
Seminggu sudah berlalu, orang tua Harti sudah selesai membawa barang dari rumah kontrakan yang lama, bahkan Harti juga ikut singgah di rumah Kakung yang tidak pernah di pakai itu.
Karena perpindahan keluarga Harti ke dalam pesantren, kabar tentang pertunangan cucu semata wayang Pak Kyai pun menyebar sangat cepat bagai wabah. Banyak yang memberi selamat atas hubungan baru Darto dan Harti, namun ada pula sebagian yang menggunjing mereka, terutama lelaki yang sudah naksir sama Harti, dan juga santri putri yang menyimpan rasa kepada Darto. Untungnya tidak ada masalah berarti yang timbul sejauh ini, semuanya berjalan lancar tanpa hambatan apapun.
...***...
Shalat jamaah dzuhur sudah selesai Darto tunaikan, seperti biasa, dia pulang sekedar mengambil kitab suci yang sudah setia menemani dirinya. kemudian melanjutkan pergi menuju danau, tempat favorit Darto, karena sunyi, tempat itu sangat cocok untuk Darto yang hendak menghafal ayat demi ayat setiap harinya.
Hari ini cukup spesial bagi Darto. Dalam setahun, Darto hanya mendapat libur berpuasa beberapa hari saja. Menurut penjelasan Kakung, ada lima hari yang di haramkan untuk berpuasa, selain berpuasa selamanya. Yaitu Idul Fitri dan Adha. Selain itu hari jum'at dan sabtu, namun untuk hari jum'at bisa di halalkan dengan cara berpuasa sebelum dan sesudah hari jum'at seperti yang di ajarkan nabi Muhammad S.A.W. Dari situ, dua hari yang di haramkan sudah menjadi halal, karena Darto selalu berpuasa setiap hari. Agar Darto tidak berpuasa selamanya Darto mendapat libur ketika hari Syak, alias hari penghujung sya'ban yang biasa dimulai sejak 3 hari sebelum bulan ramadhan.
Hari ini adalah hari awal Syak, Darto pergi menuju danau membawa tambahan, Yang biasa hanya membawa Al-Qur'an, kali ini dia membawa senar dan pancing juga di saku celananya, tak lupa juga korek dan sebungkus rokok di saku sebelahnya.
Tak butuh waktu lama, Darto sudah menyibak hutan yang memisah pesantren dan danau. Langsung dia duduk di bawah pohon favoritnya dan menghafal kumpulan ayat yang dia targetkan. kemudian Darto tenggelam seketika dalam fokusnya, yang membuatnya tidak menggubris waktu yang kini sudah kunjung sore.
"Gus!" teriak salah satu temannya yang menyusul ke danau membawa sebuah kantong hitam.
"Ada apa Din?"
"Sudah solat ashar belum? ini kalau belum saya bawa sarung bersih sama sajadah" Bidin menyodorkan kantung plastik itu kepada Darto.
Bergegas Darto menunaikan shalat Ashar di atas batu di samping danau.
"Din, Aku mau mancing, ikut nggak?" tawar Darto sembari mengembalikan sarung dan sajadah yang sudah selesai dia kenakan.
"Ayok Gus, tapi saya nggak bawa pancingan,"
"Kamu cari kayu bakar saja, nanti ikannya kita bakar di sini" jawab Darto melangkah pergi menuju pohon pisang yang berdiri di dekatnya. Darto mengais tanah di bawahnya, kemudian di susul Bidin membantu mencari umpan di situ.
Cacing sudah lumayan banyak terkumpul di atas daun talas, mereka berdua segera menuju ke arah danau.
__ADS_1
"Kamu enggak puasa Gus?" tanya Bidin yang melihat Darto yang tengah memancing sembari merokok.
"Libur sampai ramadhan Din, makanya aku mancing hehehe,"
"Aneh lihat Gus Darto ngerokok sore-sore, biasanya lagi lemes-lemesnya hahaha, sini gus saya minta satu, saya sengaja enggak bawa rokok mau menghormati puasanya Gus Darto,"
Bidin meraih sebatang rokok di dalam bungkus yang sengaja Darto dekatkan.
"Halah! alasan kamu Din, mana pernah kamu beli rokok pas ngumpul-ngumpul!" jawab Darto yang seketika memancing gelak tawa mereka berdua.
"Din.! dapet Din.!" teriak Darto dari atas batu, yang kemudian di jawab dengan lompatan kecil Bidin menuju tepi danau hendak meraih ikan yang sudah terjerat.
"Gede banget Gus.!" Bidin membawa ikan mas seukuran paha, yang terus menggeliat di pelukannya.
"Ealah pantas berat banget din, tanganku sampai lecet narik senarnya, ikannya segede bayi gitu, hahahaha!" Darto tertawa melihat ukuran ikan yang tengah di gendong temannya itu.
