ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEJANGGALAN


__ADS_3

Berjam-jam sudah berlalu. Merasa lelah Darto dan Jaka meminta untuk beristirahat. Hutan yang gelap membuat mereka tidak bisa membedakan waktu malam dan siang, untung saja Darto membawa arloji pemberian Mbah Turahmin dulu. Jadi dia bisa menunaikan shalat disela perjalanan tanpa terlambat.


Saat ini jarum jam di tangan Darto sudah menunjukkan pukul 22:07. Hari sudah larut, namun suasana hutan sama sekali tidak berubah. Sedari mereka datang suara jangkrik sudah saling bertautan, mengingat kondisi hutan yang cukup gelap. Binatang malam benar-benar menjadi pekerja lembur di hutan ini, karena mereka tidak pernah menjumpai siang yang cerah di dalamnya.


"Saya tidur di sini tidak apa-apa, Kan?" ucap Darto sembari menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon.


"Tidak apa-apa, lanjutkan saja besok kalau tenaga kalian sudah pulih," jawab Maung sembari ikut duduk di depan Darto.


"Ya sudah ... ayo kita tidur, Jak. Biar besok kita bisa lanjut tanpa kelelahan," sambung Darto. Kali ini dia berbicara pada Jaka yang sudah terlebih dahulu menyandarkan punggungnya pada pohon yang sama.


Mendengar ajakan Darto, Jaka hanya mengangguk kemudian mencoba memejamkan matanya. Sedangkan Maung pergi menjauh setelah melihat dua pemuda di depannya sudah mulai terlelap.


Darto benar-benar langsung terlelap kala itu, sedangkan Jaka entah mengapa matanya enggan untuk diajak kerja sama. Dia terus merubah posisi tubuhnya untuk mencari posisi nyaman, namun kesadarannya sama sekali tidak mau pergi meninggalkan tubuhnya malam itu.


"Kang? Sudah tidur?" ucap Jaka sembari menoleh ke arah Darto.


Darto benar-benar sudah terlelap, dia tidak menjawab--mendengar pun tidak.


Melihat Darto yang sudah pulas, Jaka kembali menyandarkan pundaknya, bahkan kali ini dia tertidur telentang di atas tanah namun sama saja tidak bisa terlelap.


"Mas ...." suara seorang perempuan terdengar lirih menyapa telinga Jaka. Suaranya seperti jauh dan dekat dalam waktu yang bersamaan. Mendengar panggilan itu Jaka langsung duduk dari posisi tidurnya, kemudian menyapu pandangan ke segala arah penjuru.


"Siapa?" ucap Jaka sedikit berteriak. Dia masih terus menoleh ke sembarang arah namun tetap yang disaksikan hanyalah hutan gelap yang terpampang.


"Aku, Mas... ," jawab wanita itu kembali, kali ini dia berjalan--meluncur dengan kaki mengambang, mendekat ke arah Jaka.

__ADS_1


Jaka sejenak memicingkan matanya, sejurus kemudian dia melihat Magisna yang sudah berdiri di depannya. Dalam rasa heran dia berdiri kemudian meraih magisna sembari berkata, "Bagaimana kamu bisa sampai di sini?"


"Aku mengikuti kalian, Mas," jawab Magisna dengan wajah polosnya.


"Aduh ... aku bangunkan Kang Darto dulu biar dia bisa memberi solusi," jawab Jaka dengan wajah lebih polos dari Magisna.


Mendengar penuturan Jaka, Magisna terbahak begitu lantang di dalam hatinya, namun suara yang keluar dari bibirnya bukanlah suara tawa, melainkan sebuah kalimat yang berbunyi, "Jangan, Mas. Tidak baik mengganggu tidur Kang Darto."


Mendengar ucapan Magisna, Jaka langsung berfikir sejenak, kemudian mengangguk, tanda setuju dengan usul istrinya. Jaka langsung duduk bersandar kembali, dia mendekap magisna dalam lengannya kemudian menumpahkan banyak pertanyaan.


"Bagaimana cara kamu ke sini? Bukannya tempat ini bukan dunia manusia?" tanya Jaka sembari menatap wajah Magisna yang sedang bersandar pada pundaknya.


"Saya diantar oleh Komang, Mas. Dia menjemput kemudian kembali ke samping sungai untuk mengantarkan saya," jawab Magisna sembari menyajikan senyuman di bibirnya. Dia menatap mata Jaka dengan tatapan sendu, sejurus kemudian dia memejamkan matanya untuk meminta kecupan dari Jaka.


