
Dua hari berlalu, sepuluh foto lengkap dengan bingkainya sudah diantarkan ke pesantren oleh pemilik studio. Anto yang sudah dua malam menginap pun ijin untuk pulang, kali ini Mbah Turahmin ikut pulang ke kampung kemoceng bersama Anto dan Sri.
Kepulangan Si Mbah Turahmin beserta Anto dan Istrinya kali ini diantarkan oleh Kakung menggunakan mobilnya. Mereka membawa dua foto untuk digantung di rumah Darto dan Anto di kampung kemoceng. Satu foto untuk Jaka dan Magisna, dua foto untuk Surip dan Bidin, dan satu untuk Abah ramli.
Sisa empat foto, Darto gantung kamar miliknya, ruang tamu rumah Kakung, rumah Harti dan yang terakhir Darto gantung di aula pesantren, agar para murid pesantren mengerti dengan semua keluarga yang Kakung punya. Darto sangat senang ketika menggantung semua foto tersebut, bahkan dia terus mengamati gambar itu cukup lama sebelum akhirnya pergi menghantar Kakung yang akan menghantar Anto dan Mbah Turahmin.
"Mbah, mau ke sini lagi apa mau menetap di kampung?" tanya Darto ketika Si Mbah dan Anto sudah selesai menaruh semua barang dalam bagasi mobil.
"Si Mbah sudah tua, Dar. Si Mbah pengen istirahat di candi wulan, biar dekat sama Asih dan Darmin kalau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa," ucap Mbah Turahmin sembari tersenyum.
Mendengar nama mendiang kedua orang tuanya disebut, Darto langsung menampung gundukan air di atas kantung matanya, dia memeluk Mbah Turahmin sembari berkata, "Jangan bicara seperti itu, Mbah. Darto belum bisa membanggakan Si Mbah."
"Kata siapa? Kamu sudah melebihi perkiraan, Dar. Kamu sudah menjadi sosok yang Si Mbah bahkan tidak bisa bayangkan, Si Mbah bangga sekali memiliki cucu seperti kamu," ucapnya sendu sembari mengelus punggung Darto, "Umur Si Mbah sudah dapat bonus banyak, Dar. Si Mbah hampir kepala delapan, sudah bau tanah he he he."
Mendengar ucapan itu, Darto seketika langsung terisak. Dia mengencangkan pelukannya pada Si Mbah dan terus membenamkan wajahnya pada pundak Si Mbah.
"Semoga Si Mbah sehat sampai Darto pulang, supaya nanti Darto bisa ceritakan pertarungan yang pasti akan membuat Si Mbah takjub," ucap Darto masih di dalam pelukan.
"Semoga semuanya cepat teratasi, Dar. Si Mbah percaya, jika kamu bisa menumpas semua kebusukan mahluk itu," ucap Si Mbah sembari mengacak kasar rambut Darto, "Yasudah ... nanti keburu kesiangan, perjalanan Si Mbah jauh. Kamu hati-hati, jangan sampai lengah, serahkan semua sama yang di atas, jangan lelah minta bantuan sama Beliau," sambung Si Mbah.
"Njih, Mbah. Si Mbah juga jaga kesehatan, nggak usah ke sawah, uang Si Mbah sudah banyak sekarang," ucap Darto sembari menarik tubuhnya, kemudian tersenyum menatap Si Mbah yang tengah masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Titip Si Mbah ya, Tok. Kamu satu-satunya orang yang bisa aku minta tolong," sambung Darto setelah Si Mbah masuk. Dia berbicara pada Anto yang masih belum masuk ke dalam mobil.
"Siap, Ndan. Asal bayaran sepadan, ha ha ha ha," jawab Anto sembari memasang posisi hormat, dengan telapak tangan yang terentang di depan dahi. Itu mirip seperti jawaban Darto saat Anto meminta bantuan untuk memanen buncis, saat mereka tengah menurunkan gerobak Pak Sapto yang nyangkut di pemakaman candi wulan.
"Bikin malu saja kamu, Tok. Yasudah ... kamu juga hati-hati, Tok. Semoga kalian semua sehat selalu," sahut Darto dan langsung mendapat pelukan dari Anto.
"Kamu juga, Dar. Semoga kita bisa kumpul lagi kaya yang sudah-sudah," jawab Anto kemudian melepas dekapannya dan bergegas menyusul Sri yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil.
