ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PAGI DI KAMPUNG IJUK


__ADS_3

Malam itu setelah Darto mendengar semua cerita dari Ki Karta, dia langsung berpamitan untuk segera pergi menuju rumah Asep setelahnya. Dalam hatinya dia ingin segera cepat sampai pada malam yang diharapkan, dia sudah sangat ingin memusnahkan ular yang selalu saja menganggu kehidupannya, dan juga ingin menyudahi semua ulah yang dia sebabkan selama ini.


Ketika Darto beserta dua pemuda itu tengah menuju rumah Asep, mereka bertiga sempat membunuh puluhan ular. Asep dan Ujang benar-benar heran dengan mata yang Darto miliki, mereka terus merasa kagum karena berhasil membunuh banyak ular setelah Darto memberi tahu letak ular tersebut.


"Sebenarnya bagaimana cara kamu melihat ular-ular itu, Dar? Bahkan kamu bisa lihat yang di dalam air," tanya Asep sedikit heran.


"Kalian tidak lihat cahaya di tubuh ular?" Darto balik bertanya kepada Asep dan Ujang.


"Mana ada ular bercahaya, Dar? Saya tidak lihat cahaya itu sama sekali," timpal Ujang sedikit mengernyitkan dahi.


"Oalah! Berarti cuma saya yang bisa lihat tubuh mereka memancarkan cahaya merah kalau masih hidup," jawab Darto sembari melanjutkan langkah kaki, seketika Ujang dan Asep tertegun, mereka saling bertatap dan mengangguk sebagai isyarat mereka mengakui kemampuan yang Darto miliki.


"Kamu teh hebat, Dar. Saya berharap kamu bisa memusnahkan induk ular yang sering Ki Karta sebutkan," ucap Asep sembari mempercepat langkah kaki agar langkahnya sejajar dengan Darto.


"Iya, Dar. Saya lega kamu sudah sampai di sini, semoga besok semuanya lancar ya, Dar," sambung Ujang yang kini juga sudah melangkah di samping Darto.

__ADS_1


Mendengar ucapan mereka berdua, Darto hanya tersenyum paksa. Dia mencoba melegakan perasaan dua teman barunya, dengan mengucap kata, "Insya Allah, saya butuh bantuan doa kalian, supaya saya bisa memusnahkan ular itu."


Asep dan ujang langsung mengangguk, mereka bahkan merangkul Darto yang berjalan di tengah, sembari terus melangkah menuju rumah Asep malam itu. Suasana hati Asep dan Ujang benar-benar senang kala itu, mereka merasa lega karena orang yang mereka tunggu seumuran dengan mereka, dan juga bisa langsung akrab meski baru saja bertemu.


Setelah sampai di rumah Asep, mereka bertiga bergantian berjaga, satu tetap bangun membiarkan dua yang lain tertidur pulas, hingga giliran jaga mereka sudah tiba. Malam itu pun berlalu tanpa apapun yang terjadi. Tiga pemuda di rumah Asep tidur dengan puas hingga pagi sudah kembali menyapa.


Mengingat hari satu suro akan datang besok malam, Darto berinisiatif untuk terlebih dahulu datang ke air terjun yabg di sebut oleh Ki Karta semalam. Dia sendirian mengikuti arus sungai, hingga cukup jauh dia berjalan. Tidak lama setelah Darto meninggalkan kampung ijuk, dia dihadapkan dengan sebuah air terjun yang memiliki ukuran dua kali lipat tingginya, dibanding dengan air terjun maheswari tempat ia melakukan ujian dulu.


Darto langsung berkeliling sembari terus menjentikkan energi dari jari tengahnya menuju seluruh ular yang Darto temui di sana. Ketika Darto mulai masuk ke dalam arus air, dia seketika melompat, setelah melihat jumlah ular yang tengah bergerombol di dalam air tersebut. Darto seketika bergidik melihat ular-ular kecil yang terus menggeliat di dalam air, pemandangan itu sungguh diluar dugaan Darto sebelumnya. Dia berharap setidaknya bisa sedikit mengurangi gangguan yang mungkin akan dihadapi ketika bertarung, namun yang terpampang malah justru dua kali lipat anakan ular dari jumlah ketika dirinya bertarung dengan Gending tempo hari.


