
Hari sudah berganti, pagi di kampung kemoceng selalu sama, udara yang dingin membuat seluruh warga lebih sering menghabiskan pagi mereka didalam rumahnya masing-masing.
Di pagi buta seperti ini, tampak Darto, Bidin, Surip dan Anto tengah disibukkan dengan membantu ibu-ibu yang hendak mulai mempersiapkan hidangan pernikahan. Sedangkan Harti tengah membantu di rumah Sri sejak subuh tadi.
Hari ini adalah hari yang di tetapkan kedua orang tua Anto serta orang tua Sri, Anto akan mengucap janji ikrar di depan orang tuanya untuk meminang Sri. Wajah Anto tidak berhenti-henti memancarkan mimik bahagia. dia selalu sigap membantu mempersiapkan alat masak dengan wajah penuh senyum yang terus merekah. Meski sudah dipaksa untuk tidak membantu, dia balik memaksa dengan alasan lebih baik terus bergerak untuk mengurangi rasa gugup di dadanya.
"Sudah Tok, sana kamu siap-siap sudah hampir jam tuju ini," paksa Darto melihat temannya masih sibuk mengaduk wajik di atas kuali.
"Iya, Dar. Nih kamu terusin aduk, kata Bu Neni nanti lengket kalo enggak diaduk," jawab Anto sembari memberikan sendok kayu panjang yang dia gunakan sebagai spatula.
Setelah itu Anto bergegas menuju kamar mandi, dia mandi cukup lama dilanjut mengenakan baju yang sudah di siapkan oleh orang tuanya.
"Ayo Dar kita ke rumah Sri!" teriak Anto dari ruang sebelah.
Mendengar teriakan Anto, Darto, Surip dan Bidin bergegas melihatnya di ruang sebelah, dan ketika sampai di hadapan Anto, ketiga lelaki itu terlihat sedikit heran dengan pakaian yang di kenakan Anto. Dia terlihat berwibawa, hampir sama dengan yang di kenakan Simbah Wajana, yang berbeda hanya penutup kepalanya. Anto mengenakan penutup kepala seperti peci yang sedikit panjang, kain jarik hitam bermotif batik warna emas yang melingkar di pinggangnya, dengan sedikit kain yang melilit di atas jarik miliknya, telanjang dada dan terselip sebilah keris di pinggang bagian belakangnya.
"Ganteng banget kamu Tok, tapi aku enggak kalah sih ha ha ha ha!" ucap Surip sembari terus memegang pakaian yang Anto kenakan.
"Iya Sur, kamu emang orang paling ganteng kalau lagi sendirian," ketus Bidin dari kejauhan setelah mendengar ucapan Surip.
"Kumisnya mbok di cukur dulu, Tok," timpal Darto melihat Anto terus melintir kumis di wajahnya.
__ADS_1
"Jangan dong, ini yang bikin Dek Sri klepek-klepek Dar," jawab Anto sedikit menahan tawa.
Mendengar jawaban itu, Bidin dan surip mengangguk-angguk dan mereka saling berbisik satu sama lain, kemudian mereka sepakat akan memanjangkan kumis, agar cepat dapat pasangan seperti Anto.
Melihat tingkah Surip dan Bidin, Anto dan Darto hanya bisa terbahak dan kemudian berlanjut berjalan dengan rombongan keluarga Anto menuju rumah Sri dengan berjalan kaki.
Sesampainya di Rumah Sri. Tampak Sri yang sudah duduk ditemani kedua orang tuanya, di depan Mbah Turahmin yang bertugas sebagai penghulu. Rambut Sri dibiarkan tergerai, sehelai kain hitam tanpa corak dililitkan di dadanya, dan jarik bermotif emas membalut tubuh bawah dimulai dari pinggang. Rangkaian manik-manik emas menghiasai kepalanya, ditambah gelang emas dan perak yang indah menghiasi pergelangan tangan. Sungguh Sri sangat cantik di mata semua orang yang menyaksikan. Mereka berdua tampak sangat serasi.
