
Dalam tidurnya, Jaka tidak merasakan apapun. Dia tetap Terlelap meski puluhan demit sedang mengerubunginya. Namun di sisi lain, Jaka tengah terdampar di dalam dunia mimpi yang sama gelapnya dengan tempat yang dulu sering Darto datangi. Tempat tanpa cahaya dan juga sunyi, seakan melambangkan sebuah kegelapan mutlak, yang tidak terjemah suara.
Jaka terus mengerjap matanya, dia tidak tahu perbedaan antara matanya terpejam atau terbelalak. Semuanya sama, hanya warna hitam yang tersuguh di depan matanya.
Jaka benar-benar ketakutan, dia terus berteriak namun suaranya seakan terikat di dalam tenggorokan miliknya. Setelah cukup lama, dia mencoba berjalan dengan cara merangkak. Dia benar-benar takut jika berjalan biasa, dia khawatir akan tersandung sesuatu jika asal berjalan di dalam ruang gelap tersebut.
Setelah cukup lama Jaka merangkak, sebuah cahaya putih datang menghampirinya. Jaka terus mengucek mata miliknya untuk memastikan benda yang mirip kunang-kunang di depan matanya itu, namun meski sudah lelah dirinya mengucek, benda itu masih tetap berada di tempatnya.
Jaka langsung beranjak berdiri, dia memberanikan diri untuk mencoba berlari mendekat ke cahaya itu. Namun tanpa Jaka duga, ketika dia mencoba melangkah cahaya itu sudah sampai di depan matanya.
Cahaya kecil itu seketika membesar, hingga akhirnya sinar itu berbentuk persegi seperti layaknya sebuah pintu. Jaka yang melihat itu sesekali meneguk ludahnya, dia merasa aneh dan juga takut dalam waktu yang bersamaan, namun meski begitu dia tetap memaksa tangannya untuk menyentuh cahaya tersebut.
Tangan Jaka menembus benda tersebut, separuh lengannya benar-benar hilang layaknya tertelan cahaya. Melihat itu ... Jaka langsung memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalamnya, dan sejurus kemudian jiwanya terlontar menuju tempat yang sangat asing baginya.
__ADS_1
Jaka berdiri di tengah hutan kali ini, dia mendengar suara dentuman dan juga teriakan yang saling bersautan. Di mana ada suara dentuman, di situ langsung terdengar suara teriakkan yang begitu memekakkan telinga. Meski takut, Jaka tidak punya pilihan selain mencari sumber suara itu berasal.
Jaka berjalan masuk lebih dalam ke hutan, setelah cukup jauh, suara gaduh itu semakin jelas terdengar. Ketika Jaka sudah bisa melihat sumber suara, spontan dia membulatkan mata. Di sana ada sosok api yang tengah terbang, di depan dua lelaki tua yang sedang melakukan sebuah gerakan bela diri. Dua lelaki tua itu memegang sebuah benda yang bercahaya di tangan mereka, satu memegang tombak berwarna merah, dan satunya lagi memegang keris putih yang begitu berkilau di tangannya.
Setelah melihat dua orang itu, Jaka mencoba berteriak untuk mendapat respon mereka. Namun sama seperti yang Darto rasakan, Jaka tidak terlihat di mata mereka. Jaka bahkan sempat maju menuju dua lelaki di depannya, namun tangannya menembus ketika Jaka mencoba untuk meraih tubuh mereka.
Saat itu Jaka hanya bisa pasrah, dia terus mengamati pertarungan tersebut dalam bungkamnya. Jaka benar-benar tertegun melihat kelihaian dua lelaki di depannya itu. Satu lelaki yang membawa tombak merah melindungi punggung orang yang memegang keris putih. Tombak merah miliknya benar-benar membakar habis semua anak serangga yang datang menuju ke arah mereka, sedangkan orang yang memegang keris terus mencoba menusuk sosok api yang kini tengah menjadi lawannya.
