
Mendengar ucapan Maung dan Komang, Darto dan Jaka langsung mengulum senyum sembari mengangguk. Mereka merasa bisa menghadapi musuhnya, mengingat tempat mereka bertarung kini sudah lebih menguntungkan jika dibanding dengan tempat sebelumnya.
Tidak ada lagi batu panas yang membatasi gerakan kaki mereka, dan juga pemimpin ngengat yang terbang lebih rendah dari saat pertama kali mereka melawannya.
"Jaka ... Kamu urus yang di atas, biar aku urus pemimpinnya lagi," ucap Darto dengan wajah sangat serius.
"Tendang kakiku, Kang," sahut Jaka sembari sedikit melompat.
Mendengar permintaan Jaka, Darto langsung menendang telapak kaki Jaka yang tengah mendarat dari lompatannya. Darto memberikan tolakan pada Jaka dengan tendangan sekuat tenaga, hingga Jaka langsung melambung setelah berpijak pada kaki Darto yang tengah menendang ke atas.
Jaka melesat begitu cepat, hingga dalam sekejap dia sampai di tengah pusaran anak ngengat yang masih terus berputar sembari menebar bubuk, yang bisa meracuni siapa pun yang menghirupnya.
Dalam sekejap Jaka menciptakan tombak berkobar di tangannya, dan melakukan gerakan andalannya. Sama seperti sebelumnya dia memutar senjatanya dengan cepat secara horizontal di atas kepalanya, dia mengayun dengan kecepatan yang gila hingga tampak Jaka memiliki baling-baling di atas kepalanya.
Dalam saru kali putaran tombak milik Jaka, energi merah mencuat dan terlepas dari senjatanya. Energi Jaka benar-benar melesat bagai sebuah tembakan beruntun, dan menghanguskan separuh lebih lawannya dalam sekejap.
Di bawah Jaka melayang, Darto, Maung dan Komang masih menunggu momen yang tepat untuk memberikan serangan. Mereka diam tidak bergeming di bawah hujan abu dari bangkai anakan yang hampir Jaka ratakan. Mereka terus fokus menunggu pemimpin ngengat membuka satu serangan, dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari pergerakan lawan mereka.
"Komang ... tangkap Jaka," ucap Darto tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
Mendengar perintah Darto, Komang langsung merubah tubuhnya menjadi harimau dan berlari ke arah Jaka yang mulai terjun.
"Maung, pancing musuh agar dia menyerang," sambung Darto setelah melihat Komang tengah berlari.
Maung langsung berubah menjadi macan hitam, dia mengaum begitu lantang sebelum akhirnya pergi menuju pemimpin ngengat yang masih terus terbang rendah sembari menjaga jarak.
__ADS_1
Melihat maung yang mendekat dengan kecepatan yang sangat gila, Ngengat raksasa itu terbang dengan kecepatan yang juga tak kasat mata, dia mengelak dengan cara melambung lebih tinggi, agar Maung tidak bisa menggapainya meski sudah melompat dengan sekuat tenaga.
Melihat lawannya melambung, Darto yang sudah memprediksikan hal itu sudah terlebih dahulu memasang posisi siap. Dia sudah berpindah di atas kepala ngengat, bahkan sebelum ngengat itu mengepakkan sayapnya.
Darto dengan cepat menciptakan satu tombak yang begitu panjang, mirip dengan tombak milik Jaka namun warnanya sepenuhnya berbeda. Tombak putih milih Darto secara sempurna menancap di kepala ngengat, senjatanya masuk begitu dalam karena lawannya juga mengarah ke atas tempat dirinya menusuk.
Dalam sekejap Darto berhasil menusuk tombak tersebut, dari pucuk kepala hingga tembus ke leher musuhnya. Akhirnya, satu musuh yang merepotkan berhasil disingkirkan hanya dengan beberapa gerakan.
Tubuh ngengat itu terbakar menjadi debu, kemudian turun ke atas tanah hingga menjadi tumpukan yang menyatu dengan debu anakannya.
Melihat musuhnya sudah binasa, Darto mendarat dari udara dengan tubuh yang begitu lemas, dia mendarat dengan tenaga yang terkuras habis, namun senyumannya mengambang secara sempurna.
Melihat Darto yang mendarat bebas dengan posisi kepala di bawah, Maung dengan sigap melompat dan meraih tubuh Darto tepat sebelum menyentuh tanah.
Dia mendekap Darto kemudian menjadikan tubuhnya sebagai bantalan untuk temannya mendarat. Dalam sekejap mereka tersungkur, dan tergeletak di atas tanah dengan tawa ringan yang keluar dari mulutnya.
