
Suatu pagi di tempat yang sangat jauh dari pesantren. Hujan turun dengan beringas mengguyur sebuah kampung kecil yang hanya berisi sepuluh rumah saja. Di kampung tersebut tinggal sebuah keluarga besar yang menempati ke sepuluh rumah tersebut. Semuanya murni memiliki ikatan Darah, hanya salah satu dari ayah maupun ibunya saja yang memiliki darah dari luar kampung tersebut.
Setiap ada remaja yang siap untuk dinikahkan. Pemimpin maupun sesepuh kampung selalu membawa mereka keluar kampung untuk pertama kalinya. Mereka mencari pasangan dari luar untuk meneruskan garis keturunannya saja, siapapun bisa menikahi anak kampung tersebut tanpa terkecuali. Sesepuh atau pemimpin desa hanya meminta sebuah syarat kecil, yaitu agar calon suami maupun istri mereka untuk tinggal dan menetap di kampung kecil tersebut, setelah sah menjadi suami maupun istrinya.
Hujan yang turun begitu lebat, atap jerami rumah mereka sama sekali tidak bisa menampung derasnya hujan yang menyapa. Air sudah menggenang sebatas lutut di atas tanah, untungnya semua rumah di kampung tersebut adalah rumah panggung. Rumah mereka hanya terancam basah dari tetesan di atap, namun terhindar dari banjir yang menyerang.
"Mbok, kenapa kita terus tinggal di sini?" Tanya seorang remaja berusia 15 tahun, sebentar lagi dia akan di bawa menuju kampung terdekat untuk mencari pasangan. Dia sangat terkejut ketika mendengar ada kampung lain selain kampung miliknya. Semua orang tua di kampung tersebut memilih bungkam kepada semua anak kecil, agar rasa penasaran dari anak kecil tidak membuat mereka pergi ke kampung-kampung yang letaknya tidak begitu jauh dari kampung mereka.
"Kita punya tugas, Le. Kamu sabar, ya, nanti kalau orang yang eyang kamu tunggu sudah datang, kita pasti akan pindah ke tempat yang lebih ramai dari kampung kita," ucap Si Mbok kepada pemuda di depannya, sembari meletakkan satu wakul ceting berisi ubi jalar di atas meja kayu di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa yang kita tunggu, Mbok?" Tanya pemuda itu kembali sembari meraih ubi yang disuguhkan oleh Si Mbok.
"Si Mbok juga tidak tahu, Le. Si Mbok cuma dengar dulu dari Si Mbah, dan Si Mbah juga bilang kalau dia dengar dari Si Mbahnya lagi. Keluarga kita harus menunggu satu orang, dia akan datang dengan pakaian seperti yang digunakan orang di dalam lukisan ini," sambung Si Mbok sembari menunjuk sebuah lukisan besar.
"Memang dia mau apa?" Tanya pemuda itu kembali dengan wajah bingung dan kening bertautan.
"Cuma sesepuh desa yang tau, Le. Pesan itu selalu di turunkan untuk penerus yang akan memimpin desa ini. Nanti kalau Jaka jadi pemimpin desa ini, Kasih tahu ke Si Mbok, ya. Si Mbok juga pengen tau sebenarnya tugas apa yang keluarga kita miliki," sambung Si Mbok, dia mengelus kepala putranya dengan lembut. Sembari menatap sendu, mengingat anaknya ingin pergi dari kampung terpencil miliknya.
Si Mbok langsung tersenyum begitu lebar sembari mendekap Jaka dengan begtu erat. Si Mbok tahu persis apa yang Jaka rasakan, dia adalah perempuan yang berasal dari desa lain. Ayah Jaka dulu meminang dirinya, hingga mau tidak mau dirinya harus menuruti apapun keinginan suaminya. Sudah tuju tahun dia membesarkan Jaka seorang diri, Ayah Jaka sudah meninggal karena demam. Mengingat kampung ini tidak memiliki tabib, bahkan meski sekedar masuk angin, itu sudah merupakan satu penyakit yang mengerikan bagi semua penduduk di sini. Tapi meski begitu penduduk di sini jarang sekali sakit, mereka bahkan memiliki fisik yang begitu kuat. Mereka semua merupakan petani, kegiatan sehari-hari hanyalah bercocok tanam untuk memenuhi segala kebutuhan pangan. Mereka memakan hasil panen sendiri, dan sebagi jaga-jaga panen buruk, mereka semua memelihara ikan, mengingat tempat mereka memiliki sumber air yang begitu melimpah.
