
"Assalamu'alaikum!" ucap Darto sembari membuka pintu rumah Pak Riski.
"Waalaikumsalam!" jawab serentak semua orang yang tengah duduk di ruang tamu.
Melihat Darto kembali, Kakung langsung menarik tubuh Darto untuk ke ruang sebelahnya. Dia membawa Darto duduk di depan kedua pemilik rumah, di ruang tempat mereka menyimpan barang dagangan.
"Bagaimana Dek?" ucap Pak Riski bahkan sebelum Kakung dan Si Mbah bertanya.
Melihat Pak Riski bertanya, Darto langsung melirik kedua Kakek di depannya. Darto takut jika salah bicara.
"Bilang saja, Dar. Mereka sudah Si Mbah kasih tau," timpal Mbah Min ketika melihat cucunya kebingungan.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto spontan mengangguk kemudian membuka suara.
"Sudah saya buang barang kiriman mereka Pak. Bapak tenang saja, mulai sekarang sudah tidak akan ada gangguan lagi," jawab Darto sekenanya, dia tidak mau menceritakan detailnya.
"Kamu buang kemana, Dar?" tanya Mbah Min.
"Tidak jauh dari sini Mbah. Dia mohon untuk hidup, dia juga sudah janji tidak akan kesini lagi," jawab Darto masih menutupi apa yang dia lakukan.
"Yasudah, semoga dia benar-benar tidak berulah lagi ya, Dar," timpal Kakung kemudian pergi menuju ruang tamu di depan.
Setelah kakung menuju ruang tamu, mereka semua pun mengikutinya. kembali mereka mengobrol hingga larut malam, sebelum akhirnya satu persatu pergi menuju kamar dan membaringkan tubuh mereka.
Dalam lamunan Darto sedikit merasa bersalah karena harus menutupi apa yang sudah dia lakukan. Darto tahu persis sifat kedua Si Mbahnya, dia pasti akan dimarahi jika memberi tahu tentang kiriman yang dia kembalikan. Namun rasa dongkol di dalam hatinya juga lebih besar dari rasa bersalahnya. Dia benar-benar jijik dengan seseorang yang bersekutu dengan mahluk sebelah hanya demi keuntungan mereka sendiri, ditambah orang lain yang menjadi korban juga orang yang dekat dengan keluarganya.
Malam itu berlalu begitu saja, meski di hadapkan dengan dilema, Darto masih tetap bisa memejamkan matanya dengan cepat, kemudian terbangun di pagi hari untuk menunaikan ibadah sahur seperti biasa yang selalu dia lakukan.
Setelah bangun, Darto bergegas keluar dari rumah menuju warung kelontong yang sudah di buka oleh Pak Riski dan Bu yati. Sesampainya di sana, Darto sedikit terkejut dengan pembeli yang sudah mampir di warungnya. Tampak Tiga lelaki sedang merokok di temani kopi dan gorengan di depan mereka, di pagi buta sepagi ini.
__ADS_1
"Buk, Saya pesan Nasi sama ini, ini, ini," ucap Darto sembari menunjuk lauk yang di hidangkan di depannya.
"Tunggu di sana ya, Dek, nanti Ibu antar,"
"Njih Buk," jawab Darto kemudian berjalan menuju meja dekat tiga lelaki itu duduk.
"Puasa, Mas?" tanya salah satu lelaki, dia bertanya kepada Darto.
"Njih, Pak. Bapak juga?" tanya Darto kembali.
"Enggak Mas, kami baru begadang, jadi lapar he he he," jawab lelaki itu cengengesan.
"Kalau kamu puasa, bisa-bisa turun hujan tuju tahun nggak reda-reda Dul, ha ha ha ha" teriak lelaki di samping orang yang bertanya kepada Darto, disambut gelak tawa dari kedua temannya, dan juga tawa lepas dari bibir Darto.
"Ini Dek, silahkan di makan," ucap Bu Yati sembari menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pesanan Darto.
Mendengar ucapan Darto, Bu Yati sedikit tersenyum dan mengangguk, kemudian bergegas pergi menuju warung karena ada satu lagi pembeli yang datang memesan makanan.
"Pak, mari makan," ucap Darto kepada tiga lelaki di depannya.
"Silahkan mas, kami sudah makan tadi," jawab mereka serentak.
