
"Ha ha ha ha ha!" Pria itu tertawa begitu lantang. Suaranya benar-benar bagai gemuruh, yang menggema--memantul dari sudut ke sudut ruangan, "Tahan dulu seranganku yang satu ini, anak muda!"
Lelaki itu benar-benar menciptakan pedang yang tidak terhitung jumlahnya. Puluhan pedang secara tiba-tiba sudah hadir di atas kepalanya, kemudian melesat dengan kecepatan gila menuju ke arah yang sama.
Pedang tersebut menuju ke arah dimana Darto tengah berdiri, sembari menggenggam satu bilah pedang padat di tangan kanannya.
Melihat serangan tiba-tiba tersebut, Darto langsung berpindah menggunakan teknik lempit miliknya.
Namun pedang yang mengarah pada dirinya juga ikut membelokkan tujuannya, mereka semua mengejar Darto, dan tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuannya.
Saat itu Darto terus menerus berpindah, dia menciptakan satu pedang lain di tangannya, kemudian terus mengalirkan energi miliknya untuk melapisi pedang yang baru saja ia ciptakan.
Darto benar-benar berlari sembari menempa, dia terus menggunakan teknik lempit untuk waktu yang cukup lama.
Dan tiba saatnya pedang di tangan kirinya sudah memiliki kepadatan yang sama, Darto langsung menebas satu persatu pedang yang tengah mengarah pada dirinya.
Menebas membentuk silang, berputar, bahkan jungkir balik sembari mengayun senjata rela Darto lakukan untuk menghabisi satu persatu pedang yang tengah mengancam kehidupannya.
Dalam hitungan detik saja, Darto benar-benar bisa mematahkan semua pedang yang tengah mengarah padanya, menggunakan dua pedang yang tengah dirinya genggam, di kedua telapak tangannya dengan begitu erat.
"Baiklah, aku mengaku kalah anak muda ... sebelumnya siapa namamu?" tanya pria tersebut sembari duduk bersila.
"Nama saya Darto ... kalau kamu?" Darto kembali bertanya.
"Aku Brahmana," jawabnya singkat.
Bulu kuduk Darto seketika berdiri ketika mendengar nama tersebut. Dia mengingat tragedi yang pernah dirinya saksikan ketika tengah melakukan ujian dari Eyang Semar.
"Tu tunggu ... Brahmana putra Ki Gandar?!" Darto tergagap.
"Hah ..." Brahmana menghembuskan nafas kasar, "Pasti Eyang Semar!" sambungnya lagi dengan nada menggerutu.
Brahmana benar-benar tahu, jika hanya Eyang Semar yang bisa menunjukkan kejadian itu, karena memang hanya Eyang Semar yang tahu dan menyaksikan tragedi berdarah di saat itu.
"Kamu kenal Eyang Semar? Dan kamu benar-benar Brahmana adik Amerta?" tanya Darto kembali.
"Iya ... Siapa yang tidak kenal Eyang Semar?" Jawabnya sembari menggeleng kepala, "Dan juga iya ... Aku Brahmana anak ke dua dari Ki Gandar. Kamu sudah bertemu ayahku?" tanya Brahmana kembali.
__ADS_1
"Sudah ... Tapi maaf, aku tidak bisa menyelamatkannya," ucap Darto sendu.
"Bagaimana penduduk desa?" tanya Brahmana.
"Mereka bahkan memohon untuk dibunuh, begitu juga Ki Gandar," sahut Darto sembari tertunduk.
"Terimakasih, Dar ... sebenarnya ku juga ingin membunuh mereka, untuk menyelamatkan mereka," Brahmana mulai menunjukkan mata yang berkaca, "Tapi ... Meskipun aku tidak dikekang oleh mahluk itu, aku tetap tidak akan pernah mampu mengarahkan pedangku pada ayahku."
"Sekarang mereka mungkin sudah tenang ... mereka sudah ada di tempat yang seharusnya," Darto mencoba menguatkan.
"Ya ... kamu benar, Dar. Aku sempat bertemu keturunanku, dia memperkenalkan tuhan miliknya, dan aku menyembah dzat yang sama setelahnya, dia berkata akan ada saat kita dihidupkan setelah mati" jawab Brahmana.
"Kamu benar, Eyang," jawab Darto.
"Eyang?" Brahmana kebingungan, "Kamu panggil Kanti dengan julukan Si Mbok. Sekarang kamu panggil aku Eyang?" sambungnya sembari terkekeh.
"Aku masih keturunan Eyang Darma, mungkin dia yang memperkenalkan Islam pada Eyang, karena aku tahu jika Eyang Darma masih memiliki darah Eyang," sahut Darto sembari tersenyum.
"Kamu cucu Darma?!" Brahmana semakin terkejut.
