
Masih di hari yang sama dengan hari kedatangan Darto dan temannya, sore ini Darto berpamitan untuk undur diri dari obrolan panjang mereka semua. Dia hendak menemui sahabatnya yang sempat mengirim surat satu setengah bulan lalu, dan kini Daro sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Anto.
"Assalamualaikum!" teriak Darto sembari mengetuk pintu pelan.
"Waalaikumsalam!" jawab suara laki-laki yang sedikit Darto kenal dari dalam rumah.
Darto mengernyitkan dahinya ketika mendengar jawaban dari salamnya. Bingung dengan suara yang terdengar, sehingga terus menerka suara itu berasal dari sahabatnya atau ayahnya. Karena sangat mirip dengan suara sahabatnya namun nadanya lebih besar dari yang pernah dia ingat dulu.
"Darto!" teriak Anto yang baru berhasil membuka setengah pintu rumahnya.
Tanpa basa-basi, Anto langsung memeluk Darto yang tersenyum sendu di depan pintu itu. mereka berdua sama-sama menahan air mata yang mulai menggenang di kantung mata mereka.
"Masuk Dar, gila kamu ganteng sekali sekarang Dar, kulitmu jadi kuning, enggak hitam lagi kaya dulu!" ucap Anto geleng-geleng, setelah melihat perubahan gestur Darto yang kini kian meninggi dan juga kulitnya yang memutih, tepatnya kuning langsat.
"Ah kamu juga sama Tok, udah gagah sekarang, kumis kamu juga udah kaya ijuk gitu ha ha ha!" ejek Darto setelah cukup lama memperhatikan kumis Anto yang sengaja dia panjangkan, bahkan ujungnya sengaja Anto pelintir ke atas.
"Tapi ganteng, kan?" jawab Anto sembari terus mengangkat alis matanya.
"Iya Tok kamu ganteng, tapi aku masih doyan cewek, dan aku enggak kau bilang kamu ganteng. Nanti dikiranya aku suka lagi sama kamu, kasian calon istrimu kalau sampai cemburu sama aku Tok ha ha ha!" kembali Darto menjawab dengan ejekan.
Setelah berbincang cukup lama, mereka memutuskan untuk menemui calon istri Anto yang ternyata rumahnya tidaklah jauh. Namun sebelum itu Darto kembali ke rumahnya mengajak ketiga temanya untuk ikut serta menemui wanita tersebut. Karena menurut penuturan Anto rumahnya dekat dengan rumah Pak Sapto, Darto berniat mengajak temannya makan bersama di warung bakso yang belum lama didirikan di depan rumah Pak Sapto.
Kini mereka tengah saling berkenalan satu sama lain. Anto sedikit terkejut melihat Harti, dan dia masih tidak percaya bahwa calon istri temannya sangatlah cantik.
"Kamu beneran mau sama Darto Mbak?" tanya Anto kepada Harti dengan wajah heran.
"Baru ketemu udah ngajak berantem aja kamu Tok!" timpal Darto, nadanya ketus namun seketika memecah tawa diantara mereka semua.
Sembari terus bercanda sepanjang jalan, kini mereka sampai di warung sederhana milik Pak Sapto, terlihat pak Sapto yang tengah membersihkan mangkok sisa yang baru digunakan pengunjung sebelumnya.
"Assalamualaikum Pak! gimana kabarnya? gerobaknya tidak nyangkut di kuburan lagi kan? hahaha!" ucap Darto kemudian terbahak sendiri.
Melihat Darto, Pak Sapto mengernyitkan dahinya berulang kali, dia mencoba mengingat siapa gerangan yang tengah berdiri didepan warungnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, kamu Darto?" Ucap Pak Sapto kebingungan.
"Iya Pak?! bagaimana pak? laris?" tanya Darto basa basi, kemudian bergegas duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, di ikuti keempat temannya.
"Beneran Darto? kok beda, ya. Setahuku Darto itu pendek, hitam, kulitnya bersisik kaya ular," jawab Pak Sapto mencoba mengerjai Darto.
"Ada-ada saja pak Sapto ini, itu kan dulu Pak. sekarang sudah pantas kan jadi bintang ketoprak he he he," jawab Darto kepedean.
"Alhamdulillah saya sehat Dar, Alhamdulilah juga dagangannya laris. Iya Dar kamu ganteng sekarang. Ngomong-ngomong ini siapa Dar?'' Pak Sapto menunjuk ketiga teman Darto satu persatu.
"Mereka teman Darto pak, dan yang Cewek calonku Pak he he," Jawab Darto bahagia. Disambut pipi merah merona dari Harti di sampingnya.
