ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TANPA CURIGA


__ADS_3

"Begini, Dar. Saya dapat informasi dari perempuan yang tinggal di pohon nangka dekat rumahku, dia berbicara panjang tentang Jaka," ucap Ki Karta membuka perbincangan.


"Jadi benar, Ki? Kalau Jaka semalam lihat penampakan?" Jawab Darto.


"Sep.. Jang.. Kalian sebaiknya pulang saja dulu, Ya? Ini bukan cerita yang bisa kalian dengarkan," ucap Ki Karta sembari menoleh pada dua pemuda yang masih memasang telinga.


Mendengar itu Asep dan Ujang langsung pamit, sebenarnya mereka juga tidak ingin mendengar apapun tentang pembahasan yang berbau hantu. Mereka takut karena mereka hanya orang biasa, dan mereka tidak ingin bertemu dengan sesuatu yang menurut mereka menyeramkan. Jadi saat itu juga mereka menyanggupi permintaan Ki Karta dan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Ketika Asep dan Ujang sudah pergi meninggalkan rumah, ki Karta langsung membuka suara "Sepertinya Jaka punya sesuatu, Dar. Dan penduduk sebelah sangat menginginkan sesuatu yang sedang bersemayam didalam tubuhnya."


"Apa itu, Ki?" Sahut Jaka dengan wajah yang memucat.


"Sebentar, Jak. Biarkan saya berbicara dulu dengan Ki Karta," ucap Darto menimpali Jaka, dia kemudian bertanya pada Ki Karta "Apa maksud Ki Karta energi miliknya?"


Ki Karta benar-benar terkejut mendengar perkataan Darto. Dia sama sekali tidak mengira jika Darto sudah tahu tentang apa yang akan dirinya ucapkan. Dalam rasa heran Ki Karta menjawab pertanyaan Darto dengan sebuah Pertanyaan juga "Kamu sudah Tau?"


"Semalam saya merasakan hawa mencekik di rumah ini. Saya ketuk pintu Ki Karta, tapi tidak ada jawaban, dan pas saya masuk ke kamar Jaka dia sedang mengambang dengan tubuh yang menyala. Warnanya merah, Ki," jawab Darto sembari menatap nanar ke arah Ki Karta.


"Mungkin benar yang di katakan penghuni pohon samping rumah. Dia berkata jika energi di tubuh Jaka sebenarnya bukan energi murni milik tubuh Jaka," sambung Ki Karta sembari mendongak, dia mencoba menemukan jawaban dari teka-teki yang kini tengah mereka hadapi.

__ADS_1


"Tapi, setidaknya itu tidak melukai Jaka, Ki. Dia baik-baik saja, dan dia juga tidak merasakan apa-apa. Saya bisa berasumsi jika itu tidak berbahaya," sambung Darto sembari menoleh ke arah Jaka.


"Tapi perempuan yang menemui saya berkata jika energi miliknya memiliki aroma yang begitu kuat, Dar. Akan bahaya jika Jaka tidak sedang bersama kamu," sahut Ki Karta.


"Tenang saja, Ki. Nanti setelah di pesantren saya akan minta persetujuan Abah Ramli, supaya Jaka terus ikut dengan saya sementara waktu," jawab Darto kemudian menoleh ke arah Jaka "Kamu nggak papa kan? Kalau enggak ikut Sesepuh kamu?"


Mendengar itu, Jaka langsung mengangguk, dia setuju dengan usulan Darto, karena dia juga merasa sangat aman jika sedang berada di samping Darto.


"Tapi aku heran, Dar. Sebenarnya energi apa yang dia punya," ucap Ki Karta.


"Warnanya sama dengan rantai yang mengikat dia sebelumnya, Ki. Itu energi yang tidak lemah. Saya sedikit tahu gambaran jelasnya, tapi saya masih belum yakin," jawab Darto.


"Gambaran apa, Kang?" Timpal Jaka.


Jaka sedikit kebingungan, namun dia tidak mempunyai pilihan. Akhirnya dia mengangguk kembali untuk menuruti permintaan Darto untuk kembali meneruskan perjalanan.


"Yasudah, Dar. Kalau kamu sudah menentukan, saya cuma bisa membantu dengan doa. Semoga semuanya cepat teratasi," sambung Ki Karta.