Setelah cukup lama memperhatikan ular yang merubah warna air menjadi hitam karena jumlah di dalamnya. Darto langsung duduk bersila di samping air tersebut sembari memejamkan kedua matanya. Perlahan cahaya putih mulai menyebar dari dalam tubuhnya. Darto seperti menjadi sebuah benda bercahaya sebelum akhirnya dia melempar cahaya berukuran besar yang berasal dari tubuhnya ke dalam arus sungai di depan matanya.


Darto sedikit terkejut dengan apa yang sudah dia lakukan barusan. Dia tidak menyangka akan menghasilkan efek segitu dahsyat bahkan hanya dengan sedikit gerakan. Mengingat itu dia langsung tersenyum sembari berjalan kaki kembali menuju kampung ijuk sembari bergumam "terimakasih, Guru."


Darto benar-benar bersyukur mengingat pernah diajari oleh sosok Abirama, yang sudah sabar melatihnya hingga empat bulan lamanya. Di dalam hati Darto dia ingin sekali memamerkan apa yang sudah ia lakukan barusan, namun dia tidak bisa karena Darto tidak tahu di mana sekarang Abirama berada.

__ADS_1


Setelah cukup lama berjalan, Darto akhirnya sampai kembali ke kampung ijuk. Dia langsung pergi ke rumah Ki Karta, untuk menemui Si Mbah yang menginap di sana. Ketika Darto sampai di rumah Ki Karta, di sana sudah tersaji berbagai macam sarapan yang disiapkan oleh Gayatri sedari pagi.


Setelah Mbah Turahmin mengucap sesuatu, Darto langsung menunduk malu melihat dua lelaki tua dan satu gadis muda sampai menunda sarapan mereka hanya karena menunggu Darto datang. Namun rasa malunya langsung hilang ketika dia menjelaskan apa yang baru saja ia lakukan, dan mendapat respon baik dari semua pendengarnya.


Ki Karta langsung berterimakasih pada Darto, karena Darto sudah mengurangi begitu banyak jumlah ular. Perasaannya berlangsung lega, mengingat ular itu bisa sampai dan membunuh penduduk ijuk sewaktu-waktu jika tidak di musnahkan Darto pagi ini. Dia tampak begitu senang dengan kabar yang baru saja dia dengar, hingga tanpa sadar dia mengucapkan kata "Kalau saja yang jadi suami anakku sehebat kamu."


Mbah Turahmin dan Darto tertegun mendengar gumaman yang Ki Karta ucapkan, mereka melongo, dilanjut terbahak melihat Ki Karta yang menutup mulut dengan kedua telapak tangan karena sadar dirinya keceplosan.


"Kamu sudah nikah Nak?" Tanya Ki Karta membuang rasa malu, sembari menyodorkan nasi yang dia ambil memang untuk Darto.


"Belum, Ki," ucap Darto singkat dilanjut meraih lauk di depannya. Tampak Gayatri dan Ki Karta langsung bertukar tatapan. Mereka tersenyum sembari saling memandang sebelum Darto kembali berkata "Tapi sepulang dari sini saya akan menikah."


"Aduh! Kamu telat satu langkah, Neng," ucap Ki Karta meledek Gayatri yang sedang duduk di sampingnya.


Mendengar itu, Darto dan Mbah Turahmin hanya bisa tertawa. Sedangkan Gayatri hanya menunduk malu dengan pipi merona, karena dia merasa cukup malu jika membahas tentang hubungan yang selalu saja Bapaknya harapkan.

__ADS_1


Setelah sarapan selesai, Darto kembali menemui Asep dan Ujang. Dia membantu dua pemuda itu untuk membasmi ular, hingga tidak terasa malam sudah kembali menyapa. Pertarungan dirinya dengan Gending dan pasangannya. Akan terjadi di malam selanjutnya.


Bersambung,-


__ADS_2