEB ....
Suara benda menusuk benar-benar terdengar nyaring di ruangan tersebut.
Satu benda langsung jatuh dari udara ketika sesuatu menembus tubu miliknya. Untungnya itu bukanlah tubuh Darto.
Tepat saat Darto berteriak, Jaka menoleh ke arah Darto, dan dia langsung melempar tombak panjang miliknya ke arah punggung Darto.
Sungguh dua pemuda itu memiliki momentum yang sangat pas. Satu sisi Darto membahayakan dirinya demi Jaka, dan di satu sisi lainnya Jaka juga mempercayakan punggungnya pada temannya.
__ADS_1
Mereka berdua benar-benar kompak, benar-benar sudah bisa disebut dua bongkah besi yang ditempa oleh kemalangan yang sama.
Pengalaman dari pertempuran, dan setiap kepahitan mereka membuahkan hasil yang sungguh manis. Hingga hasilnya, hari ini mereka tersenyum setelah menebas satu ulat berukuran sedang yang merupakan ulat terkahir yang mereka lihat.
Setelah semua musuh jatuh ke atas tanah, satu persatu mulai terbakar dan menjadi debu yang kian lama kian menghilang. Kecuali satu mahluk yang memiliki ukuran paling besar.
Mahluk itu masih bergeliat dengan tubuh yang sedikit demi sedikit terbakar. Namun dia masih bisa terus mencoba memulihkan dirinya.
"Hei ... Kau bisa menyembuhkan diri?" tanya Darto sembari duduk di sebelah tubuh ulat raksasa tersebut.
Melihat Darto yang duduk bersila di depan ulat raksasa itu, Jaka pun ikut mendekat dan duduk di sampingnya. Mereka berdua melihat tubuh ulat tersebut secara seksama.
"Ba ... Bagaimana?" ulat itu mencoba berbicara. Dia berbicara dengan nada tersendat, sembari terus bergeliat kesakitan.
"Apanya?" Jaka berbicara.
"Bagaimana cara kalian lepas dari rajutan bulu sutra milikku?" Ulat itu kembali berbicara.
"Kamu akan tahu jawabannya jika kamu terlahir di tempat yang kelam. Tempat dimana hidup dipertaruhkan, dimana hidupmu hanya memiliki dua pilihan, yaitu mati atau berlari," jawab Darto sendu.
"Argh!" Ulat itu hanya mengeram karena kemampuan pemulihan yang dirinya punya lebih lambat dari pembakaran yang tengah terjadi pada tubuhnya.
"Aku dan Jaka sudah besar di lingkungan yang seperti itu. Jadi ... Tipuan manis yang kau suguhkan benar-benar tidak bisa mengelabuhi kami, karena kami sudah terbiasa meneguk pahitnya kegagalan dan juga kehilangan," sambung Darto kembali sembari mendongak.
Satu persatu ingatan dari masa kecil miliknya kembali mengalir bagai sungai yang begitu deras di dalam kepala Darto.
Dari mulai kelahirannya yang mengorbankan hidup ibunya, hingga detik ini dimana dia sudah mengalami kehilangan atas imbas dari takdir yang dirinya pikul.
Saat itu Darto meneteskan air mata, kemudian berdiri dan kembali menciptakan satu pedang panjang, dan menginjak kepala ulat yang tengah bergeliat di depannya.
"Hari ini ... satu musuh yang mungkin bisa membahayakan setiap keluarga yang memiliki darahku, akan aku kirim untuk bertemu dengan mahluk lainnya yang sudah mati terlebih dahulu," ucap Darto sembari menusuk kepala ulat tersebut.
Pedang Darto benar-benar menembus kepala mahluk tersebut, hingga ulat itu langsung menguap dan menyatu dengan udara.
__ADS_1
Hari itu, satu musuh yang tidak begitu kuat namun sangat merepotkan akhirnya bisa disingkirkan. Apakah masih ada musuh yang lebih merepotkan di depan? mari kita simak kelanjutannya.
Bersambung ....