ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
BERTEMU


__ADS_3

Setelah melangkah masuk melewati gapura. Darto melihat puluhan warga yang tengah ramai lalu-lalang di depannya. Mereka tengah memutari sebuah tumpeng besar yang terbuat dari nasi kuning, sembari menunggu acara di mulai.


Tampak semua orang yang Darto temui antusias dengan kegiatan tersebut. Mereka mondar-mandir tanpa tujuan untuk sekedar membuang waktu, hingga suara seseorang tiba-tiba membungkam semua orang di dalam keramaian itu.


Suara tersebut tidak lain adalah suara sesepuh desa yang mulai berbicara menggunakan pengeras suara, dia menyampaikan salam pembuka dan kemudian memanjatkan doa. Semua orang sontak hanya berdiam diri, menundukkan wajah mereka sembari menadahkan telapak tangan mereka. Hanya kata "amin," yang menggema dari semua orang, mereka terus berdoa dengan begitu khusuk kala itu.


Selamatan desa merupakan acara yang selalu digelar setahun sekali. Penduduk mempercayai jika setiap tahunnya harus mengadakan acara tersebut tepat ketika mereka sudah selesai memanen padi. Niat mereka hanya untuk berbagi sebagian hasil panen, untuk mengapresiasikan rasa syukur atas panen melimpah yang mereka alami.


Setelah barisan doa demi doa selesai dilantunkan oleh sesepuh desa. Semua orang berebut meraih segenggam nasi kuning di dalam tumpeng, mereka benar-benar berdesakkan hanya untuk mendapat makanan yang mereka percaya akan membawa berkah kepada siapapun yang meraihnya.


Tak lama setelah itu, barulah sesuatu yang Darto nantikan akhirnya tiba juga. Sebuah pentas seni, yang melibatkan Gending sebagai salah satu penari utama dalam acaranya.


Semua orang tampak penasaran menantikan kecantikan penari yang belum kunjung tiba. Mereka mendapat kabar bahwa tahun ini acara selamatan akan dihadiri oleh penari yang namanya sudah menggema di bidang tersebut.


Dikatakan dalam rumor bahwa kecantikannya merupakan sesuatu yang mungkin akan membuat semua orang lupa dengan pasangan mereka. Hingga akhirnya semua lelaki benar-benar penasaran dibuatnya.


Alunan denting gamelan mulai memecah riuh seluruh penduduk. semua pandangan mulai tertuju kepada barisan orang tua yang sangat piawai memainkan alat musik di tangannya. Dan tak lama setelah suara itu muncul, keluarlah seorang gadis yang cantik nan elok berjalan keluar dari balai desa.

__ADS_1


"Deg deg deg deg deg," jantung Darto memburu, mengiringi suara riuh dari penonton yang mukai bersorak, menyambut kedatangan wanita dengan selendang merah dan jarik hitam tengah berjalan menuju pusat keramaian.


Dengan langkah pelan, wanita itu terus melenggak-lenggok menonjolkan pinggang ramping miliknya. Diiringi alunan musik dari gamelan, wanita elok tersebut akhirnya mulai menari dengan lincahnya. Dia memamerkan tiap lekuk tubuhnya didepan semua pasang mata penonton sore itu.


Darto hanya diam terpaku melihat wanita yang mulai dibanjiri warga, seketika mereka melingkar mengelilinginya. Dia tidak bisa melakukan apapun yang ingin dilakukan sebelumnya, mengingat kerumunan warga begitu antusias melihat aksi Gending saat itu.


Meskipun Darto ragu, akhirnya dia mendekatkan diri menuju barisan paling depan dalam kerumunan itu. Kini jarak dari tempat ia berdiri dan Gending yang tengah menari hanya menyisakan beberapa langkah kaki saja. Darto sesekali mengepalkan tangannya dengan wajah geram yang terpampang, dia mulai dikuasai emosi ketika melihat Gending terus tersenyum memamerkan barisan gigi di depan kerumunan. Sungguh dalam hatinya Darto sudah sangat ingin melompat, sama seperti apa yang Darsa lakukan. Untung saja Darto masih bisa meredakan emosi yang menggebu di dalam hatinya. Dia terus bungkam menyaksikan Gending yang kini mulai memperhatikan dirinya dengan seksama.