Setelah Anto duduk di samping Sri, kita semua menjadi saksi momentum bersatunya dua insan itu di ruangan ini. Meski sedikit gugup Anto tidak melakukan kesalahan dalam mengucapkan kalimat yang sudah dia hafal sedari hari lalu, hingga semua orang berkata SAH kita bergegas kembali ke rumah Anto bersama rombongan, sudah menjadi adat yang dianut penduduk sini, bahwasannya meskipun sudah sah, mempelai wanita masih di beri waktu tiga hari untuk bersama keluarganya, sebelum akhirnya mereka menghantar Sri ke rumah Anto bersama segenap keluarga.
Harti masih tetap singgah dan menginap di rumah Sri, sedangkan Darto, Bidin dan Surip terus membantu menerima tamu di rumah Anto selama tiga hari berturut-turut. hingga akhirnya tiba waktu yang selalu Anto nanti, keluarga Sri datang, kerumunan orang berbondong sembari mempersembahkan lantunan musik dari tabuhan gendang, gong dan alat musik tradisional lainnya. Hari ini Sri diserahkan sepenuhnya kepada Anto oleh keluarganya. Rasa bahagia dan haru tercampur rata kala itu, entah keluarga, kerabat maupun temannya, semuanya larut dalam rasa bahagia yang mereka berdua rasakan. Hingga tak terasa waktu sudah terlewat begitu saja, langit sudah menggelap, sinar matahari sudah hilang di atas kepala.
"Kamu memang pengertian, Dar," Jawab Anto singkat, membuat wajah Sri seketika memerah.
"Yasudah kami pamit ya, Tok," timpal Surip, kemudian mereka bergegas meninggalkan rumah Anto.
Darto, Surip dan Bidin masih saja membahas tentang Anto dan Sri sepanjang perjalanan, sedang Harti hanya membisu menahan malu. Karena tidak hanya sekali Surip dan Bidin menyindir Darto dan Harti, membuat dirinya tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah sampai di rumah Darto, tiga lelaki memutuskan untuk berbaring di ruang depan, dan membiarkan Harti tidur di kamar Darto. Mereka semua langsung terlelap, karena selama tiga hari mereka bekerja keras dengan sedikit istirahat.
"Dar.. Bangun," ucap Mbah Turahmin seraya menggoyang badan Darto yang tengah terlelap itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mbah Turahmin, Darto terhentak, setelah bangun dia sedikit bingung, tidak biasanya dia kebablasan, dia selalu bangun pukul tiga dini hari untuk menunaikan shalat tahajud dan sahur.
"Iya Mbah," ucap Darto sembari mengusap-usap mata kantuknya.
"Belum subuh, Dar. Kalau mau sahur masih sempat. Biasanya kamu nggak sampai di bangunin sudah bangun sendiri," ucap Mbah turahmin kemudian meninggalkan Darto kembali.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto bergegas melahap lauk yang dia bawa dari rumah Anto semalam, setelah kenyang dia kembali meraih sarung di ruang sebelahnya kemudian menyusul Si Mbah dan juga Kakung yang hendak pergi ke Langgar.
"Besok kita ke pesantren ya Dar," ucap Kakung sembari menutup pintu rumah.
"Besok?" jawab Darto sedikit terkejut.
"Iya Dar, kita sudah lama di sini," jawab Kakung Kembali,"
"Yasudah Kung, Nanti Darto beres-beres sekalian pamit sama Anto," ucap Darto sembari memasang peci di kepalanya.
Setelah itu, kedua lelaki tua bersama cucunya berjalan beriringan menuju langgar, tidak ada lagi rasa gelisah di hati mereka bertiga, urusan yang sempat menganggu sudah di hilangkan, dan urusan yang mereka utamakan untuk membantu teman dekat Darto pun sudah di selesaikan. Sesekali mereka bercanda, mengungkit tentang Lastri yang sudah di musnahkan, mereka larut dalam rasa lega yang begitu dalam hingga tidak memperhatikan keadaan sekeliling mereka.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada mahluk hitam legam terus memperhatikan tiga lelaki itu, dia terus berlari meninggalkan jejak cairan hitam, busuk dan kenyal di atas dedaunan kering yang sempat ia injak.
Bersambung,-
__ADS_1