"Kamu hebat, Dar. Sekarang kita tinggal cari pemimpin binatang itu," sahut Maung yang juga tidur terlentang setelah berubah wujud menjadi Darto. Dia melakukan gerakan yang sama, tidur dengan menatap langit dengan tangan telentang membiarkan debu menumpuk pada tubuhnya.
Mendengar ucapan Maung, Darto langsung tersenyum dan berkata, "Akan aku ingat bantuan kalian semua."
Mendengar ucapan Darto, Maung hanya bisa tersenyum dan tidak membalas perkataan itu. Dia diam dan menatap langit yang sepenuhnya terhalang abu, hingga dua suara yang dirinya kenal terdengar nyaring dari samping telinganya.
"Maung! Kang Darto!" teriak Jaka yang tengah menunggangi Komang. Dia mendekat sembari melambaikan tangan, dengan wajah sumringah yang terpampang.
"Aku lihat tombak kamu, Kang! Itu sama kaya tombak milikku," ucap Jaka sesaat setelah turun dari tubuh Komang, dia duduk di samping tubuh Darto yang masih tidur telentang, sembari menatap bangga ke arah wajah lawan bicaranya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jaka, Darto kembali tersenyum dan berkata, "Maaf ya, Jak. Aku tidak meniru tombak kamu, tapi meniru tombak sesepuh Surya."
Mendengar pengelakkan Darto, Jaka langsung meruncingkan bibirnya sembari berkata, "Halah ... kaya sudah pernah lihat saja secara langsung."
Mendengar gerutu dari pemuda di sampingnya, bukan hanya Darto yang tertawa, bahkan Maung dan Komang pun ikut hanyut dalam candaan dua lelaki di depannya, hingga tanpa terasa taburan debu yang menjadi hujan sudah habis tak tersisa di atas kepala mereka.
Semua debu sudah sempurna mendarat di atas tanah, menjadikan sebuah hamparan warna abu-abu yang terpampang di atas tanah, di tengah hutan yang sempurna berwarna hitam.
Setelah cukup bertenaga, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan kembali menuju sarang ngengat yang sebelumnya sudah mereka temui. Mereka sengaja kembali ke tempat itu, karen bekal yang Darto dan Jaka bawa masih mereka tinggal di sana.
Setelah sampai, mereka kembali memutuskan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga yang sudah sangat terkuras. Bagaimana tidak lelah? Dalam sehari Darto dan Jaka terus mengayun senjata mereka, dan sudah berhasil mengalahkan dua musuh yang menjadi sosok menakutkan bagi manusia.
Setelah membuka buntalan kain yang mereka bawa, Darto dan Jaka memakan makanan yang sudah dipersiapkan oleh istri-istri mereka, dengan begitu lahap dua lelaki itu menghabiskan semua perbekalannya, dan kemudian berbaring dengan mata terpejam.
Setelah kenyang, Darto dan Jaka benar-benar langsung terlelap, hingga Maung dan Komang yang melihatnya langsung tahu seberapa lelahnya dua manusia di depannya itu.
Melihat dua pemuda di depannya sudah benar-benar terlelap, Maung dan Komang langsung berpencar dan memastikan keadaan sekitar.
Mereka kembali hanya dalam hitungan detik saja, kemudian berunding untuk menentukan jatah jaga. Setelah kesepakatan tercipta, akhirnya Komang terlebih dahulu menyusul dua pemuda di depannya. Dia meringkuk dalam wujud harimau jawa, kemudian ikut tertidur yang memulihkan tenaga.
Sedangkan Maung dia merubah wujudnya menjadi Jaka, dan bertengger di atas dahan pohon hitam sembari memasang mata ke sekeliling mereka. Dia berjaga sepanjang waktu, untuk menghindari serangan kejutan yang mungkin saja bisa terjadi secara tiba-tiba.
Setelah cukup lama, Maung membangunkan Komang dan meminta untuk bergantian berjaga. Dia juga merasakan rasa lelah yang sama karena sudah terus menerus berlari ketika mengalihkan pengejaran ngengat.
Setelah Komang bangun, Maung langsung terbaring dengan wujud meniru Jaka, dia tidur tepat di sebelah Jaka dan membiarkan Komang untuk menjaga mereka.
__ADS_1
Hari itu, pertarungan yang melelahkan benar-benar sudah berhasil di lewati, mereka semua beristirahat dengan perasaan lega, yang dapat terlihat jelas pada satu hal yang terpampang begitu kentara. Sudut bibir mereka benar-benar melengkung sempurna, ketika mata mereka terpejam dalam lelapnya.
Bersambung ....