Mendengar itu, Darto langsung menggoyang sendok di tangannya, merauk nasi sebanyak yang sendok itu mampu, kemudian melahap nasi beserta lauk dengan kesigapan yang Darto miliki. Melihat cara Darto makan, ketiga lelaki di depannya berhasil dibuat tertawa oleh tingkah Darto, sehingga seusai selesai Darto makan, Darto memesan segelas kopi, kemudian bergabung duduk di meja makan bersama mereka bertiga. Mereka benar-benar langsung akrab, meskipun baru sekali bertemu.
Tak lama setelah batang demi batang rokok habis Darto hisap, kumandang adzan bergema memecah kesunyian suasana kota pagi itu, bergegas Darto pergi bersama tiga temannya juga kedua Kakeknya menyibak gang kecil yang pernah dia lewati, menuju masjid megah yang tidak jauh dari warung Pak Riski.
Setelah selesai menunaikan shalat subuh, mereka kembali menuju rumah Pak Riski. Selain Darto, mereka semua memesan makanan sarapan mereka, kemudian bersiap melanjutkan perjalanan setelah sarapan selesai mereka lakukan.
"Terimakasih ya Ris, Yat. Kami sudah di tampung di sini," ucap Kakung berpamitan hendak melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Tidak Pak Kyai. Kami yang harusnya minta maaf, karena ndak bisa ngasih apa-apa," ucap Bu Yati.
"Iya Pak, Maaf kami enggak tau Pak Kyai mau mampir. Jadi kami belum cari oleh-oleh buat dibawa," timpal Pak Riski.
"Lah ini apa? makanan banyak begini kalian bilang enggak ngasih apa-apa?" jawab Kakung sembari menunjuk makanan dan buah-buahan yang sudah mereka siapkan untuk dibawa.
"Kalau itu sih bukan hal spesial Pak Kyai, he he he" ucap Pak Riski sembari menggaruk kepala.
"Ini sudah banyak, Le. Nanti kalian minum ini ya, ucap bismillah dulu jangan lupa. Kalian minum tiga teguk saja, sisanya siram saja ke depan warung," timpal Mbah Turahmin sembari menyodorkan dua gelas air putih di tangannya kepada Pak Riski dan Bu Yati.
"Njih Ki, Terimakasih," jawab Pak Riski sembari meraih dua gelas di tangan Mbah Min.
"Yasudah kami pamit dulu, ya?!" ucap Kakung mendahului jalan kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Melihat Kakung pergi, Darto dan ketiga temannya bergegas menyalami Pak Riski dan Bu Yati bergantian kemudian pergi menuju mobil Kakung.
"Tenang saja Buk, Pak. Sekarang warung depan yang akan basi makanannya," ucap Darto sedikit berbisik sembari mengedipkan satu mata setelah ketiga temannya sudah pergi.
Melihat tingkah Darto, Bu Yati dan Pak Riski hanya bisa tertawa pelan, kemudian melambaikan tangan sebagai isyarat penghantar kepergian Kakung dan yang lainnya.
Akhirnya perjalanan pun kembali dilakukan, jalanan bebatuan kembali dilindas roda mobil milik Kakung. Sebelum akhirnya kembali mereka beristirahat sejenak menunggu pom bensin buka. Setelah tanki serta jerigen terisi penuh gas kembali diinjak dalam-dalam oleh Kakung.
Berjam-jam terlewat, berkilo-kilo sudah berhasil ditempuh, akhirnya kini mereka sudah sampai di depan gerbang pesantren milik Kakung. Perjalanan benar-benar lancar, tertempuh tanpa sedikitpun hambatan dan juga halangan.
Setelah mobil terparkir, kedua Orang tua Harti bergegas mendatangi rombongan, mereka adalah orang pertama yang menyambut kepulangan Darto dan keluarganya. Mereka membantu membawakan barang bawaan semua orang menuju rumah Pak Kyai, setelah barang berhasil mereka angkut, kedua orang tua itu bersama Harti langsung berpamitan dengan membawa oleh-oleh yang sudah di siapkan oleh Darto juga Si Mbahnya. Tak berselang lama, kedua temannya pun berpamitan untuk pergi menuju kamar mereka, menyisakan Darto dan kedua Kakeknya di rumah itu.
"Sekarang kita istirahat dulu, Dar. Besok Si Mbah akan ajarkan apa yang sudah turun temurun dititipkan," ucap Si Mbah singkat, kemudian pergi menuju kedalam kamar dengan semua barang bawaannya.
Bersambung,-
__ADS_1