ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
BAYARAN


__ADS_3

Setelah Umar dan empat temannya pergi, tubuh Gending tiba-tiba limbung, dia jatuh ke atas tanah setelah kesadarannya benar-benar meninggalkan tubuhnya.


"Aduh!" gumam Gending setelah bangun, dia terus memegangi bagian perut bawah ketika mendapatkan kesadarannya kembali, rasa perih dan juga sakit terus dia rasakan dari tempat sensitive miliknya.


"Apa yang terjadi?" gumam Gending kembali, dia bingung dengan bercak darah yang melekat pada jarik coklat yang ia kenakan sebagai celana, ditambah rasa nyeri dan juga perih yang tak kunjung mereda dari balik jariknya.


"Mereka sudah bersetubuh denganmu wahai anakku, mereka akan membayar mahal untuk itu, umurmu akan bertambah sesuai dengan sisa umur yang mereka punya, jadi berbanggalah," ucap sosok ular yang kembali menjelma melalui rambut Gending, kemudian menghilang begitu saja.


Hari itu, setelah Gending mendapat penjelasan dari si ular. Gending langsung berlari menuju atas dipan kembali, dia mengganti pakaian yang ia kenakan sembari terus menangis. Hatinya serasa diremas berkali-kali mengingat apa yang sudah dia alami. Kemudian dia pergi menemui Darsa dengan air mata yang menemani langkah perjalannya.


Sedangkan di sisi lain, Umar dan empat temannya masih duduk di atas gazebo yang terletak tidak jauh dari rumah Umar. Mereka masih menceritakan dosa mereka, bahkan tanpa malu masing-masing dari mereka menceritakan proses yang mereka lakukan, dari awal mereka mulai hingga akhir mereka menggerayangi Gending.


"Tapi kenapa Gending tidak meminta bayaran ya, Mar? padahal dia bilang semuanya tidak gratis," ucap salah satu teman Umar yang baru selesai membicarakan proses yang dia lakukan di atas dipan milik Gending.


"Mungkin dia pengen kita ke sana lagi buat antar bayaran, bagaimana kalau kita ke sana lagi besok, kalau bisa sekali lagi aku enggak masalah jika harus bayar dobel," Jawab Umar sembari menggosok kedua telapak tangan yang ia satukan.


Mendengar jawaban Umar, keempat temannya langsung memampangkan senyum bejat di wajah mereka. Mereka langsung bergumam tentang ketidaksabaran mereka agar cepat di panggil oleh si Gending untuk melakukan pembayaran.


"Kamu kenapa Mar? garuk-garuk terus dari tadi?" ucap salah satu teman Umar yang heran dengan tingkah Umar yang selalu menggaruk perut bagian bawahnya.


"Aku mandi dulu, mungkin ini gara-gara sisa surga yang belum dibersihkan, ha ha ha ha," ucap Umar terbahak sembari meninggalkan empat temannya.

__ADS_1


Setelah kepergian Umar, sesuai urutan dari jatah yang mereka lakukan dalam kebejatan mereka. Satu-persatu sahabat Umar juga mengalami rasa gatal di perut bagian bawah mereka, hingga akhirnya mereka berpisah untuk sekedar mandi dan berencana untuk bertemu lagi setelahnya.


Setelah hampir satu jam terlewat, Umar dan empat temannya kembali berkumpul di gazebo Mereka mulai memasang wajah gelisah sembari terus menggaruk seluruh badan mereka. Raut wajah mereka semakin ketakutan ketika mulai tumbuh bintik-bintik merah di permukaan kulit mereka.


"Aduh kita kenapa ini! apa dipan si Gending ada ulatnya ya!" tanya salah satu teman Umar sembari terus menggaruk seluruh badan miliknya.


"Iya, edan! saya sampai mandi dua kali tadi, tapi gatalnya tidak hilang juga!" umpat sahabat Umar yang lain, sembari terus menggaruk burung miliknya.


"Apa mungkin Gending punya penyakit, ya?" ucap Umar sembari mengusap tangannya untuk menghilangkan gatal dari benjolan yang sudah mulai membesar di seluruh tubuhnya.


Mendengar ucapan Umar, empat sahabatnya seketika bungkam, mereka tertunduk layu dengan wajah terbanting ke lantai gazebo. Pikiran mereka benar-benar kalut, sungguh saat itu juga mereka tidak bisa lagi berkata apa-apa.


"Aduh!" teriak Umar memecah lamunan empat temannya.


"Huekkk!" salah satu teman Umar yang lain kembali memuntahkan isi perutnya ketika melihat benjolan di tangannya pecah, bersamaan dengan cairan hijau yang baunya sama dengan bau busuk yang keluar dari pecahan ruam di tangan umar.


Melihat Umar dan temannya yang mendapat jatah pertama dan kedua sudah mulai mengeluarkan bau busuk, tiga teman Umar yang lain bergegas pamit dan pergi ke rumahnya masing-masing. Mereka ketakutan dengan apa yang terjadi, hingga sepanjang perjalanan, mereka berlari dengan sekencang-kencangnya menuju rumahnya masing-masing.


Melihat tingkah Umar dan sahabatnya, Darto hanya bisa tersenyum. Mau bagaimanapun Darto tidak bisa menyembunyikan rasa puas di dadanya ketika melihat lima pemuda bejat di depannya mendapatkan balasan dari apa yang mereka lakukan. Sungguh Darto benar-benar tersenyum melihat kesialan lima pemuda di depannya.


Setelah lima pemuda terpisah, sang Qorin kembali membawa Darto berpindah tempat. Hanya dalam hitungan detik Darto sudah di bawa hingga di depan rumah Darsa.

__ADS_1


Darto dan Qorin saat ini sedang memperhatikan Gending yang sudah sampai di depan pintu rumah Darsa. Dia berhenti sejenak untuk mengusap air mata yang membasahi pipinya, kemudian mengetuk pelan pintu rumah milik Darsa.


"Assalamu'alaikum!" teriak Gending dilanjut menarik nafas dalam-dalam agar perasaan dalam hatinya bisa lebih tenang.


"Wa'alaykumusallam!" teriak Ibu Darsa sembari membuka pintu.


Setelah Ibu Darsa membuka pintu, dia langsung berlari dan memeluk tubuh Gending. Ibu darsa benar-benar mengerti bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai putrinya tengah mengalami masalah hanya dari melihat lebam di matanya.


"Kamu kenapa Nduk? ceritakan saja semua sama Si Mbok," ucap Si Mbok sembari mengusap pelan kepala Gending.


Mendengar ucapan Si Mbok, Gending kembali terisak, nafasnya kembali tersengal, dia kembali menangis di dalam pelukan Si Mbok dengan suara lantang.


Mendengar Gendis yang terus menangis, Si Mbok bergegas membawanya masuk ke rumahnya, Dia memberikan segelas air putih untuk sekedar menenangkan perasaan Gending, dan kemudian kembali mengelus pelan rambut Gending sembari mencoba memberi Gending semangat dengan kata-kata.


"Apa Romo belum kembali, Mbok?" ucap Gending sesenggukan, sembari menatap Si Mbok dengan tatapan sendu.


"Belum Nduk, kenapa sangat lama ya Nduk, Si Mbok juga kangen," ucap Si Mbok sembari terus mencoba menguatkan Gending.


Mendengar pertanyaan Gending, Si Mbok juga langsung menunduk. Dalam hatinya tersimpan kerinduan yang sangat besar untuk sosok suaminya, dia berdoa setiap saat untuk keselamatan orang itu. Terakhir, dua bulan lalu dia mendapat kabar tentangnya dari kiriman surat serta beras yang orang itu berikan, namun dia belum mendapat kesempatan untuk saling menyapa setelah kepergiannya lima tahun lalu.


Sungguh dua wanita itu tengah berbagi rasa pilu yang mereka tumpu, dalam sebuah pelukan erat di sore hari itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2