"Duh, Dek. Cantik-cantik tapi penglihatannya kurang," gerutu Pak Sapto melihat kecantikan calon istri Darto.
"Yasudah lah, aku enggak jadi makan sini aja, masak calon istriku dibilang penglihatannya jelek si pak!" Darto pura-pura marah.
"Kalau penglihatannya bagus, dia nggak mungkin mau sama kamu Dar! ha ha ha ha!" Pak Sapto tertawa lantang, di ikuti tawa dari semua teman Darto di warung itu.
Sebelum pesanan jadi, Anto meminta izin untuk pergi sebentar, dia hendak memanggil calon istrinya. Rumahnya tepat di samping rumah Pak Sapto.
"Perkenalkan Dar, Namanya Sri Susanti. Dan Sri, kenalin ini Darto, teman yang sering saya ceritakan ke kamu," ucap Anto mengenalkan Sri dan Darto, dan sebagai tanggapan baik, mereka langsung saling melempar senyum satu sama lain sembari sedikit mengangguk.
Setelah semua berkenalan, mereka memakan bakso dengan sigap seperti biasa. Bahkan Darto yang sudah mencampurkan bakso dengan nasi, masih tetap meminta tambahan porsi.
Setelah Bakso di babat habis, rokok pun sudah tinggal abu, mereka kembali ke rumah masing-masing karena hari sudah mulai gelap.
Tampak Harti dan Sri sudah mulai akrab, mereka berdua terus bercerita banyak hal. Sama juga untuk Anto, Bidin dan Surip juga merasa nyaman dengan tingkah Anto dan seketika membuat mereka menjadi akrab kala itu.
...***...
Hari sudah gelap. Shalat isya sudah selesai ditunaikan di langgar, satu persatu teman Darto pamit untuk pulang terlebih dahulu. Dan meninggalkan Darto serta Anto berdua saja di depan Langgar tersebut.
"Tok, aku mau bilang sama kamu. Tapi aku harap kamu enggak marah sama aku," Wajah Darto tertunduk, nadanya sendu.
__ADS_1
"Kaya baru kenal aku saja kamu Dar!" jawab Anto bersungut-sungut.
"Sebenarnya calon istrimu ada yang ngikutin terus Tok," ucap Darto kembali.
"Maksud kamu Dar?" Anto sedikit heran, dahinya dia kernyitkan sesekali.
"Ada mahluk halus yang terus berdiri di belakang tubuh Sri. kalau tidak percaya kamu bisa tanya sama Harti, dia pasti juga lihat Tok," ucap Darto mencoba menjelaskan
"Kamu bilang istriku kaya Ibunya Dining?!" Anto menaikkan nada bicaranya.
"Bukan gitu Tok, kamu sabar dulu. jangan langsung emosi gitu," ucap Darto kemudian mengajak Anto, dan bergegas pergi menuju warung Pak Sapto.
"Kopi dua ya Pak!" ucap Darto kepada Pak sapto.
"Sama bakso enggak?" jawab Pak Sato.
"Enggak pak, gorengannya saja kalau masih," jawab Darto kembali sekenanya.
"Oke Dar," jawab Pak sapto kemudian pergi ke ruang sebelah untuk menyiapkan pesanan Darto.
"Maksud kamu tadi apa Dar?" ucap Anto, emosinya mulai pudar, kini tampak sedikit gugup dan takut.
"Kamu harus percaya sama teman kamu ini Tok, Aku bisa bantu kamu. Sepertinya ada yang tidak suka sama pernikahan kalian,"
Ucapan Darto bagai sambaran petir di telinga Anto, dia seketika menyandarkan tubuhnya pada tembok kayu di belakangnya, kemudian tenggelam dalam lamunannya.
"Sudah, Tok. Untuk sekarang, aku bakal dijamin mahluk itu dulu. Kamu tenang saja, ada Aku, Kakung, di tambah Simbah yang bisa kamu andalkan. Banyak orang yang bisa bantu kamu sekarang," ucap Darto kini membuat wajah Anto berangsur merenggang dari yang semula menegang.
"Besok kamu ajak Sri ke rumahku bisa kan, Tok?" tanya darto kembali.
"Bisa Dar, bagaimanapun dia harus bisa!" ucap Anto dengan wajah yang kembali menegang.
"Sudah simpan emosimu, kita selesaikan besok," ucap Darto kembali.
__ADS_1
Mereka akhirnya memilih tidak membahasnya lagi, karena Pak Sapto sudah ikut duduk di bangku yang sama dengan yang mereka singgahi. Malam itupun berlalu tanpa penjelasan yang cukup dari Darto kepada Anto.
Bersambung.