ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
UNJUK KEBOLEHAN


__ADS_3

Setelah sampai pada mulut goa terakhir, Darto dan juga lima temannya hanya berdiri dan saling menatap satu sama lain, mereka saling menunggu aba-aba, ataupun gerakan pembuka dari salah satunya.


Karena tidak ada yang bergerak sama sekali, Darto menghela nafas panjang kemudian berkata, "Ayo... Aku benar-benar penasaran dengan apa yang baru saja kita pelajari,"


Lima teman Darto langsung mengangguk secara serentak, mereka tidak menjawab dengan suara, melainkan langsung melangkahkan kaki mereka.


Berbeda dengan sebelumnya, enam pria itu tidak berlari lagi. Mereka hanya berjalan pelan, sembari terus mengamati setiap dinding goa.


Hanya dalam beberapa puluh langkah saja mereka sampai di suatu ruangan yang begitu besar, bahkan lebih besar dari tempat terakhir yang mereka kunjungi.


Di dalam ruangan tersebut masih sama, terdapat puluhan gundukan kecil yang memenuhi seluruh permukaan tanah. Yang berbeda hanya ada dua gundukan besar, dengan enam gundukan berukuran sedang yang mengelilinginya.


Ditambah ruangan tersebut memiliki banyak sekali rongga, yang tampak memenuhi seluruh tembok secara merata.


Melihat hal tersebut, enam lelaki yang baru masuk sama sekali tidak menampakkan raut wajah gelisah sama sekali. Mereka justru malah terlihat penasaran, dengan sebanyak apa kemajuan yang sudah terjadi pada diri mereka sendiri.


"Kalian siap? Terakhir kali aku menyuruh kalian keluar, tapi sepertinya sekarang kalian sudah mampu menahan dampak dari serangan gabungan milikku dan Jaka," Darto bertanya pada Maung, Komang, Sastro dan Jaka.


"Serang saja, Dar ... Aku penasaran bagaimana cara kalian memusnahkan gundukan kecil di ruang sebelah," jawab Maung.


"Benar ... Aku juga menyesal tidak menyaksikan kejadian kemarin," sahut Sastro.


"Baiklah, lindungi tubuh kalian," Darto tersenyum, "Jak ... Kita ulangi lagi serangan yang kemarin," sambung Darto sembari menoleh ke arah Jaka.


Setelah mendengar permintaan Darto, Jaka langsung menciptakan bola api di tangannya. Dia tidak lagi membutuhkan waktu lama, hanya dalam tiga detik bola api yang tengah mengambang di atas tangannya sudah memiliki kepadatan seperti sebelumnya.


"Berhasil, Kang! cara yang Eyang ajarkan benar-benar mujarab!" Jaka terheran dengan keampuhan tehnik yang baru saja dirinya pelajari.


"Jadi ... kamu juga sudah menguasai pengumpulan cepat, Jak?" tanya Darto sembari terkekeh pelan, sedangkan empat yang lainnya tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutan di wajah mereka.


"Bisa, Kang!" Jaka tersenyum kemudian kembali berkata, "Sekarang giliran Kang Darto."


Baru saja kata itu selesai diucapkan oleh Jaka, energi yang tengah mengambang di atas telapak tangan Jaka tiba-tiba menghilang.


Bola api padat benar-benar berpindah dengan sangat cepat bahkan tanpa dilempar terlebih dahulu.


Sastro, Maung, Komang dan Wajana semakin terkejut ketika melihat energi milik Jaka bisa berpindah, karena yang mereka tahu hanya tubuh saja yang bisa berpindah menggunakan teknik lempit.


"Baiklah ... " ucap Darto singkat sembari menoleh ke arah bola api.

__ADS_1


Tanpa melakukan apapun bola api milik Jaka seketika meledak, sama seperti ketika bola api Jaka menerima serangan dari anak panah chandrabha.


Merasa sudah ada guncangan, Sastro bergegas menciptakan sebuah perisai energi. Sebuah kubah cahaya berwarna hijau tua seketika membungkus enam pria tersebut, hingga tidak ada satupun goresan yang tergurat pada tubuh mereka.


Pelindung Sastro benar-benar kuat, itu bahkan tidak menipis setelah menerima serangan gabungan Darto dan Jaka.


"Kamu juga tambah kuat, Sastro! HA HA HA HA!" Darto terbahak.


"Tapi bagaimana kamu meledakkan bola api milik Jaka, Dar?" jawab Sastro sembari menahan dampak ledakan.


"Sama seperti Jaka. Aku memindahkan energi menggunakan tehnik lempit langsung ke arah sasarannya," jawab Darto sembari tersenyum.


"Kalian mempelajari itu hanya dalam enam hari?" Komang membuka suara.


"Tidak," jawab Darto dan Jaka bersamaan, "Ini bisa kita kuasai hanya dalam satu hari," sambung Jaka kembali.


"Sudah! Ngobrolnya nanti saja, musuh datang!" teriak Maung.


Mendengar hal tersebut, Darto dan yang lainnya langsung menoleh ke arah pusat ruangan.


Sama seperti sebelumnya, puluhan bahkan ratusan gundukan kecil langsung rata dengan dengan tanah, tapi tidak untuk dua gundukan besar dan juga enam gundukan sedang.


