ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEHADIRAN BARU


__ADS_3

Tidak lama setelah Kakung pulang ke pesantren. Dia kembali bersama Harti, Jaka, dan juga Si Mbah Turahmin ke rumah sakit. Mereka semua menunggu di depan rumah sakit sembari terus bergantian masuk untuk menemani Darto dan Anto yang tengah menemani Sri.


Kali ini giliran Jaka, dia masuk ke dalam rumah sakit menyusul Darto dan juga Anto yang masih duduk di depan ruang bersalin. Dia langsung ikut duduk setelah melihat dua lelaki yang memang sedang dirinya cari. Saat itu dia duduk dengan sebuah pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulutnya, "Kang ... kalau yang lahir laki-laki, apa anak Kang Anto langsung punya kumis pas baru lahir?"


Anto dan Darto spontan terbahak mendengar pertanyaan konyol itu, mereka bahkan sampai berguling sembari memegang perut dalam tawanya. Setelah cukup lama Darto berkata pada Jaka di depannya, "Kamu kira, kumis Anto sudah tumbuh dari lahir?"


"Jaka nggak tahu, Kang. Jaka belum pernah lihat bayi lahir, karena Jaka itu anak paling muda di kampung," sahut Jaka dengan wajah serius, dia benar-benar berfikir keras untuk menyiapkan jawaban yang menurutnya tepat.


"Mana ada bayi lahir langsung kumisan, ha ha ha ha!" timpal Anto dengan nada mengejek, sembari terus memelintir ujung kumis miliknya hingga melengkung ke atas.


"Tapi, Kang ... kucing di rumahku lahir langsung kumisan," sahut Jaka dengan wajah polosnya.


"Kamu disamain sama kucing, Tok! HA HA HA HA! Tapi bener si ... sama-sama berkumis, dan sama-sama belang," sosor Darto sembari tergelak. Dia merasa lucu dengan percakapan dua orang di depannya.


Setelah cukup lama, terdengar Sri yang mulai memanggil suaminya dari dalam kamar. Anto yang mendengar itu langsung berlari menuju kamar dan bergegas berlari untuk memanggil suster yang berjaga tidak jauh dari kamar Sri. Sejurus kemudian Anto kembali dengan seorang suster yang juga ikut sedikit berlari memasuki ruangan Sri. Tidak lama setelahnya, suster berkata jika proses persalinan akan segera dilakukan, dan mengharap untuk semua lelaki meninggalkan ruang tersebut.

__ADS_1


Anto, Darto dan Juga Jaka sungguh gelisah kala itu. Mereka merasa khawatir, karena mereka bisa mendengar lirih suara Sri menjerit, dari depan ruang bersalin. Anton benar-benar pucat, dia tidak bisa berhenti bergerak. Entah jongkok, berdiri, berjalan dan yang lainnya. Tubuhnya tidak mau diam, tampak sekali dia sangat gusar kala itu.


Setelah beberapa menit menunggu dalam gundah, akhirnya suara tangisan bayi yang begitu melengking terdengar menggema. Suara tangisnya bisa terdengar dengan jelas dari depan ruangan, sehingga tiga lelaki yang tengah menunggunya langsung terperanjat dari lamunan mereka.


Ketika tangisan bayi pecah, Anto yang semula memasang wajah begitu tegang langsung memandang Darto dengan tatapan kosong. Dia memegang kedua pundak Darto dengan kedua tangannya. Bulir bening mulai merembes dari kantung matanya, lalu dengan penuh semangat dia menangis sembari berkata, "Aku jadi Bapak, Dar!"


"Selamat, Tok!" sahut Darto sedikit berteriak, dia langsung memeluk tubuh Anto yang tengah sesenggukan di depannya, sembari ikut memeriahkan tangisan Anto dengan ikut meneteskan air mata kebahagiaan.


Jaka yang bingung melihat dua lelaki di depannya hanya bisa tertegun, dia tidak faham dengan perasaan yang sedang dua orang itu rasakan. Hingga akhirnya dia hanya melamun sebelum akhirnya seorang suster memecahkan lamunannya.


