ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SANGAT SENGIT


__ADS_3

"Aku serang sebelah sana, Dar," ucap Maung sebelum berbelok ke kiri.


"Kalau begitu aku urus bagian kanan," sahut Komang dilanjut berlari condong ke kanan.


Setelah mengucap kata tersebut, Maung dan Komang langsung melebar ke samping, mereka mengurus rumah yang berada di samping, dan membiarkan Darto serta Jaka maju lurus menuju kerumunan rumah yang ada di depannya.


Darto dan Jaka terus melesat begitu cepat sembari melapisi tangan mereka dengan energi. Mereka berdua berlari menuju ke tempat dua rumah yang paling dekat dengan mereka, sebelum akhirnya meninju rumah di depan mereka sekuat tenaga.


Dentuman kembali terdengar setelah Darto, Jaka, Maung dan Komang menyerang empat rumah yang ada di depan mereka, suara ledakan demi ledakan langsung tercipta karena mereka terus berpindah setelah menghancurkan satu rumah.


Rumah demi rumah yang terbuat dari tumpukan tulang satu persatu hancur menjadi serpihan kecil, setelah empat lelaki itu mengamuk tanpa memperdulikan sekelilingnya lagi.


Setelah cukup lama mereka melakukan hal tersebut, hampir seperempat perkampungan yang ada di depan mereka hampir rata dengan tanah.


"Awas!" teriak Maung sembari melompat. Dia melompat dengan begitu cepat, untuk menghalau serangan yang hampir mengenai sisi kiri Darto.


"Akhirnya mereka keluar juga?!" sahut Darto sembari menoleh ke arah serangan tadi. Dia melihat satu mahluk yang sudah keluar dari bangunan tulang miliknya dan tengah melototi Darto dari sisi depan rumahnya.


Mahluk yang sedari awal tidak pernah menampakkan dirinya, kini mulai menunjukkan wujud dari kebenaran tentang mereka.


Musuh yang Darto, Jaka, Maung dan Komang hadapi kali ini memiliki tubuh seperti asap. Mereka bagai uap berwarna hitam, yang memiliki bentuk mirip seperti manusia.


Setelah salah satu mahluk keluar dari rumahnya, secara serentak mahluk-mahluk yang berada di dalam rumah yang tersisa ikut keluar dari tempat persinggahannya. Mereka diam di dalam dan keluar secara bersamaan, bagai mendapat komando dari satu mahluk yang memimpin mereka.


"Mereka keluar bersamaan ... hati-hati!" Ucap Komang sembari mendekat ke arah Darto dan Jaka.


"Maung, Komang kalian bisa sedikit menjauh?" tanya Darto singkat sembari menatap Jaka.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Maung dan Komang langsung mengangguk dan berlari sekencang yang mereka bisa. Sedangkan Jaka langsung melapisi tangannya menggunakan energi dan meninju Darto sekuat tenaganya.


Saat itu Darto yang sudah siap menerima serangan Jaka langsung ikut meninju kepalan tangan Jaka. Tinju mereka kembali beradu dan dentuman dahsyat kembali tercipta kala itu


"Lagi, Jak!" pinta Darto sesaat setelah tinju mereka beradu.


Jaka langsung mengangguk dan meninju Darto dengan tangan satunya. Tinju mereka kembali beradu dengan lengan yang tersisa, hingga dentuman kedua kembali terdengar dan pecah di tempat yang sama.


Puluhan sosok arwah hitam yang tengah berbondong mendekat langsung lenyap setelah menerima dampak dari ledakan. Darto dan Jaka benar-benar berhasil mengurangi jumlah musuhnya, meski sisa musuh yang tengah mendekat masih tidak terhitung jumlahnya.


Melihat Darto dan Jaka yang terus beradu tinju di tengah lautan musuh, Maung dan Komang tidak membuang waktu mereka sama sekali. Mereka juga terus mengayun cakar serta menggigit musuh mereka satu persatu. Untuk mengurangi jumlah penyerang yang tengah mendekat ke arah dua sahabatnya.


"Komang ... jangan buang tenaga kamu seperti itu! Bisa-bisa kamu pingsan sebelum setengah musuh habis!" teriak Maung setelah dia melihat Komang mengamuk. Dia merasa khawatir karena Komang terus berlari sekuat tenaga sembari menggigit setiap musuh yang ada di depannya.