"Bukan ... Aku terlahir pada era yang berbeda, tapi energi kita masih sama. Entah itu Si Mbah, Bapak dan bahkan anakku masih membawa energi yang sama seperti energi milik pendahulunya," wajah Darto mulai berkaca setelah mengingat keluarga yang masih maupun yang sudah tidak bisa dijumpai lagi.
"Tidak masalah, Eyang. Sekarang aku tahu cara yang lebih bagus untuk memakai kekuatanku," ucap Darto sembari menciptakan pedang yang begitu banyak diatas kepalanya.
Pedang yang tidak kalah jumlahnya, dengan pedang yang tadi diarahkan oleh Brahmana untuk menyerangnya.
"Hebat! Kamu bisa meniru hanya dengan sekali lihat!" teriak Brahmana dengan mata berbinar. Dia bahkan sampai memegangi pundak dan menggoyang tubuh Darto tanpa sadar.
"Sekarang tolong ceritakan semuanya, Eyang," pinta Darto masih dengan tubuh yang terus diguncang.
"Ah sebelumnya biarkan temanmu sampai di sini lebih dahulu. Mereka sudah dekat," ucap Brahmana.
Mendengar itu, Darto langsung mengangguk, mereka berbincang banyak hal, disela menunggu kedatangan lima teman yang tengah mendekat.
Benar saja, hanya berselang beberapa menit, lima teman Darto sudah sampai di tempat dimana Darto dan Brahmana tengah berbincang.
Mereka datang dengan wajah keheranan, melihat dua lelaki yang tengah terbahak, di tempat yang sama sekali tidak mereka kenal.
__ADS_1
"Siapa dia, Dar?" tanya Maung berbisik, dibarengi anggukan kepala dari empat teman lainnya.
"Saya Brahmana, bisa dibilang saya kakek moyangnya Darto," jawab Brahmana setelah mendengar bisikan Maung.
Lima pria yang datang terakhir benar-benar tertegun, mereka tidak bisa membuka suara, karena terkejut mendengar kebenaran yang sangat tidak terduga.
"Se sebentar, Mbah ... Si Mbah adik Eyang Amerta?" Ucap Jaka terbata.
"Hoo ... Ada penerus kakakku di sini," ucap Brahmana sembari menatap tajam tubuh Jaka, "Kalian hebat, aku tidak menyangka kalian bisa melewati penghalang yang aku ciptakan, bahkan tangan kanan iblis itu akan berfikir tiga kali untuk memasuki kamar ini," sambungnya.
Jaka benar-benar terkejut mendengar hal tersebut, dia tidak menyangka akan bertemu sosok pendahulu, yang sudah pernah dirinya lihat bersama Darto dalam ujian.
"Jadi? Kenapa bisa Eyang di sini?" Tanya Darto kembali.
"Sebentar ... " Ucap Brahmana sembari berdiri, dia bergegas melangkah ke pusat ruangan, kemudian kembali memejamkan mata setelah duduk bersila.
Darto dan lima temannya hanya bisa melihat, mereka tidak berani membuka suara, dan memilih untuk menunggu.
"Apa yang Eyang lakukan?" tanya Darto setelah Brahmana membuka mata.
"Saya cuma memastikan, tidak ada mahluk lain disekitar sini. Saya juga menambah penghalang , jadi kalian aman untuk sementara di sini," ucap Brahmana, "Sekarang kamu bisa keluarkan Abirama dan Kanti," sambung Brahmana sembari menatap cincin di tangan Darto.
Darto kembali terkejut ketika Brahmana mengetahui jika Kanti dan Abirama berada di cincin miliknya. Namun meski begitu, dia tidak meminta penjelasan sama sekali, dan langsung memanggil dua sosok yang tengah singgah di dalam cincin miliknya.
"Sudah kuduga, Dar. Kamu pasti diakui oleh Brahmana," ucap Kanti sesaat setelah keluar.
"Teknik yang aku ajarkan tidak sia-sia kan, Dar?" tanya Abirama dengan senyum menyombong.
"Semua teknik akan bagus kalau penggunanya pintar, Bi. Teknik yang bagus bakalan jadi teknik sampah kalau jatuh di tangan orang yang salah," Abirama mengejek.
"Kalian saling kenal? Darto benar-benar keheranan.
"Kami teman seperjuangan, Dar," jawab Kanti, Amerta dan juga Abirama secara serentak.
Mereka benar-benar menyimpan rapi setiap rahasia besar. Hingga bahkan teman dan keluarganya pun tidak diberi tahukan.
Saat itu, akan ada setitik cahaya yang menerangi jalan kelam yang tengah Darto dan juga lima kawannya tempuh.
__ADS_1
Tiga sosok yang kini tengah duduk di depan mereka, akan menjawab setiap rasa penasaran yang enam pria itu miliki.
Bersambung ....