
Setelah semuanya berkumpul, sepuluh pria dan satu wanita menyusun sebuah rencana di dalam rumah Ki Guntur. Mereka saling bertukar pikiran, untuk saling memberikan jalan yang mungkin akan Darto dan Jaka lewati kedepannya.
"Maaf... Sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan Ki," ucap Darto ingin melepaskan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Aku tahu apa yang membuat kamu penasaran. Sekarang mumpung kalian berkumpul di sini, aku akan ceritakan semua yang kalian tanyakan. Silahkan siapa yang mau bertanya lebih dahulu," jawab Ki Guntur sembari menatap Darto dan lima temannya secara bergantian.
"Bagaimana ada manusia di dalam kamar Ki Guntur?" Darto mengawali pertanyaan.
"Kamar nomor dua terhubung dengan dunia kalian, Dar. Iblis itu membuat dinding tipis, agar manusia bisa tersesat dan masuk ke sini. Itu kenapa aku menutup kebocoran dinding dengan menciptakan dunia gelap yang berisi ratusan anjing peliharaan punyaku," jawab Ki Guntur.
"Lalu kenapa Ki Guntur menyuruh teman-temanku tinggal?" Jaka bertanya.
"Kami menjaga dinding, Jak. Itu yang Ki Guntur perintah. Kita disuruh ambil tugas para anjing buat ngusir manusia yang nyasar ke dalam kamar," jawab Komang.
"Benar, Nak Jaka. Kalau manusia sudah masuk sampai melewati hutan, jalan satu-satunya buat mereka kembali harus lewat depan. Dulu cuma ada empat orang yang masuk ke sini, sekarang keturunan mereka sudah kalian lihat sendiri seberapa banyak," sambung Ki Guntur.
"Kalian tahu sendiri kan? Kalau manusia masuk ke alas getih, pasti jadi santapan anak buah iblis itu," timpal Amerta.
"Itu kenapa aku sembunyikan mereka di sini, mungkin setiap pemilik kamar punya jalan keluar, tapi anak buah mereka tidak akan pernah membiarkan manusia lewat, sampai ke pintu belakang," Ki Guntur kembali berbicara.
Darto dan Jaka kembali mengangguk, mereka tahu jika manusia harus melewati tempat berbahaya tersebut, pasti mereka langsung mati hanya dalam beberapa menit saja.
Bagaimana bisa manusia biasa menyusuri hutan darah? Sedangkan di dalam kampung tulang juga begitu banyak penghuninya.
Mereka benar-benar bagaikan makanan berjalan, yang harus melewati kandang pemangsa, meski hanya untuk kembali menemui keluarganya.
Setelah semua pertanyaan terjawab, Ki Guntur kembali membuka suaranya, "Jika kalian selamat, bisa kalian bawa orang-orang itu keluar?"
"Tidak hanya keluar, aku bisa memberi mereka tempat tinggal, tapi tidak untuk biaya hidup mereka," Darto menjawab sembari mendongak, dia mengingat rumah milik Mbah Turahmin, yang sudah dirinya beli bersama seluruh sawah yang mengitari rumah tersebut .
"Itu urusan gampang, Kang. Uang Jaka tidak sedikit, mereka mungkin bisa mulai usaha kalau Jaka bagi," timpal Jaka.
"Tidak usah, Jak. Lagian kalau cuma buat modal, aku juga punya banyak benda yang dikasih sama Mbok Kanti waktu dulu aku nikah," jawab Darto sembari menatap Kanti.
Kanti tersenyum melihat lirikan Darto, dia kemudian berkata, "Urusan uang jangan kalian ributkan, sekarang kalian harus selamat dulu biar bisa menolong mereka."
"Sekarang aku mau minta tolong sama kalian semua. Mungkin ini gila, tapi cuma ini satu-satunya cara yang Darto punya," ucap Ki Guntur.
Semua orang langsung menoleh ke arahnya, sedangkan Darto langsung bertanya, "Apa cara yang Ki Guntur maksudkan?"
__ADS_1
"Kalian sudah setuju, Kan?" Tanya Ki Guntur kepada Sastro, Wajana, Maung dan Komang.
Empat teman Darto langsung mengangguk, mereka sudah menyusun rencana, ketika tengah menjaga dinding pemisah kamar dengan dunia nyata.
"Amerta... Kanti... Brahmana... Abirama... Kalian tau kan apa yang bisa dilakukan anak ini?" ki Guntur menunjuk ke arah Jaka, dan langsung mendapatkan jawaban anggukan kepala dari mereka semua.
"Lakukan saja, toh kalau aku mati, setidaknya aku bisa ketemu sama Si Mbok... Iya, kan? Brahmana?" tanya Amerta sembari menoleh ke arah Brahmana.
"Boleh juga, lagian aku sudah berjanji akan membantu mereka," Brahmana tersenyum lebar.
"Aku juga tidak masalah," Abirama menimpali.
"Mulai saja sekarang," sahut Kanti dengan tatapan yang sangat yakin.
"Baiklah, kalau begitu aku juga sudah siap kalau mereka mau menampung penduduk kamar ini. Sekarang lakukan, Jak," ucap Ki Guntur berhasil membuat Darto dan Jaka kebingungan.
"Apa maksudnya, Ki?" Jaka masih belum mengerti.
"Kuras energi kami," semua orang selain Darto dan kelima temannya mengucapkan kata tersebut. Mereka berbicara serentak, dengan tatapan lurus yang menggambarkan rasa percaya diri.
Darto yang tahu persis tentang maksud dari perkataan tersebut, langsung menolak mentah-mentah rencana gila tersebut.