Melihat Anto sudah masuk, Darto menyuruh Jaka untuk pergi memanggil kedua Si Mbah dan juga istrinya. Jaka langsung mengangguk, dia berlari menuju warung depan rumah sakit, untuk memberi tahukan kabar gembira yang sedang dirasakan oleh Anto dan Darto.


Setelah melesat pergi, beberapa menit kemudian Jaka datang bersama Kakung, Si Mbah Turahmin dan juga Harti. Bersamaan dengan itu Anto keluar dari ruang bersalin. Dan semua orang yang melihat Anto keluar dari dalam kamar bersalin langsung menatap Anto dalam bungkam, mereka menunggu Anto untuk menyampaikan kabar dan kondisi dari anak dan Istri Anto di dalam sana.


"Alhamdulillah, Anak saya terlahir normal. Dia laki-laki, dan Sri juga baik-baik saja," ucap Anto sendu. Dia kembali menumpahkan bulir air yang tergenang di kantung matanya, dia sungguh merasa bahagia, setelah melihat bayi sehat yang tengah digendong oleh istrinya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap semua orang secara serentak. Mereka langsung memasang wajah lega, setelah mendengar semua kalimat yang Anto utarakan.


Selain Anto, Darto adalah lelaki kedua yang paling senang dengan kabar anak dan istri Anto. Dia benar-benar merasa bersyukur karena semua yang sudah susah payah dia lakukan akhirnya membuahkan hasil. Dari misteri Dining, Lastri, Buto ireng hingga Gending, semua itu sudah berlalu. Darto merasa senang karena tidak ada lagi yang mengancam keluarga terdekatnya, sama seperti apa yang sudah terjadi pada semua orang tua maupun Si Mbah miliknya.


Malam itu, semuanya berjalan seperti yang diharapkan. Semua orang tersenyum dalam rasa yang sama, rasa bahagia dari kelahiran bocah cilik yang kelak akan menceritakan kisah mereka. Setelah satu persatu melihat anak Anto secara bergantian, mereka bergegas pergi meninggalkan Anto, Jaka dan juga Darto di rumah sakit. Darto memang sudah berniat untuk menemani Anto sampai dia bisa membawa istrinya pulang ke pesantren, namun Darto tidak menyangka jika Jaka juga ikut mengajukan dirinya untuk memberikan bantuan. Jaka tidak mau diajak pulang, dia berkata jika dirinya lebih nyaman saat berada di dekat Kang Darto.


Malam itu tiga lelaki tersebut tidur di depan ruang bersalin. Mereka tidur di atas tikar pandan yang sudah disiapkan oleh Kakung, mereka terlelap dalam rasa bahagia tanpa mereka sadari ada sesuatu yang mengganjal tengah mendekat ke arah mereka.


Sudah jadi pengetahuan umum, 'kan? Jika rumah sakit merupakan tempat di mana banyak sekali nyawa terenggut. Jadi ... di sana banyak sekali orang yang meninggal, dengan begitu banyak sekali jin usil yang singgah hanya untuk meniru bentuk dari seseorang yang baru meninggal. Ditambah lagi tubuh Jaka memiliki aroma manis bagi para penduduk sebelah, malam itu puluhan mahluk penghuni gedung tersebut satu persatu datang mendekat pada Jaka.


Mereka terus berdatangan, berbondong muncul secara tergesa bagai ayam yang tengah diberi pakan oleh pemiliknya. Sayangnya, tiga lelaki itu tengah tertidur pulas bagai orang mati. Tidak ada satu pun dari mereka yang sadar, jika Jaka sudah mulai digerayangi oleh puluhan tangan berkuku. Tangan itu terus mengelus setiap bagian tubuh Jaka, mereka berebut bahkan sampai berkelahi, hanya untuk bisa menyentuh tubuh Jaka.


Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Kenapa Jaka begitu menggiurkan di mata para penghuni alam sebelah?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2