Setelah semua orang masuk, Kakung langsung menginjak pedal gas dan melesat menuju kampung kemoceng. Ketika mobilnya sudah tidak terlihat, Darto masuk kedalam rumah Kakung yang begitu sunyi. Jaka dan Abah Ramli entah kemana, sedangkan Harti masih menyusui Dava di dalam kamarnya.
Untuk sesaat Darto menghela nafas panjang, kemudian kembali menghembuskan secara pelan, sembari menatap foto baru, yang belum lama ia pajang. Darto memandangi satu persatu wajah yang tengah memampangkan gigi, sembari mengusap kaca yang menutupnya.
"Semoga, kita semua bisa berkumpul seperti ini lagi," gumam lirih Darto sembari memperhatikan foto di atas kepalanya.
Setelah sampai di pesantren, Kakung langsung menemui Darto, dia takut jika Darto sudah pergi, namun dia langsung merasa lega ketika melihat Darto tengah menggendong anaknya di ruang tengah bersama Harti.
"Kamu kapan mau pergi?" Tanya Kakung singkat.
"Besok, Kung. Doakan Darto bisa ketemu sama sosok yang diucapkan Sastro dan Wajana," jawab Darto sembari menyerahkan Dava ke tangan Harti, "Titip Harti sama Dava ya, Kung. Darto mungkin akan sedikit lama," sambungnya lagi.
"Sudah ... Harti dan Dava kan cucu, sama cicit Kakung, tidak perlu dititip juga Kakung pasti rawat dia, kaya rawat kamu," jawab Kakung kemudian meraih kepala Darto, "Ini ada titipan Tumin, katanya bakalan lebih berguna jika dibawa kamu," sambung Kakung sembari menyodorkan ikat kepala yang tidak pernah lepas dari kepala Si Mbah.
__ADS_1
Perasaan Darto seketika tidak nyaman, dia merasa gelisah dengan tingkah laku Si Mbah, namun meski begitu, dia terus menepis perasaannya dan terus berdoa untuk kebaikan orang tua yang saat ini sudah berada di kampung halamannya.
"Jak ... Bah, saya ada perlu sama kalian," ucap Darto setelah menerima ikat kepala yang Kakung sodorkan. Di saat yang bersamaan Jaka dan Abah Ramli baru saja pulang dari warung depan.
Mendengar itu, Jaka dan Abah Ramli saling menatap, kemudian menatap Darto dan mengangguk secara bersamaan. Mereka langsung mengikuti Darto masuk ke ruang tengah, dan menunggu Darto yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Jak ... kamu jadi ikut, Kan?" Tanya Darto sesaat setelah keluar dari kamarnya.
"Kapan, Kang?" Tanya Jaka.
"Besok ... kalau iya, ini kamu gunakan," jawab Darto sembari menyodorkan kotak kayu penuh ukiran. Kotak yang pernah Darto dapat, sesaat sebelum melakukan ujian.
"Ikut, Kang," jawab Jaka singkat kemudian meraih kotak tersebut, "Jaka titip Magisna ya, Bah?" Sambungnya pada Abah Ramli.
"Sebentar, Dar," ucap Abah Ramli kemudian masuk ke dalam kamarnya, "Ini untuk Kamu," sambungnya sembari menyodorkan sebuah kotak juga.
Setelah kotak itu diterima, Darto dan Jaka membuka kotak di hadapan mereka secara bersamaan, Darto seketika terbelalak ketika melihat isinya, dia mendapat pakaian yang memendarkan cahaya putih, dan wanginya begitu menusuk hidungnya. Saat itu, Darto mendapatkan pakaian yang selalu Kanjeng Darma kenakan.
Sedangkan Jaka mendapatkan pakaian peninggalan Darsa, Darto sengaja memberikannya, setelah Abah Ramli berkata ada baju Kanjeng Darma yang akan menjadi miliknya.
Jaka benar-benar merasa senang setelah melihat pemberian Darto, dia langsung berlari ke dalam kamar, dan langsung mengenakan pakaian pemberian Darto. Kemudian setelah selesai berganti, dia berlari kembali ke ruang tengah, hanya untuk memamerkan pose siaga, sembari memegang keris di depan semua mata.
__ADS_1
Abah Ramli, Kakung, Harti, Magisna dan juga Darto benar-benar terbahak menyaksikan tingkah Konyol Jaka. Mereka hanyut dalam suasana gembira, hingga dapat melupakan semua hiruk-pikuk yang menghadang di depan mata mereka, meskipun hanya untuk sejenak saja.
Bersambung ....