__ADS_1
Setelah hujan mereda, semua orang di kampung tersebut bergegas membenahi atap rumah mereka yang rusak. Mereka bergotong royong untuk merapikan dan menambah tumpukan jerami agar bisa menutup setiap lubang di semua rumah. Dan tak lama setelah itu, Sesepuh desa yang bernama Ramli datang menghampiri Jaka. Dia meminta agar Jaka segera bersiap, dia berkata bahwa pagi ini dirinya akan meninggalkan kampung untuk mencari pasangan.
Si Mbok benar-benar sedikit berat untuk melepas putranya. Mau bagaimanapun mencari istri tidak mungkin secepat mencari suami. Kadang seorang lelaki meninggalkan kampung hingga bertahun lamanya, sebelum akhirnya mereka membawa gadis yang sudah menjadi istrinya. Berbeda dengan perempuan, kebanyakan dari mereka bahkan tidak butuh waktu satu bulan. Perempuan yang di bawa pergi biasanya langsung mendapat pemuda yang mau untuk menikahinya, mengingat semua wanita di kampung ini rata-rata memiliki paras yang cantik seperti leluhurnya.
Meski begitu, Si Mbok tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya meminta agar Abah Ramli untuk terus membantunya, dia juga berpesan agar mampir ke rumah lama miliknya, sekedar menyampaikan kabar jika dirinya baik-baik saja. Abah ramli setuju dengan permintaan Si Mbok Jaka, dia juga ingin memperkenalkan Jaka dengan Kakek maupun Neneknya jika masih ada.
Setelah cukup lama menunggu Jaka bersiap, akhirnya pemuda itu keluar dengan sekantong baju yang ia bungkus mengenakan jarik di bahunya. Dia sudah siap pergi meninggalkan kampung berbekal pakaian saja. Melihat itu, Si Mbok langsung mendekap Jaka dengan peluh yang tertumpah dari kantung matanya. Dia mendoakan keselamatan putranya, dan memberikan sebuah benda yang sudah dirinya simpan sangat lama. Si Mbok menyodorkan sebuah kalung yang dulu diberikan oleh ayahnya, kepada Jaka. Dia tersenyum memandangi kemilau emas di tangannya sembari berkata "Kalau Si Mbah kamu masih hidup, tunjukkan kalung ini, dan sampaikan salam Si Mbok. Bilang sama dia kalau Si Mbok baik-baik saja, dan bilang juga kalau Si Mbok kangen sekali."
Mendengar itu, Jaka langsung mengenakan kalung yang Si Mbok berikan. Kemudian mencium punggung tangan Si Mbok, sembari berkata "Si Mbok jangan khawatir, pasti Jaka sampaikan semuanya. Sukur-sukur kalau Jaka bisa lihat orang yang pakai baju seperti di lukisan itu, nanti Si Mbok bisa bilang kangen sama Si Mbah di sana secara langsung."
__ADS_1
Tangis Si Mbok pecah, dia mendekap anaknya begitu erat untuk cukup lama, sebelum akhirnya Jaka bergegas pergi meninggalkan rumahnya bersama Abah Ramli. Hari ini, adalah hari dimana Jaka akan pergi dari sebuah sangkar yang sudah mengurungnya sedari lahir. Tanpa dirinya sadari, jika takdir yang dirinya dan semua keluarganya pikul selama ini sudah hampir usai. Pakaian yang dikenakan oleh orang tua di dalam lukisan, tidak lain adalah pakaian yang Darto terima saat menjalani sebuah ujian. Garis keturunan penduduk kampung tersebut sudah menjalani sebuah takdir ratusan tahun terkurung, hanya untuk menunggu kedatangan penerus dari kanjeng Darma.
Bersambung,-