ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TUGAS USAI


__ADS_3

Ketika Darto hendak melepas anak panah yang kedua, dalam satu kedipan mata ular itu sudah sampai tepat di belakang Darto. Dengan mulut yang menganga, siap melahap Darto saat itu juga.


Beruntung Ki Karta dan Si Mbah sigap menanggapi ular yang tiba-tiba muncul di belakang Darto. Mereka berdua bersamaan memegang ujung sebuah tali bercahaya yang kini tengah meningkat tubuh sosok ular tersebut. Gerakan ular seketika berhenti karen berhasil ditahan oleh kedua orang yang membantu Darto di belakangnya.


Tanpa membuang kesempatan, Darto langsung merubah busur panah di tangannya menjadi sebuah pedang. Dia menebas kepala ular secara vertikal dan berhasil membelah mulut ular di depannya.


Sosok ular meronta bahkan energi berbentuk tali yang Ki Karta dan Mbah Turahmin cengkeram sedari tadi, langsung putus seketika. Ular raksasa itu menggeliat kesakitan karena luka yang Darto berikan benar-benar merobek rahang atas dan bawahnya. Ketika tubuh ular mulai tenang kembali, dia langsung menargetkan Si Mbah dan Ki karta yang berada di sampingnya.


Tubuhnya melengkung, membuat huruf S dengan Si Mbah dan ki Karta yang berdiri di setiap cekungan. Dia siap melilit kedua orang tua itu, namun aksinya berhasil digagalkan oleh Darto dalan satu kedipan mata.


"Kalian lebih aman di sini, bantu saya jika ada banyakan anak ular yang datang. Beri saya ruang untuk mengurus induknya," ucap Darto ketika berhasil membawa Ki Karta juga Si Mbah menjauh dari tubuh ular dengan teknik lempit, kemudian kembali menghilang begitu saja.


Ki Karta dan Mbah Turahmin benar-benar terkejut dengan teknik tang Darto lakukan. Mereka bahkan sampai mengerjap mata karena tidak bisa percaya, saat tubuh mereka sudah berpindah di tempat yang cukup jauh dari posisi ular yang hampir melilit mereka. Ditambah Darto mengulangi teknik tersebut untuk kedua kalinya, tepat di depan mata mereka ketika kembali menuju sosok ular di sana.


"Cucu kamu bisa hebat begitu, Min," ucap Ki Karta sembari terus menyabet anakan ular yang datang dari segala penjuru, menggunakan tali bercahaya mirip seperti cambuk yang pernah Darto gunakan dulu.


"Sebenarnya saya juga terkejut, Kar. Dia sudah beda tingkatan dibanding kita berdua," jawab Mbah Turahmin yang kini sedang meniru senjata milik Ki Karta. Dia ikut menebas anakan ular yang terus mendekat ke arah Darto menggunakan cambuk cahaya di tangannya.

__ADS_1


"Sudah ngobrolnya nanti saja, Kar. Lebih baik kita beresin dulu masalah di depan kita. Biar Darto bisa fokus menghunus pedangnya," sambung Mbah Turahmin sembari melompat menuju pusat gerombolan anakan ular, dan mendapat anggukan serta tindakan Ki Karta yang ikut melompat ke arah yang sama.


"Hei? Kenapa? Kamu tidak bisa apa-apa tanpa anakmu?" Ejek Darto melihat ular raksasa di depannya terus menghindar dari serangan yang Darto berikan.


"Sombong kau manusia! Apa kau lupa siapa yang merenggut semua nyawa pendahulu kamu? Ssstttt," jawab sang ular sembari meliuk-liuk dengan gesit. Menghindari setiap tebasan yang Darto berikan.


"Itu sudah berlalu, apa kau tau? Anakmu sudah tidak banyak. Aku sudah menghabisi mereka tadi pagi," ejek Darto kembali sembari terus melancarkan serangan.


"Biadab kau manusia!" Ketus ular tersulut emosi, sembari maju melompat ke arah Darto dan membuka bibir yang sudah terbelah di atas kepala Darto.


"Aku hanya membalas apa yang kamu lakukan kepada pendahuluku. Dengan begitu kita impas, setelah aku membunuh semua keturunanmu, ha ha ha ha," ejek Darto sembari menahan serangan yang ular itu lakukan.


