ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SUARA SIAPA?


__ADS_3

"Min, ada Mobil Min!" teriak Kakung setelah melihat dua cahaya lampu yang terus mendekat dari arah belakang.


"Ayo Mat kita stop!" jawab Mbah Min sembari melompat, terburu-buru keluar dari mobilnya.


Mbah Turahmin dan kakung bergegas berdiri di tengah jalan sembari melambaikan kedua tangan mereka. Dengan harapan bisa mendapatkan sedikit saja bensin untuk mengisi tanki kendaraanya.


Mobil yang semula jauh kini sudah berhenti di depan kedua lelaki tua tersebut. Kembali rasa kecewa harus mereka terima, karena mobil yang melintas menggunakan bahan bakar solar.


"Yasudah Pak, Bapak lanjut saja," ucap Mbah Min kepada supir truk di depannya.


Mendengar ucapan Si Mbah, Supir truk sempat menawarkan tumpangan, namun kedua lelaki tua itu takut jika tidak berpapasan dengan cucunya, karena mereka sudah lama pergi menuju kota.


Setelah itu, kedua lelaki tua kembali masuk dan bersandar di kursi depan mobil mereka, sedangkan ketiga cucunya masih belum keluar juga dari perkampungan yang menyimpan sejuta misteri.


"D D Di Din!" panggil Surip benar-benar terbata, mulutnya gagu sempurna, setelah melihat kepala bayi yang kini terus menggelinding dan berteriak menangis meski terpisah dari badannya.


Bidin sama saja, meski mencoba menjawab panggilan Surip, dia tetap tidak bisa membuka mulutnya. Keringat benar-benar mengucur, dari pelipis hingga menetes di dagu mereka. Wajah mereka pucat, tubuhnya selayak tiang yang tertanam di tanah, mereka tidak bisa pergi maupun bergerak.


Wajah Surip dan Bidin semakin membiru, tatkala Perempuan yang menggendong bayi di depan mereka membungkuk, jongkok dan meraih kepala bayi itu, dia menyatukan kembali kepala dengan badan bayi di gendongannya. Hanya saja wajahnya terbalik, wajah si bayi benar-benar menghadap ke belakang.


"Din..! Sur..!" teriak Darto sembari menepuk pundak Bidin dan Surip bersamaan.


Seperti lepas dari ikatan yang menjerat, perasaan aneh merambat dari kepala hingga kaki kedua teman Darto tersebut, tiba-tiba tubuh mereka bisa digerakkan kembali setelah Darto menepuk pundak mereka.


"Hua!" teriak Surip dan Bidin serentak, mereka lari kocar-kacir meninggalkan Darto sendirian di depan sosok perempuan itu. Saking paniknya, doa yang mereka ucapkan dengan lantang adalah doa sebelum tidur dan doa sebelum memasuki toilet.


Darto sempat tertawa melihat kepanikan mereka, namun kembali memasang wajah sendu dan kembali menatap perempuan melayang di depannya itu.


"Nuwun sewu, kawulo nuwun ngapunten sampun ganggu," (permisi, maaf saya sudah menganggu) ucap Darto pelan, sedikit membungkuk dan mengangguk, sebagai isyarat permisi.


"Mulih o! iki dudu panggonanmu!"


(pulanglah ini bukan tempatmu!) teriak sosok wanita mengambang itu. Teriakannya benar-benar menggema, angin kencang tiba-tiba datang menerbangkan dedaunan kering yang berserak di atas tanah. Keramaian pesta di tengah kampung pun tiba-tiba terhenti, semua penduduk menatap lurus ke arah Darto dengan tatapan mengancam.

__ADS_1


"Njih Nyai, Kawulo pareng rumiyin,"


(iya nyai, saya pamit dulu) ucap Darto pelan kembali menunduk.


Setelah Darto mengucap kata permisi, dia berbalik kemudian sedikit berlari mengejar kedua temannya yang susah pergi sedari tadi. Ketika Darto sudah cukup jauh dari pemukiman, kembali suara gamelan terdengar di telinganya, membuatnya sedikit tersenyum mengingat mahluk halus pun bisa berpesta.


"Surip! Bidin!" teriak Darto sembari terus berjalan menuju arah kedua temannya berlari.


Darto benar-benar khawatir, karena kedua temannya berlari masuk kedalam hutan rimba tanpa membawa apapun sebagai sumber cahaya, yang jelas Darto sangat takut jika terpisah terlalu jauh dari mereka.


