
Kakung memutuskan untuk singgah ke penjual kelapa muda di samping jalan. Dia tak tega melihat Surip yang terus saja menahan rasa mual di dalam mobil.
"Gus, kau lihat apa saja Gus, selama di pasar?" Tanya Bidin yang masih saja penasaran.
"Banyak banget Din. Hampir separuh pedagang punya jin di toko mereka, ditambah pembelinya juga sama" jawab Darto yang dilanjut menenggak segelas air degan di depannya.
"Pembelinya bagaimana Gus?" Surip membuka suara. Ternyata sedari tadi dia menyimak, meskipun tubuhnya lemas karena terus memuntahkan isi perutnya.
"Ada macam-macam Sur. Ada yang gendong anak kecil botak di punggungnya, ada yang bayar pakai daun, dan ada juga yang bawa teman jin Sur" jawaban Darto.
"Maksudnya bawa teman jin, Gus?" Bidin terheran.
"Ya teman jin, Din. Temannya ngambil lagi duit yang sudah di kasih ke penjual, jadi orang itu sama aja kaya beli barang tapi ndak bayar. Pokoknya kasihan penjualnya Din. Udah enggak dapat uang, masih ngasih kembalian," Darto geleng kepala, merasa iba dengan nasib pedagang kecil yang dia temui di pasar.
"Apa dia enggak ngasih duitnya ke toko yang punya pesugihan juga Mas?" Harti menyampaikan rasa penasarannya.
"Ya ketahuan lah Dek, sesama Jin kan bisa lihat satu sama lain. Yang jadi korban kejahilan jin, ya pasti orang yang jualannya jujur," jawab Darto. Dilanjut meneguk sisa kelapa muda di gelas jumbonya hingga tandas.
"Kasihan ya Le, mereka cuma seneng sesaat di dunia. Semua tercukupi, hidupnya sejahtera. Tapi setelah mati mereka jadi kerikil neraka, dijadikan injakan setan yang mereka sembah," Kakung masuk ke dalam obrolan. Sesekali dia mengelus dadanya, merasa kasihan dengan mereka.
Seketika keempat murid Kakung merenungi apa yang gurunya itu ucapkan. Mereka hanya bisa mendengarkan tanpa memberi jawaban ketika Kakung melanjutkan ceritanya. Hingga tak terasa, kumandang adzan dzuhur terdengar lantang dari arah masjid di dekat kios kelapa muda tersebut.
"Mumpung dekat masjid, kita jamaah disitu saja ya Le, sekalian nunggu Surip mendingan," Ajak kakung. Kemudian beranjak meninggalkan warung kepala muda itu, meninggalkan mobil terparkir di sebelahnya.
Melihat kedatangan Kakung, penduduk setempat bergantian menyalami Kakung di depan pintu masuk masjid. Kemudian mempersilahkan Kakung untuk memimpin shalat dzuhur disitu. Sudah tidak baru lagi, Kakung memang sosok yang disegani. Namanya cukup tersohor, dari kalangan anak kecil hingga para sesepuh di daerah itu, merata mengenal Kakung dengan baik.
__ADS_1
Surip dan Bidin sempat kebingungan, mereka mengenakan celana pendek saat itu. Beruntung, salah satu warga yang rumahnya dekat dengan masjid bersedia meminjamkan mereka sarung, bahkan meminjamkan mukena untuk Harti. Lantas bergegas mereka melaksanakan ibadahnya di masjid itu.
Shalat dzuhur sudah selesai di tunaikan. Atas permintaan orang itu, kini mereka tengah menuju rumah orang yang meminjamkan sarung dan mukena. Dan kini kita sudah sampai di depan rumah yang terbuat dari kayu jati penuh ukiran, halaman depan rumahnya yang sangat luas, terlihat mobil warna hitam yang sama dengan mirip kakung, tengah terparkir di sana. Lima gelas teh manis langsung disuguhkan oleh Istri pemilik rumah tersebut, ketika kita baru duduk di teras rumahnya.
"Dari mana Pak Kyai? tumben sekali singgah di dusun sini. Ditambah pakaiannya rapi sekali," Ucap pemilik rumah tersebut basa basi.
"Habis antar cucuku belanja di pasar tadi. Kamu libur ini? tumben di rumah," Tanya Kakung dilanjut meraih gelas teh di depannya.
