ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
EKSTRA PART


__ADS_3

"Kang! Cepat! Kunyah buah ini!" ucap Jaka sembari menyodorkan buah ajaib yang baru saja dia ambil dari saku celana Darto.


Jaka dan empat temannya benar-benar terkejut ketika melihat Darto tengah tergeletak, di depan sebuah kursi singgasana yang sudah hancur lebur setelah terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat.


Ledakan dari energi yang Darto kerahkan benar-benar sangat kuat, karena itu merupakan serangan gabungan dari semua energi yang ada pada tubuhnya. Energi yang dirinya dapat dari semua teman dan juga semua sesepuh yang sudah memberikan segalanya.


Satu serangan itu berhasil memusnahkan ribuan jiwa, yang ada di dalam satu tubuh musuhnya hingga tak tersisa.


Namun meski begitu, Darto juga terkena dampak serangannya sendiri, dia benar-benar sekarat, karena tubuhnya bergejolak setelah kehilangan semua energi.


Untungnya lima temannya datang tepat waktu, sehingga dirinya masih bisa selamat dari kematian yang sudah begitu dekat.


Darto yang tidak memiliki tenaga untuk mengunyah buah, berhasil diselamatkan ketika Jaka meremas buah itu dan meneteskan sari buah ke dalam bibir Darto.


Hanya dengan satu tetes saja, tenaga Darto sedikit kembali, dan setelah itu Darto mencoba mengunyah buah tersebut sembari berkata, "Terimakasih, Jak. Kalian tidak terkena dampak ledakan, kan?"


Semua teman Darto langsung terkekeh. Mereka tidak percaya jika Darto masih menghawatirkan orang lain, padahal dirinya sendiri sudah babak belur di tempat tersebut.


Setelah itu, mereka semua kembali berkumpul di dalam kamar nomor dua. Setelah setuju, Darto mengajak semua penghuni kamar untuk pergi meninggalkan kamar tersebut.


Semua orang masuk ke dalam kamar Mbok Kanti, kemudian pergi melalui pintu belakang.


"Jak... Bawa mereka ke rumahku, kamu pernah lewat hutan ini, kan? Biarkan mereka membangun rumah di sana, untuk urusan makan minta saja sama Antok terlebih dahulu," ucap Darto dengan wajah sendu setelah membuka pintu menggunakan energi peninggalan Kanti.


"Kang Darto tidak ikut?" tanya Jaka penasaran.


Mendengar itu, Darto menceritakan apa yang sudah dibisikkan oleh Eyang Semar. Semua teman Darto seketika membulatkan mata, kemudian mereka serentak berkata, "Aku juga akan tinggal di sini."


Jaka juga mengucap kata yang sama, namun Darto menolak mentah-mentah permintaan tersebut.


Jaka sudah begitu banyak memberinya bantuan, dan Darto tidak ingin lagi memberatkan satu-satunya teman manusia yang selalu berjuang disampingnya.


"Tolong, Jak... Kamu tahu aku dimana, datang saja kalau ada waktu," ucap Darto sembari membuka pintu belakang.


Jaka hanya mengangguk, dia kemudian melangkah, dan membawa semua penduduk kamar nomor dua untuk menuju kampung kemoceng.

__ADS_1


Butuh satu hari perjalanan untuk sampai di rumah lama Darto, karena tidak sedikit dari orang yang Jaka bawa sudah memiliki usia tua.


Setelah sampai, Jaka bergegas ke rumah Anto, dia meminta bantuan untuk menampung semua orang, sembari meminta bantuan agar dicarikan tukang yang bisa membantu pembangunan.


Setelah satu bulan berlalu, Jaka yang sudah selesai mengurus semua kebutuhan dari penduduk kamar nomor dua, langsung berlari menuju hutan tempat dimana pintu belakang kamar Kanti terletak.


Dia berlari sembari terus berpindah, hingga sampai di tempat tersebut dengan begitu cepat.


Namun ketika Jaka memanggil nama Darto dari bawah pohon beringin, dia tidak mendapat jawaban sama sekali. Darto tidak merespon, dan membuatnya kebingungan harus berbuat apa.


Jaka terus memanggil nama dari semua temannya, namun hal yang sama tetap terjadi. Jaka masih tidak mendapat jawaban, meski suaranya sudah sepenuhnya serak karena terus berteriak dengan lantangnya.


Dengan wajah tertunduk Jaka kembali ke rumah Anto, dia meminta tolong untuk diantar menuju pesantren, dan untungnya Anto yang sudah cukup tua mau mengantarnya tanpa banyak berbicara.


Jaka kembali ke pesantren dengan lancar kala itu, Anto langsung pulang setelah bertemu Harti dan Dava untuk sebentar saja, mengingat dirinya juga sudah tidak bisa menginap karena tidak ada Darto di tempat tersebut.


Jaka berlari ke arah Ratna kala itu, dia memeluk wanita dewasa yang tengah menggendong seorang balita di pundaknya, kemudian menciumi kening satu-satunya putri yang tengah menggendong anaknya.


