
"Tidak ada yang berani?! ha ha ha ha! Kalau begitu, mari kita mulai pertunjukkan yang sebenarnya!" teriak tawa Raja setelah melihat tidak ada satupun penantang empat kandidat.
Semua lelaki langsung kembali berdiri setelah mendengar gelak tawanya. Mereka membuat lingkaran kembali, degan maksud untuk membuat pagar manusia. Semuanya mengelilingi Darto, Jaka dan dua pria lawannya.
Untuk pertunjukkan pertama, Darto melawan si pembawa ikat kepala. Sedangkan Jaka dan lawannya berangsur menepi dan bergabung pada pagar manusia, untuk ikut serta dalam melihat pertunjukannya.
Setelah Jaka dan lawannya pergi, Darto dan pemegang ikat kepala langsung menghunuskan pedang mereka. Mereka saling bertatapan, sembari melangkah ke samping untuk mencari kesempatan.
Untuk cukup lama mereka berdua terus berputar, sebelum akhirnya Darto membuat satu gertakan dengan menghentakkan kaki dan berpura-pura ingin maju. Lawannya sempat terkejut dan langsung melakukan gerakan antisipasi.
Lawan Darto mengira Darto akan menyerang, dia spontan mengangkat perisai miliknya tinggi-tinggi, dengan lengan yang menyilang bermaksud menahan serangan.
Darto yang melihat perisai lawannya diangkat, langsung melesat begitu cepat sembari mengayunkan pedang di tangannya dengan posisi rendah.
Tanpa basa basi pedang Darto berhasil menebas paha lawannya, paha lawan Darto benar-benar langsung mendapatkan luka robek yang cukup dalam, sehingga lawannya langsung memasang posisi bertahan sembari meringis menahan sakit dari luka yang menganga.
Semua orang terkejut dengan kesigapan Darto, mereka sangat mengagumi kesabaran dan juga tindakan yang dilakukan Darto. Kini mereka menatap punggung Darto, dengan tatapan kagum yang terpampang pada wajah mereka.
Melihat lawan Darto sudah pincang, Raja kembali mengangkat tangannya. Dia menghentikan pertarungan dengan berkata, "Cukup ... akan sangat disayangkan jika kehilangan satu prajurit kuat."
Mendengar titah Raja, lawan Darto membungkuk ke arah Raja, dia menerima kekalahan dengan lapang dada, meski sebenarnya di dalam hati dia merasa kecewa karena tidak bisa memberi satu serangan sama sekali. Dia merasa jika dia belum melakukan pertandingan yang seimbang, mengingat tadi dia sudah kehabisan banyak tenaga ketika melawan si perebut ikat kepala.
Namun meski begitu, setidaknya dia merasa puas karena sudah dikalahkan oleh orang yang hebat, ditambah saat Darto menebas, perut bawahnya benar-benar terbuka. Jika Darto menghunus pada perutnya, dia pasti sudah tidak bisa lagi menyaksikan pertarungan selanjutnya.
Setelah mengangguk pada Raja, lelaki itu berjalan dengan langkah pincang, mendekat ke arah Darto yang tengah menyarungkan pedangnya.
__ADS_1
Setelah dia sampai, dia melepas ikat yang masih melilit keningnya, yaitu ikat kepala putih yang semula dilempar oleh sang Raja. Dia memberikan ikat itu kepada Darto, sebagai pengakuan kekalahan atas pertandingan yang berlangsung sebelumnya.
Darto yang melihat ketulusan lelaki di depannya, langsung meraih ikat yang sepenuhnya sudah berwarna merah. Ikat yang sepenuhnya di warnai darah, dan juga kehidupan ratusan lawan sebelumnya.
Setelah meraih ikat kepala, Darto memakainya di dahinya. Kemudian memapah lawannya untuk menepi sembari berkata, "Kemampuanmu sangat hebat temanku, kalau boleh tahu, siapa nama kisanak?"
"Kamu benar-benar pintar menghina kawanku, kalau saya hebat tidak mungkin saya kalah dalam satu serangan. Nama saya Brahma, kalau kisanak?" jawab Brahma sedikit terkekeh sembari terus meringis.
"Saya Darto," ucap Darto memperkenalkan dirinya dengan nama aslinya. Darto sengaja mengenalkan namanya sendiri setelah melihat semua teman yang berangkat dari kampungnya sudah tidak terlihat lagi. Hal tersebut menandakan, selain Jaka semuanya sudah menjadi salah satu tumpukan mayat yang belum disentuh di sana.