Jaka langsung nyosor tanpa aba-aba, bukan hanya mengecup bibir istrinya, dia bahkan melahap bibir istrinya tanpa pikir panjang. Namun setelah bibirnya menyentuh bibir Magisna, sesuatu benda basah dan kenyal tiba-tiba memenuhi mulut Jaka.


Wanita itu masih terus menyeringai menampakkan gigi keropos miliknya, Jaka yang tersadar sudah memakan cairan yang keluar dari mulut sosok itu, seketika langsung muntah ditempat. Dia tidak menghiraukan sosok menyeramkan di depannya, yang dia pedulikan hanya cairan yang sempat masuk ke dalam mulutnya.


Jaka benar-benar memuntahkan semua isi perutnya, dia langsung lemas dan merangkak mendekat untuk mencoba membangunkan Darto di sampingnya.


Namun ketika lengan Jaka hampir meraih tubuh Darto, sosok perempuan itu sudah terlebih dahulu menarik kaki Jaka. Dia menarik paksa tubuh Jaka menuju kegelapan, dan tidak lama setelah itu terdengar suara dentuman yang begitu hebat.


Darto terperanjat ketika mendengar suara itu, dia mencoba mengerjap mata sebelum akhirnya kebingungan dengan Jaka yang sudah tidak ada di tempat semula.


Ketika Darto berdiri, dari arah kiri dia kembali mendengar teriakan Jaka. "Kurang ajar! Dasar wanita buruk rupa!"

__ADS_1


Darto langsung berdiri dan berlari menuju sumber suara, kemudian dia menyaksikan Jaka yang sedang mengayunkan tombaknya dengan kedua mata yang terpejam.


"Jaka!" teriak Darto mencoba berinteraksi dengan Jaka. Namun Jaka masih sama saja, dia masih terus mengayunkan tombak miliknya, dengan kondisi terlelap.


Darto berfikir sejenak, dia menunggu saat yang tepat. Darto benar-benar ingin menyadarkan Jaka, namun dia bingung dengan cara yang harus dia lakukan.


Jika Darto menyerang dengan energi, dia akan melukai Jaka, dan jika Darto maju untuk menepuk, otomatis dia bisa terkena sabetan senjata Jaka yang terus dia ayunkan ke segala arah tanpa pandang bulu.


Untuk sesaat Darto terus fokus menatap Jaka, dia memperhatikan gerakan acak dari senjata Jaka, dan kemudian melihat satu kesempatan ketika jaka mengayunkan senjatanya ke depan.


Kurang dari satu detik Darto berpindah ke belakang Jaka, ketika senjata Jaka masih mengayun ke arah depan. Setelah sampai, Darto langsung mencoba menepuk pundak Jaka, namun yang terjadi malah justru Jaka mengayunkan senjatanya pada Darto dalam sekejap mata.


Darto yang melihat Jaka hendak menyerang, sepersekian detik sebelum serangan mengenainya, Darto sudah terlebih dahulu menciptakan sebuah pedang dari energinya. Dia menahan serangan Jaka dengan sempurna, dan kemudian menghunus pedangnya pada senjata Jaka.


Dengan energi yang begitu pekat, Darto mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Senjata mereka kembali beradu ,namun kali ini tombak Jaka terbelah menjadi dua, setelah tombaknya bersentuhan dengan pedang Darto.


Melihat Jaka sayang sudah tidak memiliki senjata, Darto bergegas menendang kaki Jaka sekuat tenaga. Jaka terpelanting, dia langsung tersungkur setelah kaki Darto menendang tengkuk lutut miliknya. Melihat Jaka yang jatuh Darto langsung melompat dan menduduki Jaka.


Darto membalik tubuh Jaka agar posisinya tengkurap kemudian melipat kedua tangan Jaka ketika masih dalam posisi tiarap.


Jaka yang sudah terkunci hanya bisa berteriak sembari memejamkan mata, sedangkan Darto hanya bisa terus menahan posisi kuncinya, sembari memukul-mukul pipi Jaka.


Jaka masih terus meronta, sehingga Darto yang cukup jera langsung melayangkan tamparan keras ke wajahnya. Setelah menerima tamparan Darto, Jaka seketika membuka kedua matanya. Dengan wajah heran yang terpampang di wajahnya, dia bertanya dengan polosnya, "Kenapa Kang Darto bisa di sini?"


Bersambung ....

__ADS_1


...maaf ya cuma satu bab, authornya loyo dua hari sibuk sampai malem...


...😪😪😪...


__ADS_2