
Dengan tangan lurus ke depan, Darto memegang pedang bersinar itu sekuat tenaganya. Dia mengarahkan ujung runcing dari senjatanya, ke arah perut musuhnya yang dipenuhi duri bagai jarum yang sangat besar.
Kurang dari satu detik Darto benar-benar sampai di depan musuhnya, dia berhasil menusuk perut lawannya, meski tangannya juga tertusuk oleh salah satu duri yang melindungi sekujur tubuh lawannya.
Pemimpin ngengat itu benar-benar menjerit dengan suara melengking, dia mengepakkan sayapnya dengan begitu bertenaga hingga Darto kembali terpental karena hempasan anginnya.
Jaka yang melihat Darto terjun untuk kedua kalinya, dia kembali merubah tombak di tangannya menjadi tali dan memecut ke arah temannya. Darto berhasil diraih kembali, namun kali ini Jaka sengaja melempar tubuh Darto ke arah Maung dan Komang sembari berteriak, "Maung! Komang! Siapa saja tangkap Kang Darto!"
Tubuh Darto terhempas ke samping begitu cepat setelah Jaka melemparnya. Maung dan Komang yang melihat dengan jelas arah tubuh Darto terpental langsung berubah menjadi wujud harimau dan macan tanpa aba-aba.
Mereka berebut menerima tubuh Darto yang tampak tidak bergerak sama sekali di udara. Untung saja Komang yang memang semula lebih dekat dari arah lintasan Darto terlontar, berhasil mendekap tubuh temannya setelah melompat. Dia memeluk Darto sedetik sebelum tubuh Darto terbentur pohon, hingga akhirnya Darto berhasil mendarat tanpa cidera, karena bantuan Komang yang menjadi bantalan.
Namun meski tanpa cidera sedikitpun, tubuh Darto tetap tidak bergerak, Darto pingsan dengan wajah yang cukup pucat, hingga bibirnya saja sampai berwarna kebiru-biruan.
"Jaka! Darto pingsan!" teriak Komang.
Mendengar teriakkan itu, Maung bergegas mendekat dan mendekat kemudian berubah menjadi manusia dan menyentuh leher Darto dengan dua jari di tangannya.
Maung memastikan denyut nadi milik Darto, dengan wajah yang mulai berkeringat karena merasa sangat khawatir. Sejenak Maung bungkam sembari menyentuh leher Darto dengan jarinya, dia terus mengernyitkan dahinya sembari terus merasakan indera perabanya.
Ketika dua jari miliknya tidak bisa merasakan denyut dengan jelas, Maung menempelkan salah satu telinganya ke dada Darto yang kini sudah dalam posisi berbaring. Dengan wajah cemasnya dia berkata, "Komang?! Darto dalam bahaya!"
"Apa maksud kamu?" tanya Komang dengan wajah penuh keringat.
"Dia tertusuk duri lawannya," sahut Maung kembali. Dia menunjukkan tangan Darto yang berlubang namun tidak berdarah.
Lubang yang cukup besar, dengan seluruh tepi yang berwarna hitam kebiruan
__ADS_1
Urat di tangan Darto pun mulai tampak begitu jelas, membentuk garis abstrak yang berwarna kehitaman.
Mendengar ucapan Maung, Komang langsung merubah tubuhnya menjadi macan kembali, dia melompat ke arah Jaka sembari berkata, "Bawa Darto pergi! Aku akan jemput Jaka!"
Mendengar ucapan Komang, Maung langsung berubah menjadi macan hitam kembali, kemudian dia membawa tubuh Darto yang terkulai menggunakan rahangnya.
Ketika Komang sudah kembali dengan Jaka di pundaknya, Maung langsung berlari secepat yang dia bisa. Dia berlari tanpa tujuan, dengan mahluk besar yang terus mengikuti dari atas kepalanya.
Komang dan Maung sesekali hampir terpisah karena tidak ada perbincangan tentang tujuan mereka, untung saja Komang selalu bisa kembali berbelok, mengikuti arah pelarian yang Maung pilih secara acak.
Mereka terus berlari untuk cukup lama, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah goa yang ukurannya tidak terlalu lebar ketika berlari.