Glediar! Cetyar! Saut gemuruh serta kilatan petir terus saja datang tanpa spasi, apalagi ketika energi Darto dan ular itu berbenturan. Seketika angin dan kilatan cahaya langsung ikut meramaikan pertarungan mereka.


Ki Karta dan Mbah Turahmin benar-benar terkejut. Mereka benar-benar memerlukan banyak usaha, meski hanya untuk sekedar berdiri dengan biasa. Tubuh mereka limbung, karena hempasan angin dahsyat terus mendorong mereka, dan juga tanah tempat mereka berpijak benar-benar becek karena hujan begitu hebat mengguyur malam itu. Meski begitu, mereka masih bisa terus fokus dalam menjalankan permintaan yang Darto ajukan. Mereka bahkan tersenyum sembari terus membelah tubuh anakan ular, menjadi dua bagian.


"Sekarang, biar aku pertemukan kamu dengan leluhurku. Minta maaf lah sama mereka, jika kamu berpapasan di sana," ucap Darto sembari menebas pedangnya sekuat tenaga.

__ADS_1


Sosok ular itu berhasil menghindar dengan cara menghilang. Dalam sekejap mata sosok ular itu sudah berpindah ke tempat Ki Karta dan Mbah turahmin. Dia kembali membuka mulutnya lebar-lebar, dan siap menyantap kedua orang tua yang tengah berdiri saling memunggungi di depannya.


Mengetahui itu, Darto tetap mengayunkan pedangnya, menebas angin tanpa sasaran sama sekali. Namun ketika pedangnya sudah dalam setengah ayunan, Darto berpindah tepat ke atas kepala sosok ular tersebut. Dia melayang di udara, memanfaatkan gaya tarik untuk memberi sedikit bantuan tenaga, sembari melakukan setengah ayunan akhir dari gerakan menebasnya.


"CRAT!" kepala ular raksasa benar-benar terpisah sempurna dari tubuhnya. Darto berhasil memotong tubuh raksasa itu hanya dalam satu ayunan pedangnya.


"Aaaaaaaaa!" Pekik sosok ular tersebut sembari terus menggeliat. Darto langsung tersungkur dan menutup telinga, karena suara dari sosok ular itu benar-benar melengking, meski kepalanya sudah terpisah dengan tubuh utamanya.


Suara teriakan itu perlahan menghilang. Berangsur menjadi pelan ketika tubuh ular raksasa mulai habis terbakar layaknya sebuah kertas tanpa sisa. Bahkan arang bekas tubuhnya masih terus berkobar, hingga tubuhnya menyisakan sekumpulan debu, yang langsung hanyut dibawa arus air yang disebabkan oleh hujan.


"Alhamdulillah..." Ucap Darto sembari tidur terlentang. Dia menatap langit gelap di atasnya, membiarkan tetes demi tetes air hujan membelai setiap kulit di tubuhnya.


Darto benar-benar merasa lega kala itu, dia seakan terlepas dari sebuah tali yang sangat erat mengikat dirinya. Sebuah keinginan yang sangat ia dambakan akhirnya terwujud juga hingga dirinya terus tertawa puas dilanjut menangis haru dalam posisi tidur terlentang, di atas tanah becek di bawah deras hujan malam itu.


Suasana berangsur kembali normal, Ki Karta serta Mbah Turahmin bergegas menuju tempat Darto tergeletak, setelah berhasil menyingkirkan ribuan anakan ular yang kini sudah tidak tampak lagi meski pun hanya satu ekor. Mereka ikut menangis ketika berlari, mengingat sosok yang sudah menjadi ancaman selama ratusan tahun, sudah berhasil disingkirkan untuk selama-lamanya.


Malam itu berlalu dalam haru, dua lelaki tua itu mendekap tubuh Darto yang serasa enggan berdiri. Darto tampak lemas, karena terlalu banyak menggunakan tenaga dibanding menggunakan energi miliknya. Mereka cukup lama memeluk Darto sebelum Ki Karta kembali mengucap sebuah kalimat "Mari kita temui Gending."

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2