"Amin, Ki. Tapi saya berniat menginap lagi di sini malam ini, boleh Kan?" Ucap Darto.

__ADS_1


"Menginap saja sesukamu, anggap rumah sendiri Dar. Lagian aku sendirian di sini," jawab Ki Karta kemudian bergegas masuk menuju ruang sebelahnya.


Percakapan pun akhirnya selesai. Belum ada titik terang dari masalah yang menimpali Jaka. Namun bagi Darto yang tau sedikit gambaran jelasnya, dia malah justru merasa senang dengan sesuatu yang tengah menimpa Jaka di depannya. Darto bahkan terus menerus mencoba menguatkan hati Jaka dengan sebuah kata, dan beruntungnya Jaka mudah sekali dirayu maupun diberi saran. Dia selalu mendengarkan apapun yang Darto ucap maupun pinta, hingga Darto benar-benar bisa merasa lega.


"Kamu tidur dulu, Jak. Saya tahu kamu ngantuk, nanti sore kita lihat air terjun yang bagus banget. Rugi kalau sudah sampai di sini tapi enggak lihat air terjun itu," ucap Darto kemudian bergegas keluar rumah, dia bermaksud berkeliling kampung ijuk, untuk menemui semua penduduk hanya untuk memperkenalkan istrinya.


Jaka langsung pergi ke kamarnya, karena semalam dia terus terjaga, pagi ini dia langsung terlelap ketika baru saja membaringkan tubuhnya. Sedangkan Darto sedang mengunjungi satu persatu rumah yang tidak jauh dari rumah Ki Karta, dia terus menyanggupi ajakan seluruh Warga yang menyuruhnya singgah, hingga akhirnya dia berhenti di rumah Asep yang pernah dia gunakan untuk menginap.


"Mau berapa hari di sini, Dar?" Tanya Asep singkat sembari menyodorkan dua gelas teh di atas nampan.


"Besok pulang, Sep. Nanti ajak Ujang juga ya, saya mau main ke air terjun sama Jaka. Kamu mau ikut, Kan?" Jawab Darto singkat.


"Boleh, Dar. Nanti saya samperin Ujang, kalau begitu ini diminum dulu," sahut Asep sembari mendorong nampan mendekat ke arah Darto dan Harti.


Setelah itu mereka hanya bergurau seperti semestinya, tidak lama kemudian Ujang datang tanpa disangka, dia bahkan membawa empat buah kelapa muda yang baru dia petik di kebunnya. Darto benar-benar senang melihat apa yang Ujang bawa, karena dia jarang sekali memakan maupun meminum kelapa muda di kampung maupun di pesantren. Dia jadi meminta Ujang untuk membawa kelapa itu ke rumah Ki Karta ketika hendak mengunjungi air terjun. Darto tidak memakan kelapa itu saat ini, karena dia ingin Jaka ikut memakan Kelapa tersebut.


Singkat cerita hari sudah sore, sehabis shalat ashar mereka memakan kelapa muda hasil panen Ujang di rumah Ki Karta, sebelum akhirnya mereka semua berjalan beriringan menuju air terjun, sebuah tempat yang sempat menjadi saksi bisu dari momentum pertarungan sengit, antara Darto dengan dua ular di hari lampau. Tidak ada wajah gelisah, tidak ada rasa takut, keadaan kampung ijuk benar-benar berbanding terbalik dengan kondisi ketika pertama kali Darto datang.


Tidak lama setelah mereka sampai di air terjun. Jaka, Ujang, Asep, Darto bahkan Harti langsung terjun ke arah arus untuk membasuh diri. Mereka mandi dengan pakaian yang masih melekat di badan mereka sore itu, ditemani Ki Karta yang terus mengawasi mereka Dari tepi.

__ADS_1


Hari ini, Darto sangat senang, di satu sisi dia bisa menghabiskan waktu dengan semua orang dekat tanpa merasa was-was, ditambah Darto juga merasa lega mengingat dia akan mendapat satu bantuan yang mungkin akan sangat berpengaruh dari energi milik Jaka. Darto tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dari wajahnya, dia terus tersenyum lebar, meski saat ini ada sesuatu yang tengah memperhatikan dirinya, dari balik semak yang memenuhi segala sisi tepi air terjun tersebut.


Bersambung,-


__ADS_2