Dari dua gundukan berukuran besar keluar seekor Ratu dan satu ekor lagi yang mungkin merupakan sang Raja, karena ukurannya benar-benar sama, namun perutnya tidak besar dan tubuhnya berwarna lebih hitam dari sang Ratu.


Sedangkan enam yang lain masih sama seperti empat lawan sebelumnya, prajurit penjaga sang Ratu, yang memiliki dua tanduk yang tumbuh di samping bibir mereka.


"Sekarang delapan lawan enam, kalian kuat?" Darto menoleh pada lima kawan di sampingnya.


"Cuma selisih dua, Kang, he he he," Jaka terkekeh.


"Berapa selisihnya?" Tanya Darto kembali sembari menjentikkan jari tangannya.


Tepat setelah Darto menjentikkan jari tangan, tiga prajurit yang sudah siap menerjang tiba-tiba meledak, mereka langsung menjadi kepulan asap, bahkan sebelum mereka menyadarinya.


Sekarang yang tersisa hanya sang Ratu, sang Raja dan tiga prajurit yang sedang gemetar ketakutan.


"I ... Itu yang kamu pelajari, Dar?" Wajana bertanya dengan nada terbata.


"Ya! sekarang Aku tidak akan bertarung. Aku ingin lihat kemajuan kalian, agar kedepannya aku bisa mengira-ngira lawan yang pantas untuk kalian lawan," Darto tersenyum kemudian duduk membelakangi lima temannya.

__ADS_1


Pertarungan kini menjadi lima lawan lima, Jaka memimpin serangan dengan cara menciptakan energi berbentuk puluhan duri api, yang mengambang di atas kepalanya.


Hanya dalam satu kedipan mata duri itu lenyap, dan berpindah tepat menembus tubuh tiga prajurit yang sedang gemetaran.


Tiga prajurit langsung terbakar tanpa perlawanan, menyisakan dua lawan yang harus mereka lawan.


Jaka langsung menciptakan duri kembali, dia berniat menjatuhkan Raja dan Ratu, namun Darto berkata "Cukup, Jaka! Itu bagian mereka."


Jaka langsung menarik duri api yang melayang di atas kepalanya, dia tidak jadi menyerang, dan ikut duduk di samping Darto.


Melihat Darto dan Jaka sudah duduk berleha-leha, Sastro dan Wajana langsung melesat menuju sang Ratu, mereka berpindah seperti Darto kemudian melancarkan serangan kejutan pada musuhnya itu.


Sama seperti yang Darto dan Jaka rasakan sebelumnya, sang Ratu sangat lihai menghindar, meski Sastro dan Wajana terus melakukan serangan dengan kecepatan yang gila.


Maung dan Komang benar-benar tidak mau kalah, mereka juga melesat dengan begitu cepat, dan langsung mencabik Raja yang sedang mengamati pertarungan sang Ratu.


Raja benar-benar terkejut, karena kecepatan Maung dan Komang tidak lebih lambat sedikitpun jika dibandingkan dengan tehnik yang Sastro dan Wajana gunakan, mereka terlihat selayaknya berpindah, meski sebenarnya mereka berlari.


Sayangnya serangan Maung dan Komang tidak berhasil, sang Raja juga tidak kalah cepat dengan sang Ratu, mereka benar-benar pintar dalam hal menghindar.


"Komang ... Bantu Sastro," ucap Maung setelah menoleh untuk sejenak.


Maung melihat jika hanya Sastro yang terus menyerang dan menghindari serangan Ratu, sedangkan Wajana hanya menghindar dan tidak memberikan perlawanan sama sekali sembari melakukan hal lain.


Maung sedikit khawatir melihat Sastro, mengingat kekuatan Sastro sebenarnya efektif jika dijadikan sebagai pelindung dan bukan untuk menyerang.


Komang langsung melesat tanpa menjawab, dia meninggalkan Maung yang sedang berhadapan dengan Raja, untuk membantu Sastro yang kini sedang mengejar lawannya.


Ratu sangat tersentak mengetahui Komang sudah berada di sampingnya, karena sebelumnya pandangan Ratu selalu tertuju pada Sastro. Dia benar-benar sangat terkejut ketika melihat cakar tajam sedang mengarah padanya, hingga tanpa sadar dia berpindah ke arah acak dan muncul di dekat Wajana.


Sang ratu sedikit kebingungan setelah berpindah, dia mulai merasa tubuhnya berat, dan dia tidak bisa berpindah sama sekali seperti yang dia inginkan.


"Kalian laknat! Apa yang kalian lakukan padaku!" teriak Ratu ketika tersudut. Dia meronta sembari ketakutan, ketika Wajana mulai berjalan pelan menuju ke arahnya.


"Sekarang saatnya kamu mati," jawab Wajana sembari menjulurkan tangan ke arah kepala Ratu.


Ratu hanya diam, dia benar-benar kebingungan dan ketakutan karena tidak bisa bergerak, ditambah telapak tangan lawannya sudah berhasil menggapai kepala miliknya.


Ketika Wajana sudah memegangi kepala sang Ratu, Wajana hanya tersenyum lebar ke arah lawannya. Dia tampak sangat senang, ketika melihat tubuh sang Ratu mulai meleleh secara pelrahan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2