
Setelah melihat kejadian demi kejadian yang sudah dialami, Arya kembali membawa Darto untuk pulang menuju tempat raganya tengah terkulai pingsan di atas tanah.
Ketika mereka berdua sampai ke perkampungan yang terletak di tengah alas ireng, Darto perlahan membuka matanya, sedangkan Arya muncul begitu saja tepat di depannya.
Melihat Darto yang mulai sadar dan juga Arya yang susah kembali, ketiga teman Darto seketika langsung memasang wajah lega. Jaka yang paling khawatir sejak Darto tergeletak, langsung membantu Darto untuk duduk sembari berkata, "Apa Kang Darto kembali ke tempat itu lagi?"
"Iya, Jak. Sekarang saya tahu apa yang membuat Ki Gandar menjadi seperti ini," sahut Darto setelah posisi duduknya telah sempurna, "Ada peluang, Jak. Mungkin kita tidak perlu bertarung," sambung Darto dengan tatapan lurus menatap Jaka.
"Maksudnya?" jawab Jaka singkat sembari memasang wajah bingung. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ingin disampaikan oleh Darto di depannya.
"Kita lihat saja nanti," sahut Darto kemudian menoleh ke arah Arya dan berkata, "Sekarang bisa kamu antar kami ke tempat Ki Gandar?"
Mendengar ucapan itu, Arya sontak melihat ke arah kedua orang tuanya yang juga tengah memasang telinga. Mereka bertiga butuh waktu cukup lama untuk bungkam, hingga akhirnya kedua orang tua Arya saling menatap dan mengangguk bersamaan.
Setelah mendapat restu dan persetujuan dari kedua orang tuanya, Arya langsung menoleh ke arah Darto sembari berkata, "Akan aku antar, tapi ...."
"Tapi apa?" sahut Jaka.
"Peluang untuk tidak bertarung sudah tidak mungkin lagi. Ki Gandar sudah menjadi sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Bahkan kami, jiwa yang sudah dirinya simpan sejak kematian kami, sudah tidak bisa membujuk dirinya lagi," jawab Arya dibarengi anggukan kepala kedua orang tuanya.
"Tenang saja, Arya. Urusan itu biar kami yang mengatasi, tugas kamu hanya cukup antar kami saja," sahut Darto dengan senyum mengambang.
Mendengar ucapan itu, Arya langsung mengangguk kemudian berdiri sembari berkata, "Baik ... mari saya hantar kalian ke sana."
Setelah mendapat jawaban setuju, Maung, Komang, Darto dan Jaka langsung mengangguk dan berdiri. Mereka sempat berpamitan kepada kedua orang tua Arya, kemudian pergi meninggalkan rumah miliknya.
Setelah keluar dari rumah milik Arya, mereka berlima melangkah menuju hutan kembali. Selangkah demi selangkah mereka terus menyibak rerimbunan pohon hitam, hingga akhirnya mereka sampai di satu tempat yang cukup aneh.
Setelah cukup jauh mereka masuk ke dalam hutan, pemandangan yang terpampang di depan mata kelima pria itu sepenuhnya berubah. Yang semula hanya berisi rimbunan pohon hitam, kini berganti dengan hamparan debu yang membentang sejauh mata memandang.
Debu di atas tanah benar-benar menumpuk begitu tinggi, dan tidak ada apapun yang bisa ditangkap oleh mata mereka selain debu tersebut.
__ADS_1
"Kalian harus melewati tempat ini untuk bertemu dengan beliau. Jauh di depan sana ana satu goa yang beliau gunakan untuk mengurung diri," ucap Arya sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah pusat tumpukan debu.
"Kamu tidak ikut?" tanya Darto.
"Maaf ... hanya yang dipanggil maupun yang sudah mendapatkan izin dari beliau yang bisa masuk. Saya tidak berani sama sekali," sahut Arya.
Mendengar itu, Darto langsung menatap Arya dengan tatapan sendu. Dia tersenyum singkat, kemudian berkata, "Terimakasih, mungkin sebentar lagi kalian bebas. Doakan saya agar cepat bisa menyelesaikan semua ini."
"Doa?" tanya Arya kebingungan.
"Kalian tidak pernah berdoa?" timpal Jaka.
"Apa itu berdoa?" sahut Arya kebingungan.
Mendengar pertanyaan itu, Darto dan Jaka langsung saling bertatap kemudian tersenyum, mereka merasa bodoh karena mengharapkan doa dari sosok yang sudah terlebih dahulu lahir, jauh sebelum ajaran agama masuk ke dalam lingkungannya.
Setelah cukup lama mencari jawaban yang pas, akhirnya Darto membuka suara untuk menjelaskannya, "Arya, kamu percaya dengan tuhan?"
"Iya, Tuhan. Sosok yang maha sempurna, dan punya segalanya, kamu kira siapa yang menciptakan dunia manusia, dan siapa yang mampu memisah dunia milikmu dengan dunia kami? Siapa yang mampu menciptakan kehidupan dan kematian?" Tanya Darto panjang lebar.
Mendengar pertanyaan itu, Arya sampai mengerutkan dahi ketika berfikir. Dia merasa tidak paham sama sekali, namun otaknya serasa tengah dipaksa untuk berfikir keras. Dalam hati kecilnya muncul satu rasa penasaran hingga dia tanpa sadar bertanya, "Memang siapa?"