"Itu satu-satunya jalan, Dar. Aku sudah berjanji akan membantu kamu sebisa mungkin," jawab Abirama dibarengi anggukan kepala yang lainnya.
Untuk sesaat Darto menunduk, pandangannya terbanting ke atas tanah, kemudian dia menatap semua sorot mata yang tidak bergetar sama sekali di depan wajahnya.
"Lakukan, Jak... Biar aku jadi yang pertama," ucap Ki Guntur.
Jaka sedikit ragu, dia tidak berani melakukan tindakan, karena Darto masih terus memasang wajah yang tidak sedap dipandang.
"Kami sudah terkurung sangat lama di sini, aku juga ingin bertemu dengan keluarga kami. Satu-satunya orang yang bisa melepas kekangan kami cuma teman kamu," ucap Brahmana sendu.
Mendengar hal tersebut, Darto mulai bimbang. Dia merasa bersalah, namun dia tidak bisa memberikan jalan yang lain untuk mereka.
Dengan rasa yang begitu berat, Darto menatap sendu ke arah Jaka kemudian menganggukkan kepala dan berkata, "Lakukan apa yang mereka minta, Jak."
Bulir bening langsung mengalir dari sudut mata Darto, dia merasa sangat berat, untuk mengikuti rencana tersebut. Namun meski begitu dia hanya memiliki satu pilihan, agar dia punya kesempatan untuk mengakhiri pertempurannya.
"Cepat, Jak!" paksa Ki Guntur.
__ADS_1
Jaka langsung memegang lengan Ki Guntur, dia memegang erat dengan tangan bergetar, Kemudian menarik energi yang ada di dalam tubuh Ki Guntur secara perlahan.
Energi milik Ki Guntur benar-benar tertarik dari tubuhnya, kabut berwarna hitam perlahan merambat menuju lengan Jaka, kemudian masuk ke dalam tubuh Jaka melalui setiap pori-pori kulitnya.
Ketika tubuh Ki Guntur mulai menipis, dia mulai membuka suara dengan tenaga yang tersisa, dengan senyum yang begitu tulus dia menatap Darto kemudian berkata, "Darto... Terimakasih."
Telah mengucap kata tersebut, tubuh Ki Guntur benar-benar lenyap karena dia merupakan mahluk tanpa raga.
Yang tersisa dari tubuh ki Guntur hanyalah sebuah rantai, yang tiba-tiba tergeletak di atas tanah.
Rantai yang sama seperti rantai yang pernah melilit leher Jaka, yang merupakan satu pengekang yang sudah melilit tubuh Ki Guntur begitu lama.
Darto memungut rantai tersebut dari atas tanah. Dia menatap semua temannya dengan mata sembab, kemudian berkata sembari meremas rantai di tangannya, "Aku tidak akan pernah melupakan kalian. Biar aku pikul semuanya di atas pundak kurus milikku ini."
Tubuh Jaka benar-benar bersinar sagat terang. Yang semula hanya ada energi berwarna merah seperti warna pengekang, kini mulai memancarkan warna hitam di sela-selanya.
"Sekarang giliran siapa? Yang jelas aku yang terakhir. Ada yang perlu aku ajarkan pada Jaka untuk melakukan tugas utamanya," ucap Amerta.
Mendengar itu, Abirama langsung mengulurkan lengannya, dia mempersilahkan Jaka untuk menguras energi dan kehidupannya, untuk memberikan bantuan kedepannya.
Ketika Jaka hampir meraih lengan Abirama, Darto mendekap lelaki yang sudah begitu berjasa untuknya. Dia bersimpuh dan memeluk Abirama sembari berkata, "Apa tidak ada cara lain?"
Abirama mengacak kasar rambut Darto, dia tersenyum sembari berkata, "Justru ini yang kami inginkan, Dar. Kita sudah terlalu lama hidup dibawah perintah mahluk yang tidak kami sukai. Aku sangat berterimakasih karena kamu membawa jalan keluar yang kami inginkan selama ini."
Darto mengeratkan dekapannya, kemudian melepas tubuh Abirama, dan bergegas memeluk Kanti yang sudah dirinya kenal begitu lama.
Darto benar-benar menangis sesenggukan, dia tidak bisa menolak, meski dirinya sangat menginginkan agar terus bisa bersama-sama.
Tidak terasa, Kanti, Abirama, Brahmana dan Ki Guntur sudah Jaka hisap energinya. Mereka sama-sama meninggalkan satu pengekang, yang langsung dihancurkan oleh Darto setelahnya.
Yang tersisa hanya ada Amerta dia mengulurkan tangan sembari terus berbicara.
Saat itu, Amerta melemparkan begitu banyak kata terimakasih dari bibirnya. Dia terus tersenyum dengan tubuh yang terus menipis, sembari menjelaskan apa yang harus Jaka lakukan setelahnya.
Hari itu, sesepuh dan juga semua mahluk yang sudah begitu lama mendiami kamar mereka. Satu persatu meninggalkan tugas yang sangat mereka benci.
Mereka pergi dengan sebuah senyuman, yang menandakan betapa bahagianya hati mereka karena bisa lepas dari tali yang menjerat jiwa mereka.
Sungguh itu adalah satu bantuan yang sangat tidak terduga bagi Darto dan semua temannya. Mereka tidak menyangka jika semua leluhurnya akan memberikan kehidupannya, hanya agar dua manusia yang sedang menangis di tempatnya, untuk bisa menuntaskan tugasnya.
__ADS_1
Bersambung....