"Gus!" teriak Bidin dari kegelapan, mencoba menjawab teriakan Darto.


Tak lama setelah Bidin berteriak, cahaya lampu senter langsung mengarah ke badannya yang tengah meringkuk. Darto sedikit tersenyum sembari terus mendekat ke arahnya.


"Dibilang suruh pergi kok ngeyel kamu Din, sekarang tau rasa sendiri kan? ha ha ha!" ucap Darto dilanjut tertawa.


"Tapi kan niat kami bagus Gus, siapa tau ada yang jual bensin, lagian Gus Darto enggak kasih tau kalo itu hantu!" ketus Bidin sembari mengusap keringat di wajahnya menggunakan ujung baju yang ia kenakan.


"Kalian bakal lari kaya gini kalau aku langsung bilang mereka hantu, aku malas repot-repot nyari kalian!" jawab Darto sedikit menjitak kepala bidin.


"Tadi dia di belakang saya Gus," jawab Bidin singkat kemudian menunduk.


Apa yang ditakuti Darto benar-benar terjadi, mereka benar-benar terpisah di dalam kegelapan malam di tengah hutan lebat.


"Surip..!" teriak Darto dan Bidin sembari melangkah pelan. Mengharap dapat sahutan dari Surip yang belum juga di temukan.


"Guss! Bidin!" suara teriakkan Surip memanggil dari dalam kegelapan.


Mendengar panggilan Surip, Bidin dan Darto bergegas menuju sumber suara yang kiranya agak jauh, karena suaranya lumayan pelan.


Selangkah demi selangkah mereka semakin dekat dengan sumber teriakkan yang terus Surip lakukan. Namun Hal janggal kembali terdengar ketika suara sudah semakin dekat.


"Guss! Bidin! saya di sini!"

__ADS_1


"Guss! Bidin! saya di sini!"


Suara Surip terdengar dari dua arah yang berlawanan, mengucap kata yang sama dengan nada yang juga sama.


"Jangan ke sana Gus! tolong saya!" teriak Surip di sisi kiri.


"Saya di sini Gus! dia bukan saya!" teriak Surip di sisi kanan.


Mendengar dua orang yang memiliki suara yang sama, Darto dan Bidin saling memandang satu sama lain. Tatapan mata mereka bertemu, tapi tidak disertai perasaan, ya!


Bidin meneguk saliva susah payah, wajahnya berangsur memucat, karena sadar salah satu suara Surip pastilah suara hantu. Melihat Bidin dirundung panik, Darto pun berpikir sejenak, sebelum akhirnya kembali berteriak.


"Pukul jerigen kamu Sur!" teriak Darto sangat lantang.


Mendengar ucapan Darto, Bidin bergegas memukul jerigen di tangganya itu, Darto pun langsung memilih arah suara dentuman jerigen berasal.


Setelah Darto dan Bidin memilih sisi kiri, suara dari sisi kanan tiba-tiba berubah, yang semula mirip dengan suara Surip kini menjadi suara tawa perempuan dengan nada tinggi dan begitu melengking "Hi.. hi.. hi.. hi.."


Darto dan bidin tidak menggubris suara tawa wanita tersebut, meskipun sangat jelas wajah Bidin sudah benar-benar membiru, namun mereka terus melangkahkan kaki menuju suara jerigen yang terus Surip pukul.


Tidak berselang lama, mereka berdua sampai di bawah pohon beringin yang begitu besar. Suara Surip sudah sangat keras terdengar, namun Surip belum juga ditemukan, bahkan setelah mereka mengitari pohon tersebut.


"Di atas Gus!" teriak Surip kencang.


Mendengar teriakan Surip, Darto sontak mengarahkan cahaya senter ke arah dahan beringin di atas kepalanya, mereka berdua memutari pohon beringin sembari terus mendongak mencari sahabatnya.


Benar saja. Surip yang memegang jerigen tersangkut di dahan pohon tersebut di bagian ujungnya, tidur tengkurap menghadap bawah di atas ranting yang tengah dia peluk dengan kencang.


"Tolong saya Gus! dia di sini!" teriak Surip sembari melepas satu tangan dari pelukan mesranya pada ranting, kemudian menunjuk ke arah ranting di sebelahnya.


Mendengar itu, Darto langsung mengarahkan sorot lampunya ke arah yang di tunjuk Surip.


Tampak sosok yang tengah memperhatikan mereka. Perempuan berbaju putih, dengan rambut terurai tengah duduk santai di atas ranting pohon di depan mereka.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2