"Iya ini Pak Kyai, baru selesai tugas di kalimantan, jadi dapat cuti dari kemarin. Maaf belum sempat mengunjungi rumah Pak Kyai. Yang mana ini cucunya Pak Kyai?" Tanya Pak Muslih, kemudian memandangi empat santri di depannya satu persatu.
"Ndak apa-apa Mus, Kamu juga pasti masih capek. Yang ini cucu kandungku, yang perempuan juga sebentar lagi jadi cucuku. Ini mereka murid yang paling pinter lho Mus, Yang dua sudah hafal, sisanya sedikit lagi juga lulus. Mereka bakalan jadi hafiz kaya kamu," jawab Kakung menunjuk Darto. Kemudian memperkenalkan satu persatu muridnya.
"Bapak murid Simbah?" Tanya Darto singkat.
"Iya Dek, Dulu saya ngaji di sana delapan tahun. Setelah lulus saya daftar tentara, Alhamdulillah berkat Simbah kamu yang kenal sama atasan, saya bisa jadi kaya sekarang" Tegas Pak Muslih.
Mendengar jawaban Kakung, Pak Muslih tidak bisa membantah. Hari itu lumayan lama mereka singgah di rumah Pak Muslih, hinga akhirnya Kakung meminta izin untuk cepat kembali ke pondok. Karena sudah sedari pagi dia meninggalkan pesantren. Dan mereka pun bergegas meninggalkan kediaman Pak Muslih setelah berpamitan.
Ketika berjalan menyusuri gang kecil di perkampungan. Mata mereka tertuju kepada kerumunan orang di persimpangan. Terdengar lantunan gamelan dan riuh sorak-sorai warga yang menontonnya. Karena penasaran, Bidin berlari ke arah keramaian itu.
"Ada lengger Gus! Sini!" teriak Udin dari belakang kerumunan itu.
Menyanggupi teriakkan Bidin, mereka berempat menyempatkan singgah hanya untuk sekedar melihat. Namun tidak seperti yang muridnya saksikan, Wajah kakung seketika meneteskan keringat di dagunya, setelah melihat wanita yang sedang menari di tengah kerumunan itu.
"Cantik banget ya Gus yang Nari!" Ucap Surip.
__ADS_1
"Bener Sur! aku kalau punya istri kaya gitu, pasti tak kurung di kamar," jawab Bidin nyeleneh.
"Cantik sih, tapi kok ada yang aneh ya? Aku kaya pernah lihat dia, tapi dimana ya," Darto mengernyitkan dahi.
Ketiga lelaki muda terus berkomentar atas kemolekan, kemulusan, keluwesan, juga kelincahan wanita itu ketika menari. Sedang Harti hanya bisa bungkam terbakar cemburu, karena penari itu sesekali memandang dan memberikan senyum kepada Darto yang tengah berdiri di samping Harti. Begitu juga Kakung, dia tidak membuka suara sedikitpun, setelah melihat wanita itu.
" Ayo Dar! Kita pulang!" Ketus Kakung. kemudian menarik paksa tangan Cucunya itu.
Melihat Darto ditarik, ketiga temannya bergegas menyusul. hingga kini mereka sudah berada di dalam mobil kembali.
"Beneran tadi cantik sekali ya Sur!" Ucap Bidin, dia terus tersenyum mengingat kecantikan penari itu.
"Iya Din, kalau saja dia mau sama aku," balas Surip dengan wajah yang sedikit memucat karena mabuk kendaraan.
"Kalian sebut itu cantik?" tanya Kakung bersungut-sungut.
"Iya Pak Kyai! dia mungkin orang paling cantik yang pernah saya lihat," Jawab Bidin polos. Dan masih terus tersenyum sembari menerawang kecantikan penari itu.
"Tapi Kung. kenapa wajahnya tidak asing ya Kung?" Darto Bertanya, dia masih terus mengernyitkan dahinya.
"Dia yang ngasih luka di dada kamu Dar! si Nenek Peot!" jawan Kakung masih bersungut-sungut.
Mendengar jawaban Kakung, wajah keempat muridnya seketika berkeringat. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Terutama Darto, matanya langsung memerah, tangannya mengepal nafasnya memburu.
"Jadi? Dia yang Bunuh Ibuku Kung?" Ucap darto dengan wajah geram disertai air mata yang sesekali mengalir dari kantung matanya.
__ADS_1
Bersambung,-