Setelah saling berkenalan dan berhasil menepi, Brahma diajak masuk oleh dua dayang yang semula mengawal Raja, dia dibawa masuk menuju istana, untuk menemui tabib kepercayaan Raja.
Kini pertunjukkan kedua pun dimulai.
Mereka terlihat sama-sama waspada, dan terpampang imbang. Pertandingan benar-benar berlangsung lama, sehingga semua penonton yang tengah menyaksikan mulai bersorak untuk menuntut gerakan akhir.
Mendengar sorakan semua penonton, api di dalam hati mereka serasa berkobar. Semangat kembali tersulut, hingga dua pemuda yang tengah bertikai itu terus melempar serangan demi serangan di depan banyak mata.
Jaka yang sedikit lengah hampir tertebas lengannya, dia sangat terkejut ketika lawannya melempar perisai untuk pancingan, kemudian mengayunkan pedangnya ketika matanya tengah tertuju pada perisai yang mengarah padanya.
Tanpa sadar Jaka mengenakan teknik lempit, dia berpindah ke belakang tubuh lawannya, kemudian mengayun tombak di tangannya secara vertikal.
Semua orang benar-benar kebingungan dengan kecepatan Jaka, terutama lawannya. Meski lawannya bisa menepis serangan jaka menggunakan pedangnya, dia langsung mengangkat tangan tanda menyerah, karena senjata miliknya udah jatuh ketika menepis serangan kejutan Jaka.
Darto saat itu benar-benar tertegun, dia tidak menyangka akan melihat teknik yang dirinya juga kuasai, di tempat dan waktu yang sama sekali dirinya tidak ketahui.
__ADS_1
Melihat lawannya yang sudah tidak melakukan perlawanan, Jaka langsung menurunkan tombak di tangannya, kemudian menjulurkan tangan miliknya sembari berkata, "Kamu lawan yang merepotkan."
Mendengar perkataan Jaka, lawan Jaka langsung meraih uluran tangan Jaka sembari tersenyum. Dia menarik dan bangun dari posisi tersungkur sembari berkata, "Sebuah kehormatan untuk bisa bertarung dengan kisanak."
Setelah lawannya sudah berdiri Jaka bertanya dengan senyum di wajahnya, dia merasa senang dengan pujian lawannya hingga tanpa sadar dia memperkenalkan diri tanpa diminta.
"Nama saya Jaka, kalau kamu siapa?" ucap Jaka sembari berjalan menepi. Sama halnya dengan Darto dia memperkenalkan nama asli miliknya, bukan nama si pemilik raga.
"Panggil saja Ayandra. Itu nama yang diberikan sesepuh desa ketika berangkat ke sini," jawab Ayandra kemudian melangkah menepi dengan langkah yang sejajar dengan Jaka.
Setelah Jaka dan Ayandra menepi, semua pria yang masih berdiri di lapangan berangsur bubar dari posisi melingkar. Mereka menghambur ke arah depan istana untuk meraih makanan yang sudah disediakan oleh Raja.
Mereka benar-benar makan begitu lahap, meski badan mereka lusuh terkena debu dan darah yang sudah mengering. Di dunia yang tengah Darto dan Jaka singgahi saat ini, benar-benar dunia yang sepenuhnya berbeda. Mati adalah hal wajar, sedangkan membunuh malah bisa disebut pencapaian.
Setelah cukup lama beristirahat, semua orang kembali menuju lapangan dan kembali membuat pagar manusia. Mereka bersiap untuk pertarungan akhir, yang akan dilakukan sebentar lagi.
Melihat barisan manusia sudah terbentuk, Jaka dan Darto kembali melangkah menuju tengah kerumunan. Mereka memasang posisi siap untuk melakukan pertarungan, dengan menghunus senjata yang mereka bawa di tangan masing-masing.
Untuk sejenak pandangan mereka bertemu, mereka berdua bisa langsung tahu, jika Darto dan Jaka sama sekali tidak menginginkan kemenangan. Tidak ada ambisi di sorot mata lawannya, yang seketika membuat Jaka maupun Darto kebingungan.
Namun meski begitu, pertarungan adalah pertarungan. Mereka berdua beranggapan jika ingin mendapat petunjuk untuk keluar dari tempat ini, maka mereka harus menjadi sang Raja terlebih dahulu.
Tanpa sadar, dua sahabat yang sangat dekat selayaknya Kakak dan Adik, kini tengah saling berhadapan, dengan senjata yang terhunus di tangan mereka.
Bersambung ....
__ADS_1