Ratna langsung menangis kala itu, dia membawa Jaka masuk ke dalam rumah, agar bisa bertemu dengan Magisna yang sudah menunggu cukup lama.


Namun meski bentuk wajahnya sudah berbeda, Magisna tetap tidak tergantikan di mata Jaka. Dia satu-satunya wanita yang terhebat, yang mampu melalui semua rintangan karena ulah suaminya.


Begitu juga Harti, dia tampak sedikit lebih tua dari Magisna. Dia memasang wajah sayu ketika melihat Jaka, sembari menahan peluh yang sudah memenuhi segala sisi dadanya.


Dengan bibir bergetar Harti mendekat bersama Dava, kemudian dia bertanya, "Dimana Mas Darto?"


Jaka yang kebingungan langsung menggeleng, dia tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada Darto, karena ketika membiarkan Jaka pergi, Darto sempat berpesan untuk merahasiakan hal yang sedang dirinya alami.


Tangisan haru langsung pecah kala itu, Harti menangis di dalam dekapan Dava kemudian berjalan menuju kamar dibantu oleh Dava.


Harti sudah jauh dari kata sehat, dia sudah sakit-sakitan untuk waktu yang cukup lama, sehingga dia harus ditopang meski hanya unjuk berjalan saja.


Sejak hari itu, Harti lebih memburuk keadaanya, dia bahkan sudah tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya, dan hanya bisa merebahkan tubuh renta miliknya, di dalam kamar setiap harinya.


Satu saat ketika malam terasa begitu sunyi, Darto tiba-tiba muncul dari sudut ruangan lamar harti. Dia datang dengan wujud yang tembus pandang, namun begitu tampak jelas pada kedua mata Harti.

__ADS_1


"Mas... Kamu datang, Mas? Aku kangen, Mas," ucap Harti sembari mencoba menyentuh wajah suaminya yang tengah menatap sendu ke arahnya.


Namun sayang, tangan Harti tidak bisa menyentuh bayangan tersebut, meski dia sudah mencoba berulang-ulang kali.


"Dek... Maafkan Aku, butuh beberapa hari untuk bisa menggunakan cara ini. Tubuhku tidak bisa keluar dari tempat itu, meski sudah aku coba berkali-kali," Darto mencoba menyentuh pipi harti, namun tangannya juga menembus dan tidak bisa menggapai wajah istrinya.


Benar sekali, Darto bukannya tidak ingin meninggalkan singgasana untuk sesaat saja, ketika dirinya mengalahkan iblis, dia juga seketika terikat dengan dunia yang iblis itu punya.


Satu penghalang yang iblis kira bisa dilewati ketika dirinya memiliki bentuk fisik, ternyata sama saja tidak bisa dijebol meski Darto memiliki sebuah raga.


Darto terkurung di dalam kandang yang selama ini digunakan untuk mengurung iblis, dan menggantikan posisi miliknya yang harus memimpin semua mahluk yang ada di tempat tersebut.


Mendengar penjelasan Darto, Harti hanya mengangguk dengan pelan, dia kembali menangis ketika Darto mengucapkan sebuah kalimat, "Ikhlaskan saja, Dek... Ada kehidupan kekal yang menunggu kita. Di sana aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, meski itu hanya sedetik."


mendengar kalimat tersebut, Harti mulai tersenyum dengan bulir bening yang terus mengucur dari sudut matanya, dia mengangguk dengan wajah yang begitu bagia, sebelum akhirnya melihat bayangan Darto mulai hilang dari pandangannya.


Dava menjadi pemilik pesantren yang begitu tersohor kala itu, putra yang dirinya miliki juga sudah menjadi Hafizh ketika usianya baru lima tahun, yang membuat keluarganya terkenal kuat dengan ilmu agamanya.


Itu semua terjadi bukan karena usaha mereka saja. Mungkin semuanya tidak akan berjalan dengan semestinya, jika Darto tidak mengorbankan semua yang dirinya punya untuk kelangsungan penerus darahnya.


Darto dengan bangga menelan rasa pahit, dia membuang semua harapan, dan memikul setiap nestapa pada punggung lebarnya sendiri.


Bagi Darto, kehidupan milik keluarganya lebih berharga dari apapun di dalam dunia, karena itu adalah satu-satunya harta yang pantas untuk dirinya perjuangkan.


Dengan bangga Darto rela dianggap mati oleh semua orang tercintanya, meskipun dia merupakan satu-satunya pribadi yang hidup paling lama, dengan setumpuk rasa rindu, duka, dan beban yang terus ia pikul selama hidupnya.


Terkadang... dengan cara melangkah pergi, kita akan bisa menilai seberapa berharganya apa yang sudah kita miliki.


.


.


.


"Kang... Mbakyu... Mohon dukungan di novel terbaru ya! bagi yang mau bisa check langsung di profilku" ucap otor nutup episode ini. 😅

__ADS_1


__ADS_2