Sayangnya, di tengah pertarungan sengit tanpa akhir tersebut. Sosok api memanfaatkan kondisi lawannya. Dia menyerang pria yang memegang tombak secara tiba-tiba, karena dia tahu jika pemegang tombak itu fokus pada bawahannya, dan tidak akan sadar dengan serangannya. Lelaki pemegang keris tercengang melihat lawannya menyerang temannya, dia mencoba menghentikan bola api yang sedang mengarah ke temannya, namun usahanya sia-sia. Satu serangan lain mendarat telak ke dada pemegang tombak ketika pemegang keris sedang menepis serangan pertama.
Lelaki itu terus berteriak, dia meraung dengan begitu keras hingga suaranya menggema. Namun di tengah rasa sakitnya, energi merah di dalam tubuhnya tiba-tiba meledak. Semua anakan serangga yang tengah menyerang mereka berdua musnah seketika, hingga mereka memiliki rute untuk melarikan diri.
Melihat kondisi temannya sudah parah, pemegang keris lantas membawa temannya itu pergi. Dia menggendong temannya kemudian pergi dengan cara berpindah tempat bagaikan hantu. Namun meski dengan kecepatan berpindah seperti itu, orang yang berbaju putih masih sempat menerima serangan sosok api yang mengejar mereka, dia juga terluka, saat menggendong temannya
__ADS_1
Jaka yang melihat kedua orang tua itu terus menghilang, seketika ragu dengan apa yang tengah dirinya saksikan. Dia merasa dirinya tengah menyaksikan pertarungan antar hantu, dan mengira jika perkiraan Darto salah, karena dulu Darto pernah berkata jika salah satu orang dalam mimpinya adalah sesepuhnya.
Tidak lama setelah dua orang tua itu menghilang, sebuah pintu cahaya tiba-tiba muncul. Jaka langsung masuk kembali ke dalam pintu tersebut, sembari berharap jika pintu tersebut akan membawanya pulang.
Setelah Jaka masuk, dia terkejut melihat dua orang yang tadi. Namun kali ini mereka tidak hanya berdua, satu orang wanita dan satu pemuda juga ada di sana. Mereka tengah merawat lelaki yang mendapat serangan dari sosok Api di dalam sebuah gubuk. Jaka sempat menembus bilik bambu gubuk tersebut, dan ketika dirinya keluar dari rumah itu, dia tercengang ketika melihat dua pohon besar yang sudah pernah dirinya lihat di dalam hidupnya.
Jaka langsung tau jika dirinya kini berada di dalam kampung halamannya, meski saat ini hanya ada satu rumah kecil yang berdiri. Rumah itu adalah rumah yang disinggahi oleh dua lelaki dan satu wanita tua bersama seorang pemuda lainnya. Jaka mulai yakin dengan perkiraan Darto, dia bahkan langsung percaya ketika melihat orang yang terbaring di atas dipan mulai memiliki sebuah rantai bercahaya di lehernya. Rantai itu muncul ketika orang berbaju serba putih itu tengah mencoba melakukan sesuatu dengan tangan bercahaya miliknya.
Selang beberapa saat, anak lelaki yang sedang duduk di samping orang tua itu ikut memiliki sebuah rantai di lehernya. Orang yang berpakaian serba putih itu terperanjat. Dia melepaskan tangannya dari tubuh temannya, kemudian meraih rantai di tubuh mereka berdua secara bersamaan. Dia mencoba memutus rantai tersebut sekuat tenaga, namun kondisinya juga sama buruknya dengan lelaki yang tengah dirawat olehnya.
Sesaat orang berbaju putih itu diam, dia memejamkan mata sembari terus mencoba memutus rantai di leher dua pria di depannya, namun dia tidak bisa. Dia hanya bisa menangis dengan darah yang mulai mengucur dari sudut bibirnya. Dengan penuh rasa kecewa dia melepas genggamannya pada rantai itu, kemudian dia melepas kalung miliknya, dan memberikan benda itu kepada lelaki muda di depannya.
Setelah itu dia beranjak keluar gubuk tersebut sembari berkata, "Setidaknya ... kalian tidak mati. Aku akan berusaha menolong kalian. Maaf tenagaku sudah habis, tunggulah seseorang yang akan datang ke sini untuk mengakhiri penderitaan kalian. Aku berjanji, setidaknya sampai dia tiba, Banaspati tidak akan bisa menemukan kalian, jika kalian tetap tinggal di sini."
__ADS_1
Bersambung ....