Setelah melihat tempat yang sekiranya tidak cukup dimasuki ngengat, Maung langsung menukik dengan tajam hingga membuat Komang terkejut dengan perubahan arah. Komang masih terus maju karena belokan tiba-tiba dari Maung tidak bisa membuatnya mengikutinya tanpa persiapan.
Sejenak Komang menoleh ke arah Maung berlari, kemudian dia berkata pada Jaka yang masih duduk punggungnya, "Jaka ... kamu pindah ke goa yang ada di belakang kita bisa, kan?"
"Biar aku alihkan perhatian mahluk itu. Dia tidak mengejar Darto, dan kamu satu-satunya orang yang bisa menolong Darto," sahut Komang.
"Memang kenapa Kang Darto?" tanya Jaka karena dia memang belum melihat kondisi Darto, yang Jaka tahu hanya Darto terlihat kelelahan, hingga dia memutuskan untuk melempar pada Maung dan Komang ketika bertarung tadi.
"Dia tertusuk duri di tubuh ngengat itu, Jak, lebih baik kamu cepat!" sergah Komang.
Mata Jaka seketika terbelalak, dia melepas pegangan tangan yang sedari tadi menggenggam bulu Komang, hingga Jaka langsung terjatuh ke atas tanah.
Namun tepat ketika tubuh Jaka menyentuh tanah, dia langsung menghilang bagai kepulan asap dan berpindah ke mulut goa yang sudah Maung masuki terlebih dahulu.
Komang yang melihat Jaka sudah berhasil berpindah, dia langsung mengaum dengan suara yang sangat lantang untuk memancing perhatian pengejarnya. Seketika ngengat itu menoleh pada Komang, dan mengejar kemana pun Komang pergi.
__ADS_1
"Di mana Komang?" tanya Maung setelah melepaskan tubuh Darto dari cengkraman rahang miliknya.
"Kang!" teriak Jaka setelah melihat wajah Darto berangsur membiru.
"Hei Jaka! Di mana Komang!" ketus Maung karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan bercampur rasa khawatirnya.
"Dia mengalihkan ngengat itu," jawab Jaka menunduk. Jaka benar-benar merasa bingung harus melakukan apa untuk saat ini.
"Aku susul Komang, kamu sembuhkan dulu temanmu itu," ucap Maung.
"Tapi bagaimana caranya?" sahut Jaka.
"Tubuhmu bisa menyerap segala jenis energi. Racun milik ngengat itu juga energi!" jawab Maung singkat kemudian menghilang. Maung berlari menyusul Komang, dia merasa khawatir dan takut terjadi apa-apa pada teman barunya itu.
Setelah mendengar ucapan Maung, Jaka kembali teringat dengan ajaran tabib yang pernah dirinya dapat ketika tengah berada di dalam ujian kerajaan Sendang Langit. Jaka menyentuh lubang yang ada di lengan Darto kemudian memejamkan kedua matanya.
Dengan telaten Jaka mempraktekkan setiap proses demi proses yang pernah diajarkan padanya, tanpa tergesa dan tanpa sedikit pun bagian yang terlewatkan.
Urat berwarna biru kehitaman yang menonjol di tangan Darto perlahan mengecil, seakan merambat pelan memasuki tubuh Jaka melalui tangannya. Jaka benar-benar terus menghisap racun yang mulai menyebar di tubuh Darto, meski dia merasakan rasa sakit yang sama dengan apa yang dirasa oleh Darto.
Perlahan wajah Darto yang semula pucat mulai menguning, Darto tampak baik-baik saja setelah mendapatkan pertolongan Jaka. Sedangkan Jaka langsung duduk bersila, setelah dia menyerap habis racun yang bersarang pada tubuh teman dekatnya.
Jaka memejamkan mata sembari terus meringis, ketika dia mencoba mencerna racun yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya. Tubuhnya terasa begitu perih, seakan tengah ditusuk dengan ribuan jarum tanpa henti.
Namun setelah cukup lama, Jaka berhasil mengumpulkan semua racun yang bersarang pada tubuhnya, dia membawanya naik menuju dada, dan memuntahkan darah berwarna hitam setelahnya.
Setelah Jaka berhasil memuntahkan setiap racun di dalam tubuhnya, dia pingsan karena terlalu lama menahan rasa sakit yang amat menyiksa. Dia terbaring tepat di sebelah Darto, yang juga belum membuka matanya meski kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung ....