ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEJUTAN


__ADS_3

Malam ini terasa sangat lama berlalu, Darto dan Jaka benar-benar susah sekali memejamkan mata mereka. Mereka masih terus memikirkan pertarungan yang begitu mengerikan, hingga mata mereka seakan enggan untuk terpejam.


Setelah pagi menyapa, Raja kembali mengumpulkan semua pria yang tersisa di tengah lapangan. Tumpukan mayat sudah tidak ada lagi, para prajurit kerajaan semalam suntuk bekerja untuk mengangkat satu persatu mayat sebelum akhirnya membakarnya.


Pagi ini Raja kembali membuka suaranya keras-keras di depan kerumunan sisa peserta sayembara. Dengan suara lantang dia berkata, "Pilih senjata kalian di gudang senjata! Kita penggal kepala pemberontak yang sombong di seberang sana!"


Semua lelaki langsung bersorak, mereka berhamburan menuju ruang tempat penyimpanan senjata, kemudian keluar dengan perlengkapan yang sudah mereka pilih di dalam gudang senjata.


Darto dan Jaka tidak ikut memilih senjata, mereka hanya berdiri di sisi Raja. Raja tidak menyuruh mereka menggunakan senjata yang ada di gudang, karena Raja merasa dua kandidat di sampingnya sudah tidak lagi membutuhkannya.


Setelah semua pria keluar, Raja membawa Darto, Jaka, Brahma serta Ayandra menuju samping kerajaan. Raja menyuruh empat pemuda itu untuk memilih kuda yang ada di dalam kandang. Dan tidak lama setelah itu Raja kembali menuju kerumunan bersama empat pria yang sedang mengendarai kuda.


Darto dan Jaka sebenarnya tidak bisa mengenakan kuda, namun pemilik tubuh utama begitu lihai, bahkan tubuh mereka seakan bergerak sendiri, ketika tengah mengarahkan kuda yang mereka tunggangi.


Lima orang berkuda sempat berhenti, untuk mengajak semua prajurit yang tersisa dari sayembara. Mereka mengikuti langkah kuda dengan cara berjalan kaki.


Tuju hari lamanya, waktu yang dibutuhkan untuk sampai di satu kampung yang begitu terlihat makmur. Kampung itu terlihat jauh lebih maju, dari kampung yang ditinggali pemilik tubuh Darto dan Jaka. Bahkan sudah ada pasar tempat orang bertukar benda, serta pakaian yang mereka kenakan hampir seutuhnya bergaya berbeda.


Semua orang menyambut kedatangan Raja yang sangat angkuh dengan senyum dan tangan terbuka, tanpa mereka tahu jika kedatangan Raja hanyalah untuk merebut wilayah tersebut.


Sesaat semua prajurit istirahat di kampung tersebut, mereka singgah untuk memulihkan tenaga, karena hari sudah terpampang malam kala itu.


Setelah pagi kembali menyapa, mereka kembali berkumpul, dan kembali berjalan menuju sebuah bangunan seperti keraton yang berdiri megah di tengah perkampungan.

__ADS_1


Raja menghentikan semua langkah prajuritnya di depan gapura, Raja hanya mengajak empat orang berkuda untuk masuk ke dalam keraton tersebut.


Tidak lama setelah Raja masuk, tampak seorang lelaki gagah yang memakai blangkon tersenyum dari dalam bangunan tersebut. Dia keluar dengan santainya sembari berkata, "Wah ... mimpi apa aku semalam. Sampai pemimpin wilayah sebelah sudi berkunjung ke rumah sederhana ini."


"Cuih ... bisa-bisanya kau santai begitu? Padahal aku datang kesini untuk memintamu tunduk di bawah kekuatanku," sahut Raja ketus. Dia meludah dari atas kuda, sesaat setelah melihat pria di depannya begitu santai menyambut kedatangannya.


"Oh ... sekarang kamu punya dua pria yang kuat, pantas saja kamu berani berulah," sahut lelaki yang mengenakan blangkon. Dia terus memperhatikan Darto dan Jaka yang masih menunggangi kuda di sisi Raja.


Darto dan Jaka langsung menelan sejuta tanya di dalam hatinya, mungkinkan orang itu tahu tentang kekuatan mereka? Atau dia sudah mendengar dari salah satu peserta sayembara yang menjadi mata-mata?


Namun pertanyaan itu tidak pernah terjawab, yang mereka tahu hanya lelaki yang mengenakan blangkon itu tampak sangat kuat. Aura yang dirinya miliki bahkan setara atau mungkin lebih melimpah dari Jaka, Darto maupun sang Raja.