"Tidak ada pilihan lain, Maung ... aku lebih baik mati setelah mengurangi sebanyak mungkin musuh yang akan dua sahabatku itu lawan," jawab Komang dengan tatapan lurus. Dia kembali berlari sekuat tenaga setelah mengucap kata tersebut, dan dalam hitungan detik saja puluhan lawannya sudah terbelah, setelah menerima serangan dari rahangnya.


Kata yang Komang ucap benar-benar bagai pemantik bagi Maung. Hatinya langsung berkobar-kobar, hingga membuatnya juga ikut melakukan hal yang sama dengan apa yang Komang lakukan. Dia menggila dengan kekuatan penuh, menerobos masuk ke dalam lautan musuh yang sudah memenuhi segala sisi arah pandang mereka.


Darto dan Jaka yang juga masih menggila di tengah kerumunan musuh, mereka sempat melihat ke arah Maung dan Komang yang tengah menggila. Senyuman simpul langsung terpampang di wajah mereka berdua, setelah melihat Maung dan Komang begitu bersemangat dalam memberikan bantuan kepada mereka.


Saat melihat kesungguhan dua temannya, Darto dan Jaka juga ikut tersulut semangatnya. Mereka melompat begitu tinggi, kemudian melemparkan bola demi bola energi yang mereka jatuhkan ke tengah kerumunan di bawah mereka.


Dalam waktu yang begitu singkat, Bola energi berwarna putih dan merah meledak-ledak bagai hujan meteor yang memporak-porandakan lautan musuh di bawahnya.


Pertarungan sengit itu terjadi begitu lama, Darto, Jaka dan dua temannya terus membuang energi dan tenaga mereka tanpa pikir panjang, dan tanpa rencana yang matang.


Jam demi jam berlalu begitu saja, namun musuh yang datang dari segala sisi benar-benar belum terlihat berkurang sama sekali. Mereka berempat bagai masuk ke dalam sangkar semut, yang maha luas dan juga sangat tidak terbayang jumlah koloninya.

__ADS_1


Detik ini, tenaga Maung dan Komang sudah mulai habis. Mereka tampak sangat kelelahan, namun mereka terus mengayun cakar, serta terus menggigit musuhnya dengan rahang mereka.


Begitu juga Darto dan Jaka. Nafas mereka sudah tampak terengah-engah, dengan bibir terus menganga di tengah lautan musuhnya.


Tapi meski begitu, mereka terus memaksa untuk menggerakkan badan mereka, agar tetap bisa memberikan serangan pada musuh yang tidak ada habisnya tersebut.


Mereka berempat benar-benar berada di ambang kelelahan, namun terus berjuang untuk menciptakan satu peluang yang mungkin akan membalik keadaan.


Namun setelah satu jam kembali berlalu, musuh yang terpampang sepanjang mata memandang sama sekali tidak berkurang. Empat pria tersebut benar-benar sudah memasuki kondisi kelelahan, mereka bahkan kesulitan meski hanya sekedar untuk menggerakkan lengan mereka.


Mereka berada diambang batas, dan benar-benar siap pingsang kapan saja. Kaki dan lengan mereka benar-benar gemetar, dengan mata yang sudah sepenuhnya melihat kunang-kunang.


"Mungkin hanya sampai sini batas kita," ucap Darto ngelantur. Matanya sudah gelap dan sudah tidak bisa melihat lagi musuh yang tengah mengitari mereka.


"Aku juga sudah tidak bisa melihat apa-apa, Kang," sahut Jaka sembari mengayun lengan layu miliknya secara sembarangan.


"Jangan menyerah, Dar!" sergah Maung yang juga sudah sangat lemas.


"Kita masih bisa menyingkirkan mereka!" timpal Maung yang tidak kalah lemahnya dengan Maung.


Mereka berempat saat ini tengah saling menyandarkan punggung. Hanya untuk berdiri saja sebenarnya sudah butuh usaha keras, namun mereka saling menopang punggung badan mereka, agar mereka tetap bisa berdiri.


Apakah ini akan menjadi ujung dari perjalanan panjang yang Darto lakukan?


Mari kita saksikan kelanjutannya di kesempatan yang akan datang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2