"Ajak Harti sekalian, sama Kakung kalau mau,"
jawab Dadto sekenanya.
"Ehem, ceritanya mau latihan ngasih nafkah ni Gus?" tanya ledek Bidin.Tanpa menunggu jawaban dia langsung berlari, menghindari ceramah dari Darto.
"Dasar, awas aja kamu Din, nanti tak kasih kepalanya doang!" gerutu Darto yang tengah menunggu sendirian di samping danau tersebut.
Sembari menunggu kedatangan temannya. Darto kembali melempar kail miliknya ke dalam danau. Nasibnya sangat mujur kali ini, baru beberapa detik di lempar, ikan langsung menyambar dari dalam danau. Kali ini, tarikan ikan lebih berat dari ikan pertama yang dia dapat, pikiran Darto terus menerka penasaran dibuatnya, sebesar apa ikan yang hendak dia dapat. Sedangkan yang pertama dia dapat saja sudah sebesar bayi.
Keringat mengucur di pelipis Darto, telapak tangannya bahkan sampai berdarah karena gesekan senar ketika tarik ulur dengan ikan tersebut. Sudah cukup lama Darto berusaha membawa ikan tersebut menepi, namun usahanya belum membuahkan hasil.
Ketiga temannya sudah adatang, ikan yang memakan umpan belum berhasil Darto tarik ke tepi. Lantas Darto meminta Bidin dan Surip untuk bergantian menarik ikan tersebut.
__ADS_1
"Jangan-jangan buaya Mas!" celetuk Harti yang tengah menyalakan kayu bakar disebelah Darto yang tengah beristirahat.
"Mana ada buaya di danau Dek?!" jawab Darto sekenanya, tanpa Darto sadari pipi Harti mulai memerah, karena belum terbiasa di panggil dengan sebutan 'Dek'.
"Kata siapa Mas? buktinya di pesantren ada buaya, udah punya tunangan tapi masih mau aja di kasih nasi goreng sama si Siti!" Harti ngedumel, bibirnya maju. Dia cemburu karena semalam Darto mendapat makanan buka puasa dari seorang santri putri.
"Kan aku enggak minta Dek, lagian Mubadzir kalau di tolak," jawab Darto seenaknya.
"Hilih, siapa si yang bilang kalau buayanya itu kamu Mas" jangan kepedean deh!" Harti masih memasang wajah jutek.
"Aduduh, Adeknya Mas lagi cemburu, jadi pengen cepet-cepet lulus. Biar bisa tak hih! kalau lagi cemburu," rayu Darto berhasil membuyarkan rasa cemburu di dada Harti.
"Apa sih! sini biar Harti yang urus ikannya, nanti kalau sudah masak Harti panggil kalian bertiga, Mas bantu saja Surip sama Bidin di sana!" ucapnya malu-malu.
Darto kembali membantu kedua temannya, tak beda jauh, mereka berdua pun sudah berkeringat. Kembali Darto raih senar pancingnya, dia tarik sekencang yang dia bisa. namun sama saja, tarikan ikan lebih bertenaga dibanding tarikan dari ketiga pemuda itu. Sungguh mereka sangat penasaran, ikan sebesar apa yang akan mereka dapat.
"Gus.. ini si gila, itu Harti sudah manggil, ikannya sudah matang katanya. Kita ikat saja dulu di pohon, nanti pas ikannya sudah capek kita tarik lagi," ucap Surip sembari menyeka keringat di pelipisnya.
Mereka pun berbondong menuju tempat Harti, ikan matang sudah tergeletak rapi di atas daun pisang. Tanpa menunggu aba-aba, ke empat remaja itu beradu kesigapan saat mencomot secuil demi secuil daging. Hingga menyisakan tulang belulangnya saja dalam sekejap.
"Mari Gus, kita tarik lagi, sudah mau gelap, ikannya kita bawa pulang kalau kena,"
Ajak Bidin kemudian kembali mereka meraih benang yang terikat di pohon. Kemudian kembali mereka bertiga bergantian menarik senar sekencangnya.
Tak seperti tadi, tarikan ikan tidak beringas lagi. Dirasa ikan berangsur menepi, Surip dan Bidin sangat sigap menanggapi isyarat Darto yang menyuruh mereka untuk menunggu di tepi. Dengan penuh rasa penasaran Surip dan Bidin menjulurkan tangan mereka masuk ke dalam air danau yang kini menjadi keruh akibat benda yang terjerat kail terus meronta di dalam air cetek. Namun Sayang, yang di angkat bukanlah ikan besar seperti harapan mereka. Melainkan kepala manusia, utuh dengan rambut panjangnya.
Bersambung,-
jangan lupa dukungannya kak 😁
__ADS_1