Lelaki blangkon itu sungguh kuat, dari tatapan matanya saja sudah bisa memberikan tekanan yang begitu mengintimidasi. Kekuatan miliknya di luar nalar, tanpa mereka sadari yang bersarang pada tubuh pria berblangkon itu adalah seseorang yang menarik Darto dan Jaka menuju dunia silam ini.


Raja sangat geram mendengar ejekan dari pria itu, namun dia menahan emosinya kemudian menyuruh Brahma dan Ayandra untuk menyerang pria berblangkon itu secara bersamaan.


Raja langsung membulatkan matanya, dia menyuruh Darto dan Jaka untuk bekerja sama, sedangkan dia berlari ke belakang untuk menemui prajurit yang masih menunggu keputusan untuk titah selanjutnya.


Raja memacu kuda miliknya secepat mungkin sembari berteriak pada pria yang mengenakan blangkon, "Jika tidak bisa menyingkirkan Raja, aku cukup menyingkirkan rakyatnya! Tidak ada Raja! Jika tidak ada pengikutnya!"


Pria yang mengenakan blangkon tidak bergeming mendengar ancaman Raja, dia justru tersenyum sembari terus menepis serangan bertubi yang Darto dan Jaka lempar. Dia sudah tahu persis kejadian apa yang akan Raja lakukan, justru kejadian itu yang ingin dirinya perlihatkan pada Darto dan Jaka.


"Hey anak muda ... apa kalian setuju jika Raja kalian membunuh semua penduduk yang sudah memberikan kalian tempat tidur semalam?" tanya pria berblangkon pada Darto dan Jaka yang tengah mengepungnya.

__ADS_1


"Apa maksud kakek?" tanya Jaka sembari terus menebas tombak api miliknya. Serangan Jaka benar-benar terus dimentahkan, tanpa banyak usaha dari lawannya.


"Susul saja raja kalian. Lihat sendiri dengan mata kepala kalian," jawab lelaki itu sembari menangkap anak panah yang Darto lepas.


Lelaki itu tidak memberikan serangan sama sekali, dia terus bertahan dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Pertarungan berlangsung cukup lama saat itu, namun tidak ada hasil sama sekali meski Darto dan Jaka terus memadukan serangan demi serangan ganda milik mereka.


Darto dan Jaka yang tidak mempunyai pilihan untuk menang, akhirnya memutuskan untuk menghentikan serangan dan mendengarkan perintah lawannya.


"Kenapa Anda tidak menyerang kami, kek?" tanya Darto sembari menghilangkan panah di tangannya, setelah dia merasa semua usaha yang dirinya lakukan sia-sia. Setelah melihat lawannya tidak memberikan balasan serangan sama sekali, Darto berasumsi jika lawannya bisa diajak berbicara.


"Bukan aku, tapi tindakan kalian yang akan menentukan apakah kalian akan pulang atau mati di sini, semua tindakan kalian menentukan kelulusan kalian," ucap pria berblangkon sembari menatap Jaka dan Darto secara bergantian, kemudian dia menghilang bagai kepulan asap dan tidak terdengar lagi suara darinya.


Darto dan Jaka benar-benar terkejut, mereka langsung saling menatap sembari mencoba menelan ludah meski tercekat di tenggorokan. Mereka tidak menyangka jika akan ada satu orang yang mengetahui tentang keberadaan mereka, bahkan orang itu bisa tahu jika mereka tengah melakukan ujian.


"Dia pemilik gubuk, Jak. Pasti itu dia, tidak ada orang lain yang tahu tentang kebenaran kita," ucap Darto sesaat setelah tertegun, sedangkan Jaka hanya bisa mengangguk dan mencoba menerima asumsi dari Darto.


Setelah itu, Darto dan Jaka kembali menunggangi kuda miliknya, mereka kembali ke perkampungan, namun yang terjadi sungguh diluar perkiraan mereka berdua.


Semua prajurit sudah selesai mengikat setiap warga yang mereka temui. Warga dikumpulkan di satu tempat yang cukup luas, mereka di paksa berjongkok dengan tangan terikat di belakang.


Dari wanita, pria, muda, tua bahkan anak-anak semua dikumpulkan di tempat yang sama, dan menunggu untuk keputusan lanjutan yang akan terucap dari mulut Raja angkuh yang sedang duduk di atas kudanya.


Beberapa bayi dan orang dewasa menangis ketakutan, banyak juga yang tengah memampangkan wajah kebingungan, serta ada juga yang tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Warga yang berjumlah ratusan itu benar-benar menelan sejuta tanya, tentang apa yang akan mereka terima setelahnya.

__ADS_1


Mereka hanya bisa pasrah, menunggu satu kejadian yang akan menentukan hasil ujian dari Darto dan Jaka.


Bersambung ....


__ADS_2