Kala itu sesuatu terjadi kepada Darto. Meski riuh ramai suara sorakan penonton begitu menyeruak, ketika tatapan Gending dan Darto bertemu semuanya berubah menjadi hening. Darto hanya melihat semua orang membuka bibir mereka, tampak ekspresi yang menjelaskan mereka tengah berteriak, namun Darto benar-benar tidak bisa mendengar suara mereka sama sekali. Darto benar-benar tuli seketika.


Ketika Gending berputar begitu dekat dengan penonton sembari menari, langkahnya berhenti tepat di depan Darto berdiri. Dia mengalungkan selendang merah miliknya di leher Darto dan menariknya pelan menuju pusat tontonan.


Darto menuruti apapun yang Gending lakukan, hingga akhirnya Darto berhasil ditarik sampai di pusat kerumunan penonton yang tengah melingkarinya. Darto hanya diam, ketika Gending mulai memutari dirinya, dia tidak membuka suara sama sekali menyaksikan Gending yang terus bergelayut manja di depannya. Bahkan beberapa sorakan mengejek sering kali terdengar dari arah kerumunan, mengingat Darto yang tidak bergeming menanggapi gadis cantik yang tengah menari di depannya.


Saat itu Gending seakan tau siapa Darto sebenarnya, dia sengaja menguji Darto ke tengah kerumunan untuk melihat aksi apa yang akan dia lakukan kepadanya. Namun Gending sedikit kecewa mengingat Darto yang bahkan hanya diam saja sedari tadi.


Dalam rasa kesalnya, gending membisikkan sesuatu sembari menari, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Darto dan kemudian berkata "Kamu mirip sekali dengan Darsa."

__ADS_1


Bagai tersambar petir, kali ini mata Darto seakan menggelap. Dia tidak bisa melihat apapun di depannya, dia buta seketika setelah mendengar bisikan dari bibir Gending yang begitu dekat.


Semua orang tampak bingung menyaksikan Darto yang terdiam di tengah keramaian itu, mereka bahkan sempat saling melempar tanya kepada orang di samping mereka, setelah melihat Darto begitu banyak mengeluarkan keringat dari pelipisnya.


"Darto! Bangun, Dar!" Teriak Anto sekencang yang ia bisa. Dia merasa khawatir setelah melihat tatapan kosong Dari mata Darto.


Kesadaran Darto mulai berangsur kembali, dia sedikit merasa tertolong setelah mendengar suara Anto memanggil namanya. Setelah tersadar, Darto menoleh ke arah anto dengan senyum yang mengambang, dia menyeka keringat di pelipisnya kemudian tersenyum manis ke arah Gending yang tengah menari di depannya.


Karena tari lengger sudah dilakukan setiap tahun di desa mereka, semua orang tau jika setiap lelaki yang ditarik ke tengah haruslah menari bersama dengan wanita itu. Setelah sepenuhnya tersadar, Darto tampak berbeda dengan tadi. Dia beranjak mengangkat tangannya kemudian meraih selendang merah yang Gending kenakan.


Saat itu Darto menari dengan begitu gagahnya. Ketika penonton lelaki tertuju pada Gending, semua penonton wanita tak bisa lepas menyaksikan Darto menari bertelanjang dada. Mereka terpaku akan keindahan yang terpancar dari setiap gerakan sederhana yang mereka lakukan.


"Sudah saatnya, kamu bertemu dengan Ibuku. Sampaikan salam rinduku padanya," bisik Darto setelah berhasil menarik selendang yang Gending gunakan. Gending benar-benar terperanjat ketika dirinya terhuyung mendekat ke arah Darto kala itu.


Setelah Darto mengucap kata tersebut, Kilatan petir menyambar tepat ke arah pusat kerumunan. Semua orang langsung panik, mereka seketika membulatkan mata, ketika menyaksikan Gending dan Darto tidak ada lagi di tempatnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2