Mendengar pertanyaan itu, Darto langsung menjabarkan semua pengetahuannya kepada Arya. Darto memperkenalkan nama agung yang menjadi sesembahan sebagian besar umat manusia, kemudian mengajak satu teman barunya itu agar ikut menyembah pada sosok yang sama.
Setelah merasa yakin, Arya benar-benar tergerak dan merasa mendapatkan satu tempat pulang yang baru. Dia merasa mendapat satu tujuan baru, hingga dia bersedia mengucap kalimat syahadat di depan Darto dan Jaka.
Mendengar satu temannya sudah bersedia masuk ke dalam satu pelindung yang sama, Darto dan Jaka langsung mendekap Arya sembari mengucap kata syukur, kemudian berpamitan dan meninggalkan Arya sendirian.
"Arya ... ajak orang tua kamu juga. Kalau bisa semua teman dan kenalan kamu. Biar nanti kalian bisa bertemu di surga yang sama setelah pulang nanti," ucap Darto sembari menoleh ke belakang. Kemudian kembali melangkah menuju arah yang ditunjuk Arya bersama Jaka, Maung dan Komang di belakangnya.
"Baik, Darto. Semoga kalian baik-baik saja!" teriak Arya dengan bibir mengambang. Dia mengucap kata itu sekeras yang dia bisa, karena Darto dan Jaka sudah mulai buram tertutup kabut yang cukup tebal di tempat tersebut.
__ADS_1
Setelah punggung Darto dan ketiga temannya tidak tampak lagi di mata Arya, dia bergegas pergi untuk menemui semua teman yang ada di kampung halamannya. Dalam hatinya dia merasa sedikit bahagia, dan juga ingin lekas menyampaikan kabar itu untuk sanak saudaranya. Dengan langkah kaki lebar dan bibir mengambang, dia pun mulai berlari menuju arah yang bertolak belakang dengan arah tujuan temannya.
Setelah cukup lama menapaki tumpukan debu yang membentang di depan mata, Darto dan Jaka masih belum juga menemukan satu tempat seperti yang dijelaskan oleh Arya. Mereka semua seperti hanya berputar-putar, karena semua yang tampak di depan mata sama sekali tidak memiliki perbedaan.
Hanya ada debu yang menumpuk hingga hampir setinggi lutut, dengan kabut yang terus menebal seiring langkah mereka masuk semakin dalam. Pandangan mereka benar-benar terbatasi, hingga satu ketika sesuatu yang sangat mengganjal kembali mereka temui.
"Sepertinya kita sudah dekat," ucap Darto yang berjalan paling depan. Dia berdiri didepan mulut goa yang menganga begitu lebar, dengan tanah berwarna hitam yang menyelimuti segala sisinya.
"Bener, Kang. Sudah mulai terasa panas. Aku juga sudah susah buat nafas," sahut Jaka dengan nafas tersengal.
Mereka sudah masuk ke dalam pusat tempat hamparan debu, dan tengah berdiri di tempat yang begitu pengap hingga udara yang terpampang benar-benar serasa mencekik tenggorokan.
"Hati-hati, Dar ... ada yang mengawasi kita," sambung Maung sembari merubah wujudnya menjadi macan.
Melihat Maung berubah wujud, Komang juga langsung mengikuti gerakan temannya. Dia berubah menjadi harimau jawa, kemudian menatap arah yang sama dengan arah pandangan temannya. Mereka berdua benar-benar memampangkan taring mereka, dengan ekspresi buas namun waspada selayaknya predator yang tengah menghadapi ancaman.
Mengetahui tingkah Komang dan Maung, Darto dan Jaka juga langsung memasang posisi siaga. Mereka tidak mau lagi mendapat serangan kejutan, karena mereka tidak tahu lawan seperti apa yang tengah berdiri di depan mereka. Akan sangat berbahaya jika serangan kejutan bisa melumpuhkan mereka hanya dalam satu gerakan, belum lagi udara mencekik di udara bisa menjelaskan betapa pekatnya energi yang lawan mereka miliki.
"Jaka ... lindungi kita jika ada sesuatu yang mengganjal," ucap Darto sembari menciptakan busur panah putih di tangannya.
"Akan aku tahan serangan balasannya, Kang," sahut Jaka sembari menciptakan tombaknya.
Jaka melangkah tepat ke samping Darto yang tengah membidik busur panahnya ke dalam goa. Dia memasang posisi bertahan, agar bisa menghalau, jika memang benar ada serangan balasan.
Sesaat Darto menghela nafas panjang di tengah udara pengap tersebut, kemudian dia menahannya di dalam dada yang mulai berangsur membusung. Darto menarik anak panahnya sekuat cakupan tangannya, kemudian menatap lurus mulut goa yang sepenuhnya berwarna hitam pekat di depannya itu.
Satu gerakan kecil dari jari Darto benar-benar merubah segala suasana, anak panahnya melesat begitu cepat memasuki goa, hingga kemudian suara gemuruh datang dari dalamnya.
Suara ratusan pasang langkah kaki langsung terdengar begitu kentara, mereka mendekat dengan kecepatan memburu, menuju arah Darto, Jaka dan kedua temannya tengah berdiri.
Bersambung ....
__ADS_1